AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR DALAM BINGKAI NEGARA DEMOKRASI

Berbicara perihal amar makruf nahi munkar tidak bisa lepas dari kebebasan. Dalam negara demokrasi, kebebasan berpendapat bagi rakyat merupakan persyaratan mutlak untuk berlangsungnya sistem demokrasi. Karena hanya dengan kebebasan berpendapat, rakyat dapat berperan sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Namun banyak sekali yang menganggap kebebasan bernegara tanpa memiliki batasan.

Baik batasan agama, hukum, maupun norma sosial. Pemahaman seperti ini, sebenarnya sangat mudah untuk disalahkan. Sebab, secara kemanusiaan, se-bebas apapun orang berbuat sesuatu akan tetap terbatasi oleh kebebasan orang lain.

Kebebasa berbicara (Freedom of Speech)

Kebebasan berbicara adalah saat masyarakat dapat menyampaikan pendapatnya pada publik tanpa rasa takut. Entah pendapat tersebut berupa kritik atau dukungan terhadap pemerintah.

Hal yang perlu di perhatikan ialah kebebasan berbicara dalam konteks demokrasi bukan untuk bebas melontarkan perkataan caci maki, hinaan, pelecehan, atau ujaran kebencian. Kebebasan rakyat adalah ketika rakyat bebas untuk menyatakan pendapat, kritik, ide, dan pikiran atau gagasannya.

Sehingga, eksistensi rakyat tetap terjamin sebagai manusia merdeka. Inilah koridor kebebasan berbicara yang jadi nilai fundamental dalam demokrasi.

Dalam islam sendiri, kebebasan berpendapat mendapatkan jaminan penuh. Sampai-sampai dalam tataran tertentu, persoalan ini lebih penting dari sekedar kebebasan itu sendiri. Bahkan, telah menjadi suatu kewajiban yang ada dalam bingkai amar makruf nahi munkar. Rasulullah Saw. bersabda dalam suatu hadis:

قل الحق ولو كان مرّا

“Katakanlah kebenaran meskipun pahit.” [HR. Ibnu Hibban]

Umat islam pada umumnya, ketika melihat kemungkaran nyata wajib baginya untuk mencegah dengan tindakan, lisan, atau ingkar dalam hatinya. Sesuai dengan level kemampuannya. Rasulullah Saw. bersabda:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان ) رواه مسلم

“Dari Abi Sa’id al-Khudri R.a. beliau bekata: ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa melihat sesuatu yang mungkar, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya; ini termasuk dari lemahnya iman.” [HR. Muslim]

Dalam konteks bernegara, islam sangat mengapresiasi kebebasan berbicara. Dalam Islam juga dijelaskan bahwa kebenaran di depan pemimpin yang lalim, dinilai sebagai jihad paling utama.

Sebuah hadis menyebutkan, Rasulullah Saw. bersabda: “Jihad yang paling utama adalah berkata kebenaran di hadapan pemimpin yang lalim.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi]

Tatacara amar makruf nahi mungkar

Sudah sepatutnya memerintahkan sesuatu yang baik juga harus dengan cara yang baik. Tidak diperbolehkan memerintah kebaikan dengan cara yang tidak baik.

Imam Zainuddin al-Malibary dalam kitab I’anah at-Thalibin menjelaskan bahwa;

“Kewajiban amar makruf nahi mungkar menjadi gugur, apabila dapat mengancam keselamatan jiwa, harta, anggota tubuh, pelecehan seksual. Atau menimbulkan kerusakan lain yang dampaknya lebih besar.”

Tahapan amar makruf ini meliputi; Ta’rif (memberikan pendidikan atau penyuluhan). Wazh (memberikan peringatan dan nasihat). Ketiga, Takhsyin fi al-qoul (memberikan kritik dan kecaman yang tegas). Keempat, Man’u bil qahri (melakukan pencegahan secara paksa).

Dalam tahapan tersebut, dua tahapan terakhir hanya menjadi hak eksklusif pemerintah atau imam (dalam agama). Saat masyarakat umum yang melakukan hal tersebut, akan sangat berpotensi menimbulkan fitnah.

Standar Melakukan Amar Makruf Nahi Mungkar

Melaksanakan amar makruf nahi mungkar, memiliki beberapa standar yang harusnya dipenuhi. Agar bisa diterima dan bukan malah menimbulkan penolakan.

Standar ini diantaranya; amar makruf dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu yag luas (baca; alim) agar tahu batasan-batasan hukum. Atau dilakukan oleh orang yang wira’i agar motifnya benar-benar melakukannya dengan ikhlas, bukan karena hawa nafsu.

Atau dilakukan oleh orang yang memiliki integritas moral (akhlak yang baik), agar amar makruf nahi mungkar dilaksanakan dengan cara santun, dan penuh dengan hikmah, serta terhindar dari cara yang tidak sesuai, seperti melakukan perusakan, atau pengeboman ditempat-tempat maksiat, apalagi dilakukan oleh masyarakat umum.

Dalam al-Quran, Allah Swt. telah menyinggung perihal amar makruf nahi mungkar, seperti dalam surah an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [Q.S. an-Nahl; 125]. []

Penulis: Iskandar Nidhom (Santri Pondok Pesantren Lirboyo, asal Bangkalan-Madura)

Baca Juga: RESENSI KITAB MINHAJ AT-THALIBIN | PART 2

Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.