Tag Archives: kajian

Kesalahpahaman Memaknai Ta’arufan

Perbincangan publik mengenai pacaran terus menuai kontroversi. Hampir semua kalangan telah sepakat bahwa pacaran adalah hal yang tidak diperbolehkan, baik dari sudut pandang agama, sosial, maupun budaya. Meskipun demikian, para pelaku pacaran yang didominasi kaum remaja terus mencari celah agar hal tersebut dapat diterima di tengah-tengah masyarakat.

Demi mengembalikan citra yang terlanjur memburuk, istilah “Pacaran Islami” kembali digaungkan. Dengan menggandeng kata “Islami”, seakan memberikan asumsi adanya legalitas dari syariat Islam mengenai hubungan itu. Dalam prakteknya, pacaran islami menggunakan istilah “Ta’arufan” yang diartikan sebagai upaya saling mengenal untuk mengetahui tentang lawan jenisnya. Mereka beralasan, ta’aruf merupakan bentuk ikhtiyar dalam mencari calon pendamping hidup yang pas sesuai dengan kriteria masing-masing. Dan pada gilirannya, praktek yang berawal dari kesalahpahaman itu tidak pernah lepas dari berbagai problematika yang meresahkan di tengah-tengah masyarakat.

Ta’aruf Sebelum Pertunangan

Apabila dikaji secara etimologi, ta’aruf memiliki arti saling mengenal. Adapun secara terminologi syariat, ta’aruf merupakan upaya pengenalan kedua calon mempelai dalam proses lamaran (khitbah). Tentu saja, pemahaman semacam ini sangat jauh dengan apa yang dipahami sebagian kalangan saat ini. Mereka mengartikan ta’aruf sebagai implementasi dari konsep pacaran islami.

Pada dasarnya, ta’aruf merupakan langkah awal dari proses khitbah. Yang mana dalam proses lamaran (khitbah) disunnahkan bagi kedua calon mempelai untuk melihat calon pasangannya. Ini merupakan anjuran langsung yang telah disampaikan Rasulullah SAW kepada sahabat Mughiroh bin Syu’bah ketika melamar seorang perempuan. Rasulullah SAW berkata kepadanya:

اُنْظُرْ إلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا الْمَوَدَّةُ وَالْأُلْفَةُ

Lihatlah dia, karena hal itu akan lebih mengabadikan kasih sayang di antara kalian berdua”. (HR. Tirmidzi)[1]

Hadis lain yang sejalan dengan hadis di atas pernah diceritakan oleh sahabat Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda:

إذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إلَى مَا يَدْعُوهُ إلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

Ketika kalian melamar seorang perempuan, kemudian kalian mampu melihat perempuan itu atas dasar inisiatif untuk menikahinya, maka lakukanlah”. (HR. Abu Daud)[2]

Lazimnya perkara yang telah mendapatkan legalitas langsung dari syaritnya, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dalam hal ini:

Pertama, sudah ada kemantapan dari pihak pria untuk menikahi perempuan yang dipilihnya serta ada dugaan kuat bahwa lamarannya akan diterima.[3] Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW mengatakan:

إذَا أَلْقَى اللَّهُ فِي قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إلَيْهَ

Ketika Allah telah memberikan kemantapan hati seseorang untuk melamar seorang perempuan, maka diperbolehkan baginya untuk melihat perempuan itu”.[4]

Kedua, tidak boleh melihat bagian aurat. Hukum memandang perempuan yang hendak dinikahi merupakan kebutuhan (hajat) yang mendapatkan legalitas syariat. Maka dari itu, yang mendapatkan legalitas hanya sebatas kebutuhan itu sendiri. Dalam konteks ini, yang menjadi kebutuhan adalah melihat wajah dan kedua telapak tangannya. Melihat wajah bertujuan untuk mengetahui hakikat kecantikan calon yang akan menjadi pendamping hidupnya. Adapaun melihat kedua telapak tangan bertujuan untuk mengetahui indikasi kesuburannya.[5]

Ketiga, dilakukan sebelum proses lamaran (khitbah). Alasannya sederhana, apabila melihat perempuan yang hendak dinikahi setelah proses khitbah kemudian calon mempelai pria membatalkan lamaran dikarenakan ia telah melihatnya, maka ini akan berdampak akan menyinggung perasaan pihak mempelai wanita.[6]

Beberapa ketentuan di atas berlaku apabila proses memandang calon mempelai dilakukan oleh pria itu sendiri. Namun apabila ia enggan melakukannya sendiri, maka ada alternatif untuk mencari orang lain yang halal untuk melihat perempuan yang akan dipinangnya. Selanjutnya, utusan yang berstatus wakil tersebut menyebutkan sifat-sifat dan kriteria yang diminta oleh pihak mempelai pria secara jelas dan terperinci.[7]

Hikmah Ta’aruf dalam Khitbah

Keberadaan Ta’aruf dalam proses lamaran (khitbah) tak lain hanya bertujuan untuk memperkuat hubungan pernikahan yang akan dijalani. Karena apabila tidak ada anjuran melihat calon pasangan ini, akan dikhawatirkan terjadi penyesalan dari kedua belah pihak di kemudian hari. Dengan adanya kemantapan hati dari kedua belah pihak sebelum melangsungkan prosesi pernikahan, besar harapan akan menjadikan hubungan semakin harmonis dan menjadikan ketenangan hati dalam bahtera keluarga yang akan dibangun bersama. Prinsip ini sejalan dengan tujuan pernikahan yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar-Rum: 21) []waAllahu a’lam

 

____________

[1] Mughni al-Muhtaj, IV,207.

[2] Asna al-Mathalib, III/109, Maktabah Syamilah.

[3] Al-Iqna’, II/405.

[4] Tuhfah al-Muhtaj, VII/190.

[5] Nihayah al-Muhtaj, VI/186.

[6] Mughni al-Muhtaj, IV/208, Maktabah Syamilah.

[7] Nihayah al-Muhtaj, VI/186.

Membongkar Permasalahan Cadar

Akhir-akhir ini perdebatan publik mengenai hukum bercadar untuk perempuan kembali muncul di permukaan. Polemik itu kembali mengemuka setelah beredarnya mengenai berita larangan bercadar yang dikeluarkan oleh salah satu perguruan tinggi islam ternama terhadap para mahasiswinya. Lazimnya kontroversi yang mencuat di jagad dunia maya, peraturan tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Perang pendapat argumentatif bertebaran dimana-mana, mulai dari ceramah, seminar, hingga postingan di media sosial. Sebagai pihak yang menjadi bahan perbincangan publik, perguruan tinggi Islam tersebut tak tinggal diam. Setalah melangsungkan rapat koordinasi universitas yang dilaksanakan pada sabtu kemarin (10/03), akhirnya peraturan tersebut dicabut demi menjaga iklim akademik yang kondusif.

Sungguh menjadi petaka besar, ketika masyarakat tidak bijaksana dan cerdas dalam menyikapi problematika seperti itu. Pasalnya, perdebatan argumen yang semacam ini ini sering kali dimasuki oleh kelompok-kelompok yang melontarkan pernyataan provokatif bahkan ujaran kebencian. Mereka memanfaatkan momentum ini untuk dijadikan tunggangan demi melancarkan misi memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat.

Maka dari itu, sangat diperlukan adanya kebijaksanaan dalam menanggapi permasalahan dan menghargai pendapat orang lain yang berseberangan, apalagi dalam persoalan khilafiyah. Karena yang menghadapi persoalan yang berskala demikian jangan sampai membawa dampak buruk di tengah-tengah masyarakat. Terlebih lagi sampai meruntuhkan rasa toleransi saling menghargai serta mengikis persatuan bangsa Indonesia.

Apakah Wajah Wanita Termasuk Aurat?

Pada dasarnya, perdebatan hukum di kalangan ulama mengenai bercadar ini mengekor pada perbedaan pendapat mengenai status aurat untuk perempuan di depan laki-laki yang bukan mahramnya. Pendapat pertama mengatakan bahwa aurat perempuan di depan laki-laki yang bukan mahramnya ialah seluruh tubuh. Pendapat ini adalah pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i. Sebagaimana ungkapan imam Khatib as-Syirbini dalam kitabnya, al-Iqna’:

أمَّا عَوْرَتُهَا خَارِجَ الصَّلَاةِ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْأَجْنَبِيِّ إلَيْهَا فَهِيَ جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ ، وَلَوْ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ

Sedang aurat perempuan di luar salat dari sudut pandang penglihatan lelaki lain kepada dirinya adalah seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, meskipun saat aman dari fitnah”. (lihat: al-Iqna’, I/450)

Pendapat ini juga didukung oleh madzhab Hanbali sebagaimana dalam sebuah keterangan:

وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْهَا عَوْرَةٌ حَتَّى الظُّفْرَ

Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya”. (lihat: al-Furu’, II/459)

Adapun pendapat lain mengatakan seluruh tubuh termasuk aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ini adalah pendapat sebagian madzhab Syafi’i. Sebagaimana penjelasan lain yang dikemukakan oleh imam Khatib as-Syirbini dalam kitabnya, al-Iqna’:

وَقَالَ الرَّافِعِيُّ يَجُوزُ النَّظَرُ مِنْ الْأَجْنَبِيَّةِ لِوَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ وَكَذَا مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ

Imam ar-Rofi’i berkata: Boleh melihat wajah dan telapak tangan wanita lain dengan tanpa disertai gejolak syahwat, yang demikian juga merupakan madzhab Malikiyyah”. (lihat: al-Iqna’, I/449)

Pendapat yang mengatakan bahwa wajah perempuan tidak termasuk aurat ini juga didukung dalam madzhab Hanafiyah. Sebagaimana penjelasan:

وَجَمِيعُ بَدَنِ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ إِلَّا وَجْهَهَا وَكَفَيْهَا بَاطِنَهُمَا وَظَاهِرَهُمَا فِي الْأَصَحَّ وَهُوَ الْمُخْتَارُ

Seluruh bagian tubuh wanita merdeka termasuk aurat kecuali wajahnya dan kedua telapak tangan bagian dalam dan bagian luarnya, ini adalah pendapat paling shahih yang menjadi pilihan dalam madzhab kami”. (lihat: Maroqi al-Falah, hlm 91)

Hukum Cadar

Sebagian orang menilai, bercadar merupakan budaya arabisasi, terlalu ekstrim bahkan diklaim sebagai penganut paham radikal. Berbagai asumsi tersebut sungguh berlebihan. Karena pada dasarnya, sejak dulu para ulama telah membahas dan memperdebatkan persoalan ini, dan mereka tidak ada yang mengatakan bahwa cadar murni sebuah budaya.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa perdebatan mengenai hukum cadar ini berawal dari perbedaan para ulama mengenai status wajah perempuan di depan laki-laki yang bukan mahramnya, apakah tergolong aurat ataukah tidak. Dari perbedaan mengenai batas aurat tersebut dapat disimpulkan bahwa para ulama yang mengatakan wajah termasuk aurat mengatakan hukum bercadar adalah wajib sebagai langkah untuk menutupi aurat itu sendiri. Bahkan menurut imam Ibnu Qosim al-‘Ubadi yang menukil pendapat imam ar-Ramli dikatakan bahwa menutup wajah dihukumi wajib meskipun bukan aurat:

وَوُجُوبُ سَتْرِهِمَا فِي الْحَيَاةِ لَيْسَ لِكَوْنِهِمَا عَوْرَةً بَلْ لِكَوْنِ النَّظَرِ إلَيْهِمَا يُوقِعُ فِي الْفِتْنَةِ غَالِبًا شَرْحُ م ر اهـ سم

Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah”. (lihat: Hasyiyah as-Syarwani wa al-‘Ubadi, III/115)

Begitu juga sebaliknya, bahwa para ulama yang mengatakan wajah tidak termasuk aurat mengatakan hukum bercadar adalah tidak wajib. Sebagaimana keterangan yang disampaikan dalam kitab as-Syarh al-Kabir:

 (وَ) كُرِهَ (انْتِقَابُ امْرَأَةٍ) أَيْ تَغْطِيَةُ وَجْهِهَا بِالنِّقَابِ وَهُوَ مَا يَصِلُ لِلْعُيُونِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّهُ مِنْ الْغُلُوِّ وَالرَّجُلُ أَوْلَى مَا لَمْ يَكُنْ مِنْ قَوْمٍ عَادَتُهُمْ ذَلِكَ

Makruh bagi seorang perempuan menutup wajahnya dengan cadar yaitu penutup yang sampai mata saat salat, karena hal itu termasuk berlebihan, apalagi bagi lseorang aki-laki. Kemakruhan ini berlaku selama penggunaan cadar bukan bagian dari tradisi masyarakat setempat”. (lihat: as-Syarh al-Kabir, I/218)

Penjelasan tersebut ditegaskan kembali dalam kitab yang mengkomentarinya, yakni hasyiyah ad-Dasuqi. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa kemakruhan memakai cadar tersebut juga berlaku di luar salat. Pendapat mengatakan bahwa memakai cadar termasuk hal yang berlebihan dengan bertendensi bahwa tidak ada hadis yang secara spesifik menganjurkan penggunaan cadar. (lihat: Hasyiyah ad-Dasuqi, I/218).  []waAllahu a’lam

____________________________

Oleh: Nasikhun Amin, santri asal Pasuruan.

 

 

 

 

Empat Kriteria Pasangan Idaman

Agama Islam adalah agama universal yang mengatur seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali urusan jodoh. Di dalam salah satu hadis Rasulullah SAW, setidaknya ada empat kriteria yang sebaiknya dipenuhi ketika seseorang ingin mencari pendamping hidup.[1] Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA tersebut mengatakan:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Menangkanlah wanita yang mempunyai agama, maka engkau akan beruntung.”[2]

Tekstual hadis ini memberikan isyarat memilih jodoh yang baik versi syariat. Walaupun Rasulullah SAW mendahulukan harta, nasab, dan kecantikan, akan tetapi dalam akhir hadis itu mengatakan bahwa sebaiknya memenangkan mereka yang baik agamanya. Hal ini menandakan bahwa pada hakikatnya agama  merupakan kriteria paling utama dalam hal memilih pasangan hidup. Dengan demikian, keberuntungan yang telah dijanjikan dalam hadis akan terealisasi, yakni terwujudnya suasana keluarga harmonis yang sesuai dengan tuntunan syarit Islam.

Secara terperinci, empat kriteria yang ada dalam hadis tersebut ialah:

Kriteria Agama

Ketika seseorang menentukan pasangan hidup, agama seharusnya dijadikan prioritas utama. Karena aspek inilah yang paling urgen dalam menciptakan suasana keluarga yang sesuai dengan tuntunan agama. Adapun seseorang yang baik agamanya dapat dilihat dari sisi ketaatan, amal saleh, dan terjaga dari perbuatan buruk.[3] Sehingga kehadiran calon pasangan yang memiliki latar belakang keagamaan yang baik merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Rasulullah SAW bersabda dalam salah satu hadisnya:

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ

Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”[4] (HR. Tirmidzi)

Kriteria Rupawan

Tidak bisa dipungkiri lagi jika faktor fisik juga menjadi salah satu kriteria yang perlu pertimbangan ketika memilih pasangan. Aspek ini juga mendapatkan anjuran dari Rasulullah SAW karena wajah rupawan menjadi salah satu faktor penunjang keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya juga menyebutkan:

خَيْرُ النِّسَاءِ مَنْ تَسُرُّ إذَا نُظِرَتْ

Perempuan terbaik ialah perempuan yang membuat hatimu senang ketika engkau memandangnya”.[5]

Atas dasar hadis itu pula, Islam mensyariatkan adanya ta’aruf (saling melihat) dalam proses lamaran. Sehingga baik laki-laki maupun perempuan dapat mempertimbangkan calon yang akan menjadi pendamping hidupnya. Salah satu hadis yang menjadi dasar hukum ialah ketika sahabat Mughiroh bin Syu’bah melamar seorang perempuan yang belum pernah dilihatnya, maka Rasulullah SAW bersabda:

اُنْظُرْ إلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا الْمَوَدَّةُ وَالْأُلْفَةُ

Lihatlah dia, karena hal itu akan lebih mengabadikan kasih sayang di antara kalian berdua” (HR. Tirmidzi)[6]

Syariat tersebut juga selaras dengan tujuan dari pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketentraman dalam hati. Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Dan di antara tanda kekuasaan Allah ialah Ia menciptakan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram denganya.” (QS. Ar-Rum: 21)

Kriteria Nasab

Keluarga memiliki peran besar dalam mempengaruhi keimanan, akhlak, dan ilmu seseorang. Jika calon pasangan hidup memiliki latar belakang keluarga yang baik, maka bisa dipastikan keluarga dan keturunannya juga akan menjadi seseorang yang baik. Maka dari itu, nasab dan silsilah keluarga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih calon pasangan hidup. Rasulullah SAW pernah mengatakan:

تَخَيَّرُوا لِنُطْفِكُمْ

Pilihlah keturunan (air mani) kalian.”.

Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fathul Bari,  mengatakan bahwa hadis tersebut menunjukkan kesunnahan untuk memilih dan memilah calon pasangan yang baik dari segi nasab dan silsilah keturunan.[7]

Kriteria Harta

Menjadi sebuah realita yang tak terbantahkan, begitu marak pernikahan yang harus berakhir dikarenakan faktor perbedaan status sosial dan faktor ekonomi. Pada zaman Nabi hal ini pernah terjadi, dimana Zaid bin Haritsah RA dari kalangan biasa dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy RA, seorang wanita terpandang dan cantik. Hasilnya pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Maka dari itu, syariat menganjurkan agar memilih pasangan hidup yang memiliki kesetaraan status sosial dan sisi ekonomi yang dapat dibilang cukup. Hal ini tiada lain hanya bertujuan untuk bekal kekuatan rumah tangga itu sendiri.

Walhasil, memilih seseorang untuk menjadi pendamping yang sesuai dengan kriteria memang tidak mudah. Banyak hal yang dipertimbangkan untuk menentukan siapa orang yang tepat menemani sepanjang hidup tersebut. Memang, memilih pasangan merupakan urusan perasaan, sehingga ketika menemukan seseorang dirasa cocok, maka seseorang akan mengabaikan hal-hal yang seharusnya menjadi kriteria wajib. Padahal kriteria ini dapat menentukan kelangsungan kehidupan keluarganya di kemudian hari. []waAllahu a’lam

 

_____________________

[1] Fathul Wahab, II/38.

[2] Shahih Muslim, II/1068, Maktabah Syamilah.

[3] Mughni al-Muhtaj, IV/206.

[4] Sunan at-Tirmidzi, III/387, Maktabah Syamilah.

[5] I’anah at-Thalibin, III/313, Darul Kutub al-‘Ilmiyah.

[6] Mughni al-Muhtaj, IV,207.

[7] Fathul Bari, IX, 215.

Analisa Hukum dan Hikmah Pernikahan

Menurut UU No.1 tahun 1974 pasal 1, perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan menurut terminologi syariat, perkawinan atau pernikahan diartikan sebagai akad yang mengandung hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga antara wanita dan pria.[1]

Begitu banyak senandung ayat al-Qur’an dan untaian kalam al-Hadis yang menjelaskan tentang pernikahan, karena agama islam sangat menganjurkan kepada umatnya yang sudah mampu untuk segera melaksanakannya. Salah satunya, dalam al-Qur’an Allah SWT telah berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi”. (QS. An-Nisa’: 3).

Nabi Muhammad SAW juga mengatakan dalam hadisnya:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mencapai usia nikah, maka menikahlah.  Karena yang demikian itu lebih menjaga pandangan mata dan kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah. Karena itu menjadi penyembuh”.[2]

Hukum Pernikahan dalam Islam

Mayoritas ulama fikih (Jumhur al-Fuqoha’) ketika membahas tentang hukum pernikahan tidak pernah menetap dalam satu rumusan hukum. Mereka mengatakan bahwa hukum pernikahan itu bersifat kondisional, artinya dapat berubah menurut situasi dan kondisi seseorang serta permasalahan yang dihadapinya. Jika dilihat dari segi situasi, kondisi orang yang melaksanakan pernikahan, tujuan dari pernikahan dan permasalahannya, maka melaksanakan suatu pernikahan itu dapat dikenakan hukum wajib, sunnah, haram, makruh ataupun mubah.[3]

Pertama ialah Wajib. Menikah menjadi wajib hukumnya bagi seseorang jika ia dalam keadaan mampu secara finansial dan ia sangat beresiko masuk ke dalam perzinaan apabila tidak diantisipasi dengan jalan menikah. Di sisi lain, menjaga diri dari lembah perzinaan adalah wajib, maka hukum nikahnya juga menjadi wajib.

Kedua, ialah Sunnah. Menikah menjadi sunnah hukumnya bagi seseorang yang sudah mampu untuk melaksanakan pernikahan, baik dari segi finansial, mental, ataupun yang lainnya.

Ketiga, ialah Haram. Hukum pernikahan menjadi haram bagi seseorang jika ia tidak mampu memenuhi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, serta nafsunya pun tidak mendesak. Selain itu, ada tujuan negatif dari pernikahannya menjadikan hukum pernikahannya menjadi haram.

Keempat, ialah Makruh. Hukum pernikahan menjadi makruh bagi seseorang yang tidak memiliki rasa dan keinginan untuk menikah.

Kelima, ialah Mubah. Hukum pernikahan menjadi mubah atau boleh bagi seseorang jika ia berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah.

Hikmah Menikah

Sebagaimana telah diketahui, syariat menganjurkan adanya hukum perkawinan tidak pernah terlepas dari hikmah yang ada di dalamnya. Pernikahan sangat dianjurkan tak lain karena semua itu demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Diantara kemaslahatan itu ialah:

Pertama, agar manusia memperoleh keturunan. Bahkan hal inilah yang menjadi tujuan utama perintah pernikahan. Melalui pernikahan maka akan menghasilkan lahirnya generasi baru, generasi penerus perjuangan dalam membumikan syariat. Maka kelahiran merupakan sebuah keniscayaan untuk menjawab melanjutkan estafet perjuangan.[4] Nabi SAW pernah bersabda:

عن أنس بن مالك قال : كَانَ رسول الله صلّى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيْدًا ويقول : تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ , إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari sahabat Anas bin Malik RA, ia berkata: “Dahulu Rasulullah SAW selalu memerintahkan kami untuk menikah dan beliau sangat melarang kami untuk membujang. Beliau bersabda: “Nikahilah oleh kalian wanita yang penuh kasih sayang dan subur. Karena sesungguhnya pada hari kiamat kelak, aku akan berbangga di hadapan para Nabi dengan jumlah kalian yang banyak.”[5]

Kedua, sebagai upaya penyaluran hasrat biologis secara benar dan sah. Hasrat biologis merupakan sebuah keniscayaan yang apabila tidak disalurkan secara benar berakibat timbulnya perilaku seksual yang menyimpang. Sehingga adanya syariat nikah sesungguhnya bertujuan menjaga dan memelihara nilai-nilai kemanusia sekaligus menjaga dari bahaya penyakit berbahaya. Rasulullah SAW telah mengatakan dalam salah satu hadisnya:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah yang  berbahaya atas kaum lelaki daripada fitnah kaum wanita.”  (HR. Imam Bukhari)[6]

Ketiga, untuk menemukan ketenangan jiwa. Dalam kehidupan keluarga, keberadaan istri dan anak merupakan orang-orang terkasih, tempat sandaran jiwa. [7] Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS.  al-A’raf: 187)

[]waAllahu a’lam

 

 

__________________

[1] Mughni al-Muhtaj, IV/200.

[2] Shahih Bukhari, III/7.

[3] Hasyiyah al-Jamal, IV/44, cet. Darul Fikr.

[4] Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, II/4, Darul Fikr.

[5] Shahih Ibnu Hibban, IX/338.

[6] Shahih Bukhari, VII/8, Maktabah Syamilah.

[7] Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, II/5, Darul Fikr.

Dosa yang Tak Tersisa

Allah Swt telah berfirman dalam al-Qur’an:

مَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Terkait kandungan ayat tersebut, terdapat sebuah kisah menarik yang diceritakan dalam kitab an-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qulyubi, hlm. 126-127 (cetakan Al-Haromain) :

Suatu ketika, terjadi sebuah pertemuan antara dua malaikat di atas langit ke empat.

Mau kemanakah dirimu?” salah satu malaikat bertanya.

Hendak mengurusi suatu keperluan, yakni di sebuah negara tertentu ada seorang yahudi yang hampir mendekati ajalnya. Sementara ia sangat menginginkan salah satu jenis ikan laut, namun di seluruh lautan di negara tersebut tidak ada satupun ikan yang dia inginkan. Sehingga Allah memerintahkanku agar menyuruh ular-ular yang ada di lautan untuk memburu jenis ikan yang dimaksud untuk orang tersebut.” Jawab salah satu dari keduanya.

Selanjutnya ia menuturkan alasannya, “Hal itu dikarenakan dia tidak melakukan sebuah kebaikan melainkan Allah akan membalasnya di dunia, dan dia hanya memiliki satu sisa kebaikan. Atas dasar itulah Allah menghendaki untuk memenuhi keinginannya agar ia mati tanpa membawa kebaikan sedikitpun.”

Mendengar jawaban itu, malaikat yang sebelumnya bertanya lantas mengatakan, “Tuhan juga mengutusku untuk mengurusi suatu keperluan, yakni terhadap seorang muslim saleh yang tidak pernah melakukan sebuah keburukan melainkan Allah akan membalasnya, sehingga ia hanya memiliki satu dosa. Sekarang ia hampir mendekati ajalnya dan menginginkan buah Ziatun. Allah memerintahkan kepadaku agar menghalangi keinginannya. Atas dasar itulah Allah akan melebur sisa dosanya sehingga ketika ia meninggal dunia dan menghadap Tuhannya, ia tidak memiliki dosa sedikitpun.

Menurut Muhammad bin Ka’ab, cerita itulah yang menjadi contoh aplikatif dari firman Allah Swt dalam Surah al-Zalzalah ayat 7-8. Artinya, bahwa ketika orang kafir berbuat suatu kebaikan maka Allah Swt akan membalasnya di dunia dan ketika orang mukmin berbuat keburukan di dunia maka Allah Swt akan membalas habis keburukan tersebut di dunia sebelum ia masuk ke alam akhirat. []waAllahu a’lam