Tag Archives: ujian

Khutbah Jumat: Sabar Pada Ujian

أَلْحَمْدُ ِللهِ أَهْلِ الْحَمْدِ وَالثَّنَاءِ, أَلْمُنْفَرِدِ بِرِدَاءِ الْكِبْرِيَاءِ, أَلْمُتَوَحِّدِ بِصِفَاتِ الْمَجْدِ وَالْعَلَاءِ , أَلْمُؤَيَّدِ صَفْوَةَ الْأَوْلِيَاءِ بِقُوَّةِ الصَّبْرِ عَلَى السَّرَّاءِ وَ الضَّرَّاءِ وَالشُّكْرِ عَلَى الْبَلاَءِ وَالنَّعْمَاءِ, وَالصَّلَاةُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَعَلَى أَصْحَابِهِ سَادَةِ الْأَصْفِيَاءِ وَعَلَى أَلِهِ قَادَةِ الْبَرَارَةِ الْأَتْقِيَاءِ صَلَاةً مَحْرُوْسَةً بِالدَّوَامِ عَلَى الْفَنَاءِ وَمَصُوْنَةً بِالتَّعَاقُبِ عَنِ التَّصَرُّمِ وَ الْإِنْقِضَاءِ. وَقَالَ تَعَالَى لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَقَالَ أَيْضًا إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Tak henti-hentinya, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjauhi segala larangannya dan berusaha melaksanakan perintah-perintahnya. Ketakwaan adalah kunci. Kunci untukmenjalani kehidupan yang singkat ini. Berbagai gelombang dan suasana kehidupan yang silih berganti menghampiri kita ini, hendaknya takwa selalu menjadi panduan utama kita dalam menghadapinya. Jika kenikmatan yang sedang kita peroleh, maka bersyukur adalah sikap yang pantas bagi kita sebagai seorang hamba dan jika yang terjadi adalah hal-hal yang tidak mengenakkan kita, maka insyafilah bahwa itu adalah tangga-tangga dari Allah untuk menaikkan derajat kita.

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Selain itu, saat menyikapi ujian yang tengah menimpa, hendaknya kita tidak lupa dengan firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 286,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya”

Dengan berpijak pada ayat ini, setidaknya agar kita tetap memiliki semangat dan tekad untuk melalui tangga ujian yang tengah Allah berikan kepada kita. Dengan mengingat ayat ini pula kita disadarakan bahwasebenarnya kita mampu untuk menghadapi berbagai ujian yang datang silihberganti, lebih-lebih Allah ta’ala telah memberikan kabar gembira bagi hamba-hambanyayang sedia untuk bersabar. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS.az-Zumar: 10)

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Ada baiknya pula dalam menyikapi ujian yang tengah menimpa kita,kita meraba-raba pikiran dan menelusuri nikmat-nikmat yang masih Allah anugerahkan untuk tetap mensyukurinya. agar nantinya hal ini menjadi penyeimbang kesedihan ataupun kesusahan yang tengah kita alami;

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Maka sungguh ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan, sungguh pada kesulitan ada kemudahan” (QS.As-Sarh :5-6)

Demikian janji Allah terhadap segala kesulitan yang menimpa kita.Dengan ini semoga saja kita diakui sebagai hamba-Nya yang tetap bisa bersyukur dalam berbagai keadaan.

Dan yang terpenting dalam mencari ketentraman hati di tengah ujian yang melanda adalah dengan selalu ingat kepada Allah. Firman Allah Ta’ala:

أَلَابِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”(QS. ar-Ra’du:28)

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah Jumat: Memahami Pola Hidup

الْحَمْدُ للهِ الّذِيْ وَعَدَ لِلصَّابِرِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ جَزَاءً مَوْفُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَاإلهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. فَإِنَّهُ قَالَ فيِ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبْ.

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Dari mimbar khotbah ini, terlebih dahulu saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan hadirin sekalian, marilah kita meneguhkan hati untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt yaitu melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Di dalam dunia ini, tidak ada satu pun manusia yang selama hidupnya selalu menemui apa yang diingini, selalu mendapatkan semua yang diharapkan dan segala cita-citanya menjadi nyata. Dalam hidupnya, manusia pasti menjumpai berbagai hal yang tidak ia harapkan. Sedih dan bahagia datang silih berganti. Oleh karenanya, harus kita barengi pula dengan sikap yang bisa mengimbangi kepastian itu. tidak lain adalah sifat sabar dan sukur

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Allah berfirman dalam AlQuran surat al Insan ayat 2 :

هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (١) إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (٢)إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Artinya: 1. Bukankah pernah datang kepada manusia satu waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? 2. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. 3. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus ; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.

Allah juga berfirman dalam surat al Mulk ayat 1 dan 2 :

(تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (٢

Artinya: 1. Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. 2. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.

 

Ayat-ayat Alquran ini memberi pengertian kepada kita bahwa apapun yang diberikan kepada kita adalah ujian dan cobaan. Saat hidup kita bahagia dan tercukupi, itu berarti kita sedang diuji, bisakah kita bersyukur kepada Dzat Yang Maha Memberi Nikmat. Lalu bisakah kita mempergunakan anugerah-anugerahNya dengan baik dan benar. Adapun saat kita berduka atau hidup dalam kekurangan, itu juga artinya kita sedang diuji, bisakah kita bersabar menghadapi cobaan.

Jadi pada hakikatnya, nikmat dan musibah, semua itu adalah ujian. Karena itulah, apapun dan bagaimanapun yang terjadi di hari-hari kehidupan dunia yang fana ini, jangan sampai kita lupa kepada Tuhan kita, Tuhan semesta alam, Alloh SWT. Dengan senantiasa mengingatNya, hati kita akan menjadi tenang dan tentram. Agar kita selalu mendapatkan petunjuk dan bimbinganNya untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat yakni surgaNya, kehidupan yang dirahmati dan abadi.

Ayat-ayat ini juga hendaknya menyadarkan kita bahwa kenyataan apapun, cobaan apapun dalam hidup, semestinya kita jadikan pendorong untuk meningkatkan kualitas pribadi kita dan untuk menjadikan hidup kita lebih bermanfaat, bermartabat dan bermakna.

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Taklukkan UAN dengan Kekuatan Iman

Fenomena kegagalan try out UAN (ujian akhir nasional) yang dialami siswa SLTP dan SLTA sangat memrihatinkan. Letak ketidaklulusannya pada dua mata pelajaran yang mereka anggap momok. Kedua pelajaran itu adalah bahasa Inggris (ING) dan matematika (MTK). Karenanya, patut dicermati untuk dicarikan jalan keluarnya.

Salah satu solusinya adalah mencari akar masalah dari perspektif keislaman. Jika ditelisik secara Islami, kegagalan siswa dalam try out maupun UAN itu, menurut pengamatan penulis selama memberikan bimbingan belajar selama puluhan tahun, minimal disebabkan 4 faktor berikut.

Pertama, siswa kurang istiqamah belajarnya. Mereka tidak ajeg, tidak rutin, serta tidak kontinyu dalam belajar. Mereka belajar model SKS (sistem kebut semalam). Artinya, baru belajar hingga semalam suntuk untuk persiapan menghadapi UAN esoknya. Sangat sulit membujuk mereka agar mau belajar secara rutin dan berkesinambungan. Kalau begitu, mana mungkin maksimal hasilnya?

Seharusnya, mereka mempersiapkan diri jauh sebelumnya. Tujuannya, agar mereka mudah me-recall (mengingat kembali) dan me-recite (mengulang-ulang) inti sari pelajaran kelas 1 dan 2. Inilah yang paling sulit sebab materinya sudah tertimbun lama di otak. Maka, tidak bisa dilakukan secara instan untuk mengingat kembali.

Kedua, siswa kurang siyasah dalammengerjakan soal. Umumnya, mereka menjawab soal secara urut dari nomor satu hingga terakhir. Itu bagai tikus masuk perangkap. Pepatah Jawa menyebutnya, ”Ula marani gepuk.” Padahal, belum tentu soal nomor 1 lebih mudah daripada nomor 2 dan seterusnya. Bisa saja soal nomor 30 lebih mudah. Mengapa tidak mengerjakan soal nomor 30 atau nomor-nomor lainnya yang dianggap mudah.

Akibat terjebak perangkap tersebut, otak siswa sudah terforsir di soal-soal awal. Daya pikir pun kendur ketika mengerjakan soal berikutnya. Mereka bagaikan pelari maraton yang langsung berlari cepat saat start. Maka, bisa dipastikan mereka loyo di tengah jalan. Bahkan, bisa gagal melewati garis finis.

Mestinya, siswa sadar bahwa mengerjakan soal dengan durasi per soal 2 menit untuk bahasa Indonesia (BI) dan ING, serta 4 menit untuk MTK, itu memang harus cepat, tepat, dan tentunya harus taktis. Maka, diperlukan taktik jitu. Salah satunya adalah mengerjakan dulu soal yang dianggap mudah. Soal seperti itu paling butuh waktu 1 menit tiap item, bahkan lebih cepat daripada itu. Nah, keuntungan dari kelebihan waktu inilah yang bisa digunakan mengerjakan soal yang sulit yang memang perlu waktu lebih lama.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Selain itu, siswa alergi menghadapi BI dan ING yang berteks panjang. Mengapa? Karena mereka tak terbiasa membaca. Maka, begitu melihat soal dengan tulisan yang panjang, langsung mati kutu. Padahal, kedua pelajaran itu menuntut keahlian membaca dengan cepat dan efektif. Dari 60 soal, 70%-nya berupa teks panjang. Otomatis perlu waktu lama untuk membaca, mencerna isi, dan menjawabnya dengan benar. Sementara, waktunya mepet sekali, yaitu cuma 2 menit per soal.

Untuk itu, sebaiknya siswa membiasakan membaca koran setiap hari agar terlatih membaca teks yang panjang. Makin banyak membaca, pasti alergi tadi akan sirna sendiri. Disamping itu, perlu menyiasati dengan cara langsung membaca pertanyaannya. Kemudian, baru membaca teks untuk mencari jawabannya. Jika di paragraf pertama sudah ditemukan jawabannya, maka tidak perlu lagi dibaca semua teks soal tersebut. Dengan demikian, waktu bisa dihemat.

Kelemahan ketiga adalah siswa kurang sabar dalam menuntut ilmu. Mereka tak tahan menghadapi beratnya cobaan ngangsu kaweruh. Harus berangkat sekolah pagi-pagi, bahkan belum sempat sarapan. Pulang pun harus rela disengat sinar mentari yang tak kenal kompromi. Belum lagi PR yang menumpuk yang harus dikerjakan pada malamnya. Semua datang bertubi-tubi. Sayangnya, mereka hanya berkeluh kesah. Bukan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Mereka maunya yang enak-enak. Pulang pagi karena ada rapat guru. Libur nasional. Nyontek waktu ulangan. Pokoknya, yang mereka inginkan hanya yang santai dan releks.

Mental negatif ini sangat merugikan siswa sendiri. Itu paling terasa menjelang UAN saat ini. Karena pada saat-saat genting seperti ini, dituntut serius terus-menerus. Ketahanan fisik dan psikis mesti prima. Kesabaran pun betul-betul ditempa.

Kekurangan keempat adalah siswa kurang berdoa dan bertawakal kepada Allah swt. Mereka berusaha secara lahiriah saja, tanpa batiniah. Sibuk les ke sana ke mari tiap hari, tapi Tuhan tak dipeduli. Lupa memasrahkan hasil jerih payahnya kepada Sang Khaliq. Celakanya, mereka malah menggantungkan kongkalikong orangtua dengan oknum sekolah untuk meluluskannya dengan segala cara. Bukannya menyerahkan hasil daya upayanya kepada Yang Maha Berkehendak, tapi malah menyerahkan suap kepada oknum pejabat di lingkungan diknas yang bermoral bejat. Na’uudzubillaah!

Kita semua tentu sangat berharap mereka yang terlibat dalam UAN, khususnya siswa, mau membenahi 4 kekurangan tadi. Bertekad bulatlah memperjuangkan UAN dengan kekuatan iman.[]

Penulis, Saiful Asyhad