Penulisan Insyaallah Memakai “Sy” atau “Sh”, Mana yang Benar?

Dalam tulisan sehari-hari, baik di media sosial maupun dalam berbagai narasi, kita sering menjumpai perbedaan dalam penulisan ungkapan insyaallah. Ada yang menulis “insya Allah”, sementara yang lain menuliskannya “insha Allah”. Lantas, manakah penulisan yang benar secara gramatika?

Baca juga: Main Hakim Sendiri, Emang Boleh?

Penulisan Insyaallah dalam Al-Qur’an

Ungkapan insyaallah disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an. Dalam bahasa Arab, ungkapan tersebut ditulis: إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Perlu diperhatikan bahwa kata شَاءَ  menggunakan huruf ش (syin), bukan huruf ص (shad).

Hal ini menjadi penting karena perbedaan penulisan “sy” dan “sh” sebenarnya berkaitan dengan sistem transliterasi yang digunakan dalam mengalihaksarakan huruf Arab ke dalam huruf Latin.

Baca juga: Nafkah Hasil Judi dan Korupsi, Bolehkah Menerimanya?

Penulisan Insyaallah dalam Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, penulisan kata atau ungkapan yang berasal dari bahasa Arab mengikuti kaidah transliterasi yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Salah satu contohnya adalah huruf ش  yang ditransliterasikan menjadi “sy”.

Dengan demikian, ungkapan: إِنْ شَاءَ اللَّه ditransliterasikan menjadi: insya Allah

Hal ini juga sejalan dengan bentuk yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni insya Allah, yang berarti ungkapan untuk menyatakan harapan atau janji yang belum tentu terpenuhi, dengan makna “jika Allah mengizinkan”.

Adapun penggunaan “sh” tidak mengikuti sistem transliterasi bahasa Indonesia. Dalam sistem transliterasi tertentu, khususnya yang menggunakan konvensi bahasa Inggris, “sh” digunakan untuk merepresentasikan huruf ش.

Baca juga: Ternyata Ini Bahaya Ngobrol Saat Adzan Berkumandang

Mengapa Ada yang Menulis “Insha Allah”?

Perbedaan tersebut muncul karena setiap bahasa memiliki sistem transliterasi yang berbeda.

Dalam transliterasi yang lazim digunakan dalam bahasa Inggris, huruf ش  umumnya ditulis “sh”. Karena itu, إِنْ شَاءَ اللَّهُ  ditulis “insha Allah”.

Sementara itu, dalam sistem transliterasi bahasa Indonesia, huruf ش  ditulis “sy”, sehingga bentuknya menjadi “insya Allah”.

Yang perlu diluruskan, penggunaan “sh” untuk huruf ش  dalam transliterasi bahasa Inggris tidak berarti bahwa huruf tersebut adalah ص (shad). Dalam transliterasi bahasa Inggris, huruf ص  justru lazim ditulis “ṣ” atau “s”, tergantung sistem transliterasi yang digunakan.

Baca juga: Mengapa Al-Qur’an Menyebut Pelaku LGBT Sebagai “Al-Fahisyah”?

Jadi, Mana yang Benar?

Jika menggunakan ejaan dan kaidah bahasa Indonesia, bentuk yang tepat adalah “insya Allah”.

Sementara itu, “insha Allah” merupakan bentuk yang lazim ditemukan dalam transliterasi atau penulisan yang mengikuti kebiasaan bahasa Inggris.

Jadi, perbedaan antara “insya Allah” dan “insha Allah” bukanlah perbedaan dalam makna maupun dalam lafaz bahasa Arabnya, melainkan perbedaan sistem transliterasi yang digunakan.

Dengan demikian, jika menulis dalam konteks bahasa Indonesia, terutama dalam tulisan resmi, artikel, atau karya ilmiah, sebaiknya menggunakan bentuk “insya Allah”. Adapun “insha Allah” dapat ditemukan dalam tulisan yang mengikuti konvensi transliterasi bahasa Inggris.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses