Tidak terasa, bulan kelahiran Nabi sudah berada di pelupuk mata, hari Jumat besok (14/08/2026), insyaallah kita telah memasuki bulan Rabiul Awwal (Maulid Nabi). Bulan yang pada waktu itu lahir sosok makhluk termulia dan sangat disegani oleh penduduk langit dan bumi: Muhammad bin Abdullah saw.
Di saat yang sama, ternyata banyak sekali kisah yang mengharukan dan penuh inspirasi ketika seseorang memperingati hari kelahiran Nabi. Di antaranya kisah yang penulis nukil dalam kitab I’anah at-Thalibin. Berikut adalah kisahnya.
Baca juga: Bilal bin Rabah dan Azan yang Membuat Madinah Menangis
Kisah Pemuda yang Tidak Sengaja Membunuh Putra Khalifah
Alkisah, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, tinggallah seorang pemuda di wilayah Syam yang memiliki paras rupawan. Ia gemar bersenang-senang dengan menunggang kuda.
Suatu hari, ketika sedang menunggang kudanya, tiba-tiba kuda tersebut terkejut dan berlari tak terkendali menyusuri jalan-jalan di Syam. Sang pemuda berusaha menghentikannya, tetapi ia sama sekali tidak mampu mengendalikan laju kudanya.
Tanpa diduga, kuda itu membawa sang pemuda menuju pintu kediaman khalifah. Di sana, ia berpapasan dengan putra Khalifah Abdul Malik. Karena kuda yang ia tunggangi tidak dapat ia kendalikan, sang pemuda akhirnya menabrak putra khalifah hingga menyebabkan kematiannya.
Berita tersebut segera sampai kepada Khalifah Abdul Malik. Ia pun memerintahkan agar pemuda itu segera dibawa menghadap kepadanya.
Baca juga: Perempuan yang Selalu Berbicara Menggunakan Ayat Al-Quran
Nazar Pemuda yang Membuatnya Terhindar dari Hukuman
Ketika pemuda itu datang dan berdiri di hadapan khalifah, ia merasa berada dalam keadaan yang sangat genting. Di tengah ketakutan itu, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya sebuah nazar:
“Jika Allah menyelamatkanku dari musibah besar ini, aku akan mengadakan jamuan besar untuk memperingati maulid (kelahiran) Nabi Muhammad saw.”
Tak lama kemudian, pemuda itu menghadap khalifah. Anehnya, setelah melihat wajah pemuda tersebut, khalifah justru tersenyum, padahal sebelumnya ia diliputi kemarahan yang begitu besar.
Khalifah kemudian bertanya, “Wahai pemuda, apakah engkau pandai melakukan sihir?”
“Tidak, demi Allah, wahai Amirul Mukminin,” jawabnya.
Khalifah berkata, “Kalau begitu, aku telah memaafkanmu. Namun, katakan kepadaku, apa yang tadi engkau ucapkan?”
Pemuda itu kemudian menceritakan apa yang terlintas dalam pikirannya:
“Aku berkata, ‘Jika Allah menyelamatkanku dari musibah besar ini, aku akan mengadakan jamuan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad saw.’”
Mendengar jawaban tersebut, Khalifah Abdul Malik berkata,
“Engkau telah kumaafkan. Ini seribu dinar untuk keperluan jamuan memperingati maulid Nabi Muhammad saw. Adapun perkara kematian putraku, engkau telah bebas darinya.”
Pemuda itu pun keluar dengan selamat. Ia terbebas dari hukuman qisas dan membawa seribu dinar sebagai bekal untuk mengadakan jamuan Maulid Nabi saw. (Abū Bakr Muḥammad Syaṭṭā ad-Dimyāṭī, I‘ānah aṭ-Ṭālibīn, [Beirut: Dār al-Fikr li aṭ-Ṭibā‘ah wa an-Nasyr wa at-Tauzī‘, cet. I, 1418 H/1997 M], vol. 3, hal. 413.)
Baca juga: Saat Semua Orang Terlelap, Satu Pertanyaan Ini Menggagalkan Sebuah Maksiat
Penutup
Demikianlah kisah yang dinukil dalam I‘anah ath-Thalibin tentang seorang pemuda yang diselamatkan dari musibah besar dan memperoleh rezeki melalui keberkahan kecintaannya kepada kelahiran Nabi Muhammad saw.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
