Tag Archives: HABAIB

Kunjungan Habib Abdul Qodir Jailani as-Syathiri

LirboyoNet, Kediri – Selasa (30/07) Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo kembali dipenuhi dengan santri. Habib Abdul Qodir Jailani as-Syathiri dari Yaman berkunjung dan beramah tamah awal pekan itu.

Acara yang dimulai pukul 13:44 itu berjalan dengan khidmat, beliau menyampaikan beberapa hal yang harus menancap di hati para santri. Salah satu nasihat beliau adalah;

اِتَّقُوْا الله عَن النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Takutlah kepada Allah dari siksa api neraka meski hanya sebesar biji kurma.”

Allah Swt. memberikan nikmat berupa mata yang seharusnya nikmat ini kita gunakan untuk membaca dan memandang alquran.

Hal-hal yang membuat mata terus kuat di usia senja. Pertama adalah membaca al-Qur’an. Kedua, memandang orang tua dengan pandangan yang rahmat. Kemudian menjaga kebersihan. Karena rumah yg bersih mencerminkan penghuninya.

Beliau sangat menyayangkan, jika ada seorang santri yang ‘alim namun tidak mengamalkan ilmunya. Karena ini akan menjadi hal yang sangat menakutkan, selaras dengan muqadimah nadham zubad yang beliau utarakan.

 وَعَالِمٌ بِعِلْمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ # مُعَذَّبٌ مِنْ قَبْلِ عُبَّادِ الوَثَنْ

“Seorang berpengetahuan yang tidak mengamalkan ilmunya, dia akan disiksa sebelum penyembah-penyembah berhala”.

Acara itu selesai Ashar, dan ditutup dengan foto bersama para santri setelah berdoa.[]

Untuk selengkapnya, lihat di YouTube Pondok Pesantren Lirboyo

Zakat Kepada Habaib

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, apakah sah kalau saya menyerahkan zakat saya kepada seorang Habaib yang sekaligus guru saya?. Karena sering dikatakan dalam kajian Fiqih Zakat, bahwa Ahlul Bait Rasulullah Saw adalah golongan yang tidak bisa menerima zakat. Apa yang mendasari rumusan tersebut?. Terimakasih.

Zuhroh U, -Surabaya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

_____

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memberikan zakat kepada Ahlul Bait (keluarga dan keturunan Rasulullah Saw) yang berasal dari Bani Hasyim dan Bani Mutholib.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa Ahlul Bait tidak sah menerima zakat dengan berdasarkan hadis:

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتَ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ

Sesungguhnya zakat ini adalah kotoran dari manusia. Dan sesungguhnya itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad,” (HR. Muslim).

إِنَّ لَكُمْ فِيْ خُمُسِ الْخُمُسِ مَا يُغْنِيْكُمْ

Sesungguhnya bagi kalian (Ahlul Bait) mendapatkan dari Khumusul Khumus (seperlima dari lima bagian harta rampasan perang). Bagian yang telah mencukupi kalian,” (HR. Ibnu Abi Hatim).

Pendapat kedua, menyatakan bahwa Ahlul Bait dapat menerima zakat. Pendapat ini berargumen bahwa salah satu alasan Ahlul Bait tidak bisa menerima zakat adalah karena telah tercukupi dengan seperlima dari lima bagian harta rampasan perang (Ghanimah). Sementara untuk saat ini, tidak ada sediktpun hasil rampasan perang yang diserahkan kepada Ahlul Bait. Dengan demikian, memberikan zakat kepada mereka hukumnya sah. Pendapat ini pun dinyatakan oleh beberapa ulama besar madzhab Syafi’i seperti Imam Al-Ustukhry, Imam Al-Harowi dan diamalkan oleh Al-Fakhrur Rozi.

Namun sebagai catatan, syekh Ba’asyan pernah mengatakan demikian, “Sebaiknya bagi yang menyerahkan zakat kepada Ahlul Bait menjelaskan bahwa harta yang diberikan adalah bagian zakat. Sebab mungkin saja mereka menolak karena bersikap wirai atau hati-hati”.[]waAllahu a’lam

 

Referensi:

Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 106-107, cet. Al-Haromain.

Syarah Al-Yaqut An-Nafis, hal 292.

Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, VI/227.

Taqrirat As-Sadidah, hal 427.

Hasyiyah al-Bajuri, I/285, cet. al-Haromain.

Nggandol Dzuriyyah Rasulullah Saw.

Saya ini bukan apa-apa. Saya hanya ingin ikut mendapat keberkahan haul Habib Muhammad bin Tohir Ba’abud, bisa berkumpul bersama para habaib, dzuriyyahnya Rasulullah Saw.

Kita ini hanya bisa nggandol (bergelayut) kepada para habaib. kalau tidak nggandol seperti ini, besok di akhirat jauh kita bisa selamat.

Keinginan kita, semoga kalau besok kita ketlesut (hilang, tersesat), kita akan dicari oleh para habaib. Semoga kita semua selalu bisa nggandol para habaib, dzuriyyahnya Rasulullah Saw.

 

*Dawuh KH. M. Anwar Manshur dalam acara Haul Habib Muhammad bin Tohir Ba’abud ke-41, Pelem, Kabupaten Kediri.

Al-Habib Umar bin Zain bin Smith Temui Santri

LirboyoNet, Kediri. Kemarin (03/05) Pondok Pesantren Lirboyo kembali kedatangan tamu istimewa. Beliau adalah Al-Habib Umar bin Zain bin Ibrahim bin Smith dari kota Madinah Al-Munawwaroh. Beliau sendiri merupakan putra Al-Habib Zain bin Smith Ba’lawi, salah seorang habaib nusantara dan pengarang kitab Al-Manhaj Al-Sawi yang kemudian berhijrah ke kota Madinah Al-Munawwaroh.

Beliau beserta rombongan meluangkan waktu untuk menyapa para santri di serambi masjid Lawang Songo. Cukup banyak santri yang belum pulang dan bertatap muka dengan Al-Habib kemarin. Para santri dengan  antusias menyambut tamu agung ini, mereka sampai rela duduk berdesakan di serambi masjid. Khusyuk, para santri mencatat satu demi satu wejangan-wejangan yang diberikan oleh Al-Habib.

Dalam kunjungan singkat ini, beliau menyampaikan banyak nasihat dan petuah. “Kita niat berada di perkumpulan seperti ini karena ilmu. Karena Rasul SAW. Beliau yang menjadi sebab akan terkumpulnya kita di tempat yang berkah ini.” Tutur beliau melalui seorang penerjemah.

Al-Habib Umar bin Zain bin Smith berkali-kali mengingatkan mengenai keutamaan ikhlas dalam mencari ilmu. “Kalianlah (para santri-Red) yang tengah ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Oleh sebab itu saya mengajak kalian, untuk tidak mencari ilmu karena dunia, tidak mencari ilmu kecuali dengan dibarengi amal. Karena ilmu akan tetap ada dengan diamalkan.” Kata beliau. “Yang harus kita jadikan pedoman, bahwa karena hakikat ilmu ini, mereka para nabi dan rasul telah diutus ke dunia ini. Mereka diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan ilmu.“ Tambah Al-Habib.

Pagi kemarin, beliau juga membuka sedikit diskusi dan pertanyaan. “Bagaimana caranya agar seorang penuntut ilmu bisa tetap memiliki semangat hingga akhir hayat?” tanya seorang santri yang hadir.

Mereka para ulama hingga usia delapan puluh tahun, semangat mereka dalam belajar masih sama seperti para pemuda.” Terang Al-Habib, “karena mereka tahu, bahwasanya harganya ilmu begitu mulia disisi Allah dan Rasulnya. Dan mereka punya tanggung jawab menyebarkan ilmu kepada masyarakat, agar masyarakat tahu tentang hakikat syari’at Allah SWT dan sunnah-sunnah Rasul SAW.”  Pungkas beliau.

Lirboyo sering menerima kunjungan tamu-tamu besar dari berbagai daerah. Biasanya, selain bersilaturahim ke ndalem, para tamu tersebut juga menyapa para santri. Seperti Al-Habib Syekh bin Abdul Qadir As-Segaf belum lama ini, dan Al-Habib Ali Zainal Abidin dari Malaysia, beberapa waktu silam.[]

Habib as-Syathiri Berkunjung Kala Sore Mendung

LirboyoNet, Kediri—Cium kaki ibu. Saat pulang, cium kaki ibumu. Pikiran yang terbuka, hati yang terbuka akan hidayah, bersumber dari penghormatan kepada orangtua. Ancaman Allah berkali-kali datang bagi orang yang mengacuhkan orangtua. “Ketika datang ridla Allah pada seseorang, sedangkan orangtuanya murka, Allah akan ikut murka. Ketika Allah murka kepada seseorang, namun orangtuanya ridlah padanya, ‘fa ana ‘anhu râdl, maka padanya aku ridla.'” (al-hadits au kamâ qâl)

Cinta dan kasih sayang kepada orangtua inilah yang ditekankan oleh Habib Abdul Qadir Jailani as-Syathiri saat berada di tengah-tengah ribuan santri Ponpes Lirboyo, Senin sore (02/01). Bersanding dengan para masyayikh Lirboyo, beliau memperingatkan santri untuk tidak sekali-kali membuat orangtua susah. Karena apa yang kita perbuat kepada orangtua, juga akan diperbuat oleh anak-anak kita kelak.

Seperti sebelum-sebelumnya, ketika datang seorang terhormat ke pondok, toa tua nan tinggi di tengah-tengah asrama pesantren lantang bersuara, mengomando santri untuk segera berkumpul di serambi Masjid Lawang Songo. Bada Asar, santri-santri berdatangan. Sekejap saja, sudah tidak ada tempat untuk duduk bersila. Sembari menunggu sang tamu tiba, shalawat dari grup rebana bergema. Orang mulia yang ditunggu itu kemudian melewati gerbang, tak lama setelah masyayikh datang.

“fa ‘alaikum bil ijtihâd,” buka beliau. Keponakan Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syathiri itu mengingatkan pada santri bahwa mereka adalah para pengganti ulama. Maka tidak boleh tidak, para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Kiatnya, harus menulis dan terus menulis masalah-masalah dan faedah-faedah. Kerja keras ini, dengan ditemani kesabaran yang tinggi, menurut beliau, akan mengantar santri pada jalur kesuksesan. Beliau mengutip kalimat al-Haddad, (sangat mungkin yang beliau sebut adalah Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, pengarang ratibul haddad), “orang-orang yang mendapat prioritas di sisi Allah adalah mereka yang penyabar.”

Selain di Masjid Lawang Songo, beliau yang datang langsung dari Yaman itu juga berkenan untuk memberikan mauidzah di aula Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM). Di sana, pesan-pesan yang beliau ungkapkan lebih khusus bagi para santri perempuan. “Bagaimanapun, kalian akan menjadi ibu. Juga istri. Siapkan itu.” Untuk membangun kualitas ibu dan istri yang baik, patut bagi para santri untuk mencermati bagaimana laku hidup Rasulullah saw. “Beliau sangat cinta pada kebersihan. Makanya, jaga kebersihan kalian. Bersihnya badan, kamar, dapur, dan juga bersihnya hati.” Beliau prihatin dengan prilaku istri-istri dewasa ini. Mereka berdandan, memakai wewangian, mengenakan baju ala pengantin baru, justru ketika keluar rumah. “Sementara untuk menyambut suaminya, mereka memakai pakaian seadanya. Yang kotor, bolong-bolong. Bau. Awut-awutan. Seperti jin,” tutur beliau sambil menunjukkan mimik menyeramkan. Hadiraat sontak tertawa menyambut candaan beliau itu.

Dawuh beliau selanjutnya adalah perhatian pada keramahan dan kesantunan terhadap sekitar. Karena Rasulullah pernah menyiratkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang mampu membangun hubungan baik dengan manusia lain, lebih-lebih tetangga.

Dalam kesempatan itu, beliau mengungkapkan rasa terima kasih kepada para ulama, karena telah dengan susah payah menjaga kemurnian ilmu. Membangun rumah mudah, ujar beliau, namun membangun pesantren tidak bisa dibandingkan dengan itu.][