Dilema Memondokkan Anak Yang Masih Kecil

Dilema Memondokkan Anak yang Masih Kecil

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru (kiai). Pesantren dilengkapi asrama untuk tempat menginap santri.

Santri, sebutan bagi mereka yang belajar di pondok, berada dalam kompleks lengkap dengan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Sudah sejak lama para orang tua mepercayakan anaknya kepada pondok pesantren untuk dititipkan sekaligus dibimbing dalam belajar khususnya terkait pendidikan agama.

Dengan diresmikannya hari santri nasional oleh Presiden Joko Widodo yang jatuh pada 22 oktober, kini semakin banyak orang tua yang memondokkan anaknya. Bahkan, banyak dari mereka memondokkan anaknya yang terbilang masih dibawah umur.

Dari satu sisi memondokkan anak yang masih kecil memiliki sisi positif yakni anak akan diarahkan dan dipantau kegiatannya setiap hari sesuai dengan kegiatan pondok yang terkenal padat dan disiplin.

Anak akan terlatih untuk mandiri karena hampir semua kebutuhan pribadi harus dikerjakan sendiri. Anak juga akan terbebas dari pengaruh dunia luar yang terlalu bebas, terutama dampak negatif narkotika dan gadget. Dan yang paling penting, pendidikan agama anak akan terjamin.

Sementara itu, memondokkan anak yang masih kecil, terutama mereka yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu, sedikit banyak akan berdampak pada kondisi perkembangan anak.

Hal ini selaras dengan keterangan dari para ulama mengenai hadist Nabi yang menjelaskan tentang Hadonah (hak asuh anak);

أَنَّ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَتْهُ اِمْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا رَسُوْلُ اللهِ إِنَّ ابْنِيْ هَذَا كَانَ بَطْنِيْ لَهُ وِعَاءٌ وَثَدْيِيْ لَهُ سَقَاءٌ وَحِجْرِيْ لَهُ حَوَّاءٌ وَإِنَّ أَبَاهُ طَلَّقَنِيْ وَأَرَادَ أَنْ يَنْزَعَهُ مِنِّيْ فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ أَحَقُّ بِهِ مَالَمْ تَنْكِحِيْ

“Dari Abdullah bin ‘Amru, bahwasannya seorang wanita berkata,”Ya Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, perutku pernah menjadi tempatnya, air susuku pernah menjadi minumannya, pangkuanku pernah menjadi tempat berlindung baginya. Tetapi ayahnya telah menceraikanku dan hendak mengambilnya dariku. Maka Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Kamu lebih berhak mengasuhnya selama kamu belum menikah.”

Prioritas yang didapat oleh ibu dalam hak asuh anak dikarenakan hanya ibu yang memiliki kasih sayang dan perhatian lebih terhadap anak. Ibu juga lebih faham mengenai kebutuhan anak dan cara mengurusnya. Sehingga perkembangan anak akan lebih terjamin.

Sehingga As-Sayyid Ahmad bin Umar asy-Syathiri dalam Syarh Yaqut Nafis memberi kritikan keras kepada para ibu yang malah menitipkan anak-anak mereka kepada babysitter, berikut keterangannya;

وَمِمَّا يُلَاحِظُ الْيَوْمَ أَنَّ بَعْضَ الْأُمَّهَاتِ يَذْهَبْنَ لِلْوَظَائِفِ وَيَسْتَأْجَرْنَ مُرَبِّيَاتٍ لِتَرْبِيَّةِ أَوْلَادِهِنَّ وَقَدْ يَكُنْ أَجْنَبِيَّاتٍ وَهَذَا خَطَأٌ اِجْتِمَاعِيٌّ كَبِيْر . لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الْأَجْنَبِيَّةَ سَوَاءٌ كَانَتْ أَجْنَبِيَّةً جِنْساً أَوْ أَجْنَبِيَّةً عَرَبِيَّةً ـ لَا تَخْلُصُ فِيْ التَّرْبِيَّةِ، ثُمَّ إِنَّ الطِّفْلَ يَأْخُذُ مِنْ طَبَاعِهَا، كَمَا أَنَّهَا لَيْسَتْ كَالْأُمِّ فِيْ الْعَطْفِ وَالْحَنَّانِ – الى ان قال – هَذَا اِذَا لَمْ تَخَفِ الْاُمُّ عَلَى الطِّفْلِ فِيْ دِيْنِهِ، اَمَّا اِذَا خِيْفَ عَلَيْهِ مِنَ الْمُرَبِّيَّةِ فِيْ دِيْنِهِ فَحَرَامٌ لَا يَجُوْزُ

“Terlihat hari ini bahwa beberapa ibu pergi bekerja dan mempekerjakan pengasuh anak untuk membesarkan anak-anak mereka, dan mereka mungkin orang asing, dan ini adalah kesalahan sosial yang besar. Mengapa? Karena seorang wanita asing, apakah dia orang asing dalam jenis atau orang asing Arab, tidak tulus dalam mendidik. Kemudian anak mengambil dari karakternya, sama seperti dia tidak seperti seorang ibu dalam hal kebaikan dan kelembutan. Demikian jika ibu tidak khawatir dengan agama anak. Adapun jika ibu khawatir dengan agama anak maka hukumnya haram tidak boleh.”

Menyikapi permaslahan ini pertama yang perlu kita fahami, hukum Hadonah adalah Fardhu Kifayah. Mengenai fardhu kifayah as-Sayyid Allawi Ahmad as-Sagaf dalam Fawaid al-Makiyyah menjelaskan;

وَاعْلَمْ أَنَّ التَّكْلِيْفَ فِيْ فَرْضِ الْكِفَايَةِ مَوْقُوْفٌ عَلَى حُصُوْلِ الظَّنِّ فَإِنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّ جَمَاعَةٍ أَنَّ غَيْرَهُمْ يَقُوْمُ بِذَلِكَ سَقَطَ الطَّلَبُ وَإِنْ غَلَبَ أَنَّ كُلَّ طَائِفَةٍ لَا تَقُوْمُ بِهِ وَجَبَ عَلَى كُلِّ طَائِفَةٍ بِهِ وَإِنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّ كُلِّ طَائِفَةٍ أَنَّ غَيْرَهُمْ يَقُوْمُ بِهِ سَقَطَ الْفَرْضُ عَنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ تِلْكَ الطَّوَائِفِ وَإِلَّا بِأَنْ تَرَكُوْهُ كُلُّهُمْ أَثِمَ باِلتَّرْكِ كُلُّ مَنْ لَا عُذْرَ لَهُ مِنْ أَهْلِ فَرْضِهِ كُلِّهِمْ لِتَقْصِيْرِهِمْ

“Dan ketahuilah bahwa kewajiban dalam fardhu kifayah bergantung adanya dugaan kuat (terpenuhinya kewajiban). Jika seluruh komunitas menduga bahwa orang lain telah melaksanakan kewajiban fardhu kifayah maka kewajiban telah gugur. jika satu komunitas menduga bahwa setiap dari mereka belum melaksanakan kewajiban fardhu kifayah maka mereka semua masih menanggung kewajiban tersebut. Jika ada dugaan kuat dari komunitas bahwa orang lain telah memenuhi kewajiban fardhu kifayah maka kewajiban tersebut telah gugur bagi seluruh komunitas tersebut. Jika tidak demikian, artinya setiap dari mereka tidak melaksan kewajiban fardhu kifayah maka semuanya mendapat dosa karena kelalaiannya.”

Dari keterangan di atas kewajiban fardhu kifayah, termasuk masalah yang kita bahas yakni Hadonah (mengasuh anak), bergantung pada dugaan terlaksanakannya Hadonah. Andai ada dugaan bahwa anak sudah ada yang mengasuh, maka kewajiban tersebut gugur.

Dalam hal ini jika anak dipondokkan, maka sudah pasti anak akan diasuh oleh pengasuh pondok dan para pengurus. Terlebih orang yang mengasuh adalah orang yang memiliki ilmu dan pengalaman lebih dalam mengasuh dan mendampingi seorang anak, khususnya dalam urusan agama.

Sebagaimana dalam bab I’aroh (pinjaman), seseorang boleh menitipkan anaknya kepada orang yang berilmu untuk dididik termasuk mendididik dalam kemandirian diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.