Biografi Singkat Syaikh Ahmad Khotib Al-Minangkabawi

Syaikh Ahmad Khotib

Berikut ini akan kami uraikan tentang biografi Syaikh Ahmad Khotib Al-Minangkabawi. Salah seorang ulama yang sangat masyhur. Beliau termasuk orang pertama yang menjadi Imam Besar Masjidil Haram non Arab. Buah dari pemikirannya bisa kita nikmati sampai sekarang.

Tidak usah lama-lama, mari kita kenali langsung beliau melalui biografi singkat di bawah ini.

Kelahiran Syaikh Ahmad Khotib

Syaikh Ahmad Khotib

Lahir pada tanggal 6 Dzulhijjah 1276 H/ 25 Juni 1860 M. Catatan lain mengatakan bahwa beliau lahir pada tanggal 03 Dzulhijjah. Untuk tahun masehinya ada beberapa riwayat. Yakni 1852 (Tamar Jaya), 1855 (Deliar Noer), 1860 (Hamka).

Syaikh Ahmad Khotib Al-Minangkabawi, Imam Besar Masjidil Haram non Arab non Arab pertama.

Pendidikan Syaikh Ahmad Khotib

Syarif Husain Pemimpin Jazirah Arab

Sejak kecil, Syaikh Ahmad Khotib dididik agama oleh ayahnya dan ulama sekitar tempat tinggalnya. Beliau sudah hafal Al-Qur’an sejak kecil dan berguru langsung pada sang ayah.

Selain itu, beliau juga mendapatkan pendidikan umum dengan bersekolah di lembaga pendidikan milik Belanda yang bernama Meer Uietgebreid Leger Orderwijs (MULO).

Ketika usia 11 tahun, beliau diajak sang kakek Syaikh Abdullah beserta keluarga besarnya untuk pergi menunaikan ibadah haji.

Ketika prosesi ibadah haji rampung, keluarga Syaikh Abdullah pulang  ke Indonesia. Sedangkan beliau menetap di Mekah dan dititipkan pada ulama Indonesia yang ada di sana.

Selama di Mekah, beliau berguru pada Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Abu Bakar Syatha’, Syaikh Ustman Syatha’, Syaikh Umar Syatha’, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lebih banyak lagi ulama yang membuka halaqoh di haromain yang beliau ambil ilmunya.

Dalam bidang keilmuan, beliau melahap semua cabang ilmu mulai dari gramatika arab, fiqih, usul fiqih, hisab, geografi, faroidh, dan lain sebagainya.

Hingga sampai beliau mempunyai kebiasaan mengurung diri di waktu siang hingga malam hanya untuk mutholaah kitab.

Kemasyhuran Syaikh Ahmad Khotib

Masjidil Haram

Kealiman Syaikh Ahmad Khotib dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya dalam ilmu agama Islam, terdengar luas di kalangan ulama-ulama besar pada masa itu. Termasuk juga Syaikh Sholeh Kurdi, salah seorang yang juga terkenal alim di Tanah Haram.

Karena kealiman Sang Imam tersebut, Syaikh Sholeh Kurdi menaruh simpati kepadanya. Sampai-sampai Syaikh Ahmda Khotib diambil menantu oleh Syaikh Sholeh Kurdi di kemudian hari.

Tidak hanya itu, Syarif Husein Mekah juga terpesona oleh keilmuan Syaikh Ahmad Khotib. Sehingga, Syarif Husein atau pemimpin Arab pada waktu itu meminta kepada Syaikh Ahmad Khotib untuk bersedia mengajar di Masjidil Haram. Beliau pun menyanggupinya dan membuka halaqoh di Bab Al- Ziyadah.

Halaqoh yang di buka oleh Syaikh Ahmad Khotib banyak di kunjungi oleh para tholabah dari berbagai penjuru negeri. Kurang lebih ada 100 orang yang istiqomah mengikuti halaqoh beliau hingga selesai.

Murid Syaikh Ahmad Khotib

Murid Syaikh Ahmad Khotib Al-Minangkabawi

Banyak sekali murid-murid beliau yang di kemudian hari ketika kembali ke negerinya menjadi ulama yang masyhur. Di antaranya Syaikh Muhammad Nur (Mufti Kerajaan Langkat), Syaikh Muhammad Sholeh (Mufti Selangor), Kyai Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyyah).

Sedangkan dari pendiri Nahdlatul Ulama sendiri ada Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Mas Alwi bin Abdul Aziz, Kyai Wahab Hasbullah, Kyai Bisri Syansuri, dan masih banyak lagi.

Karya-karya Syaikh Ahmad Khotib

Syaikh Ahmad Khotib Al-Minangkabawi

Kealiman beliau tidak hanya para muridnya saja yang merasakan. Akan tetapi kita juga masih bisa merasakan bagaimana kealiman beliau sekarang. Hal ini bisa kita rasakan dengan membaca karya beliau yang telah beliau karang. Terdapat sekitar 26 buah kitab yang telah beliau bukukan.

Di kalangan pesantren, terdapat karya beliau yang masyhur. Karya tersebut yaitu Hasyiyah An-Nafahat ala Syarhi Al-Waroqot li al-Mahalli, yaitu sebuah karya memperjelas tentang ushul fiqih yang terdapat dalam keterangan kitab Al-Waroqot.

Pola pikir Syaikh Ahmad Khatib sangat universal dan terbuka, dengan menonjolkan pada pemikiran-pemikiran modern. Memandang dalam penggalian ilmu, beliau menggabungkan antara kitab kuning dengan keilmuan umum.

Beliau banyak memberikan sumbangsih keilmuan Islam yang sangat berguna bagi kaum Muslim Indonesia, jazirah Arab, maupun seluruh dunia.

Wafatnya Sang Imam Besar Masjidil Haram

Makam Ma'la

Imam besar Masjidil Haram asli orang Minangkabau ini, wafat pada hari Senin tanggal 9 Jumadil Awal 1334 H. Beliau dimakamkan di komplek perkuburan Al-Ma’la.

Walaupun beliau sudah wafat, tetapi nama beliau tetap harum sampai sekarang lewat ilmu yang beliau ajarkan turun temurun kepada para murid-muridnya dan karya yang masih tetap menjadi acuan pembelajaran oleh umat Muslim hingga sekarang.

Anda bisa membaca sejarah tentang berdirinya Masjid Agung Lawang Songo Pondok Lirboyo

Referensi:

  1. Al-Jawi Almakki,Amirul Ulum, H-65,Global Press, Yogyakarta.
  2. Sanad Ulama Nusantara, Adhi Maftuhin, H-366, Sahifa,Bogor.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.