HomeArtikelBersama Santri, Damailah Negeri

Bersama Santri, Damailah Negeri

0 0 likes 65 views share

Dalam rekam sejarah, santri memiliki peran strategis dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan caranya yang begitu unik, para santri bergabung dengan seluruh elemen bangsa yang lain dalam melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, serta mengatur strategi dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan bangsa. Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri religius yang berdarah merah putih. Puncaknya adalah ketika dikeluarkannya resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

Keputusan resolusi jihad NU yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari tidaklah secara instan. Akan tetapi telah melewati serangkaian ijtihad bertahap yang cukup panjang. Ijtihad tersebut tidak hanya melewati satu dua generasi, akan tetapi menjalur ke belakang sampai titik masuknya Islam di bumi Nusantara. Resolusi Jihad adalah hasil dari proses panjang pasang surut perjuangan ulama-ulama sebelumnya.

Penetapan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober merupakan Keppres No.22 tahun 2015. Kenapa Hari Santri Nasional begitu krusial sampai diganjar sebuah peringatan berskala nasional? Kenapa gak ada hari ulama atau kyai yang notabenenya merupakan guru dari santri tersebut? Hal tersebut merujuk pada sejarah perjuangan pasca kemerdekaan dimana saat itu tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA pimpinan Jenderal A.W.S. Mallaby kembali menduduki Indonesia guna merebut kembali kemerdekaan Indonesia. Mendengar hal itu, membuat KH. Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri Nahdhlatul Ulama (NU) menyerukan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Inti dari resolusi jihad tersebut yaitu “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu ain atau wajib bagi setiap individu”. Resolusi Jihad memantik semangat para santri arek Surabaya untuk perang melawan penjajah NICA selama tiga hari berturut-turut, yaitu pada tanggal 27-29 Oktober yang menyebabkan Jenderal Mallaby tewas. Efek dari tewasnya Jenderal Mallaby membuat angkatan perang inggris geram sampai puncaknya peristiwa 10 November 1945 yang kemudian kita peringati sebagai Hari Pahlawan.

Melalui penetapan dan peringatan Hari Santri Nasional (HSN), diharapkan sinergi antara pemerintah, santri, dan seluruh elemen masyarakat semakin kuat untuk mendorong komunitas santri ke poros peradaban Indonesia, bahkan dunia. Santri tidak hanya sebagai penonton ataupun obyek dalam dialektika sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik bangsa. Pesantren—sebagai wadah santri—akan terus berkontribusi dan mencetak ulama, agen perubahan yang menjadi garda terdepan dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia.[]