Tag Archives: cerpen

Tipuan dari Sang Iblis

Tipuan dari Sang Iblis | Sahabat Abdullah Umi Maktum adalah seorang yang tidak bisa melihat. Suatu hari beliau berangkat jama’ah ke Masjid, di tengah jalan beliau tergelincir dan terjatuh hingga beliau terluka.

Keesokan harinya beliau berangkat jama’ah lagi. Anehnya mendadak saja ada pemuda yang berbaik hati mau mendampingi beliau menuju masjid. Supaya sahabat Ibnu Maktum tidak tergelincir dan jatuh lagi.

Hari-hari berlalu, si pemuda itu selalu setia mendampingi sahabat Ibnu Maktum jikalau hendak berangkat jama’ah lima waktu. Karena didorong rasa penasaran dan rasa terima kasihnya akhirnya beliau bertanya identitas si pemuda. Awalnya si pemuda enggan memberitahu identitasnya. Namun akhirnya ia mau mengaku setelah sahabat Ibnu Maktum mendesaknya. “Saya adalah Iblis yang menyamar, semenjak kamu terjatuh ketika hendak berangkat ke masjid, separuh dari seluruh dosa yang anda miliki berguguran. Dan saya khawatir jikalau anda terjatuh untuk kedua kalinya maka dosa-dosa yang anda miliki akan berguguran semua. Jadi, saya mengantar anda tiap kali berangkat ke masjid untuk memastikan bahwa anda tidak terjatuh lagi di jalan.”

***

Kita telah mengenal iblis beserta setan sebagai musuh para manusia, dan itu bukan main-main, mereka menggoda para manusia agar terjerumus pada kesesatan atau setidaknya pada kerugian. Semacam kisah sahabat Abdullah Ibnu Maktum di atas. Saya teringat ucapan orang tua dulu, bahwasanya setan mencari teman untuk di jadikan ancik-ancik (tempat berdiri) di neraka dengan cara menggoda manusia.

Para Setan dalam beraksi pun memiliki caranya sendiri. Ada yang sudah ahli pada bidangnnya. Sebut saja setan A’war, ia beraksi bagaikan koboy, ia adalah setan yang menggoda manusia sebagai penggoda dalam urusan birahi. Dia membangkitkan birahi seorang pemuda dengan jalan meniupi kemaluanya, dan jika seorang pemudi dia akan meniupi bagian pantatnya. Lantas setan A’war akan tertawa kegirangan ketika kedua muda mudi tadi melakukan perbuatan zina.

Ini baru satu dari sekian banyak jenis Setan. Sebenarnya jenis setan ada banyak sekali. Tapi pada kesempatan kali ini saya lebih ingin menyinggung jenis setan yang sering menggoda para tolabul ilmi, atau bisa kita sebut Santri. Yakni setan yang berjuluk: Setan Nganan

baca juga: Cerpen Santri: Kisah yang Mengisahkan

Mengenal lebih jauh Setan Nganan

Sesuai namanya frasa Nganan yang di ambil dari akar kata kanan memiliki artian identik pada suatu perbuatan baik. Sedangkan setan memiliki pekerjaan yang condong pada perbuatan buruk. Apakah ini bertentangan? Tidak. Karena justru kanan yang di maksud di sini adalah salah satu trik atau tipuan si setan guna menjerumuskan manusia.

Pada umumnya setan menggoda manusia dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Namun setan Nganan ini berbeda, ia menjerumuskan korbannya dengan iming-imingi kebaikan, namun alih-alih mendapatkan kebaikan, justru si korban akan melenceng dari tujuan utamanya. Masih untung, terkadang si korban mendapatkan kebaikan namun dari jalan yang di tawarkan si setan kendati demikian yang didapatkanya itu bukanlah tujuan sebenarnya. Dan kebanyakan selalu berakhir dengan penyesalan si korban karena gagal menggapai kebaikan yang ia incar.

Selain setan Nganan ada pula setan yang menggunakan trik konveksional dalam mengganggu tolabul ‘ilmi. Teringat cerita guru bahasa jawa saya sewaktu SMP dulu. Setan menggangu pencari ilmu dengan tiga cara (trik). pertama, menggunakan tepung. Tepung itu nanti ditaburkan ke muka si pencari ilmu supaya ia mengantuk lantas tertidur. Maka jika ingin menghilangkan efek tepung itu adalah dengan berwudlu.

baca juga: Kebenaran di Kelas Syamsul

Kedua, dengan menggunakan jarum. Konon setan akan menusuk-nusukan jarum tersebut ke pantat seorang pencari ilmu supaya ia merasa tidak betah dan segera hengkang dari majelis ilmu yang ia hadirinya.

Ketiga, adalah jurus pamungkas dan juga merupakan jurus andalan ketika cara pertama dan kedua tidak berhasil. Yaitu dengan mengalihkan pikiran atau perhatian si pencari ilmu. Sehingga fokus perhatian yang seharusnya dicurahkan pada pelajaran menjadi terganggu sebab memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan saat itu.

Uraian tadi hanyalah sekelumit dari sekian banyak trik setan dalam mengganggu seorang pencari ilmu.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa para setan mengganggu seorang pencari ilmu? Ternyata jawabanya adalah karena mereka takut kepada seorang yang ahli ilmu.

Dikisahkan pada suatu malam setan berputar-putar di sekitar masjid. Usut punya usut ternyata dia sedang kebingungan. Kala itu di dalam masjid ada seorang ahli ibadah yang sedang beribadah dan seorang ahli ilmu yang sedang tertidur. Konon si setan takut menghadapi sang ahli ilmu yang tertidur, bukannya takut pada sang ahli ibadah. Mengapa? karena jika si setan menyesatkan sang ahli ibadah, saat itu juga dia khawatir sang ahli ilmu akan terbangun, dan malah meluruskan kembali si ahli ibadah. Sedangkan setan sendiri tidak mempunyai daya untuk menyesatkan sang ahli ilmu karena kedalaman ilmunya.

tonton juga: Keutamaan Membaca Dalailul Khoirot | KH. Ahmad Idris Marzuqi

Maka tidak heran jika dalam kitab ta’limul muta’alim ada klaim bahwa ada satu orang yang alim memberatkan setan ketimbang seribu orang ahli ibadah sa’iya berbunyi:

فإن فقيها واحدا متوارعا # أشدعلى الشيطان من ألف عاب

“Sesungguhnya satu orang ‘alim fiqih yang wira’i itu lebih susah menurut setan ketimbang seribu orang ahli ibadah”

Pada akhirnya jika mungkin Anda merasa sedang berada dalam pengaruh jenis setan manapun, maka berhati-hatilah. Karena alih-alih menemukan jalan sukses malah menuju jalan kerugian. Tentunya dengan selalu bersikap waspada serta meminta perlindungan kepada Allah SWT, dari segala trik dan godaan setan.

Na’udzubillahi min dalik.  

Penulis: M. In’amul Aufa

Tipuan dari Sang Iblis Tipuan dari Sang Iblis
Tipuan dari Sang Iblis Tipuan dari Sang Iblis

Cerpen: KEPADA BURUNG JENIS LAIN

Bayang senja surut mengiring langkah mentari sebagai tanda kepulangan para nelayan. Di tepi pantai, beberapa bangku tersusun rapi hiasi lautan. Pada salah satunya, seseorang terduduk takzim tanpa sedikitpun memandang laut dihadapannya. Ia tampak berjibaku dengan bias wasangka, seolah menerka selaksa masalah untuk diubahnya menjadi solusi.

            Memang, masalah tak kenal waktu datang, tak pasti kapan ia pergi. Manusia dituntut untuk terus menghadapi. Namun jika tubuh sudah tak tahan, apakah pasrah adalah kunci untuk menjawab segalanya?

            “Pasrah bukanlah menyerah. Pasrah adalah fase terakhir yang harus dilakukan. Usaha, doa dan pasrah akan takdir harus saling terikat.” Ungkap salah satu ustadz yang kudengar dari surau tempatku dulu.

            Di hari yang lalu, tak jauh dari tempat yang sama. Kulihat orang itu asyik bercerita. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ia acuhkan apapun, begitu syahdi dalam obrolan-obrolannya sendiri. Kukatakan “sendiri” karena memang benar-benar sendiri, tanpa satupun kulihat orang menemani-mendengarnya bercerita.

            Kuingat, hari itu gerimis rintik menghujam begitu pelan. Disaat yang lain berhambur pergi berteduh di bawah atap-atap warung yang ada, ia malah berdiri gagah menantang lautan. Anehnya, semakin lantang ia bercerita, semakin deras hujan turun.

            “Oh, angin. Oh, hujan. Oh, ombak.” Begitu seterusnya ia berucap.

            Dari jarak tak begitu jauh, aku mengamati laku orang itu. Aku takjub, ternyata bukan hanya hujan, angin juga sangat berteman baik dengannya. Bayangkan, saat ia menyapa “Oh, angin.” Seketika itu pula tetiba angin berhembus kencang, balik menyapa. Aku heran kenapa demikian bisa terjadi, angin-hujan kusaksikan mufakat untuk menghiburnya.

            Aku tak dapat menebak “oh” apalagi yang akan ia katakan. Orang kita, ia sudah gila. Berbeda, kurasa itulah yang disebut manusia sebagai seni. Seni penceritaan tanpa pencitraan.

            Hujan tetap berlangsung, ombak semakin meninggi. Sementara angin bertiup dengan suara mendebarkan hati, tetapi siapa kiranya yang akan mendengarnya? Alam berbicara sendiri tak peduli apakah ada atau tiada manusia menghuni. Lihat, bahkan sekarang alam seolah menyimak khusyuk keluh-kesah seseorang. Berbanding dengan manusia yang hanya mau mendengarkan jika itu sesuai dengan persepsi yang dimiliki.

            Hari-hari berikutnya aku tak menemukan orang itu disana. Aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga, yang aku pun tak mengerti rasa kehilangan itu. Karena sampai detik ini, aku tak pernah memiliki keberhargaan yang sering disebut-sebut manusia. Lalu hari ini, setelah sekian waktu ia menghilang, kudapati orang itu lagi. Betapa bahagianya aku. Bahagia yang aneh. Bagaimana tidak, di saat kulihat orang itu nampak bersedih kenapa aku merasakan kesebalikannya? “Oh, sial. Aku terkena hipnotis, tapi aku sadar.”

***

            Aku semakin dibuat penasaran dengannya. Lalu kuputuskan untuk terbang mendekat, agar dapat kudengar kalimat apa saja yang ia ungkapkan. Sadar tak ada apapun di dekatnya, aku bertengger saja pada bangku sebelah, menjaga jarak agar tak dicurigai. Dari dulu memang aku dikenal sebagai “si pencuri dengar” di surau, rumah penduduk, atau pun masjid, bagiku sama saja. Menangkap hal yang menarik lalu menarasikannya pada segerombolan burung jenis lain adalah kehebatanku sebagai burung gereja.

            Nahas, ia menyadari keberadaanku. “Duhai burung, kemarilah mendekat.” Ucapnya menyapa. “Kemarilah, aku tak akan menyakitimu.” Katanya lagi.

            Selama ini aku tak pernah percaya pada manusia, tetapi kenapa aku merasa begitu yakin padanya? Tanpa daya tubuhku terbang begitu saja hinggap pada jemarinya. Dan aneh, saat bertengger, kakiku tak merasakan adanya tulang pada pangkal ibu jarinya.

            “Wahai, kenapa kau tampak begitu heran denganku?”

            Sungguh, bahkan ia bisa menangkap ekspresi wajahku—yang kata orang—sebegitu rupa semua burung tampak sama. “Siapa gerangan orang ini?” Tanyaku dalam hati.

***

            Kupandang langit yang mulai tampak petang. Segala hal yang sebelumnya terlihat jelas kini samar. Kesamaran yang membuat mata ayam-ayam ternak buta semalaman. Kesamaran yang menjadikan manusia kadang salah menyebut nama. Atau bahkan kesamarasn inilah yang menyebabkanku disebut sebagai burung gereja, seekor burung yang meski tiap hari pulang-pergi ke surau-masjid, akan tetap dipanggil sebagai burung penganut agama yang ada di gereja. Aku putus asa, lalu pergi dari surau mencari tempat baru. Kutelusuri seluruh pelosok tempat yang pada akhirnya singgah disini, di antara atap warga yang ada di tepi pantai Rembat. Tempat dimana aku bertemu dengan orang itu.

            Rasanya ingin sekali kuceritakan semua hal yang terjadi saat itu pada kalian, wahai burung-burung yang bukan satu jenis denganku. Namun, dengan keterbatasan, ini aku sampaikan. Jika suatu saat nanti kalian bertemu dengan seseorang yang senang bercerita sendiri, maka dia lah yang pernah berjumpa denganku. Ucapkan salamku padanya.[]

Penulis: Muhammad Abdu Fadlillah

Baca juga: Rahasia Bapak.

Simak juga: Kilas Pandang Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri 

KEBENARAN DI KELAS SYAMSUL

Kelas Syamsul sedang kosong, Bapak Mustahiq tidak masuk kelas, entah ke mana beliau. Syamsul sebagai ketua kelas maju membawa kitab, agar teman-temannya tidak ramai ia ingin mengajukan pertanyaan sebagai bahasan diskusi mereka untuk mengatasi kegabutan.

“Menurut kalian, bagaimana arti kebenaran itu?” Sesampainya di depan, Syamsul lekas saja membuka percakapan. Teman-temannya tetiba diam, demi melihat Syamsul berbicara seperti serius. Munir yang tadinya rebahan, mengangkat tubuhnya.

“Kebenaran itu saat kita melakukaan sesuatu sesuai keinginan ibu.” Munir teringat ibunya di rumah. Ia mengusap muka, tampaknya ia rindu.

Dimas si penggemar ikan koi mengejek, “Pasti ibumu mempunyai banyak aturan.” Teman-teman menertawakannya. Dimas ikutan, saat tertawa, perutnya bergoyang-goyang seolah terkena terpaan angin.

“Kebenaran adalah apa yang diputuskan oleh Yang Mulia dalam persidangan.” Fajar yang hobi mendengarkan musik dangdut itu angkat bicara. Saat ia masih kecil, Pak De-nya pernah dimejahijaukan soal sengketa tanah, namun berhasil lolos dari jeratan hukum. Mudah saja yang seperti itu bagi Pak De. Beliau mempunyai banyak rekan dan uang.

“Benar, karena Yang Mulia adalah ahli hukum, pasti beliau lebih tahu mana yang benar.” Rafi mendukung Fajar, sambil tangannya membenarkan letak songkoknya yang miring. Songkok itu pemberian kakek, warnanya sudah merah, usianya mungkin sama dengan HUT RI.

“Tidak bisa, hakim memutuskan perkara sesuai dengan yang dia lihat. Kita tidak pernah tahu sejatinya perkara yang tidak pernah kita lihat.” Munir kembali lagi ngeyel.

“Kalau seperti itu, tidak pernah ada masalah yang telah diselesaikan Pak Hakim.” Mbah Rahmat tidak terima. Eh, dia bukan sudah tua, teman-teman memang memanggilnya dengan imbuhan ‘mbah’ karena menghormatinya sebagai yang tertua di antara mereka.

“Lalu bagaimana dengan masalah-masalah manusia? kita, kan, juga memerlukan keputusan, walau putusan itu salah.” Dimas menyela lagi.

Hanyut

Di luar hujan mulai mengguyur, beberapa hari ini, hampir setiap sore hujan datang ke bumi pondok dan sekitar, membawa cerita kelas Syamsul hanyut bersama aliran airnya.

“Berarti kebenaran itu apa yang telah kita sepakati bersama.” Fajar menyimpulkan angannya sendiri tanpa meminta persetujuan yang lain. Sedang Rafi yang ada di sebelahnya manggut-manggut saja layaknya paham.

“Jadi bagaimana jika ada sekawanan penjahat yang tertangkap polisi, mereka sepakat untuk tidak mengakui perbuatannya. Apa mereka benar juga?” Rijal yang tadinya diam tidak tahan juga. Teman-temannya melirik. Rafi menggaruk rambut kepalanya hingga jatuh songkok merah itu.

“Tapi kalau kelompok yang menyepakati kebenaran itu mayoritas, mereka tetaplah yang paling benar. Atau setidaknya hampir benar. Mendekati benar. Kan, nabi menjamin bahwa umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan.” Kali ini Mbah Rahmat benar-benar mau menyudahi diskusi mereka. Karena lonceng akan berdenting beberpa menit lagi.

Di depan, Syamsul mulai capek berdiri. “Kebenaran milik Allah dan Rasulnya, kita sekadar berspekulasi…” Belum tuntas omongan Syamsul, Munir menyela.

“Kita, kan, juga diberi kitab suci dan hadis nabi sebagai pembimbing.” Tangan Munir mengemasi kitab-kitabnya. “Hakikat segalanya akan tampak kelak. Jadi berbuat saja sesuai kaidah agama kita.” Munir melangkah mendahului mereka, lonceng sudah berdenting.

“Woy, tidak semua dijelaskan oleh agama, mungkin sih, semua, tapi, kan, hanya muatan-muatan.” Fajar masih tidak terima teman-teman meninggalkannya keluar kelas paling akhir. Hujan rintik. Mereka keluar kelas agak berlarian.[ABNA]

Baca juga:
CERPEN SANTRI: RAHASIA BAPAK

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….
# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….

CERPEN: Elegi

Tubuh bergetar. Kegelapan menelan cahaya. Duka mencabik tawa. Kami harus kehilangan, lagi dan lagi.

Tempat itu sangat mengerikan. Lebar dan dalam bagai gua, di bagian dalamnya terdapat jeruji-jeruji putih beraturan. Saat gua itu menutup, jeruji-jerujinya bergerak, mencabik-cabik tubuh teman kami tanpa kasih, hingga hancur tak berbentuk.

“Kau lihat itu? Donat sudah dilumat habis!” seru Donat Keju. Ia selalu menakut-nakutiku, menceritakan gua menakutkan yang disebut mulut manusia. Dan barusan aku melihat langsung peristiwa mengerikan itu.
Kami kaum makanan yang tertata rapi di etalase tak memiliki usia panjang. Ada yang sanggup bertahan berhari-hari seperti para kue, ada yang hanya bertahan satu hari, bahkan ada yang baru saja terpajang langsung lenyap. Ketika tangan itu bergerak di atas kami, semua akan berteriak ketakutan. Takut menjadi korban berikutnya.

Usiaku sudah satu hari di tempat ini dan waktuku habis oleh rasa takut. Aku duduk tepat di sebelah Donat Keju. Ia selalu berteriak penuh ketakutan karena jenisnya sudah habis.

“Hei Kue Kelapa, lihat tangan yang sedang bergerak untuk memilih itu!” Serunya.
“Tapi tidak ada pelanggan,” ucapku.
“Tetap saja, apa yang harus kulakukan? Aku ingin berlari, tapi apa daya? Ini mengerikan, mengerikan… tidak… tubuhku!” ia berteriak histeris, dan semakin histeris saat tangan itu berhenti di antara kami. Aku memejamkan mata.

“Kelapa…Kue Kelapa…!!” aku mendengar teriakannya semakin menjauh, aku tak tega melihatnya pergi.
“Tidak! Kue Kelapa, selamat tinggal kau akan terlumat!” Aku terkejut mendengarnya. Ternyata tangan itu mengambilku. Tapi ia tak memberikanku pada pelanggan, ia justru membawaku pergi jauh menyeberangi etalase demi etalase hingga tiba di etalase paling ujung. Aku diletakan di sana, ternyata aku hanya dipindah di tempat sejenisku, kue kering. Di sampingku ada Kue Bolu, tapi ia terlihat begitu murung. Aku pun menyapanya.

“Hai!” Ia hanya melirik. Kuulangi sapaanku, “Hai!”
“Ada apa?” tanyanya merespon.
“Aku baru datang,” jawabku.
Kue Bolu menatapku sebal, “Aku sudah melihatnya. Jangan ajak aku bicara. Aku sedang merenung.”
“Apa yang kau renungkan?” tanyaku penasaran.
Kue Bolu menghela nafas, “Aku tak terpilih.”
Ini mengejutkan! “Bagaimana bisa kau ingin terpilih? Di tempatku sebelumnya semua menangis dan merengek karena takut terpilih!”
“Kau perlu banyak belajar, nak,” kata Kue Bolu seraya menatapku takzim. “Menurutmu untuk apa kita diciptakan? Untuk dipamerkan di etalase atau dimakan?”
“Di-ma-kan…” jawabku ragu.

“Benar. Itulah takdir kita. Bagaimana menurutmu jika kita melenceng dari tujuan penciptaan kita? Saat harusnya kita dimakan tapi hanya dipajang? Itu menyakitkan!” seru Kue Bolu. “Apakah bentukku terlalu buruk, apa rasaku terlihat tak enak, aku tak menarik? Pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul saat kau dibiarkan terlalu lama di etalase. Dan yang lebih mengerikan lagi, saat jamur-jamur menggerogoti tubuhmu, kau akan dibuang, dibiarkan membusuk. Bakteri-bakteri kotor akan mengurai dan menyelapkanmu, belatung-belatung akan muncul dari dalam dirimu. Itu membuktikan bahwa kau tidak berguna. Menyedihkan…”

Aku menyetujui setiap perkataannya. Jenis kami memang jarang diminati, mungkin itu yang menimbulkan perasaan iri pada jenis yang lain. Hingga Bolu berpikir lebih baik dimakan daripada dibiarkan membusuk. Aku terdiam, merenung, memikirkan hal-hal yang harus kami alami. Aku juga tak tahu mana yang lebih baik, dimakan atau dibuang? Mataku terasa berat, perlahan terpejam, meraih alam mimpi.

Aku melihat tempat yang gelap, panas, berbau busuk, menjijikkan. Dari sudut kiriku terdengar rintihan tangis, suaranya begitu pilu menyayat hati, tubuhku bergetar mendengarnya. Saat kuperhatikan lebih dalam, aku mulai mengenal pemilik suara itu itu. Ya, aku mengenalnya. Donat keju! Kupanggil ia agar menoleh ke arahku.

“Donat Keju…!” Ia tak menoleh hingga panggilan ketiga berhasil memalingkannya. Saat ia menoleh ke arahku, aku tak sanggup melihatnya, bentuknya sangat mengerikan.
“Kue Kelapa, kau disana?” tanyanya. Suaranya berat, seperti menahan sakit.
“Ya, apa yang terjadi denganmu? Dimana ini?”
“Apa kau masih di etalase? Semoga kau tak bernasib seperti ini. Aku sudah tertelan, itu sangat menyakitkan, gigi-gigi itu begitu keras.” Ia menangis meratap. “kau tahu,” lanjutnya, “saat tubuhmu hancur itu tak sebanding ketika kau masuk tempat ini, ini lebih mengerikan.”
“Dimana ini?” tanyaku.
“Perut orang rakus. Saat kau dimakan orang seperti ini, ragamu masuk ke dalam perutnya, tapi tidak dengan jiwamu. Karena jiwamu akan masuk ke perut makhluk terkutuk bernama setan.”
“Bagaimana bisa?” tanyaku.
“Entahlah, mungkin mereka berteman. Kau harus segera pergi Kue Kelapa, tempat ini tak baik untukmu. Semoga kau tak bernasib sepertiku.” Ia kembali memalingkan wajah dan menangis meratapi nasibnya.

Aku terbangun dari mimpiku, mimpi yang mengerikan. Kuceritakan mimpi itu pada Kue Bolu. Ia menyimak setiap perkataanku. Kami pun merenung, seperti itukah nasib yang harus kami alami? Tak ada pilihan yang menggembirakan? Termakan lantas jatuh ke dalam lebah berapi atau dibiarkan hingga belatung menghampiri kami, keduanya sama-sama buruk.

Di etalase lain, makanannya sudah banyak yang berganti, tapi tidak dengan etalase ini.
“Oh tidak!”
Aku menoleh ke arah Kue Bolu yang berteriak. “Ada apa Kue Bolu?” tanyaku.
“Lihat tubuhku! Ada bintik di sini! Apa yang harus kulakukan?” Bolu menangis. Apa yang ia takutkan telah terjadi, ada bintik hitam dengan semburat abu-abu di sekitarnya. Jika bintik itu muncul, maka itu pertanda bahwa Bolu tak lagi berguna. Bolu semakin lemah, makin banyak bintik hitam yang muncul, hingga tangan itu datang dan membawanya pergi. Ia berikan seulas senyum sebagai ucapan perpisahan dan seakan mendoakan semoga aku tak bernasib seperti dirinya. Kini aku merasa sendirian. Sebenarnya ada banyak makanan yang lain, tapi aku malas mengajak mereka berbincang.

Aku mengisi waktu untuk membenahi diri, mempersiapkan diri, menyambut jalan mana yang akan menimpaku. Jalan mana pun aku sudah siap. Lalu tiba-tiba aku merindukan Kue Keju, bagaimana ia sekarang di lembah itu? Aku juga merindukan Kue Bolu, ia pasti sedang berteriak dan menangis di dalam tong sampah bersama makanan-makanan sisa yang tak diinginkan.

Saat mataku terpejam, tubuhku seakan melayang di ruang hampa, aku mendengar bisikan-bisikan seorang lelaki dan perempuan, ternyata pemilik toko dan pelanggan. Aku terjual, ada yang membeliku. Pemilik toko memasukkan aku ke dalam kotak kecil bersama dua makanan lain. Lama kami terdiam di dalam kotak, udaranya sangat panas. Andai aku cokelat, sekarang aku pasti sudah meleleh. Aku heran, kenapa pembeli itu tak segera memakan kami.
Tiba-tiba kotak ini terbuka, tangan pembeli mengambilku sebagai santapan pertama. Aku memejamkan mata, menguatkan hati, sebelum tubuhku masuk ke dalam gua itu. Namun mulut mungil itu bergerak-gerak mengucapkan suatu kalimat yang baik dan nama yang agung. Mungkin itu yang disebut doa. Lantas, perlahan ia memasukkanku ke dalam mulutnya, benar-benar gelap, gigi-gigi itu mulai memotong tubuhku, dan yang mengherankan, aku tak merasakan sakit, aku baik-baik saja.

Ia terus memotong hingga aku hancur berkeping-keping, tubuh lembutku turun perlahan melewati kerongkongan, dan terus ke bawah hingga usus dua belas jari, sampai tempat terujung. Dan jiwaku tak ingin masuki ini, di dalam lembah gelap seperti Donat keju. Aku tetap bersemayam dalam tubuh pembeli, meresap dalam darah dan dagingnya. Mungkin karena doa itu. Pembeli mengikatku, setan pun tak bisa menyeretku ke dalam lebah terkutuknya. Dengan doa itu pembeli membuatku bermanfaaat untuknya. Aku menjadi paham, seperti apa seharusnya kaum kami berakhir. Seperti ini, setiap makanan harus berakhir sepertiku, tidak seperti Donat Keju apalagi Bolu.

Oleh: Khijatul Karomah. Penulis adalah santri PPTQ, kelahiran 23 Mei 1995, asal Wonosobo, Jawa Tengah.

*Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan kita. Setiap hal baik yang diniatkan ibadah, maka hal itu akan menjadi berkah.*

CERPEN: Guruku; Rimba-Raya

Semilir angin berkelit di antara jendela kelas, membuat rambutmu yang biasa disisir rapi terlihat memberontak bosan, berusaha bercengkrama dengan alam. Sedikitpun kau tak bergeming, tetap fokus pada buku pelajaran. Mendung di luar membuat seisi ruangan menjadi gelap. Kau suruh salah seorang muridmu menyalakan lampu meski saat itu masih pukul 10 pagi.

“Cuaca akhir-akhir ini tak memungkinkan kita untuk mengadakan praktek di lapangan sekolah. Sebagai gantinya saya akan bercerita pada kalian.” Tuturmu membuka pelajaran.

               “Anak-anak, ketahuilah, akibat dari pemanasan global cuaca sekarang tidak menentu dan sulit diprediksi.” Kau bercerita bahwa kebakaran hutan menyebabkan polusi udara, laut sekarang tak sebiru di masa lalu. Kami, anak zaman kerusakan selalu dikambing-hitamkan oleh angkuhnya moral manusia.

               “Masih penak zamanku, toh?” Dengan gaya bapak pembangunan kau mengejek kami. Separah apapun kau merendahkan kami, anak zaman sekarang, di akhir kelas kau selalu meniupkan semangat kepada kami, untuk bangkit dari keterpurukan.

Kau jelaskan bahwa air yang mengalir selalu mencari tempat yang lebih landai. Sesuai yang sudah digariskan oleh penciptanya, air takkan menggenang pada dataran yang lebih tinggi. Kau lanjutkan dengan mengutip teori Galileo, manusia tidak akan selamanya berada pada posisi yang sama dalam sehari-semalam. Bahkan, akan terus berputar dari tempat tinggi lalu beranjak ke posisi terendah. Walhasil, kehidupan tak selamanya indah, suatu saat akan berubah menuju titik terburuk yang tak pernah dirindukan. Begitupun sebaliknya.

               “Kita terluka hari ini, mereka terluka selamanya. Kalian harus bertahan dalam masa perjuangan, agar esok menuai hasil yang memuaskan. Karena sukses itu dinilai dari usahanya, bukan hasilnya. Nikmati prosesnya, jangan hanya berandai-andai esok hari kita akan menjadi seperti apa.” Ucapmu waktu itu menyulut sorak-sorai dan tepuk tangan dari kami, murid-muridmu. Menggugah jiwa-jiwa yang masih setia di titik nyaman, agar beranjak pergi menyaksikan dunia di luar sana yang begitu indah untuk sekedar diratapi.

Layaknya sungai, kau adalah mata air yang mengalirkan semangat pada muara di hati kami.

               Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kau hadir di sekolah kami. Kuingat kebiasaanmu membubuhkan kalimat motivasi di papan tulis, untuk kemudian kami baca bersama-sama dengan lantang. Man jadda wajada, adalah salah satunya. Aku sendiri awalnya tak mengerti maksud tulisan itu, hingga suatu hari kau bercerita bahwa kalimat arab itu kaudapat dari gurumu dulu di pesantren. Arti kalimat itu adalah barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapat hasil yang memuaskan.

               Kau juga begitu perhatian pada setiap muridmu. Selalu kau tanyakan kabar muridmu yang tidak hadir karena sakit atau uzur yang lain.

               Bagiku kau bukan sekedar PNS pengharap gaji pemerintah. Dengan ikhlas kau sumbangkan sebagian uang gajimu kepada orang tua siswa yang kurang mampu. Tak perlu ragu, aku yakin anak-istrimu pastilah tercukupi dengan hasil pekerjaanmu di luar jam sekolah. Kau sering berpesan, “Sebagian dari penghasilan yang kita terima, terdapat hak yang harus diberikan kepada orang lain, agar kehidupan ini seimbang.”

               “Lihatlah, betapa banyak anak kecil yang terpaksa bekerja, berpanas-panasan di pinggir jalan . Sementara kita sering lupa betapa perih kehidupan yang mereka jalani. Bersyukurlah, kalian masih bisa menikmati indahnya belajar!” Nasehatmu pada kami.

               Sebagai ketua kelas, aku menoleh ke kanan-kiri, memastikan seisi kelas memperhatikan ucapanmu. Tepat saat mataku berhenti, di bangku paling belakang kulihat sesosok muridmu tertunduk bagai pohon kelapa di tepi pantai, terhempas oleh kencangnya angin, akarnya rapuh tak sanggup mencengkeram tanah yang lemah akibat terkikis abrasi kehidupan.

               Tak berselang lama, lonceng sekolah terdengar memekik di telinga, begitu angkuh menghabisi kami yang sedang asyik-masyuk oleh keterangan-keterangan yang kau paparkan. Kami seolah dipaksa pergi dari rumah sendiri.

               “Anak-anak, sekarang waktunya istirahat. Silahkan kalian gunakan dengan bijak.” katamu meredakan kejengkelan kami.

               Setelah seisi kelas berhamburan pergi, aku beranjak menemui sosok lesu di bangku belakang tadi. “Boleh aku duduk di sampingmu?” Aku memohon padanya.

               Dengan satu anggukan ritmis, sosok itu sepertinya berkenan dengan keberadaanku di sampingnya.

   “Perkenalkan namaku Rimba!” Aku menawarkan tangan.

“Aku Raya.” Ucapnya lirih tak bersemangat.

Kulihat jauh di dalam matanya, ada sesuatu yang merongrong sebentuk kepedihan bertumpuk-tumpuk. “Kenapa kamu tidak keluar kelas?” Dengan canggung aku berusaha membuka pembicaraan.

               “Kalau pun aku menjawabmu, kau pasti takkan mengerti maksudku.” Jawabnya ketus. “Rimba. Dari awal aku sudah tahu namamu. Kau pasti heran melihatku lemas saat siswa lain bersemangat. Sadarlah! Sejatinya aku tidak pernah ada dalam kehidupan yang kaujalani.”

               Aku tak mengerti apa yang ia bicarakan. Jawaban Raya tidak sesuai dengan pertanyaanku. “Apa maksudmu?” Tanyaku lagi.

               “Perlu kau ketahui, aku ada bukan sebagai kenyataan yang sesungguhnya. Aku hanyalah isyarat alam terhadapmu. Lihat sekitarmu! Alam sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia. Mungkin hanya dengan bencana kita bisa sadar, berusaha merawat, dan memperbaiki kerusakan di muka bumi.” Lanjut Raya.

               Aku semakin heran dengan Raya. Ia tiba-tiba melampiaskan kekesalannya padaku. Sedang, apa penyebabnya hingga ia bertingkah seakan aku telah berbuat kesalahan yang sebegitu besar? Padahal baru kali ini aku melihatnya di kelas. Kemana saja dia selama ini? Ataukah, aku saja yang terlalu acuh sampai teman sekelas saja tidak semua aku kenali, padahal aku ketua kelas?

               Hening semakin menyeruak di antara kami. Raya masih terdiam, tak nampak akan melakukan sesuatu. Namun, dugaanku salah. Ia sedikit bergeser dari tempat duduknya, berusaha mendekat padaku. Tanpa rasa canggung, tiba-tiba Raya berbisik lirih di dekat telingaku.

               “Rimba, kau harus tetap hijau! Tunggulah, suatu saat alam akan menyirami duniamu.”

*

               “Rimba, bangun!” Ucapmu sambil menepuk kencang pundakku.

               “Hah….!” Aku terlonjak. Bangun dari tidurku. Keringat membasahi tubuhku dan membuat nafasku naik-turun. Kau membangunkanku.

               “Kita harus segera pergi mencari tempat berlindung. Ada gempa bumi!”     Ruangan kelas begitu riuh oleh teriakan. Semua siswa berlarian tak tentu arah. Syahdan, ternyata sedari tadi aku lelap tertidur. Dan pertemuanku dengan Raya hanya sebatas mimpi!

“Ah, aku harus lari!” Seruku dalam hati.

*

               Nahas, gempa dan tsunami banyak menelan korban. Ribuan jiwa terenggut nyawanya, menyisakan kecamuk pada pikiran orang-orang yang ditinggalkan. Aku menyisir kesana-kesini. Kulihat pohon-pohon berserakan, bangunan jungkir-balik tak beraturan, bercampur bersama bekas air laut yang mengamuk hingga daratan. Hari itu, dengan bermodal seragam sekolah koyak, aku berjalan tertatih. Ada sedikit luka lebam akibat tertimpa reruntuhan saat banjir bandang berlangsung. Syukur aku selamat.

               Kusadari, bencana adalah sebuah perwujudan dari murka alam. Hutan yang dahulu hijau tertanami pepohonan rindang menjelma gedung pencakar langit. Laut biru kini tak lagi indah karena tercemar limbah. Katanya itu semua adalah satu bentuk perkembangan zaman. Namun imbas yang timbul darinya adalah rusaknya lingkungan. Perkembangan harusnya tak merusak! Jika merusak, patutkah dikatakan demikian? Sebut saja, globalisasi kalian itu adalah awal menuju kematian dunia.

*

               Langit kembali cerah. Hari di mana aktivitas sekolah kembali berjalan seperti semula. Gempa-tsunami telah lalu, membekas pada ranting, bangunan dan bekas-bekas lain di setiap sudut sekolah. Juga pada hati kami yang runtuh saat mendengar kabar bahwa kau menghilang! Hingga detik di mana kisah ini ditulis kau belum juga ditemukan.

               “Akan selalu ku kenang tiap nasihatmu. Kau disana, atau entah dimana, akan tetap menjadi guru kami!”

               Do’aku sepanjang waktu.[]

Lirboyo, 24 November 2019

*Penulis Muhammad Abdu Fadlillah. Santri 22 tahun asal Indramayu, Asrama HMC-15.

Baca juga:
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA (BAG. 1)

Subscribe Juga: Pondok Pesantren Lirboyo