2.178 views

Adzan Bersahutan, Mana yang Kita Jawab?

Adzan Bersahutan, Mana yang Kita Jawab?

Assalamualaikum wr. Wb.

Dalam sehari-hari, seluruh salat lima waktu dikumandangkan adzan pada semua tempat ibadah umat Islam, ini sebuah anugerah yang besar, mengingat tidak disemua negara, adzan bisa berkumandang dengan bebas. Pertanyaan saya, ketika adzan yang dilantunkan bersamaan, apakah kita harus menjawabnya semua?

Wassalamualaikum wr. Wb.

Rino, Probolinggo

_______________

Waalaikumsalam wr. Wb.

Penanya yang budiman, benar sekali bahwa di Nusantara ini kumandang adzan dengan bebas disuarakan, di masjid, mushalla dan surau kecil sekalipun, syiar Islam terasa kental dan akrab di telinga. Kita harus mensyukurinya. Adzan memang disunahkan bagi setiap orang yang ingin melaksanakan shalat, dengan banyaknya adzan yang dikumandangkan semua tetap memperoleh kesunahan.

Sunah muakkad hukumnya menjawab adzan, keutamaannya juga berlimpah. Apalagi diiringi dengan doa setelah adzan, nabi menjaminkan syafaatnya. Sabda beliau ;

إِذا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذّن فَقولُوا مثل مَا يَقُول

“Ketika kalian mendengar muadzin (meklantunkan adzan) maka ucpkanlah (Jawab) seperti yang diucapkannya.”

Kecuali pada lantunan Hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah, kita menjawabnya dengan hauqalah, yakni Laa haula wa laa quwwata illa billah. Juga saat muadzin sampai pada asshalaatu khairun minan naum di waktu subuh, kita menjawabnya dengan shadaqta wa barrarta. Redaksi dari kitab Majmu’ mengatakan;

إذا سمع مؤذنا بعد مؤذن هل يختص استحباب المتابعة بالأول أم يستحب متابعة كل مؤذن فيه خلاف للسلف حكاه القاضي عياض في شرح صحيح مسلم ولم أر فيه شيئا لأصحابنا. والمسألة محتملة والمختار أن يقال المتابعة سنة متأكدة يكره تركها لتصريح الأحاديث الصحيحة بالأمر بها وهذا يختص بالأول لأن الأمر لا يقتضي التكرار وأما أصل الفضيلة والثواب في المتابعة فلا يختص والله أعلم

“Ketika mendengar seruan muadzin (orang yang adzan) setelah muadzin yang lain, apakah kesunahan menjawabnya hanya pada kumandang adzan yang pertama saja, atau juga keseluruhan adzan? Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat ulama salaf. Seperti yang diungkapkan oleh Qadli ‘Iyadh dalam syarah kitab Shahih Muslim. Dalam kasus ini, Saya (Imam Nawawi) tidak menemukan komentar dari kalangan Syafi’i. Kasus ini masih ada beberapa kemungkinan, akan tetapi pendapat yang dipilih bahwa menjawab adzan hukumnya sunah muakkad (ditekankan) makruh bila ditinggalkan. Berlandaskan kesharihan hadis yang memerintahkannya. Dan perintah ini hanya terkhusus pada adzan yang pertama, sebab, perintah itu tidak menuntut untuk diulangi (pelaksanaannya). Sedangkan keutamaan dan pahala dalam menjawab adzan tidak tertentu pada adzan paling pertama saja (Semua mendapatkannya). Wallahu a’lam.”

Komentar Imam Nawawi dalam Majmu’-nya ini menandaskan bahwa kesunahan menjawab adzan ketika terjadi berulang-ulang adalah pada kumandang adzan yang pertama, dan makruh hukumnya jika tidak menjawab adzan yang pertama ini. Walau demikian, adzan-adzan yang disuarakan setelahnya masih membawa kesunahan dan keutamaan untuk dijawab.

Namun, dalam praktiknya, adzan yang dikumandangkan lewat pengeras suara akan saling tumpang tindih. Belum juga usai adzan yang berkumandang pertama kali, segera saja disusul adzan dari masjid maupun mushala lain, mengingat begitu menjamurnya tempat ibadah umat muslim di tanah air tercinta ini, alhamdulilah. Jika demikian, adzan dengan pengeras suara rendah akan disenyapkan dengan yang pengeras suaranya tinggi, atau yang paling dekat dengan telinga kita.

Sedangkan sebab disunahkannya menjawab adzan adalah kita bisa ‘mendengar’ lantunan adzan tersebut, sehingga jika seseorang melihat muadzin naik menara hendak adzan -adzan zaman dulu memang demikian- akan tetapi karena jarak keduanya cukup jauh sehingga suara muadzin itu tidak didengarnya, maka tidak disunahkan untuk menjawab. Ya, bagaimana mau menjawab, kalau mendengar saja tidak. Ini seperti yang disampaikan juga oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muhadzab ;

لو رأى المؤذن على المنارة مثلًا في الوقت وعلم أنه يؤذن لكن لم يسمع أذانه لبعد أو صم لا تشرع له المتابعة قاله النووي في شرح المهذب

“Jikalau seseorang melihat muadzin sedang di atas menara sedangkan waktu menunjukkan jam shalat, dan ia tahu bahwa muadzin itu hendak adzan, tetapi ia tidak mendengar sebab jaraknya yang jauh atau karena tuli, maka tidak disyariatkan baginya untuk menjawab adzan. Ini komentar Imam Nawawi dalam syarah kitab Muhadzab.”

Dan kesunahan menjawabnya akan tetap berjalan meski adzan terdengar ratusan kali. Wallahu a’lam. []

baca juga: Menjawab Adzan dari Speaker dan Televisi
tonton juga: TASYAKUR KHOTAMAN KE IX | Pon. Pes. Putri Al Baqoroh

Adzan Bersahutan, Mana yang Kita Jawab?
Adzan Bersahutan, Mana yang Kita Jawab?

2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.