HomeArtikelVeteran Perang Jawa Pendiri Pesantren

Veteran Perang Jawa Pendiri Pesantren

0 1 likes 193 views share

Pasca Perang Jawa yang merupakan perang terdahsyat yang dihadapi oleh penjajah selama pendudukannya di Nusantara dengan ditangkapnya sang pimpinan, Pangeran Diponegoro, secara licik oleh Jenderal De kock pada 28 maret di Magelang, para pejuangnya berduyun-duyun mencari hunian baru disepanjang selatan pulau Jawa bagian tengan dan timur guna melanjutkan perlawanan terhadap kolonial dengan menghimpun kekuatan baru.

Perang Jawa merupakan perang yang dianggap sebagai refleksi dari bangkitnya nasionalisme bangsa pribumi, perlawanan yang dulunya hanya bersifat kedaerahan, pada perang ini banyak dari lapisan suku, ras dan agama yang ada ikut bergabung, bahkan dari orang-orang Tionghoa, India maupun Arab tidak sedikit dijumpai. Mereka melawan dengan satu semangat, benci penjajah.

Dalam perang besar yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) ini diperkirakan sekitar 200.000 jiwa dari pribumi menjadi korbannya, sedangkan dari pihak Belanda berjumlah 15.000. setelah dianggap selesainya perang ini oleh pihak Belanda, para veteran perang tetap melanjutkan perlawanan, sebagian dari mereka dari kalangan ulama dengan mendirikan pesantren dan menjadikannya sebagai basis perlawanan, selain juga tempat pendidikan. Berikut pesantren-pesantren yang didirikan oleh ulama-ulama yang juga menjadi pasukan Pangeran Diponegoro.

Pesantren Takeran di Magetan didirikan oleh Kiai Kasan Ngulama dan dibantu oleh Kiai Moh Ilyas pada tahun 1880 M/1303 H, ayah Kiai Kasan Ngulama, Kiai Kholifah merupakan penasehat spiritual Pangeran Diponegoro. Sesuai kondisi bangsa pada kala itu, Pesantren Takeran ini menerapkan metode pendekatan “magersari”. Cara ini ditempuh karena kondisi bangsa Indonesia masih berada dijaman kolonial, sehinggga memerlukan embrio-embrio / bibit unggul sebagai kekuatan lahir maupun bathin untuk menghadapi kekuatan penjajah yang sudah mengakar dibumi Indonesia. Cara tersebut ternyata cukup efektif dalam menghimpun kekuatan serta membentuk kader pesantren yang berkualitas. Pada waktu pemberontaka PKI, banyak dari kiai dan guru di pesantren ini menjadi korbannya. Sekarang pesantren Takeran ini lebih dikenal dengan Pesantren Sabilil Muttaqien disingkat PSM.

Pesantren Tambakberas Jombang, didirikan oleh seorang pendekar ulama atau ulama pendekar, bernama Abdus Salam namun lebih dikenal dengan panggilan Mbah Shoichah (bentakan yang membuat orang gemetar) Kedatangannya di dusun ini membawa misi untuk menyebarkan agama dan ilmu yang dimilikinya. Menurut silsilahnya beliau termasuk keturunan Raja Brawijaya (kerajaan Majapahit) dan merupakan salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro. Abdus Salam adalah putra Abdul Jabbar (Mbah Jabbar ) putra Abdul Halim (Pangeran Benowo) putra Abdurrohman (Jaka Tingkir). Dari sini lahir Tokoh-tokoh besar pendiri bangsa, seperti 3 Tokoh NU, KH, Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH. Bisri Sansuri.[2]

Pesantren Tegalsari atau Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari adalah salah satu pesantren bersejarah di Indonesia. Pesantren ini terletak di desa Tegalsari kecamatan Jetis kabupaten Ponorogo pada abad ke-18 sampai abad ke-19. Pesantren ini didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari, putera beliau,Kiai Bagus Hasan Besari terlibat dalam peperangan Diponegoro. Pesantren ini memiliki ribuan santri, berasal dari seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Di antara santri-santrinya yang terkenal adalah Pakubuwono II penguasa Kerajaan Kartasura, Raden Ngabehi Ronggowarsito seorang Pujangga Jawa yang masyhur dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto.

Sepeninggal Kyai Ageng Hasan Besari, kejayaan Pesantren Tegalsari tinggal kenangan. Jumlah santrinya kian menyusut. Walaupun demikian, banyak para santri dan anak cucunya yang mengembangkan agama Islam dengan mendirikan Pondok Pesantren di berbagai daerah di seluruh Nusantara. Salah satu yang terbesar adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di wilayah kecamatan Mlarak. Pondok ini didirikan oleh tiga orang cucu Kyai Ageng Hasan Besari.[3]

Pondok Pesantren Tremas, didirikan KH. Abdul Manan atau Raden Bagus Darso adalah putra seorang Demang Semanten yang bernama R. Ngabehi Dipomenggolo di masa Bupati Jagakarya I yang berkuasa pada tahun 1826. Dari pesantren inilah cikal bakal pondok-pondok pesntren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari pesantren ini pula lahir seorang ulama kharismatik yang dikenal dunia dengan karya-karya kitabnya dan lama mengajar di Masjidil Haram, Syekh Mafhudz At-Tarmasy.

Dan masih banyak  lagi pesantren-pesantren lainnya yang menelurkan para pejuang agama dan bangsa, singkat kata pesantren-pesantren tersebut menjadikan simbol pohon sawo didepannya yang merupakan  makna lain dari “Sawuu Shufuufakum …” hadis Nabi yang berarti “ rapatkan shaf (barisan)[4] sebuah ungkapan yang mengandung pesan semangat persatuan dalam menghadapi musuh dan penjajahan dalam bentuk apapun itu, lebih-lebih penjajahan era sekarang. Semoga kita bisa melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu dengan tetap memegang teguh spirit luhur yang beliau-beliau cita-citakan. Amiin [ABNA]

 

­­­­­­­­­­­­­

[2] http://tambakberas.or.id/

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren_Tegalsari

[4] Agus Sunyoto, buku Resolusi JIhad