Kini saya paham, tangisan sejati bukanlah tanda kelemahan, melainkan luapan dari kasih sayang dan kepekaan jiwa yang melampaui batas-batas logika.
Sudah beberapa waktu ini saya merenungkan kembali kisah-kisah tentang Rasulullah, bukan sekadar sebagai pemimpin atau nabi yang agung, melainkan sebagai seorang manusia. Sebagai umatnya, kita sering membayangkan beliau dalam bingkai kesempurnaan dan keteguhan mutlak, sosok yang tak terjangkau oleh emosi biasa.
Kini, saya justru merasakan kesempatan untuk melihat sisi kemanusiaan yang jarang saya renungkan sebelumnya. Dari kisah-kisah sederhana –mulai dari cara beliau beribadah, bereaksi terhadap musibah, hingga berinteraksi dengan orang-orang terkasih– saya semakin yakin bahwa beliau adalah teladan yang mengajarkan kita untuk jujur pada perasaan. Beliau tak menyembunyikan kelembutan, dan air mata beliau adalah manifestasi tertinggi dari rahmatan lil ‘alamin.
Baca juga: Alasan Sayyidah Aisyah Menyebut Akhlak Nabi Adalah Al-Qur’an
1. Tangisan dalam Kekhusyukan Ibadah
Sejak kecil kita mungkin dididik bahwa ibadah adalah tentang menahan diri dan mengendalikan emosi. Namun, saya membaca kisah para sahabat. Salah satunya, Abdillah bin Syikhkhir yang pernah mendatangi Rasulullah saat beliau salat. Mutharrif menceritakan, di dalam dada Rasulullah terdengar suara mendidih seperti air dalam bejana karena tangisan beliau. Kurang lebih teks hadisnya begini:
أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ مِنَ الْبُكَاءِ
Ini bukan tangisan ratapan, melainkan luapan totalitas jiwa yang tercurah kepada Tuhan. Dari pengalaman inilah, saya menyadari bahwa beliau ingin mengajarkan kita bahwa ibadah yang sejati bukanlah ritual tanpa jiwa, melainkan hubungan intim yang melibatkan seluruh emosi, bahkan sampai mengeluarkan suara tangis yang tertahan.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sayyidina Umar bin Khattab: Sang Amirul Mukminin yang Pemberani
2. Air Mata Karena Cinta dan Perpisahan
Masih teringat jelas, ketika salah seorang putri beliau sakit dan mengembuskan napas terakhir dalam pelukan beliau. Air mata Rasulullah menetes. Ketika Ummu Aiman terkejut melihat beliau menangis, Rasulullah bersabda, “Ini bukanlah tangisan (ratapan), sesungguhnya ini adalah esensi rahmat (kasih sayang).”
Belakangan saya menyadari, tangisan beliau bukan disebabkan ketidakrelaan atas takdir, melainkan manifestasi kasih sayang yang fitrah. Saat sahabat karibnya, Utsman bin Mazh’un wafat, Rasulullah menciumnya dan air mata beliau menetes. Beliau mengajarkan bahwa kehilangan itu menyakitkan, dan mengizinkan diri kita merasa sedih adalah bagian dari rahmat.
Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Syaban
3. Kepekaan Terhadap Kalam Ilahi
Selain dalam musibah, tangisan beliau juga muncul karena keagungan firman Tuhan. Pernah suatu waktu Rasulullah meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an. Saat sampai pada ayat, “Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Nabi Muhammad) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (semua)?” (QS. An-Nisa: 41), Ibnu Mas’ud melihat kedua mata Rasulullah berlinang air mata.
Alih-alih menyibukkan diri dengan urusan duniawi, beliau justru berlinang air mata hanya karena merenungkan keagungan posisi beliau sebagai saksi di Hari Akhir.
Baca juga: Khutbah Jumat: Mengambil Hikmah di Balik Hujan
4. Tangisan Kepedulian Umat dalam Salat Gerhana
Kisah lain tentang gerhana matahari menunjukkan kedalaman kepedulian beliau. Saat salat gerhana, Rasulullah salat sangat lama, meniup dan menangis sambil berdoa: “Ya Rabb, bukankah Engkau telah berjanji kepada saya untuk tidak mengazab mereka selama saya masih berada di tengah-tengah mereka? Ya Rabb, bukankah Engkau telah berjanji untuk tidak mengazab mereka selama mereka memohon ampunan, dan kami senantiasa memohon ampunan-Mu.”
Kini saya paham, beliau sedang mendidik kita sebagai umatnya untuk memiliki kepekaan sosial dan spiritual yang luar biasa, di mana musibah alam bukan hanya fenomena fisik, melainkan panggilan untuk mengingat ancaman Tuhan dan memohon ampunan demi keselamatan umat.
Hari ini, ketika saya membaca buku-buku psikologi yang membahas tentang pentingnya ekspresi emosi, saya menyadari bahwa benih-benih ajaran tentang kemanusiaan yang utuh itu sebenarnya sudah ditanam lama sekali oleh Rasulullah.
Rasulullah mungkin tidak pernah membuat teori tentang manajemen emosi, tapi lewat tangisan dan kesedihan yang beliau izinkan, beliau sejatinya telah mengajarkan kita nilai-nilai keberanian untuk menjadi manusia sejati, yaitu melalui hati beliau sendiri.
Maka saya percaya, Rasulullah mengajarkan bahwa tangisan bukan kelemahan, melainkan rahmat dan kekuatan sejati.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





