Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا، وَتَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا، وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا، وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا. اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ خَيْرًا مِمَّا نَقُولُ، وَفَوْقَ مَا نَقُولُ، وَمِثْلَ مَا نَقُولُ، عَزَّ جَاهُكَ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ، وَتَقَدَّسَتْ أَسْمَاؤُكَ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ بَعَثَهُ رَبُّهُ هَادِيًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللَّهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِينُ، هَدَى اللَّهُ بِهِ الْبَشَرِيَّةَ، وَأَنَارَ بِهِ أَفْكَارَ الْإِنْسَانِيَّةِ، وَزَعْزَعَ بِهِ كِيَانَ الْوَثَنِيَّةِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Baca juga: Khutbah Jumat: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Pernahkah kita menyadari ada hal unik pada diri setiap makhluk hidup? Burung yang terbang melintasi ribuan kilometer pada akhirnya selalu berusaha pulang ke sarang kecilnya, walaupun sarang itu hanya terbuat dari ranting pohon yang kering. Sama halnya dengan unta di gurun Sahara. Setelah berjalan berbulan-bulan, matanya tetap berbinar dan jalannya makin cepat saat mencium bau tanah kelahirannya, meskipun tanah itu tandus.
Para pujangga dan penyair Arab menggambarkan fenomena fitrah ini dalam sebuah ungkapan yang sangat indah:
تَحِنُّ الْإِبِلُ إِلَى أَوْطَانِهَا وَإِنْ كَانَ عَهْدُهَا بَعِيدًا، وَالطَّيْرُ إِلَى وَكْرِهِ وَإِنْ كَانَ مَوْضِعُهُ مُجْدِبًا، وَالْإِنْسَانُ إِلَى وَطَنِهِ وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ أَكْثَرَ لَهُ نَفْعًا
“Unta akan selalu merindukan tanah airnya meski telah lama meninggalkannya. Burung akan selalu merindukan sarangnya meski tempat itu gersang. Dan manusia akan selalu merindukan tanah kelahirannya, meskipun tanah lain memberikan kilauan harta dan manfaat yang jauh lebih banyak.”
Kita sering kali mengira bahwa rasa cinta pada tanah air—rasa rindu pada tempat kita dilahirkan—hanyalah isu politik modern atau jargon nasionalisme semata. Padahal, jika kita telusuri dan amati secara mendalam, merindukan dan mencintai tanah air adalah fitrah paling purba yang ditanamkan Allah ke dalam dada setiap manusia!
Baca juga: Khutbah Jumat: Mengapa Orang Dengki Tak Akan Pernah Berjaya?
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Perhatikan baik-baik bagaimana para ulama besar Islam menggambarkan ikatan emosional ini. Penyair ternama Abu Tammam—yang keindahan syairnya bahkan dikutip oleh Syekh Abu Bakar Utsman Syatha dalam kitab klasik I’anatu Ath-Thalibin—pernah merangkai bait syair yang sangat menyentuh hati:
كَمْ مَنْزِلٍ فِي الْأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَتَى … وَحَنِينُهُ أَبَدًا لِأَوَّلِ مَنْزِلِ
“Betapa banyak tempat di bumi ini yang disinggahi oleh seorang insan… Namun, kerinduan jiwanya akan selalu abadi untuk rumahnya yang pertama.”
Begitulah hakikat jiwa manusia! Anda boleh merantau ke pelosok negeri tercanggih di dunia, Anda boleh menikmati kemewahan di kota-kota megah, tempat tidur Anda mungkin lebih empuk di tanah seberang. Namun, ada satu sudut di dalam hati Anda yang tidak akan pernah bisa dipuaskan oleh kemewahan mana pun, kecuali oleh tanah kelahiran tempat memori masa kecil dan akar keberadaan Anda tertanam.
Saking mendalamnya ikatan antara manusia dan tanah airnya, Islam memandang bahwa dipisahkan secara paksa dari tanah air adalah sebuah hukuman jiwa yang amat berat.
Lihatlah sejarah para Nabi. Senjata paling jahat dan radikal yang digunakan oleh musuh-musuh Allah untuk menyiksa para Nabi bukanlah sekadar ancaman pedang, melainkan ancaman pengusiran dari tanah air!
Kaum Nabi Syuaib AS mengancam beliau: “Kami akan mengusirmu wahai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami!”
Kaum Nabi Luth AS pun mengancam: “Usirlah Luth dan keluarganya dari negerimu!”
Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri, saat dipaksa hijrah meninggalkan Makkah, beliau menatap sudut kota Makkah seraya berkata:
وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
“Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang paling baik dan yang paling aku cintai. Seandainya aku tidak diusir darimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” [HR. Tirmidzi dan Nasa’i]
Baca juga: Khutbah Jumat: Melihat Limpahan Nikmat Allah
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Lantas, timbul pertanyaan “Mengapa mencintai tanah air itu penting, dan bagaimana cara seorang muslim yang sejati membuktikannya?”
Seorang muslim yang ideal tidak akan pernah menjadi benalu di negerinya sendiri. Ia tidak akan tega merusak keamanan, menyebar fitnah, atau memecah belah persatuan bangsanya. Seorang muslim sejati adalah orang yang paling depan menangis saat negerinya berduka, dan paling depan bekerja keras saat negerinya membutuhkan karya.
Cinta tanah air atau hubbul wathan bagi seorang mukmin bukanlah slogan kosong atau sekadar sorak-sorai di jalanan. Cinta tanah air yang hakiki adalah perjuangan untuk menghadirkan keamanan, kedamaian, dan keberkahan di atas bumi yang kita pijak.
Kunci kedamaian dan kejayaan sebuah bangsa tidak terletak pada caci maki, kemarahan, atau pengkhianatan terhadap tanah airnya. Kuncinya terletak pada dua pilar kokoh: Iman yang mantap dan Amal Saleh yang nyata!
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Di akhir khutbah singkat ini, mari kita bersama-sama menyadari kehidupan kita hari-hari ini. Jika kita mengaku mencintai tanah air, jika kita mengaku ingin menjadi bagian dari mereka yang memakmurkan negeri, maka wujudkanlah dalam 3 langkah konkret ini:
Pertama, jaga keamanan dan persatuan negeri. Jangan biarkan ego, lisan kita, atau provokasi merusak ukhuwah dan kedamaian bangsa ini. Negeri yang aman adalah modal paling mendasar bagi kita untuk bisa tenang menjalankan beribadah, mencari rezeki, dan membesarkan anak-cucu kita.
Kedua, berikan karya terbaik berbasis amal saleh. Jadilah pedagang yang jujur, menjadi pejabat yang amanah, menjadi guru yang tulus, dan menjadi rakyat yang taat hukum. Puncak bukti cinta pada tanah air adalah saat setiap tetes keringat kerja keras kita bernilai ibadah dan membawakan manfaat bagi masyarakat luas.
Ketiga, jangan pernah berhenti mendoakan kebaikan negeri ini. Jangan biarkan lisan kita hanya penuh dengan umpatan dan celaan terhadap bangsa sendiri. Doakan para pemimpin agar diberi petunjuk, doakan rakyat agar diberi kemakmuran, dan mohonlah agar Allah menjauhkan negeri ini dari berbagai bencana dan perpecahan.
Baca juga: Khutbah Jumat: Ketaatan, Kebaikan dan Pengaruhnya dalam Jiwa Manusia
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Mari kita introspeksi diri. Di manakah posisi kontribusi kita untuk tanah air selama ini? Apakah keberadaan kita sudah memberikan ketenangan dan manfaat bagi lingkungan sekitar, atau justru kita masih menjadi bagian dari penyebar kegaduhan?
Ingatlah, merawat tanah air adalah bagian dari menjaga amanah Allah. Bersihkan jiwa dari kebencian, rapatkan barisan dalam kebaikan, dan gantungkan harapan keselamatan negeri ini hanya kepada Allah SWT.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ..
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْواتِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
