Tag Archives: cerpen

CERPEN: Elegi

Tubuh bergetar. Kegelapan menelan cahaya. Duka mencabik tawa. Kami harus kehilangan, lagi dan lagi.

Tempat itu sangat mengerikan. Lebar dan dalam bagai gua, di bagian dalamnya terdapat jeruji-jeruji putih beraturan. Saat gua itu menutup, jeruji-jerujinya bergerak, mencabik-cabik tubuh teman kami tanpa kasih, hingga hancur tak berbentuk.

“Kau lihat itu? Donat sudah dilumat habis!” seru Donat Keju. Ia selalu menakut-nakutiku, menceritakan gua menakutkan yang disebut mulut manusia. Dan barusan aku melihat langsung peristiwa mengerikan itu.
Kami kaum makanan yang tertata rapi di etalase tak memiliki usia panjang. Ada yang sanggup bertahan berhari-hari seperti para kue, ada yang hanya bertahan satu hari, bahkan ada yang baru saja terpajang langsung lenyap. Ketika tangan itu bergerak di atas kami, semua akan berteriak ketakutan. Takut menjadi korban berikutnya.

Usiaku sudah satu hari di tempat ini dan waktuku habis oleh rasa takut. Aku duduk tepat di sebelah Donat Keju. Ia selalu berteriak penuh ketakutan karena jenisnya sudah habis.

“Hei Kue Kelapa, lihat tangan yang sedang bergerak untuk memilih itu!” Serunya.
“Tapi tidak ada pelanggan,” ucapku.
“Tetap saja, apa yang harus kulakukan? Aku ingin berlari, tapi apa daya? Ini mengerikan, mengerikan… tidak… tubuhku!” ia berteriak histeris, dan semakin histeris saat tangan itu berhenti di antara kami. Aku memejamkan mata.

“Kelapa…Kue Kelapa…!!” aku mendengar teriakannya semakin menjauh, aku tak tega melihatnya pergi.
“Tidak! Kue Kelapa, selamat tinggal kau akan terlumat!” Aku terkejut mendengarnya. Ternyata tangan itu mengambilku. Tapi ia tak memberikanku pada pelanggan, ia justru membawaku pergi jauh menyeberangi etalase demi etalase hingga tiba di etalase paling ujung. Aku diletakan di sana, ternyata aku hanya dipindah di tempat sejenisku, kue kering. Di sampingku ada Kue Bolu, tapi ia terlihat begitu murung. Aku pun menyapanya.

“Hai!” Ia hanya melirik. Kuulangi sapaanku, “Hai!”
“Ada apa?” tanyanya merespon.
“Aku baru datang,” jawabku.
Kue Bolu menatapku sebal, “Aku sudah melihatnya. Jangan ajak aku bicara. Aku sedang merenung.”
“Apa yang kau renungkan?” tanyaku penasaran.
Kue Bolu menghela nafas, “Aku tak terpilih.”
Ini mengejutkan! “Bagaimana bisa kau ingin terpilih? Di tempatku sebelumnya semua menangis dan merengek karena takut terpilih!”
“Kau perlu banyak belajar, nak,” kata Kue Bolu seraya menatapku takzim. “Menurutmu untuk apa kita diciptakan? Untuk dipamerkan di etalase atau dimakan?”
“Di-ma-kan…” jawabku ragu.

“Benar. Itulah takdir kita. Bagaimana menurutmu jika kita melenceng dari tujuan penciptaan kita? Saat harusnya kita dimakan tapi hanya dipajang? Itu menyakitkan!” seru Kue Bolu. “Apakah bentukku terlalu buruk, apa rasaku terlihat tak enak, aku tak menarik? Pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul saat kau dibiarkan terlalu lama di etalase. Dan yang lebih mengerikan lagi, saat jamur-jamur menggerogoti tubuhmu, kau akan dibuang, dibiarkan membusuk. Bakteri-bakteri kotor akan mengurai dan menyelapkanmu, belatung-belatung akan muncul dari dalam dirimu. Itu membuktikan bahwa kau tidak berguna. Menyedihkan…”

Aku menyetujui setiap perkataannya. Jenis kami memang jarang diminati, mungkin itu yang menimbulkan perasaan iri pada jenis yang lain. Hingga Bolu berpikir lebih baik dimakan daripada dibiarkan membusuk. Aku terdiam, merenung, memikirkan hal-hal yang harus kami alami. Aku juga tak tahu mana yang lebih baik, dimakan atau dibuang? Mataku terasa berat, perlahan terpejam, meraih alam mimpi.

Aku melihat tempat yang gelap, panas, berbau busuk, menjijikkan. Dari sudut kiriku terdengar rintihan tangis, suaranya begitu pilu menyayat hati, tubuhku bergetar mendengarnya. Saat kuperhatikan lebih dalam, aku mulai mengenal pemilik suara itu itu. Ya, aku mengenalnya. Donat keju! Kupanggil ia agar menoleh ke arahku.

“Donat Keju…!” Ia tak menoleh hingga panggilan ketiga berhasil memalingkannya. Saat ia menoleh ke arahku, aku tak sanggup melihatnya, bentuknya sangat mengerikan.
“Kue Kelapa, kau disana?” tanyanya. Suaranya berat, seperti menahan sakit.
“Ya, apa yang terjadi denganmu? Dimana ini?”
“Apa kau masih di etalase? Semoga kau tak bernasib seperti ini. Aku sudah tertelan, itu sangat menyakitkan, gigi-gigi itu begitu keras.” Ia menangis meratap. “kau tahu,” lanjutnya, “saat tubuhmu hancur itu tak sebanding ketika kau masuk tempat ini, ini lebih mengerikan.”
“Dimana ini?” tanyaku.
“Perut orang rakus. Saat kau dimakan orang seperti ini, ragamu masuk ke dalam perutnya, tapi tidak dengan jiwamu. Karena jiwamu akan masuk ke perut makhluk terkutuk bernama setan.”
“Bagaimana bisa?” tanyaku.
“Entahlah, mungkin mereka berteman. Kau harus segera pergi Kue Kelapa, tempat ini tak baik untukmu. Semoga kau tak bernasib sepertiku.” Ia kembali memalingkan wajah dan menangis meratapi nasibnya.

Aku terbangun dari mimpiku, mimpi yang mengerikan. Kuceritakan mimpi itu pada Kue Bolu. Ia menyimak setiap perkataanku. Kami pun merenung, seperti itukah nasib yang harus kami alami? Tak ada pilihan yang menggembirakan? Termakan lantas jatuh ke dalam lebah berapi atau dibiarkan hingga belatung menghampiri kami, keduanya sama-sama buruk.

Di etalase lain, makanannya sudah banyak yang berganti, tapi tidak dengan etalase ini.
“Oh tidak!”
Aku menoleh ke arah Kue Bolu yang berteriak. “Ada apa Kue Bolu?” tanyaku.
“Lihat tubuhku! Ada bintik di sini! Apa yang harus kulakukan?” Bolu menangis. Apa yang ia takutkan telah terjadi, ada bintik hitam dengan semburat abu-abu di sekitarnya. Jika bintik itu muncul, maka itu pertanda bahwa Bolu tak lagi berguna. Bolu semakin lemah, makin banyak bintik hitam yang muncul, hingga tangan itu datang dan membawanya pergi. Ia berikan seulas senyum sebagai ucapan perpisahan dan seakan mendoakan semoga aku tak bernasib seperti dirinya. Kini aku merasa sendirian. Sebenarnya ada banyak makanan yang lain, tapi aku malas mengajak mereka berbincang.

Aku mengisi waktu untuk membenahi diri, mempersiapkan diri, menyambut jalan mana yang akan menimpaku. Jalan mana pun aku sudah siap. Lalu tiba-tiba aku merindukan Kue Keju, bagaimana ia sekarang di lembah itu? Aku juga merindukan Kue Bolu, ia pasti sedang berteriak dan menangis di dalam tong sampah bersama makanan-makanan sisa yang tak diinginkan.

Saat mataku terpejam, tubuhku seakan melayang di ruang hampa, aku mendengar bisikan-bisikan seorang lelaki dan perempuan, ternyata pemilik toko dan pelanggan. Aku terjual, ada yang membeliku. Pemilik toko memasukkan aku ke dalam kotak kecil bersama dua makanan lain. Lama kami terdiam di dalam kotak, udaranya sangat panas. Andai aku cokelat, sekarang aku pasti sudah meleleh. Aku heran, kenapa pembeli itu tak segera memakan kami.
Tiba-tiba kotak ini terbuka, tangan pembeli mengambilku sebagai santapan pertama. Aku memejamkan mata, menguatkan hati, sebelum tubuhku masuk ke dalam gua itu. Namun mulut mungil itu bergerak-gerak mengucapkan suatu kalimat yang baik dan nama yang agung. Mungkin itu yang disebut doa. Lantas, perlahan ia memasukkanku ke dalam mulutnya, benar-benar gelap, gigi-gigi itu mulai memotong tubuhku, dan yang mengherankan, aku tak merasakan sakit, aku baik-baik saja.

Ia terus memotong hingga aku hancur berkeping-keping, tubuh lembutku turun perlahan melewati kerongkongan, dan terus ke bawah hingga usus dua belas jari, sampai tempat terujung. Dan jiwaku tak ingin masuki ini, di dalam lembah gelap seperti Donat keju. Aku tetap bersemayam dalam tubuh pembeli, meresap dalam darah dan dagingnya. Mungkin karena doa itu. Pembeli mengikatku, setan pun tak bisa menyeretku ke dalam lebah terkutuknya. Dengan doa itu pembeli membuatku bermanfaaat untuknya. Aku menjadi paham, seperti apa seharusnya kaum kami berakhir. Seperti ini, setiap makanan harus berakhir sepertiku, tidak seperti Donat Keju apalagi Bolu.

Oleh: Khijatul Karomah. Penulis adalah santri PPTQ, kelahiran 23 Mei 1995, asal Wonosobo, Jawa Tengah.

*Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan kita. Setiap hal baik yang diniatkan ibadah, maka hal itu akan menjadi berkah.*

CERPEN: Guruku; Rimba-Raya

Semilir angin berkelit di antara jendela kelas, membuat rambutmu yang biasa disisir rapi terlihat memberontak bosan, berusaha bercengkrama dengan alam. Sedikitpun kau tak bergeming, tetap fokus pada buku pelajaran. Mendung di luar membuat seisi ruangan menjadi gelap. Kau suruh salah seorang muridmu menyalakan lampu meski saat itu masih pukul 10 pagi.

“Cuaca akhir-akhir ini tak memungkinkan kita untuk mengadakan praktek di lapangan sekolah. Sebagai gantinya saya akan bercerita pada kalian.” Tuturmu membuka pelajaran.

               “Anak-anak, ketahuilah, akibat dari pemanasan global cuaca sekarang tidak menentu dan sulit diprediksi.” Kau bercerita bahwa kebakaran hutan menyebabkan polusi udara, laut sekarang tak sebiru di masa lalu. Kami, anak zaman kerusakan selalu dikambing-hitamkan oleh angkuhnya moral manusia.

               “Masih penak zamanku, toh?” Dengan gaya bapak pembangunan kau mengejek kami. Separah apapun kau merendahkan kami, anak zaman sekarang, di akhir kelas kau selalu meniupkan semangat kepada kami, untuk bangkit dari keterpurukan.

Kau jelaskan bahwa air yang mengalir selalu mencari tempat yang lebih landai. Sesuai yang sudah digariskan oleh penciptanya, air takkan menggenang pada dataran yang lebih tinggi. Kau lanjutkan dengan mengutip teori Galileo, manusia tidak akan selamanya berada pada posisi yang sama dalam sehari-semalam. Bahkan, akan terus berputar dari tempat tinggi lalu beranjak ke posisi terendah. Walhasil, kehidupan tak selamanya indah, suatu saat akan berubah menuju titik terburuk yang tak pernah dirindukan. Begitupun sebaliknya.

               “Kita terluka hari ini, mereka terluka selamanya. Kalian harus bertahan dalam masa perjuangan, agar esok menuai hasil yang memuaskan. Karena sukses itu dinilai dari usahanya, bukan hasilnya. Nikmati prosesnya, jangan hanya berandai-andai esok hari kita akan menjadi seperti apa.” Ucapmu waktu itu menyulut sorak-sorai dan tepuk tangan dari kami, murid-muridmu. Menggugah jiwa-jiwa yang masih setia di titik nyaman, agar beranjak pergi menyaksikan dunia di luar sana yang begitu indah untuk sekedar diratapi.

Layaknya sungai, kau adalah mata air yang mengalirkan semangat pada muara di hati kami.

               Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kau hadir di sekolah kami. Kuingat kebiasaanmu membubuhkan kalimat motivasi di papan tulis, untuk kemudian kami baca bersama-sama dengan lantang. Man jadda wajada, adalah salah satunya. Aku sendiri awalnya tak mengerti maksud tulisan itu, hingga suatu hari kau bercerita bahwa kalimat arab itu kaudapat dari gurumu dulu di pesantren. Arti kalimat itu adalah barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapat hasil yang memuaskan.

               Kau juga begitu perhatian pada setiap muridmu. Selalu kau tanyakan kabar muridmu yang tidak hadir karena sakit atau uzur yang lain.

               Bagiku kau bukan sekedar PNS pengharap gaji pemerintah. Dengan ikhlas kau sumbangkan sebagian uang gajimu kepada orang tua siswa yang kurang mampu. Tak perlu ragu, aku yakin anak-istrimu pastilah tercukupi dengan hasil pekerjaanmu di luar jam sekolah. Kau sering berpesan, “Sebagian dari penghasilan yang kita terima, terdapat hak yang harus diberikan kepada orang lain, agar kehidupan ini seimbang.”

               “Lihatlah, betapa banyak anak kecil yang terpaksa bekerja, berpanas-panasan di pinggir jalan . Sementara kita sering lupa betapa perih kehidupan yang mereka jalani. Bersyukurlah, kalian masih bisa menikmati indahnya belajar!” Nasehatmu pada kami.

               Sebagai ketua kelas, aku menoleh ke kanan-kiri, memastikan seisi kelas memperhatikan ucapanmu. Tepat saat mataku berhenti, di bangku paling belakang kulihat sesosok muridmu tertunduk bagai pohon kelapa di tepi pantai, terhempas oleh kencangnya angin, akarnya rapuh tak sanggup mencengkeram tanah yang lemah akibat terkikis abrasi kehidupan.

               Tak berselang lama, lonceng sekolah terdengar memekik di telinga, begitu angkuh menghabisi kami yang sedang asyik-masyuk oleh keterangan-keterangan yang kau paparkan. Kami seolah dipaksa pergi dari rumah sendiri.

               “Anak-anak, sekarang waktunya istirahat. Silahkan kalian gunakan dengan bijak.” katamu meredakan kejengkelan kami.

               Setelah seisi kelas berhamburan pergi, aku beranjak menemui sosok lesu di bangku belakang tadi. “Boleh aku duduk di sampingmu?” Aku memohon padanya.

               Dengan satu anggukan ritmis, sosok itu sepertinya berkenan dengan keberadaanku di sampingnya.

   “Perkenalkan namaku Rimba!” Aku menawarkan tangan.

“Aku Raya.” Ucapnya lirih tak bersemangat.

Kulihat jauh di dalam matanya, ada sesuatu yang merongrong sebentuk kepedihan bertumpuk-tumpuk. “Kenapa kamu tidak keluar kelas?” Dengan canggung aku berusaha membuka pembicaraan.

               “Kalau pun aku menjawabmu, kau pasti takkan mengerti maksudku.” Jawabnya ketus. “Rimba. Dari awal aku sudah tahu namamu. Kau pasti heran melihatku lemas saat siswa lain bersemangat. Sadarlah! Sejatinya aku tidak pernah ada dalam kehidupan yang kaujalani.”

               Aku tak mengerti apa yang ia bicarakan. Jawaban Raya tidak sesuai dengan pertanyaanku. “Apa maksudmu?” Tanyaku lagi.

               “Perlu kau ketahui, aku ada bukan sebagai kenyataan yang sesungguhnya. Aku hanyalah isyarat alam terhadapmu. Lihat sekitarmu! Alam sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia. Mungkin hanya dengan bencana kita bisa sadar, berusaha merawat, dan memperbaiki kerusakan di muka bumi.” Lanjut Raya.

               Aku semakin heran dengan Raya. Ia tiba-tiba melampiaskan kekesalannya padaku. Sedang, apa penyebabnya hingga ia bertingkah seakan aku telah berbuat kesalahan yang sebegitu besar? Padahal baru kali ini aku melihatnya di kelas. Kemana saja dia selama ini? Ataukah, aku saja yang terlalu acuh sampai teman sekelas saja tidak semua aku kenali, padahal aku ketua kelas?

               Hening semakin menyeruak di antara kami. Raya masih terdiam, tak nampak akan melakukan sesuatu. Namun, dugaanku salah. Ia sedikit bergeser dari tempat duduknya, berusaha mendekat padaku. Tanpa rasa canggung, tiba-tiba Raya berbisik lirih di dekat telingaku.

               “Rimba, kau harus tetap hijau! Tunggulah, suatu saat alam akan menyirami duniamu.”

*

               “Rimba, bangun!” Ucapmu sambil menepuk kencang pundakku.

               “Hah….!” Aku terlonjak. Bangun dari tidurku. Keringat membasahi tubuhku dan membuat nafasku naik-turun. Kau membangunkanku.

               “Kita harus segera pergi mencari tempat berlindung. Ada gempa bumi!”     Ruangan kelas begitu riuh oleh teriakan. Semua siswa berlarian tak tentu arah. Syahdan, ternyata sedari tadi aku lelap tertidur. Dan pertemuanku dengan Raya hanya sebatas mimpi!

“Ah, aku harus lari!” Seruku dalam hati.

*

               Nahas, gempa dan tsunami banyak menelan korban. Ribuan jiwa terenggut nyawanya, menyisakan kecamuk pada pikiran orang-orang yang ditinggalkan. Aku menyisir kesana-kesini. Kulihat pohon-pohon berserakan, bangunan jungkir-balik tak beraturan, bercampur bersama bekas air laut yang mengamuk hingga daratan. Hari itu, dengan bermodal seragam sekolah koyak, aku berjalan tertatih. Ada sedikit luka lebam akibat tertimpa reruntuhan saat banjir bandang berlangsung. Syukur aku selamat.

               Kusadari, bencana adalah sebuah perwujudan dari murka alam. Hutan yang dahulu hijau tertanami pepohonan rindang menjelma gedung pencakar langit. Laut biru kini tak lagi indah karena tercemar limbah. Katanya itu semua adalah satu bentuk perkembangan zaman. Namun imbas yang timbul darinya adalah rusaknya lingkungan. Perkembangan harusnya tak merusak! Jika merusak, patutkah dikatakan demikian? Sebut saja, globalisasi kalian itu adalah awal menuju kematian dunia.

*

               Langit kembali cerah. Hari di mana aktivitas sekolah kembali berjalan seperti semula. Gempa-tsunami telah lalu, membekas pada ranting, bangunan dan bekas-bekas lain di setiap sudut sekolah. Juga pada hati kami yang runtuh saat mendengar kabar bahwa kau menghilang! Hingga detik di mana kisah ini ditulis kau belum juga ditemukan.

               “Akan selalu ku kenang tiap nasihatmu. Kau disana, atau entah dimana, akan tetap menjadi guru kami!”

               Do’aku sepanjang waktu.[]

Lirboyo, 24 November 2019

*Penulis Muhammad Abdu Fadlillah. Santri 22 tahun asal Indramayu, Asrama HMC-15.

Baca juga:
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA (BAG. 1)

Subscribe Juga: Pondok Pesantren Lirboyo

Cerpen Santri : Kisah Yang Mengisahkan

Dalam kisah hidupku sampai saat ini, tak ada cerita yang menyenangkan. Setiap alurnya, aku selalu membencinya. Membenci setiap ceritanya. Engkau seharusnya mengerti, bukankah kau sendiri yang menciptakan gerak dalam kisah hidupku ini? Kau ciptakan aku sebagai lembaran-lembaran salaf , lembaran dengan makna yang tak pernah habis mereka kaji di sore senja. Bukankah seharusnya menyenangkan? Tapi entah kenapa kau ciptakan kisahmu ini begitu sedih. Cerita yang membosankan.

Bahkan untuk sampai saat ini, kau pun masih saja menceritakanku sebagai sesuatu yang terlupakan di sudut ini. Menunggu sampai berdebu.

Tuhan! Sampai kapan kau ciptakan aku sebagai sesuatu yang harus terlupakan di sudut ini. Aku bosan. Bebaskanlah aku dari semua ini!”

Seperti itulah kau ceritakan aku meratap. Mati tertelan sepi.

Lalu tokoh “kita” yang kau ciptakan sebagai seorang yang telah membeliku setahun silam, entah kenapa pula engkau menjadikan kisahnya sebagai santri yang malas. Kau kisahkan hari-harinya hanya untuk menjejal rindu dari dan untuk seorang wanita yang dulu pernah berjanji untuk saling menjaga hati. Sangat membosankan.

Entah berapa lama sampai aku telah melewati hari-hari dalam kisah yang kau ciptakan ini. Kau ceritakan aku tetap terlupakan di sudut ini. Tempat yang kian berdebu. Lalu, tanpa sadar aku teringat bagaimana kau kisahkan ceritamu ini. Dahulu, kau kisahkan aku sebagai lembaran-lembaran kitab yang bahagia. Penuh makna. Saat itu pula, tokoh “kita” yang kau ciptakan sebagai pengembara ilmu tak lain adalah seorang santri yang rajin. Hari-harinya kau kisahkan dia dengan semangat di matanya. Sampai akhirnya wanita telah memaksanya untuk menelan pahit kerinduan, menciptakan garis-garis kesedihan. Tatap matanya hanya menyisakan perih, lantas meninggalkanku di sudut lemari ini.

Kekasih! Rindu ini memaksaku untuk berjumpa, tapi raga teramat jauh. Kumohon, datanglah dan temani aku dalam mimpi indah ini.”

Ratapannya sungguh membuatku resah.

Apakah kau tahu? Sesekali aku berpikir ingin menjadi badut jenaka hanya untuk menghibur tokoh “kita” itu, mecampuri kisahmu dengan kebahagiaan. Sesekali pula aku membenci pun cemburu melihat cerita yang kau kisahkan sebelum aku. Kau kisahkan mereka penuh bahagia. Sedang aku, untuk kisahmu ini? Selalu air mata yang kau berikan.

Namun, aku tak pernah tahu seperti apa kau akhiri kisahmu ini. Aku akan tetap menunggu. Lalu mencoba merayumu dalam mimpi dengan kisah yang lain. Kisah yang lebih indah. Aku akan tetap bersabar menunggu kisah sendumu sampai menemui akhirnya.

***

Berminggu telah berlalu dalam penantian. Aku mulai sangat bosan, tokoh “kita” selalu saja bersedih, memandangi sebingkai wajah yang menjadi hulu dari segala dukannya.

Kekasih! Sepertinya lukaku hanya bisa terbasuh oleh senyum indah itu. Kumohon, tersenyumlah.”

Ucapannya berhasil membuatku merasa jijik.

Lalu, di suatu hari kau kisahkan tokoh “kita” di cari oleh orang-orang berkemeja hitam. Aku mengenal mereka. Tanpa basa-basi, mereka membawa tokoh “kita” ke tempat yang tak pernah aku mengerti, karena kau tak pernah berkisah “kemana dia pergi”. Hanya menyisakan wajah “cemas”. Aku mulai khawatir.

Setelah itu, apa yang aku lihat? Rambutnya tak menyisa sedang resah tak juga hilang di balik pelupuk matanya. Kenapa semua ini bisa terjadi? Tapi dalam kisah yang kau ciptakan, kau masih menyembunyikan “sebabnya”.

Saat ini, aku kerap melihat tokoh “kita” berlama-lama mengais lamunan di sudut kamar ini. Entah hal apa yang terselip mengganjal pikiran sehatnya. Karena, kau pun tak juga menjelaskan.

Sampai kapan dia melamun di sudut sana!” pikirku penuh tanya.

Namun, sekilat guntur membelah langit. Kau kisahkan dia beranjak, mengambil kopiah hitamnya yang kian lusuh. Meraih diriku yang kian usang termakan masa, membawaku pergi menjemput senja.

Hey! Apa yang engkau rencanakan? Bukankah kisah ini seharusnya tetap menjadi duka?”

Tanyaku padamu, meski tak kau hiraukan. Namun, sepertinya aku tak perlu kejelasan darimu. Karena lihatlah! Kau kisahkan dia menyelipkan sebingkai wajah dalam lembaran-lembaranku. Wajah seorang ibu.[]

 

 

Oleh: Wahyudin bin Kholidin, kamar Q.09, santri asal Subang