336 views

Tabayyun: Tips Jitu Menangkal Hoaks

Saat ini kita hidup di era serba digital, berita apapun dengan mudahnya dapat diakses secepat sentuhan jari melalui layar smartphone. Meski begitu, kecanggihan alat komunikasi juga berdampak pada objektivitas suatu berita, marak sekali berita bohong bermunculan di platform media. Bahkan, akhir-akhir ini kita turut prihatin melihat fenomena mudahnya orang membagikan kabar yang belum jelas kebenarannya. Hanya melihat sepotong foto dengan sedikit caption atau bahkan beberapa baris tulisan saja, langsung diyakini bahwa itu adalah suatu kebenaran. Padahal, sekurang-kurangnya, tak ada nama penulis sebagai penanggungjawab dan dari mana sumber berita itu. Sebagai imbasnya, kerap timbul kerusuhan akibat ketidak validan informasi yang didapat. Guna menangkal terjadinya hal itu, meneliti kembali berita yang telah didapat adalah salah satu tips jitu.

Dalam Al-Quran, upaya menggali berita diistilahkan dengan tabayyun, sebagaimana tertera dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 6 berikut ini:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 6)

Ayat di atas mengandung perintah kepada orang mukmin untuk tidak mempercayai berita sebelum mencari kebenarannya, agar tidak mencelakakan orang lain. Hal ini diperintahkan guna tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Menurut pakar tafsir kontemporer Syaikh Ali as-Shabuni, kata tabayyun merupakan sinonim daripada tasabbut yang berarti mencari kejelasan dan kebenaran. Dalam konteks ini diartikan dengan perintah untuk mencari kebenaran suatu berita hingga paham mengenai hal-ihwal berita itu. Mencari kebenaran berita dapat dilakukan dengan meninjau sumber berita tersebut, apakah otoritatif atau tidak.

Asbabun Nuzul

Jika meninjau ulang kronologi turunnya ayat 6 surat Al-Hujurat ini, merupakan respon terhadap tindakan menyimpang seorang sahabat bernama Walid bin Uqbah yang diutus Nabi saw untuk memungut zakat dari Bani Mustaliq. Sebagaimana diceritakan oleh Ali Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul-nya bahwa sebelum sempat menemui Bani Mustaliq, Walid berprasangka buruk kepada Bani Mustaliq, yang merupakan musuh moyangnya. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali ke Nabi dan melaporkan bahwa Bani Mustaliq enggan menyerahkan zakat dan mengancam akan menyerangnya.

Nabi Saw. kemudian mengutus pasukan untuk menyergap Bani Mustaliq. Akan tetapi, sebelum utusan ini berangkat. Ayat ini turun memerintahkan untuk menyaring berita bagi kaum Muslim sebelum mereka mengambil sikap.

Walid dalam konteks ini merupakan sumber yang tidak otoritatif karena berita yang ia sampaikan tidak sesuai dengan fakta. Bani Mustaliq pada kenyataannya tidak memiliki maksud negatif kepada Walid. Sehingga, upaya menggali kembali berita (tabayyun) dalam kondisi seperti ini adalah hal yang harus dilakukan. Karena bila tidak, dapat memicu konflik antar umat Islam. Hanya dengan menyebar berita yang tidak sesuai, keresahan dan kerusuhan akan menyemai.

Hoaks yang menimpa keluarga Nabi

Bila membuka lembaran sejarah Islam, berita hoaks juga pernah menimpa rumah tangga Nabi saw dengan Aisyah ra atau dikenal dengan hadits al-Ifki yang berarti berita bohong atau gosip murahan.

Pada saat itu ada sekelompok orang yang menyebarluaskan rumor tentang istri Nabi saw—Aisyah ra yang cukup meresahkan Nabi saw dan sahabat-sahabat karib beliau. Setelah sebulan rumor itu berkembang, baru Allah swt menurunkan ayat-ayat yang membantah rumor tersebut seraya memberikan edukasi kepada umat bagaimana langkah yang harus ditempuh bila rumor itu menyangkut orang yang selama ini dikenal baik. Pada Q.S. An-Nur [24] ayat 12 Allah Swt. berpesan:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap kelompok mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu, dan berkata, “Ini adalah (berita) bohong yang nyata?” )Q.S. An-Nur: 12(

Selain itu, Nabi Saw. jauh-jauh hari telah telah mengingatkan kapada kita agar tidak gampang menshare informasi yang belum diteliti kembali kevaliditasannya:

كَفَى بِالْمَرْءِ إثْمًا: أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah dosa bagi seseorang yang menceritakan setiap apa yang ia dengar.”(H.R. Muslim)

Syaikh Abdurrauf al-Munawi menjelaskan hadis di atas, maksudnya adalah cukuplah dosa bagi seseorang yang menceritakan setiap apa yang ia dengar, tanpa disertai dengan bukti valid atau saksi atas kebenaran atau kebohongannya. Sebab, hal yang demikian tidak terlepas dari kebohongan. Apabila punya dugaan kuat bahwa berita yang dishare adalah benar seperti didapatkan dari sumber terpercaya, maka diperbolehkan.

Oleh karenanya, upaya check and recheck dibutuhkan untuk mengonfirmasi kebenaran sebuah berita. Tentu saja, ini begitu penting mengingat di era kita dewasa ini, di mana informasi membanjir dari aneka sumber; koran, TV, medsos seperti Facebook, Twitter, Instagram, WA, SMS, dan lain sebagainya. Yang umumnya dalam tingkat kebenaran atau kebohongan yang tidak jelas atau hanya berdasarkan “katanya dan katanya”.

Kesimpulan

Menangkal penyebaran hoaks (berita bohong) merupakan suatu keniscayaan bagi para pemeluk agama Islam, karena fitrah Islam adalah menyerukan kebenaran dan menumpas kebatilan. Kemudian Q.S. Al-Hujurat ayat 6 ini turun untuk memberi pedoman bagi kita tentang bagaimana menyikapinya jika dihadapkan dengan berita yang terindikasi mengandung kebohongan.

Sikap itu dapat ditunjukkan dengan upaya meninjau ulang sumber berita dan konten yang disampaikannya. Tanpa pedoman ini, manusia akan saling berbuat celaka kepada sesame. Wallahu A’lam Bisshawab.

Penulis: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari*

*Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula Smt. VI Asal Purwakarta, Jawa Barat. Pecinta Khazanah Turats dan Pegiat Literasi.

baca juga: Menangkal Disrupsi Informasi Melalui Kitab Kuning di Era Digital
tonton juga: Tujuan Diutusnya Rasulullah SAW | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Referensi:

Muhammad Ali as-Shabuni, Rawa’i al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam (Damaskus: Maktabah al-Ghazali), vol. 1, h. 493.
Abu al-Hasan Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Wahidi an-Naisaburi as-Syafii, Asbab an-Nuzul al-Qur’an (CD: Maktabah Syamilah), vol. 1, h. 390.
Abdurra`uf bin Abdul Qodir al-Munawi, Faidl al-Qodir Syarh Jami’ as-Shogir (Mesir: Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra), vol. 4, h. 551.

Tips Jitu Menangkal Hoaks
Tips Jitu Menangkal Hoaks
Tips Jitu Menangkal Hoaks

18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.