Menyelami Ungkapan Ibnu Atha’illah “Apa yang Telah Allah Atur, Tak Usah Kau Ikut Campur”

Allah Atur Semuanya

Ada ungkapan dari Imam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari yang menjadi fondasi ketenangan jiwa dalam tasawuf:

“أرح نفسك من التدبير، فما قام به غيرك عنك لا تقم به لنفسك”

“Istirahatkan dirimu dari mengatur-atur,, sebab apa yang telah diurus oleh selain dirimu (Allah) jangan engkau ikut mengurusnya untuk dirimu sendiri.”

Kalimat ini, yang sekilas tampak paradoks, sesungguhnya adalah undangan agung menuju ketenangan sejati. Di era di mana kita terdorong untuk selalu merencanakan dan mengontrol segalanya, hikmah ini datang sebagai bisikan lembut: “Tenanglah, ada Pengatur yang lebih baik darimu.”

Baca juga: Mengapa Ibn ‘Athaillah Menyebut Maksiat Bisa Lebih Baik dari Taat?

Membedakan Sebab dan Tadbir

Imam Ibn ‘Athaillah tidak sedang menganjurkan kita untuk meninggalkan usaha. Seorang Muslim tetap wajib berikhtiar secara fisik dan materi, sebagaimana: pergi ke pasar untuk berdagang, ke kampus atau pesantren untuk belajar, atau menjauhi hal-hal yang membahayakan. Ini adalah kerja fisik.

Namun, istirahat di atas adalah tadbir—yaitu kerja pikiran dan keputusan akal yang berlebihan dalam mencemaskan hasil.

Inilah mengapa beliau menggunakan kalimat “أرح نفسك” (Istirahatkan jiwamu), bukan “أرح جسمك” (istirahatkan badanmu). Karena kelelahan sejati bukan terletak pada gerak tubuh, melainkan pada ketegangan jiwa yang ingin mengontrol takdir yang sudah Allah tetapkan.

Seorang hamba mengambil sebab, tetapi tidak larut dalam kesedihan atau kegelisahan untuk meraih hasil, karena hasil itu adalah urusan Tadbir Ilahi—pengaturan dan hukum Allah semata.

Baca juga: Banyak Jalan Menuju Surga: Jalan Kebaikan yang Tak Terhingga

Su’ul Adab dan Pelajaran dari Kegagalan Merencanakan

Mengapa kita harus mengistirahatkan diri dari tadbir?

Ulama sufi menjelaskan bahwa tadbir (mengatur) yang tercela adalah upaya berlebihan seorang hamba untuk ikut campur dalam sesuatu yang sudah Allah jamin dan Allah urus. Ini adalah bentuk su’ul adab (etika yang buruk) di hadapan Sang Pencipta, dan menunjukkan ketidakpuasan terhadap pengaturan-Nya.

Seorang hamba adalah budak (‘abd), dan Allah adalah Tuannya (Sayyid). Bukankah wajar jika seorang budak menyerahkan semua urusannya kepada Tuannya yang Maha Tahu dan Maha Kuasa?

Ketika engkau memaksa diri mengatur urusanmu, padahal engkau adalah yang jahil dan lemah, sedangkan Allah adalah Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, maka:

  1. Engkau diwakilkan kepada pengaturanmu sendiri.
  2. Engkau menjadi lelah, bingung, dan gagal.
  3. Kebaikan yang engkau harapkan menjauh, sedangkan keburukan yang engkau khawatirkan mendekat.
  4. Engkau berprasangka buruk kepada Tuhanmu.

Sebaliknya, jika engkau berserah diri sepenuhnya (tawakkal), mengakui jaminan-Nya, dan menyerahkan urusanmu pada perwakilan-Nya (Allah), maka hatimu akan lapang dan engkau akan merasakan istirahat sejati.

Imam Ibn ‘Athaillah menegaskan dalam kitabnya yang lain“At-Tanwir fi Isqathit Tadbir”, bahwa Allah berfirman: “Aku bersumpah akan membalas orang-orang yang mengatur-atur dengan wujudnya kekeruhan (ketidaknyamanan), dan akan menghancurkan apa yang mereka bangun, serta akan mewakilkan urusan mereka pada diri mereka sendiri—mereka tercegah dari ruh keridhaan dan kenikmatan kepasrahan.”

[Ibn Atha’illah As-Sakandari, At-Tanwir fi Isqathit Tadbir (Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah) hal. 457]

Baca juga: Jangan Sampai Ilmu Hilang Gara-Gara Gengsi! – Nasihat Imam al-Ghazali tentang Adab Menerima Ilmu

Keseimbangan: Tugas Hamba dan Jaminan Tuhan

Hikmah ini mengajarkan kita tentang pembagian tugas yang adil antara hamba dan Rabb-nya, sebagaimana tertera dalam keterangan Ibrahim al-Khawwas:

“Ilmu seluruhnya ada dalam dua kalimat: Jangan memaksakan diri mengurus apa yang telah Allah cukupi (jamin) untukmu, dan jangan menyia-nyiakan apa yang Allah tugaskan kepadamu.”

Ini adalah kunci “Hati yang Seimbang”:

  • Tugas Kita: Mengambil sebab, mengikuti perintah Allah dan Nabi, beribadah, dan sabar atas segala ketetapan.
  • Tugas Allah (Tuhan Maha Menjamin sesuatu): Mengatur hasil, rezeki, ajal, dan menjaga urusan kita.

Jika kita sibuk dalam urusan yang telah Allah jamin (seperti mencemaskan rezeki besok) dan lalai dalam urusan yang Allah tuntut (seperti ikhlas dalam ibadah), maka itu menunjukkan keruhnya mata batin.

Allah telah menuntut kita yang berakal untuk mengambil sebab, tetapi bukan untuk mendikte takdir. Sebagaimana kata Sayyidina Umar bin Khattab saat menanggapi Abu Ubaidah ketika lari dari wabah:

 نعم، نفر من قدر الله إلى قدره

“Ya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir-Nya yang lain.” (HR. Bukhari Muslim)

Ini adalah upaya mengambil sebab yang Allah puji, sebab hati tetap bersandar pada Yang Maha Mengatur.

Baca juga: Keutamaan Bersungguh-sungguh dalam Doa

Sikap Terbaik:

  • Berikhtiar dengan kesadaran penuh bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi (Mā shā’a Allāhu kāna).
  • Berhenti mencemaskan masa depan yang sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur segalanya

Maka, lepaskanlah kendali. Istirahatkanlah jiwamu. Karena yang paling berbahaya dalam perjalanan menuju Allah bukanlah kegagalan, melainkan keangkuhan bahwa kita mampu mengatur yang tak teratur.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses