Menumpang Adat Menyisipkan Islam

Agama dan Kebudayaan; Tidak Perlu Dibenturkan

Kesenian tradisi yang masih hidup di pulau Jawa, serupa napas bagi masyrakatnya, menghidupi dan terus hidup dalam berbagai fase zaman dan karakteristik masyarakat yang berubah. Itu semua karena “Setiap orang pada esensinya adalah seniman.” Kata Joseph Beuys, seorang seniman Jerman. Pernyataan di samping juga diperkuat dengan apa yang disampaikan oleh Dalang kondang Ki Seno Nugroho “Segala sesuatu adalah seni.”

Dua pernyataan seniman tersebut telah dipahami dan dipraktikkan benar oleh para Wali Songo saat menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa sampai pada abad 17. Kesembilan wali yang dalam bahasa Arab artinya; pembela, teman dekat, dan pemimpin ini, merupakan para intelektual yang terlibat dalam upaya pembaruan sosial yang pengaruhnya terasa di berbagai manifestasi kebudayaan—mulai dari kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

Kebijaksanaan

Penyebaran Islam di tanah Jawa oleh sembilan wali ini tidaklah dengan armada militer dan pedang, atau dengan cara mengkafirkan dan menindas keyakinan lama yang telah dianut oleh masyarakat Jawa saat itu yang kental dengan pengaruh Hindu dan Budha. Namun, mereka melakukan perubahan sosial secara halus dan bijaksana melalui kesenianan tradisi yang telah lama hidup di Jawa seperti; wayang, seni ukir dan pahat.

Pendekatan melalui medium kesenian ini yang membuat syiar Islam yang dipelopori oleh sembilan wali mendapatkan tempat di hati masyarakat waktu itu. Tercatat dalam sejarah, dengan pendekatan tersebut ajaran Islam mampu menjadi agama terbesar di Jawa dan menyebar ke pelosok-pelosok daerah mulai dari Sabang sampai Marauke, yang sekarang biasa disebut Islam Nusantara.

Inilah yang membedakan syiar Wali Songo dengan masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Di mana saat itu Islam juga sudah datang ke Nusantara, namun tidak populer seperti yang dibawa oleh para wali, sampai 800 tahun kemudian, Laksamana Cheng Ho saat datang ke Jawa, ia hanya menemukan segelintir penduduk Muslim di wilayah pesisir, itu pun pendatang dari China dan Persia.

Akulturasi Budaya

Akulturasi budaya adalah jalan yang ditempuh para wali dalam menyelaraskan adat dan budaya masyarakat waktu itu dengan tugasnya membumikan Islam di Jawa. Hasilnya seperti yang kita rasakan sekarang berabad-abad. Walau dalam beberapa tahun ini kehidupan beragama begitu berisik dengan adanya berbagai kelompok yang menyiarkan Islam dengan cara yang tidak membumi di Nusantara, melupakan adat dan tradisi setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.