Tag Archives: Al Ghazali

Kala Al-Ghazali Berbicara Perihal Cinta


Imam Ghazali nampaknya menjadi salah satu penggemar terberat Rabiah Adawiyah. Kalau saja ia hidup di zaman sekarang, bukan tidak mungkin dia akan bikin semacam fanbase buat Rabiah.

Betapa tidak. Ia bahkan mengutip rangkaian syair Rabiah di kitabnya yang paling monumental: Ihya Ulumuddin. Ia tak akan mengutip syair itu jika lariknya tak benar-benar penting baginya.

Pertama, karena ia pernah mengecam kebiasaan masyarakat zamannya yang doyan bersyair. (Baca bab hukum syair dan musik di ihya). Kedua, sebagai seorang yang pernah berada di level faqih—yang artinya pernah berurusan serius dengan kaum sufi—tentu akan lebih kritis terhadap sesuatu yang berbau sufistik-spiritualisme.

Namun magis Rabiah memang sungguh terlalu. Al-Ghazali jelas terpengaruh dan membaca hampir seluruh syair Rabiah. Ia lalu memilih mengutip beberapa larik ini:

أُحِبُّكَ حُـبَّينْ حُبُّ الهَوَى وَحُــبَّا لأنَّكَ أَهْلٌ لِـذَاكَا
فَأَمَّا الَّـذِي هُوَ حُبُّ الهَوَى فَشُـغْلِي بِذِكْرِكَ عَمَّنْ سِوَاكَا
وَأَمَّا الَّـذِي أَنْتَ أَهْلٌ لَـهُ فَلَسْتُ أَرَى الكَوْنَ حَتىَّ أَرَاكَا
فَمَا الحَمْدُ فِي ذَا وَلاَ ذَاكَ لِي وَلَكِنْ لَكَ الحَمْدُ فِي ذَا وَذَاكَا

“Aku mencintaimu karna dua hal: pertama karena cinta pada cinta, Dan kedua karena Engkau pantas dicinta.”
“Cinta pada cinta adalah saat aku terlalu mabuk asmara mengingat diriMu, tak terbagi cintaku pada yang lain.”
“Dan tentang engkau yang pantas dicinta ialah karena aku tak melihat segala-galanya kecuali dirimu”
“Aku tak butuh pujian karna ini dan itu tapi karna Engkaulah yang pantas akan semua itu.

Dari syair ini kemudian Al-Ghazali menemukan cahaya terang: kenikmatan memandang keagungan Allah adalah cinta yang dimaksud Rabiah itu. Cinta yang tak terbagi, cinta yang membutakan pecandunya pada semua hal.

Kesimpulan ini ia landaskan pada firman Allah dalam hads qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku telah menyediakan bagi hamba-hambaKu yang saleh kenikmatan yang belum pernah ada mata yang melihatnya, belum pernah ada telinga yang mendengarnya, dan belum pernah dibayangkan hati manusia.”

“Keterangan-keterangan tersebut telah menjelaskan segalanya,” ujar Al-Ghazali, “bahwa pengetahuan yang paling nikmat adalah pengetahuan yang paling tinggi derajatnya.” Apa keagungan Allah adalah cinta yang dimaksud Rabiah itu. Cinta yang tak terbagi, cinta yang membutakan pecandunya pada semua hal.

Apa pengetahuan paling tinggi derajatnya itu? Derajat sebuah pengetahuan akan dinilai sesuai dengan derajat materi yang menjadi objek pengetahuan itu. Semisal, pengetahuan tentang ilmu bangunan, derajatnya setara dengan nilai bangunan itu sendiri.

Derajat pengetahuan akan alam dan kajian biologisnya, setara dengan seberapa penting alam dan kajian biologis itu untuk diketahui banyak orang. Dan seterusnya.

“Dengan demikian,” lanjut Al-Ghazali, “jika kita menemukan sesuatu yang agung dan mulia di dalam ilmu pengetahuan itu, maka ilmu pengetahuan itu pastilah ilmu yang agung dan mulia pula. Maka pengetahuan kita terhadap Yang Tertinggi (tuhan) adalah aladzzul ‘ulum, semulia-mulia dan selezat-lezatnya pengetahuan.”

Referensi: Ihya Ulumudin, maktabah dar al-fikr, vol. 4, hal. 323.

__________________________________

Nailul Huda, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2004, dengan perubahan seperlunya.

Merawat Marwah Musyawarah

LirboyoNet, Kediri – Betapapun seseorang mempelajari sesuatu, jika ia hanya membaca dan mengunyah sendiri ­–tanpa mengutarakannya pada orang lain– ia masih menjadi pelajar yang belum utuh. “Separuh kepahamanmu atas sesuatu berada bersama temanmu. Karenanya, bermusyawarahlah agar sempurna kepahamanmu,” begitu kira-kira ungkapan para ahli hikmah.

Pada Kamis malam hingga Jumat sore kemarin (15-16/09), ratusan santri Lirboyo berkumpul di gedung Lajnah Bahtsul Masail. Mereka adalah para siswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) yang telah dipilih oleh para mustahiq (wali kelas). Mereka sengaja dipilih sebagai perwakilan masing-masing kelas, guna mendapatkan penyegaran tentang bagaimana musyawarah seharusnya berlangsung. Even yang bernama Penataran Keroisan ini diselenggarakan oleh Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM), sebuah badan otonom milik MHM.

“Yang kita bahas sekarang adalah sistem. para sesepuh dahulu, telah merumuskan cara-cara tertentu agar musyawarah bisa berjalan efektif dan menghasilkan,” buka ustadz Hamim Hudlori, salah satu pemateri pada acara itu.

Sistem yang telah dibangun itu, menurutnya, dalam perjalanannya hingga kini telah menghasilkan lulusan Lirboyo yang mumpuni, tangguh dalam ruang-ruang musyawarah. Sedari bahtsul masail tingkat desa hingga even internasional.

Namun, sistem hanya akan menjadi catatan di atas kertas, jika potensi manusia yang berkecimpung di dalamnya tak juga dibangun. Hanya akan menjadi sejarah yang tidak bisa dibanggakan. Great Wall di China menjadi buktinya. Batu-batu disusun setinggi mungkin, setebal mungkin. Tujuannya jelas: musuh akan berpikir ratusan kali untuk menyerang kerajaan. Namun kita tahu, China runtuh tanpa lubang di tembok mereka. “Mereka lupa untuk membangun mindset para penjaga (tembok China). Musuh tinggal menjatuhkan mental dan moral mereka (agar dapat masuk ke dalam),” kisah beliau.

Membangun potensi musyawarah yang dimiliki santri inilah yang tidak memiliki sistem pasti. Karena pada dasarnya, setiap santri memiliki antisipasi tersendiri. Menurut ustadz Abdul Kafi Ridho, pemateri yang lain, untuk memacu semangat musyawarah, akan sulit untuk menemukan konsep yang paten. “Kita tidak bisa menyamaratakan antara santri yang baru bisa mendengar, yang mulai membaca syarah (kitab lanjutan), yang tiap malam ikut bahtsul masail. Kalian harus mampu melihat (potensi dan problem) kalian sendiri.”

Namun paling tidak, yang perlu ditanamkan dalam-dalam adalah mengenal manfaat sesungguhnya dari musyawarah. Rasulullah pernah bersabda, “tak akan rugi orang yang istikharah, dan tak akan menyesal orang yang bermusyawarah.”

Dalam bermusyawarah, masih menurut ustadz Abdul Kafi, simpul-simpul keruwetan dalam otak akan terurai. Apalagi ketika terlibat dalam perdebatan bermutu. Otak akan tertuntut untuk memahami, menganalisa, dan mengkritisi suatu pemikiran dengan cepat. Hanya dalam forum musyawarah akan didapatkan hal-hal baru dalam waktu singkat. Keterangan kitab syarah, para senior, dan catatan-catatan akan sulit, bahkan tidak dapat, diperoleh ketika hanya mengandalkan sekolah maupun muthala’ah (belajar) sendiri.

Demi itu, kita perlu mencermati sebuah kalimat yang diungkapkan oleh Al-Ghazali, al-ilmu la yu’thika ba’dhah hatta tu’thika kullaka”. Ilmu tidak sudi memberikan sebagian dirinya kepadamu hingga kamu bersedia mempersembahkan dirimu untuk ilmu sepenuhnya.][

Sejenak Mengenang Imam Al-Ghazali

Kebanyakan orang pasti pernah mengalami masa depresi. Kegalauan yang biasa sampai luar biasa. Ketika ada masalah yang kian banyak dan makin bertumpuk, atau ada sejuta pertanyaan tak terjawab, ‘saklar’ kesadaran itu otomatis ‘padam’.

Imam Al-Ghazali mengalami petualangan ilmiah yang luar biasa hebat. Rihlah tholabul ‘ilminya panjang dan “melelahkan”. Tapi dengan hasil yang tak mengecewakan, Hujjatul Islam ini mampu menguasai tidak hanya satu disiplin ilmu. Tidak cukup satu gelar saja untuk menggambarkan kepakarannya. Beliau bukan hanya pakar fiqih, kalam, dan ushul, beliau lebih dari itu semua. Namun dihari-hari  terakhirnya, beliau lebih memilih sembunyi dan pulang ke kampung halamannya. “Ingin dikenal orang sebagai warga Thus biasa, seperti halnya petani dan pedagang lainnya”. Begitulah mungkin. Sekedar menyebutkan beberapa karyanya, dalam ushul fiqih, Al-Mushtasfanya adalah salah satu dari empat kitab ushul terbaik yang pernah ada, yang kemudian di resume menjadi Al-Mahshul. Dalam fiqh, Al Basith,Al-Wasith,dan Al-Wajiz adalah kitab-kitab pokok Mazhab Syafi’i. Hampir seluruh kitab-kitab ulamamutaakhirin merujuk kepada tiga kitab tersebut. Bisa dibilang, kalau kita sedang belajar  fiqh ala Syafi’iyyah atau  ushul fiqh, disitu ada “ilmunya imam Al-Ghazali”. Beliau adalah pahlawan sejati Ahlussunah yang gigih membela islam sunni dari dua ancaman besar pada masa itu, rasionalis Mu’tazilah dan Syiah garis keras Isma’iliyyah. Juga ancaman umum dunia intelektual, Filsafat Yunani. Banyak orang menilai Imam Al- Ghazali sebagai filsuf, namun dari kiprah beliau tak nampak kalau beliau adalah seorang filsuf. Justru sebaliknya, beliau adalah mistikus.

Imam Al- Ghazali, nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi. Bergelar Hujjatul Islam. Di dunia barat beliau dikenal dengan nama Algazel. Ditanah kelahirannya, Thus, beliau dilahirkan tahun 1059 M/450 H. Dan beliau wafat.diusianya yang ke lima puluh lima.

Al-Ghazali kecil terlahir dari keluarga miskin. Beliau punya seorang saudara kandung bernama Ahmad. Ayah beliau sehari-hari bekerja sebagai pemintal wol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah beliau terkenal orang  yang saleh, sangat mencintai para ulama dan gemar melayani mereka. Sering ayah beliau menghadiri majlis-majlis pengajian, disitu tak jarang ayah beliau menagis berkaca-kaca. Dalam do’anya, ingin sekali beliau dikaruniai putra-putra  yang kelak menjadi ulama besar. Do’a ayah Al-Ghazali dijawab oleh Allah SWT. dikemudian hari. Baik Al-Ghazali maupun saudaranya, Ahmad, keduanya sama-sama  menjadi  ulama besar.

Ketika ayahnya wafat kedua bersaudara ini dititipkan kepada kerabatnya agar dididik, supaya diajari tentang  agama. Ketika kerabat ayahnya tak mampu lagi membiayai mereka, mereka berdua masuk ke madrasah setempat agar bisa mendapatkan makanan. Bermula dari sini, rihlah ilmiah Al-Ghazali dimulai. Al-Ghazali kecil ngaji di tanah kelahirannya bersama saudara kandungnya,  Ahmad ditempat yang diasuh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Zâdzakâni. Setelah sekian lama, beliau pindah ke Jurjan, ngaji bersama Syaikh Abi Nashr Al-Isma’ili. Beliau membuat Ta’liqot, catatan hasil belajar, tanpa menghafalkannya. Sepulang dari sana, rombongan Al-Ghazali dirampok, dan semua barang bawaan dijarah. Termasuk buku ta’ilqot Al-Ghazali selama di Jurjan. Al-Ghazali diejek oleh pimpinan perampok ketika hendak meminta kembali buku ta’liqotnya, “Kalau saja buku ini hilang kamu tak lagi punya ilmu apa-apa.” Kalimat ini menjadkian beliau terpacu untuk menghafalkan seluruh ilmunya. Setibanya  kembali di rumah, beliau menghafalkan seluruh ilmu yang dia dapatkan.

Setelah beberapa saat  dirumah, Al-Ghazali memutuskan ikut rombongan pelajar yang hendak berangkat ke Naisabur, Khurasan. Negri itu dikenal sebagai kotanya ilmu pengetahuan. Disana adalah tempat para pelajar mengadu  nasib, karena menjadi tempat asimilasi ilmu pengetahuan dari berbagai tokoh besar. Disana beliu memutuskan untuk ngaji kepada tokoh sentral Mazhab Syafi’I, salah satu ulama terbesar dimasanya, Imam Al-Haramain yang mengasuh Madrasah Nidzamiyyah Naisabur. Madrasah yang diprakarsai Alp Arslan. Disinilah akhirnya beliau dapat mengukuhkan dan menguasai pemahaman tentang  fiqh, ushul, ilmu khilaf, jadal, manthiq, hikmah, dan filsafat. Padahal usia beliau kala itu baru menginjak dua puluh delapan tahun. Beliau aktif menulis karya ilmiah, dan mengikuti aktifitas keilmuan lain. Karir beliau menanjak dan beliau mulai memiliki nama besar. Murid kesayangan Imam  Al-Haramain ini bahkan sampai dijiluki Al-Bahr Al-Mughdiq (Lautan luas-deras) oleh gurunya. Al-Ghazali juga mulai diminta membantu mengajar oleh gurunya dan menggantikan gurunya jika berhalangan. Bahkan beliau adalah orang yang dipersilahkan duduk ditempat duduk gurunya, Imam Al-Haramain. Sepeninggal gurunya, beliau meninggalkan Madrasah Nidzamiyyah Naisabur menuju tempat perdana mentri Nidzamul Mulk didekat kota Naisabur. Tempat itu dikenal sebagai perkumpulannnya ulama-ulama besar berdiskusi. Al-Ghazali yang memang juga jago berdebat segera mendapat nama dan diakui kehebatnnya. Popularitas beliau segera menanjak. Nama Al-Ghazali cukup disegani karena kedalaman ilmunya. Beliau segera diundang  oleh perdana mentri Nidzamul Mulk yang memang mencintai ilmu pengetahuan ke Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Sebuah gudang ilmu pengetahuan yang bergengsi dimasanya.  Ketika tiba di Baghdad  tahun 1091 M/484 H puncak karir imam Al-Ghazali mencapai babak baru.

Nama Imam Al-Ghazali semakin bersinar. Maklum, Baghdad adalah ibukota pemerintahan islam “yang sah” saat itu. Dan Madrasah Nidzamiyyah Baghdad seolah menjadi sentralnya ilmu pengetahuan diseluruh dunia islam. Fatwa-fatwanya bisa mencapai pelosok negeri. Karya-karyanya dibaca dan dikaji dimana-mana. Diusia beliau yang tergolong masih muda, tiga puluh tiga tahun, bisa dikatakan semua sudah diraih Imam Al-Ghazali. Hidup di istana sebagai penasihat perdana mentri Nidzamul Mulk, fasilitas hidup serba mewah, penghormatan setinggi-tingginya, dan menjadi profesor di Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Seperti mimpi, padahal tiga puluh tahun silam, beliau masih hidup dalam kubangan kemiskinan ditengah-tengah keluarga yang nyaris tak memiliki “nama” di Thus. Nama Imam Al-Ghazali segera dikenal sebagai imamnya orang-orang Iraq, setelah sebelumnya dikenal sebagai imamnya orang-orang Khurasan.

Di Baghdad beliau dikenal gigih memperjuangkan Mazdhab Ahlusssunnah Al-Asy’ari dari serangan bermacam-macam ancaman aktual kala itu. Permasalahan akidah kala itu menjadi pembahasan mainstream, dimana semua orang mengaku benar, dan semua orang mengaku yang paling selamat. Selain itu, dalam karyanya, “Tahafut Al-Falasifah” (kerancauan filsafat), Imam Al-Ghazali mempersoalkan keberadaan filsafat sebagi polemik. Jika saja filsafat hanya berkaitan dengan fenomena dunia yang nampak, seperti kedokteran, astronomi, atau matematika, bukan masalah metafisika  yang membahas ketuhanan, maka filsafat akan sangat berguna. Tidak mungkin doktrin emanasi dibuktikkan. Dan anggapan mereka bahwa tuhan terlalu agung untuk tahu hal-hal yang juz’I, partikular, adalah realitas rendah yang tak masuk akal. Akhirnya, menurut beliau filsuf jadi tidak filosofis karena menggali sesuatu yang diluar kemampuan mereka. Meskipun begitu, sanggahan Imam Al-Ghazali segera mendapat tanggapan dari Ibn Rusydi, ulama Andalusia, yang segera menulis karya tandingan, “Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan KitabTahafut Al-Falasifah). Adu argumen tak terelakkan, ketika konon Imam Al-Ghazali dengan mudah menjawab kitab Ibn Rusydi dengan karyanya “Tahafut Al-Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan kitab Tahafut  Al-Tahafut). Imam Al-Ghazali juga menghadapi konflik internal dalam madzhabnya sendiri. Banyak kalangan yang mencoba menyerang pemikirannya, dan menuduhnya dengan tuduhan yang tidak-tidak. Bisa dibaca dalam karya-karyanya, beliau cukup prihatin dengan kondisi sosial kala itu.

Sifatnya yang amat kritis sangat mempengaruhi perjalanan intelektualnya. Ketika akhirnya beliau mulai ditimpa kegalauan yang luar biasa. Keresahan intelektual ini mulai dialami empat tahun setelah beliau tinggal di Baghdad dalam puncak karirnya. Beliau adalah orang yang dirundung nestapa atas ketidak pastiannya kesimpuan-kesimpulan yang beliau hasilkan. Setiap kesimpulan yang beliau rumuskan pada suatu hari, akan beliau klaim salah pada hari yang lain. Semakin dalam beliau menggali pengetahuan, semakin banyak saja hal yang tidak beliau ketahui. Pada awal karirnya, Imam Al-Ghazali percaya pada fakta-fakta indrawi. Tapi tak lama kemudian beliau mempertanyakannya kembali. Kemudian beliau beralih menjadi orang yang percaya dengan logika. Namun akhirnya hal ini dikritik juga. Banyak orang yang menilai pemikiran beliau inkonsisten, ambigu, dan kontradiktif. Tentu saja sulit membaca sepak terjang wawasan Imam Al-Ghazali karena keilmuwannya yang kaya. Banyak sarjana-sarjana modern di timur dan barat banyak yang gagal menyimpulkan benang merah pemikiran beliau. Beliau bukan saja sosok yang misterius bagi banyak orang, namun barangkali juga bagi dirinya sendiri.

Kekecewaan-kekecewaan banyak beliau alami ketika bergelut dalam ilmu kalam dan filsafat. Hingga pada bulan Rajab 488 H, tulis Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz Min Al-Dzalal, selama hampir enam bulan hari demi hai beliau dilanda kebimbangn dan kegalauan luar biasa.

Hingga akhirnya pada tahun yang sama, 1094 M. beliau tidak mampu lagi berbicara sepatah katapun untuk sekedar member kuliah pada murid-muridnya. Imam Al-Ghazali mengalami depresi  klinis, para dokter dengan tepat mendiagnosis adanya konflik batin mendalam dalam jiwanya.

Aku pernah memaksakan diri untuk mengajar pada suatu hari. Namun lidahku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.” (Al-Munqidz Min Al-Dzalal)

Akhirnya beliau mengambil keputusan yang mencengangkan. Beliau mengundurkan diri dari dunia keilmuan, meninggalkan seluruh pencapaian prestisiusnya, dan memilih mengembara ke Damaskus. Beliau meminta saudara kandungnya, Syaikh Ahmad untuk menggantikan posisi beliau di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih melupakan nama besarnya di dunia intelektual. Babak lain perjalanan Imam Al-Ghazali sudah dimulai. Beliau menyendiri dan beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayah di Damaskus. Untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis, mengunjungi maqam Nabi Ibrahim AS. Disana beliau bernadzar tiga hal, tidak akan lagi menerima harta pemberian apapun dari penguasa, tidak akan pergi menemui penguasa, dan tidak akan lagi berdebat dengan siapapun. Dalam syairnya yang terkenal, Imam Al-Ghazali bersenandung;

تركت هوي ليلي و سعدي بمعزل ><و عدت الي تصحيح أول منزل

ونادت بي الأشواق: مهلا فهذه ><منازل من تهوى رويدك فأنزل

Aku Pernah tinggalkan Laela dan Su’ada sendiri ditempat terasing. Aku kini pulang, membenahi rumahku yang awal. Kerinduan demi kerinduan memnggilku. Oh, pelan-pelan saja tuan. Inilah rumah-rumah orang yang engkau cinta. Aku singgah….”

Ketika beliau kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Thus. Disini beliau mempertahankan nadzarnya diatas maqam Nabi Ibrahim AS. Untuk tidak mendekati penguasa dengan menolak surat permintaan penguasa Baghdad agar kembali mengajar di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih hidup sederhana di Thus, dengan sebuah lahan miliknya, yang cukup sederhana untuk menghidupi keluarga kecil beliau. Beliau tidak tergiiuar dengan tawaran hidup kaya raya dan mapan dengan menjadi professor di Madrasah Nidzamiyyah.

Ketika menunaikan ibadah haji dan umrah, beliau kembali singgah di Damaskus dan kembali sambil menutup pintu, Imam Al-Ghazali beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayyah. Pada saat inilah, menurut cerita, beliau mengarang master piecenya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din.

Ada yang mengatakan setelah ini beliau singgah di Mesir dan Iskandariyyah, beliau sempatkan, menurut cerita, mengunjungi Maqam Imam Syafi’I dan Imam Muzani. Lalu saat hendak kembali pulang melewati Khurasan, beliau singgah tak berapa lama di Baghdad. Di pondoknya Abi Sa’id Naisaburi dekat Madrasah Nidzamiyyah. Namun bukan dalam rangka kembali mengajar, beliau hanya sempatkan singgah beberapa saat untuk kemudian menuju Khurasan dan pulang ke Thus. Di tanah kelahirannya ini Imam Al-Ghazali membangun “pondok” kecilnya dengan sekitar seratus lima puluh murid, beliau menghabiskan masa-masa akhirnya dengan mengkhatamkan Alquran, mengaji dan kegiatan lain sehingga waktu beliau tak pernah kosong dari hal-hal positif. Beliau kembali menolak dengan beragam alasan ketika datang kembali surat permohonan dari perdana mentri Iraq supaya Imam Al-Ghazali mau mengajar kembali di Madrasah Nidzamiyyah.

Nihayatus sâlik bidâyatuhu. Masa-masa akhir “seseorang” kadang justru adalah kembali mengulangi masa-masa awal yang dulu ia tinggalkan. Hanya saja dengan sikap yang lebih matang.

Disarikan dari kitab Thâbaqât Al-Syafi’iyyah Kubrâ, Pengantar Kitab Al-Bâsith dan Al-Munqidz Min Al-Dzalal.