Tag Archives: PBNU

KH. Aqib Abu Bakar: Pesan Mbah Manab, Jangan Pernah Meremehkan Kitab Kecil

Di Lirboyo, saya pernah ikut ngaji kitab Tasywiqul Khallan jika diartikan adalah kerinduan yang mendalam yang dapat membuat teman-teman mudah mempelajari ilmu. Tasywiq itu syarah kitab Jurumiah. Menurut pandangan Mbah Manab, walaupun Jurumiyah itu kitab kecil (tipis), kita tidak boleh menyebut kitab kecil. Misalnya kamu di sana ngaji apa? Ngaji Jurumiyah. Jangan mengatakan Jurumiyah….! Seakan seperti meremehkan. Jurumiyah adalah matan. Matan adalah sesuatu yang besar. Safinah adalah kitab kecil tetapi jika disyarahi, syarahnya bisa menjadi sangat banyak.

Kitab yang paling berkesan yaitu kitab Bidayah, Jurumiyah, Kailani, Taftazani, dan kitab tipis-tipis lainya. Orang zaman dahulu, (hanya dengan berbekal) kitab Seperti Jurumiyah, jika bisa dengan bena-benar mendalami serta hafal, maka akan bisa membaca kitab. Kitab Jurumiyah setelah selesai dikarang, dibuang oleh penulisnya ke lautan. Jika memang kitab itu bermanfaat, maka ia tidak akan tenggelam. Jika kitab Safinah didalami dengan benar, maka orang sudah bisa shalat. Tetapi kadang-kadang, sudah tamatan Lirboyo, tapi kitab Safinah belum diresapi, shalatnya tidak tumakninah. Bacaannya pun terkadang belum bisa diresapi dan kurang pas.

Kitab Safinah, Jurumiyah, manfaatnya nyata dan benar. Bukan kitab kecil jika syarahnya sangat banyak. Jika pintar kitab Safinah, (sama dengan ngaji) Tausyih, al-Bajuri. Karena kesimpulan itu ada di Safinah. Jika bisa di situ, maka akan mengungguli Amtsilah. Amtsilah itu ringkasan, sedangkan ulama sudah membuat ringkasan dari dulu. Orang terdahulu alimnya sangat luar biasa.()

Sumber: Himasal Lirboyo

Tentang Ya’fur, Keledai Rasulullah Saw

Imam as-Suyuthi meriwayatkan dari Ibnu Asakir, dari Abi Mandhur, ia berkisah:

“Ketika Rasulullah Saw. menaklukkan kota Khoibar, Beliau mendapatkan keledai hitam. Rasulullah berdiri di depannya seraya mengajaknya bicara. Beliau bertanya: ‘Siapa namamu?’ Keledai itu menjawab: ‘Namaku Yazid bin Syihab. Allah Swt, mengeluarkan keturunan dari kakekku sebanyak 60 ekor keledai, semuanya tidak dikendarai kecuali oleh seorang Nabi. Sungguh aku telah berharap Tuan dapat mengendaraiku. Dari keturunan kakekku tidak ada yang tersisa kecuali diriku, dan tiada dari golongan para Nabi yang hidup selain Tuan. Sebelumnya, diriku adalah milik seorang Yahudi. Aku sengaja berbuat liar terhadapnya. Ia membuatku lapar dan memukul punggungku’. Rasulullah pun berkata padanya: ‘Sekarang engkau bernama Ya’fur’.

Rasulullah Saw. sering mengirim Ya’fur menuju rumah seorang sahabat. Ia mendatangi pintu rumahnya lalu mengetuknya dengan kepalanya. Ketika pemilik rumah keluar, maka ia memberi isyarat kepada Ya’fur  bahwa ia akan segera mendatangi Rasulullah Saw. Lalu, Ya’fur pulang kembali menemui Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ya’fur berjalan lunglai ke arah sumur milik Abil Khaitsam bin Taihan. Kesedihan membuatnya tidak sadar akan keadaan sekitar. Kemudian, Ya’fur pun jatuh ke sumur  itu dan mati.

Sumber: Al-Khasha’isul Kubra, Imam Jalaluddin As-Suyuthi., Bairut: Darul Kutub al-Ilmiyah.

KH. Zamzami Yusuf: Alasan Mbah Juki Tetap Ngaji Kitab yang Berisikan Hadits Dhaif

Saya aktif ngaji pasaran kepada beliau, termasuk ketika bulan puasa di sana selalu mengaji Dalail. Pada bulan haji biasanya libur, hal itu saya isi untuk mengaji pasaran bersama Kiai Marzuqi. Yang masih saya ingat beliau mengaji kitab Daqaiqul Akbar. Sebelum mengaji kitab Daqaiqul Akbar beliau berkata, “Mbah Kiai Hasyim Asy’ari sebenarnya tidak mau mengaji kitab ini karena haditsnya memang dhaif dan beliau adalah pakar hadits, namun sengaja saya membacakan ini agar kita lebih banyak mengingat mati sekalipun ini haditsnya dhaif. Dan bagi anak-anak yang belum saatnya tidak usah mengikuti ngaji pasaran.” Artinya anak-anak yang masih di bawah kelas dan masih belum tamatan, masih kelas satu tsanawiyah alangkah baiknya tidak usah ikut. Memang harus orang yang sudah paham betul tentang syariah.

Saya ingat beliau memberi komentar, padahal beliau jarang memberi komentar-beliau berkata, ‘’ Orang-orang wahabi itu mengharamkan ngaji kitab ini.” Begitulah kata Mbah Kiai Marzuqi. Mbah Hasyim tidak sampai mengatakan haram, tapi orang wahabi mengharamkan. Maka jika kalian berhadapandengan orang wahabi dan berdebat-dengan khas bahasa tangannya sambil megangkat-beliau berkata, ‘’Ojo diladeni, gebuk wae,(artinya pukul saja) sebab tidak akan ta’lim.” Sampai semua santri tertawa karena selama mengaji ke Mbah Marzuqi, baru sekeras itu beliau berbicara dan jarang beliau mengungkapkan dengan berapi-api.

Kalau beliau ngaji, kemudian tiba-tiba meloncat, para santri tidak berani mengingatkan. Begitu itu, santri sambil mencari-cari mana yang dibaca beliau. Nah, saat santri mulai ribut, beliau baru dawuh, ‘’Oh, anu to le… salah halaman, iyo-iyo.”()

Sumber: Himasal Lirboyo

Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Cara Bersyukur Seorang Pelajar

Kalian mondok di pesantren itu sudah sangat enak, karena di pesantren kalian tak ada ganguan, tak ada yang mempengaruhi dari sana-sini, kalian bisa memperdalami syariat agama Islam ala Ahli Sunnah Waljamaah. Makanya kalian harus bersyukur kepada Allah Swt. dengan bersungguh-sungguh belajarnya.

Alhamdulillah kita semua oleh Allah Swt. diberikan keinginan untuk mondok di pesantren, itu adalah suatu nikmat yang sangat luar biasa. Banyak yang rumahnya di samping pondok akan tetapi mereka tidak ingin mondok, sedangkan yang rumahnya jauh dari pondok tetapi berangkat mondok. Makanya kita harus bersyukur, cara syukur kita adalah dengan mencurahkan semua tenaga kita untuk mendalami ajaran syariat Islam.

Kalian semua disini adalah utusan dari daerah kalian masing-masing, walaupun keberangkatan kalian semua tidak diberangkatkan oleh masyarakat, tetapi keberangkatan kalian kepondok pesantren adalah sebagai utusan delegasi dari masyarakat kalian, untuk mendalami syariat Islam yang akhirnya kita nanti kembali dan menyampaikannya kepada masyarakat.

Makanya kalian semua di pesantren yang mempeng, hasil kalian di pesantren itu ditunggu oleh masyarakat kalian, apa yang belum kalian bisa, kalian pelajari. Soalnya belajar di pesantren itu paling mudah, banyak kaka-kaka kelas kalian yang sudah bisa, kalian bisa belajar dan bertanya kepadanya.

Dan kita semua itu di tunggu masyarakat, jangan sampai kita mengecewakan masyarakat kita, kalian ditunggu-tunggu hasil belajarnya, sampai rumah kalian tidak bisa apa-apa, kan ini sangat mengecewakan masyarakat. Dan ini tugas kalian, kalian  berangkat ke  pesantren, kalian harus dalami semua syariat Islam di pesantren, dan ketika kalian pulang kalian ajarkan pada masyarakat kalian, makanya kalian semua harus yang sunguh-sungguh dalam belajar, apa yang belum kalian bisa kalian pelajari di pesantren.()

Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 12 Desember 2019, di aula Al Mu’tamar.(TB)

Mengenal Syaikhuna KH. Maftuh Basthul Birri

Abu Umamah r.a. meriwayatkan, bahwa ketika haji wada’ Rasulullah berdiri di atas unta berwarna kecoklatan lalu bersabda : “Wahai sekalian manusia, belajarlah sebelum ilmu itu dicabut dari bumi, ingatlah hilangnya ilmu adalah bersamaan dengan wafatnya ulama. Lalu ada seorang Baduwi bertanya, ya Rasul bagaimana bisa ilmu dicabut dari kita, sedangkan di antara kita terdapat mushaf yang tidak pernah berubah sedikitpun semenjak ditrunkan kepada para nabi ? Ibnu Mas’ud berkata : umat ini akan selalu dalam kebaikan selama masih berpegang pada ajaran para sahabat, dan jika mereka berpegang kepada orang-orang bodoh, dan terpecah belah, maka akan binasa.

Rabu (4/12/2019) Keluarga Besar Pondok Pesantren Lirboyo kehilangan salah satu ulama panutanya, seorang ulama kharismatik yakni KH Maftuh Basthul Birri yang merupakan pengasuh  Pon-Pes Murotilil Qur-an Lirboyo Kota Kediri. Telah dipanggil kehadirat Allah Swt.

KH. Maftuh Basthul Birri lahir pada tahun 1948 M, di desa Karangwuluh, kec. Kutoarjo, kab. Purworejo , jawa Tengah. Tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulan kelahirannya. Purworejo (rumah KH. Maftuh Bahtsul Birri) dan sekitarnya adalah  daerah yang minus secara ekonomi. Masyarakatnya hanya mengandalkan  hidup dari bertani padi di sawah, kecuali hanya sedikit yang menekuni pekerjaan lainnya. Dengan keadaan seperti ini, maka orangnya banyak yang merantau  ke Sumatra dan Jakarta.

Kisaran Tahun 1961-1966, KH. Maftuh Basthul Birri  mondok di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Beliau ikut Kiai Nawawi tujuh tahun lamanya, mulai di rumah Kutoarjo sampai mondok di Pesantren Krapyak selesai. Guru inilah  yang sebagai  dasar dan permulaan pendidikan ngaji beliau. Sehingga KH. Maftuh Basthul Birri  hasilkan ilmu hafal al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, ilmu khoth (tulis Arab indah) dan lain sebagainya termasuk yang terakhir mengaji Qiro-at Sab’ sampai khatam.

Tahun 1966-1971, Lima tahun lamanya KH. Maftuh Basthul Birri mondok di Pesantren Lirboyo Kediri. Beliau menamatkan tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadiien (MHM) Lirboyo. Dulu belum ada tingkat Aliyah dan Ma’had Aly.

Tahun 1971-1974, Tiga tahun lamanya KH. Maftuh Basthul Birri mondok di Sarang, Lasem, Rembang, dengan mengaji kitab-kitab kuning dan memperdalam ilmu nahwu, sharaf dan ilmu fiqih.

Tahun 1974-1975, KH. Maftuh Basthul Birri melaksanakan ibadah haji yang pertama pada tahun tersebut. Ibunda beliau belum menunaikan ibadah haji, sedangkan ayahanda beliau sudah mengerjakan dan beliau sebagai anak pertama, maka beliau bisa pergi haji ini karena mengantarkan dan menjadi mahram ibu beliau. Setelah berhaji mengantarkan ibu, beliau tinggal di rumah beberapa bulan sambil mencari pasangan hidup. Ini terjadi pada tahun 1975 dan beliau menginjak usia sekitar 27 tahun.

Pernikahan beliau KH. Maftuh Basthul Birri bermula dari keinginan untuk sowan selepas menunaikan ibadah haji, kepada kiai beliau di Pesantren Lirboyo, yaitu Kiai Marzuqi Dahlan, karena beliau sudah lama tidak pernah sowan kepada beliau hingga beliau menunaikan ibadah haji. Maka, beliau sempatkan sowan. Pada umumnya orang atau santri sowan itu hanya sebentar, bertemu, dibacakan doa, lalu selesai, pulang. Namun sowan beliau kali ini tidak seperti biasanya. Setelah beliau menghadap KH. Marzuqi Dahlan. KH. Marzuqi Dahlan ingin menjodohkan beliau dengan putrinya yang nomor lima yang bernama Khotimatul Khoir. Setelah beliau KH. Marzuqi Dahlan menyampaikan dawuh-nya, beliau juga menyampaikan tambahan dawuh-nya yang kira-kira begini bahasa indonesianya:”Tidak usah dijawab sekarang, besok saja kapan-kapan saya mau menemui orangtuamu di Kutoarjo”.

Dan ternyata beberapa bulan kemudian, Kiai Marzuqi sungguh-sungguh datang ke Kutoarjo (bersama KH. abdul Aziz Manshur menantunya, KH. Bahrul Ulum Marzuqi, dan Gus Akhlis), untuk bertemu dengan orang tua  KH. Maftuh Basthul Birri. Akhirnya diputuskan pada tanggal 29 syawal akad nikah dilangsungkan di Lirboyo. Dengan demikian, terjadilah apa yang di kehendaki Allah untuk beliau pada akhir syawal itu.()

*Disarikan dari Buku Sepercik Air Laut Perjalanku (Otobiografi KH. Maftuh Basthul Birri)