Tag Archives: M

Hukum Menggelar Akad Nikah di Masjid

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Banyak sekali kita temui prosesi akad nikah yang diselenggarakan di masjid. Sebenarnya, apakah hal tersebut dianjurkan? Dan apabila dianjurkan, apakah keutamaannya? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Setiawan, Bengkulu)

________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pernikahan merupakan ibadah sakral dalam kehidupan setiap orang. Mereka selalu menginginkan pernikahannya menjadi berkah, salah satunya dengan melangsungkan akad nikah di masjid. Dalam hal ini, secara tegas Rasulullah Saw. telah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah ‘Aisyah Ra.:

أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ

Umumkanlah akad nikah itu, lakukanlah di masjid, dan tabuhlah rebana untuknya.” (HR. At-Thirmidzi)

Dari legalitas hadis tersebut, para ulama sepakat bahwa melaksanakan akad nikah di masjid hukumnya sunah. Sebagaimana penjelasan Abdurrahman al-Mubarakfuri menjelaskan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi:

وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَهُوَ إِمَّا لِأَنَّهُ أَدْعَى لِلْإِعْلَانِ أَوْ لِحُصُولِ بَرَكَةِ الْمَكَانِ

““Lakukanlah akad nikah di masjid, karena hal tersebut lebih maksimal dalam menampakkan pernikahan dan untuk mendapatkan keberkahan tempatnya.”[1]

 Syekh Abi Bakar Muhammad Syato ad-Dimyati pun menegaskan dalam kitab Hasyiyah I’anah ath-Thalibin:

وَاجْعَلُوْهُ فِي الْمَسَاجِدِ مُبَالَغَةً فِي إِظْهَارِهِ وَاشْتِهَارِهِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ مَحَافِلِ الْخَيْرِ وَالْفَضْلِ.

Lakukanlah akad nikah di masjid, karena hal tersebut lebih menampakkan dan memasyhurkan pernikahan. Dan karena sesungguhnya masjid adalah tempat yang lebih utama dalam mengadakan perkumpulan yang baik.”[2]

Dengan demikian, akad nikah di masjid sangat dianjurkan. Namun dengan catatan harus tetap menjaga kehormatan masjid dengan tidak melakukan hal-hal yang diharamkan di dalamnya, seperti mengganggu aktivitas ibadah orang lain, tidak membuat kegaduhan, dan semacamnya. Begitu juga boleh acara makan-makan namun tetap menjaga kebersihan serta kehormatan masjid. Apabila tidak bisa, maka sebaiknya yang dilakukan di masjid hanya akad nikahnya saja, sebagaimana penuturan sebagian ulama Madzhab Maliki. Untuk rangkaian acara lain dilakukan di luar masjid.[3] []waAllahu a’lam


[1] Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi, IV/178

[2] Abi Bakar Muhammad Syato ad-Dimyati, I’anah at-Thalibin, III/316

[3] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XXXVII/214

Menristekdikti: Santri jangan jadi PNS

LirboyoNet, Kediri – Pengukuhan wisuda mahasiswa Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) pada Sabtu, (29/10) lalu berjalan dengan khidmat. Tahun ini, IAIT meluluskan wisudawan Fakultas Tarbiyah program studi (prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) sebanyak 189 mahasiswa, prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI) 290 peserta, Fakultas Syari’ah Program studi Ahwal Al-Syakhsiyyah (AS) 21 peserta, serta prodi Perbankan Syari’ah (PS) sebanyak 15 peserta. Adapun Fakultas Dakwah prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan Psikologi Islam masing-masing meluluskan 9 dan 11 mahasiswa. Sedangkan wisuda Pascasarjana S2 konsentrasi Pendidikan Agama Islam diikuti 102 mahasiswa.

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus selaku rektor IAIT berharap, para wisudawan, baik putra maupun putri dapat mematuhi amirul mukminin, yang dalam hal ini bisa didefinisikan sebagai umara (pemerintah) atau ulama. “Sehingga lulusan Tribakti (IAIT, red) bisa mengamalkan ilmunya dan berkontribusi untuk agama dan negara,” dawuh beliau dalam sambutannya.

“Tribakti itu punya poin plus. Diantaranya diasuh langsung oleh pengasuh pondok pesantren Lirboyo, antara ilmu umum dan agama seimbang, dan tentunya barokah,” tukas Ibu Lilik Muhibbah S.Sos I.M.Pd.I, Wakil Walikota Kediri, saat memberikan sambutan atas nama Walikota Kediri. “Saya itu lulusan Tribakti. Dulu saya termasuk mahasiswa yang biasa-biasa saja, bahkan di bawah biasa. Tapi karena barokah Tribakti sekarang jadi Wakil Walikota,” lanjutnya kemudian diiringi tepuk tangan hadirin.

Hadir pula Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak. Menteri yang juga alumnus santri Pondok Pesantren Al-Islah, Kediri ini berpesan agar para wisudawan tidak bercita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Santri itu jangan bercita-cita jadi PNS. Tapi harus bercita-cita menjadi wiraswasta yang membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya”. Sebelumnya, beliau memaparkan berbagai perkembangan dunia kerja dan teknologi, yang harus dihadapi oleh kaum akademik maupun santri dewasa ini. “Kalau saya ini kesasar (tersesat) saja. Padahal tidak pernah punya cita-cita jadi PNS,” kenang beliau seraya tertawa.][