Santri Boyong Harus Kaya? Menata Ulang Definisi Berkah di Masyarakat

Santri Berkah

Coba kita renungkan satu kata yang sering kita sebut tapi jarang kita pahami dengan utuh: barokah atau berkah. Setiap kali ada santri boyong, doa yang paling sering terucap adalah, “Mugi barokah ilmuné.” Tapi di lapangan, sering muncul anggapan aneh — bahwa santri yang benar-benar “barokah” adalah yang hidupnya sukses, kaya raya, punya rumah besar, mobil banyak, dan usahanya lancar.
Padahal… apakah benar ukuran barokah itu sebatas materi? Mari kita lihat bagaimana para ulama mendefinisikan barokah sebenarnya.

Baca juga: Menyelami Ungkapan Ibnu Atha’illah “Apa yang Telah Allah Atur, Tak Usah Kau Ikut Campur”

Apa Itu Barokah Menurut Ulama?

Dalam banyak kitab klasik seperti al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an karya Ar-Raghib al-Ashfahani, pengarangnya menjelaskan:

البركة: ثبوت الخير الإلهي في الشيء

“Barokah adalah tetapnya kebaikan ilahi dalam sesuatu.”
(Ar-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradat, bab ba-ra-ka)

Artinya, barokah bukan soal bertambahnya harta, tapi bertambahnya kebaikan ilahi di dalam hidup kita.
Jadi ketika seorang santri hidup sederhana, tapi istiqamah dalam taat; tidak berlimpah harta tapi hatinya tenang; tidak banyak bicara tapi ilmunya menuntun — di situlah letak barokah sejati.

Baca juga: Memahami Makna dan Hikmah di Balik Peristiwa Agung Isra Mikraj

Apakah Barokah Identik dengan Kekayaan?

Kalau barokah selalu kita ukur dengan banyaknya harta, maka Fir’aun dan Qarun pantas disebut paling barokah. Tapi justru mereka adalah simbol laknat.
Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an:

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

“Apabila manusia diuji Tuhannya dengan dimuliakan dan diberi kesenangan, ia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’”
(QS. Al-Fajr: 15)


Kekayaan bisa jadi ujian, bukan barokah. Kadang Allah menambah harta bukan karena ridha, tapi karena sedang menguji kesyukuran. Sebaliknya, Allah menahan sebagian rezeki bukan karena murka, tapi karena sedang menjaga kita agar tidak lupa diri.

Baca juga: Apa Itu Diyatsah? Mengenal Sosok Suami yang Tidak Punya Rasa Cemburu dalam Islam

Santri Berkah Itu Siapa?

Santri yang berkah bukan yang boyongnya membawa mobil, tapi yang pulang membawa akhlak. Bukan yang sibuk membangun ruko, tapi yang terus membangun doa untuk gurunya. Bukan yang dikenal di dunia usaha, tapi yang dikenali para malaikat karena ilmunya memberi manfaat.

Barokah bukan berarti makin kaya, tapi makin baik. Bukan tentang banyaknya pundi-pundi uang, tapi luasnya manfaat di kehidupan.

Barokah itu ketika:

  • Rezekimu sedikit tapi selalu cukup.
  • Waktumu sempit tapi terasa lapang.
  • Ilmumu sederhana tapi menghidupkan hati banyak orang.

Dawuh Kiai Haji Marzuki Dahlan Lirboyo Perihal Santri Sukses

Dalam salah satu ceramahnya di Yayasan Minhajut Thullab, Lampung, Ning Sheila Hasina menjelaskan dawuh Kiai Haji Marzuki bahwa santri yang sukses dan berkah mondoknya adalah santri yang ketika pulang kerumah ketakutan kepada Allah bertambah.

Nyuwun sewu, Sekarang banyak santri yang punya mindset sukses itu berarti punya materi banyak. Misal, (ada ungkapan) seorang santri yang bejo dunia akhirat berarti dunyone kudu sugih (pasti kaya). Kalau tidak kaya maka tidak sukses (dan tidak berkah).”

Kemudian beliau melanjutkan “Saya ingin mengingatkan kepada seluruh santri. Jangan buru-buru mengatakan ilmumu tidak manfaat hanya sekadar kalian belum (kaya dan) punya santri. Kata Kiai Marzuki, ilmu manfaat itu yang hatinya takut kepada Allah. Jadi kalian salat di rumah dan tidak maksiat itu ilmunya sudah manfaat”

Baca juga: 5 Hal yang Dikira Haram Padahal Boleh Menurut Islam

Penutup: Barokah Adalah Rasa Cukup dari Allah

Santri yang benar-benar mendapat barokah bukan yang hidupnya paling tinggi, tapi yang hatinya paling rendah di hadapan Allah.
Bukan yang paling banyak harta, tapi yang paling banyak syukur.
Sebab di antara tanda barokah adalah ketika hidupmu menjadi ringan dijalani, bukan karena semuanya mudah, tapi karena Allah selalu menyertai.

Maka, kalau engkau boyong dengan bekal ilmu dan adab, lalu pulang dengan niat mengamalkan — jangan risau meski kantongmu tipis.
Karena di mata Allah, itulah santri paling kaya.
Kaya hati, kaya amal, dan insyaAllah… kaya pahala di akhirat.
Wallahu a‘lam.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses