Metode Pembagian Dakwah

Metode Pembagian Dakwah | Keberadaan dakwah merupakan ujung tombak eksistensi agama Islam. Tidak heran, dakwah menjadi suatu kewajiban bagi setiap umat Islam. Semangat untuk menyebarkan agama Islam ini dipicu dari hadis Nabi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Sampaikan sesuatu dariku, walaupun hanya sebatas satu ayat.”[1]

Kata dakwah sendiri diambil dari bahasa Arab yang bermakna mengajak, mengundang atau mendorong. Secara implisit, Syaikh Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah dalam kitab Hidayah al-Mursyidin sebagai:

حَثُّ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْهُدَى وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ لِيَفُوْزُوْا بِسَعَادَةِ الْعَاجِلِ وَالْأَجِلِ

Upaya mendorong manusia untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk, memerintah mengerjakan kebaikan, melarang melakukan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat”.[2]

Terlepas dari pengertian di atas, Syaikh Ali Mahfudz kembali berpendapat bahwa setiap pelaku dakwah setelah para Nabi, memiliki derajat dan keutamaannya masing-masing. Keadaan ini bukan berarti memisah-misah antara mubalig satu dengan mubalig yang lain, atau mengunggulkan pelaku dakwah yang satu, dan menganggap rendah posisi mubaligh yang lain. Tetapi yang dikehendaki dari pembagian ini adalah setiap pelaku dakwah memiliki kepentingannya masing-masing. Pembagian tersebut di antaranya:[3]

1. Ulama Ahli Hikmah (berdakwah melalui pendekatan karakter masyarakat)

Yaitu mereka yang berdakwah dengan cara yang bijak, menggunakan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan keadaan masyarakat setempat,[4] baik secara ucapan (tata bahasa), perbuatan (sopan santun), maupun pendapatnya.[5] Untuk memperkuat argumen ini, Allah Swt. berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS: Al-Baqarah [2]: 269)

2. Ulama Ahli Ushul (berdakwah mengenalkan dasar-dasar agama)