Meninjau Fatwa Hukum PUBG

Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG) merupakan salah satu game online yang banyak digemari di Tanah Air. Bagaimana tidak, pengguna PUBG aktif di Indonesia telah menembus angka lebih dari 100 juta pengguna aktif per bulannya. Namun dalam beberapa waktu lalu, para pengguna PUBG sedikit dibingungkan dengan munculnya ‘Fatwa Haram’ dari beberapa instansi tertentu. Lantas, tepatkah rumusan hukum tersebut?

Apabila ditelaah lebih mendalam dalam kacamata syariat (fikih), segala bentuk permainan yang tidak berdampak negatif bagi pemainnya dan tidak disertai adanya perjudian adalah boleh. Sebagian ulama mengatakann Mubah dan ulama lain mengatakan Makruh. Adapun yang dimaksud  tidak berdampak negatif bagi pemainnya adalah setiap permainan yang berguna untuk melatih kecerdasan otak dan permainan yang berbasis strategi.

Dalam hal ini, Syekh Sulaiman Al-Jamal pernah menuturkan:

وَفَارَقَ النَّرْدُ الشِّطْرَنْجَ حَيْثُ يُكْرَهُ إنْ خَلَا عَنِ الْمَالِ بِأَنَّ مُعْتَمَدَهُ الْحِسَابُ الدَّقِيقُ وَالْفِكْرُ الصَّحِيحُ فَفِيهِ تَصْحِيحُ الْفِكْرِ وَنَوْعٌ مِنْ التَّدْبِيرِ وَمُعْتَمَدُ النَّرْدِ الْحَزْرُ وَالتَّخْمِينُ الْمُؤَدِّي إلَى غَايَةٍ مِنْ السَّفَاهَةِ وَالْحُمْقِ

Perbedaan antara permainan dadu dan catur yang dihukumi makruh bila memang tidak menggunakan uang adalah bahwa permainan catur berdasarkan perhitungan yang cermat dan olah pikir yang benar. Dalam permainan catur terdapat unsur penggunaan pikiran dan pengaturan strategi yang jitu. Sedangkan permainan dadu berdasarkan spekulasi yang menyebabkan kebodohan dan kedunguan.” (Lihat: Hasyiyah Al-Jamal ‘Ala Al-Manhaj, vol. V hal. 379)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.