427 views

Keruntuhan Argumentasi Paham Anti Mazhab dan Taqlid

Keruntuhan Argumentasi Paham Anti Mazhab dan Taqlid | Kitab Al-Lamazhabiyyah: Akhtharu Bid’ah Tuhaddidu asy-Syari’ah al-Islamiyyah karya ulama terkemuka Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi ini berupaya menangkis tuduhan bid’ah-sesat yang sering dialamatkan kepada umat Islam yang menganut mazhab khususnya mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Kitab ini hendak melemparkan tuduhan berbalik kepada si penuduh. Jika orang-orang—yang mengklaim dirinya—Salafi menuduh umat Islam yang bermazhab sebagai pelaku bid’ah, bak bumerang, maka kitab ini membalikkannya: Justru mereka yang anti-mazhablah yang melakukan bid’ah.

Pada awalnya, kitab ini lahir untuk menanggapi beredarnya sebuah kitab tipis—yang dalam istilah pesantren disebut dengan kitab kurasan—yang meresahkan masyarakat Islam. Kitab kecil tersebut berjudul Hal al-Muslim Mulzam bit-Tiba’i Mazhab Mu’ayyan? Yang Artinya: Apakah seorang muslim wajib mengikuti mazhab tertentu? Karya seseorang yang bernama samaran Syaikh Muhammad Sulthan al-Ma’shumi al-Khajnadi (salah satu orang pengajar di Masjidil Haram).

Sebagai respon terhadap beredarnya kitab kurasan tersebut, Al-Buthi kemudian memaparkan penyelewengan yang berada di dalamnya, mengkritik argumen-argumennya, serta menjelaskan bagaimana sebenarnya teknis bermazhab yang benar tanpa dibarengi dengan rasa fanatik.

Setelah cetakan pertama kitab ini beredar, banyak tanggapan sekaligus kritikan muncul. Bahkan, Al-Buthi sempat berdebat mengenai kitabnya ini dengan Syaikh Nashiruddin al-Albani ulama yang diklaim sebagai muhaddist besar oleh kaum Salafi. Ringkasan perdebatan itu sempat dinotuliskan kemudian ditulis dan dikomentari oleh Al-Buthi dalam  bentuk footnote (catatan kaki) di bagian akhir kitabnya.

Keunggulan kitab Al-Lamazhabiyyah

Karya yang ditulis oleh Al-Buthi ini bukan dengan gaya ilmiah-akademis, melainkan dengan gaya semacam “esai bebas”, meski begitu, kitab ini tetap tidak kehilangan nilai akademisinya. Ketika membaca kitab ini, peresensi terkadang mengalami kesulitan saat menemukan kata-kata yang metaforis, ekspresif, berperibahasa, atau frasa-frasa idiomatik bahasa Arab kontemporer (‘ashriyyah). Oleh karenanya, jika tidak terbiasa membaca karya-karya kontemporer serta kurang menguasai piranti nahwu-sharaf juga disiplin ilmu balaghah dan sastra Arab, jangan harap dapat memahaminya secara utuh. Karena boleh jadi, pesannya tidak terwakili sepenuhnya ketika dipahami dan diterjemahkan.

Pembahasan di dalam kitab Al-Lamazhabiyyah

Kurang lebih ada tiga sub besar yang dimuat dalam kitab ini, sebagai prolog Al-Buthi menyampaikan terkait ringkasan isi “Propaganda kitab kurasan (al-Kurras)” dan prinsip-prinsip yang disepakati (umur la khilafa fiha). Selanjutnya, sub pertama berisikan tentang propaganda al-Kurras: Argumen-argumen dan sanggahan terhadap isinya.

Al-Buthi membangun hingga tujuh argumentasi guna menolak propaganda yang disampaikan oleh mereka. Sebagai tamsil, Al-Buthi menangkis tuduhan bahwa kemunculan mazhab empat disebabkan oleh intrik politik belaka, sehingga tidak ada keharusan untuk mengikutinya.

Pada sub kedua, Al-Buthi menjelaskan terkait keniscayaan taklid: Tiada larangan bermazhab dan argumentasinya. Di sini, ia menuturkan terkait legalitas taklid, konsisten bermazhab dan beberapa problematika yang sering disuarakan oleh kelompok anti mazhab.

Terakhir, di sub ketiga beliau menyampaikan transkrip perdebatan dengan tokoh penganjur anti mazhab, serta tanggapan Al-Buthi terhadap kitab yang ditujukan untuk mencounter buku ini.

Perang karya antara al-Buthi dan kaum Salafi

Mungkin karena tidak ingin kalah, sebuah panitia yang menamakan dirinya Lajnah al-Bahts wa at-Ta’lif atau Komite Riset dan Penulisan dibentuk oleh pentolan Wahabi, Syaikh Nashiruddin Al-Albani dengan beranggotakan Syaikh Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Syaikh Khairuddin Wanili menyusun sebuah kitab yang lebih tebal (sekitar 350 halaman) dengan tujuan mengkritisi karya Al-Buthi ini. Kitab itu berjudul Al-Mazhabiyyah al-Muta’ashibah Hiya al-Bid’ah yang berarti “Fanatik Bermazhab adalah Bid’ah”. Kitab itu hanya mengulang-ulang isi kitab kecil al-Khajnadi, sebagaimana dikatakan oleh Al-Buthi dan ditanggapi oleh beliau pada bagian akhir kitabnya. Pendek kata, karya Al-Buthi satu ini merupakan rangkaian dari “perang” karya kitab antara Al-Buthi melawan orang-orang Salafi Anti-Mazhab.

Ikhtitam

Walhasil, dengan hadirnya kitab ini di tengah-tengah masyarakat Islam, Al-Buthi berharap semoga saja mereka yang selama ini memicingkan mata terhadap sebagian besar umat Islam yang menganut mazhab bisa segera menyadari bahwa bermazhab, pada esensinya adalah suatu keniscayaan. Sebab, ajaran agama itu tidak bisa kita peroleh tiba-tiba secara langsung bersambung ke Rasulullah saw, melainkan melalui transmisi para ulama dan mujtahid yang dapat dipercaya kredibilitas dan keikhlasannya. Karena bagaimanapun realitas bermazhab, pada dasarnya hal tersebut merupakan suatu fenomena yang telah ada sejak periode para sahabat. [AZ]

Judul: Al-Lamazhabiyyah: Akhtharu Bid’ah Tuhaddidu asy-Syari’ah al-Islamiyyah
(Paham Anti Mazhab: Bid’ah Paling Berbahaya Yang Mengancam Syariat Islam)
Penulis: Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthi
Cetakan: Revisi, Tahun. 2005 M. / 1426 H.
Penerbit: Damaskus: Dar al-Farabi
Dimensi: 208 hlm, 12 x 20 cm.

Peresensi: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari*

*Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula Smt. VI Asal Purwakarta, Jawa Barat. Pecinta Khazanah Turats dan Pegiat Literasi.

baca juga: Bersama Syaikh Said Ramadhan Buthi; Tidak Sekedar Bercerita tentang Kanjeng Nabi
tonton juga: Apa Itu FKI?

Keruntuhan Argumentasi Paham Anti Mazhab dan Taqlid
Keruntuhan Argumentasi Paham Anti Mazhab dan Taqlid

19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.