Tag Archives: Musyawarah Pondok Pesantren

Menyoal Salat si Istri di Kamis Legi

LirboyoNet, Kediri — Kamis lalu (26/01), di samping ada hajat besar berupa pengajian rutin Kamis Legi, di Pondok Pesantren Lirboyo juga terdapat acara besar lainnya, yakni Forum Bahtsul Masail. Acara ini digelar oleh salah satu unit pondok Lirboyo, Pondok Pesantren Putri Tahfidzil-Quran.

Dilangsungkan di mushalla pondok, bahtsul masail ini diikuti oleh belasan pondok pesantren putri se-Jawa Timur. Diantaranya, PP Putri Ar Rifa’i Malang, PP Putri Tarbiyatun Nasyi-aat Jombang, dan beberapa ponpes putri lainnya.

Beberapa persoalan penting dikaji dalam forum ini, yang terbagi menjadi dua jaltsah (sesi pembahasan). Para mubâhitsât  (peserta bahtsul masail putri) mencoba mengurai permasalahan terkait salat jamaah bagi seorang istri. Telah jamak diketahui bahwa salah satu syarat sah salat berjamaah adalah tidak menjadikan seorang yang ummy (buta huruf) sebagai imam. Masalah ini menjadi sulit ketika ada seorang suami, yang sudah semestinya menjadi imam bagi istri, ternyata tidak cukup mampu untuk melantunkan bacaan salat dengan baik dan benar. Setidaknya, sang istri merasa demikian. Maka timbul kegundahan di dalam dirinya, “apa kutolak saja ajakannya berjamaah?”  Tapi ia juga resah. Andai saja benar-benar menolak, apakah itu bukan berarti nusyuz, pembangkangan terhadap perintah suami?

Beragam solusi ditawarkan oleh mubâhitsât. Salah satunya, dengan menguji pemahaman pada lahn (kesalahan baca): di mana sebenarnya batas toleransi kekeliruan pada bacaan shalat? Mereka juga mencari kasus ini di dalam qaul-qaul (pendapat) para ulama klasik. Mereka tidak sendiri. Ada beberapa perumus yang membantu mereka menyelesaikan persoalan ini. Beberapa itu mayoritas adalah para pengajar di ponpes ini.

Pada akhirnya, keputusan jawaban diajukan kepada mushahih, satu pihak di dalam forum bahtsul masail yang ditujukan untuk memutuskan jawaban mana yang dianggap terbaik. Ada enam mushahih yang terlibat di siang itu. KH. Azizi Hasbullah, Kiai Anang Darunnaja, KH, Munir Akromin, KH. Fauzi Hamzah Syams, KH. Munawar Zuhri, dan Agus HM. Hasyim, pengasuh pesantren ini.][

Musyawarah Al-Mahalli: Musyawarah Tingkat Lanjut

LirboyoNet, Kediri –Jika masih belum puas adu pendapat di musyawarah Fathul Qorib, mari dilanjutkan di musyawarah Al-Mahalli.” Begitu kira-kira salah satu ungkapan yang dikemukakan untuk menjawab tuntutan santri Ponpes Lirboyo yang haus akan ilmu pengetahuan. Tidak hanya lewat musyawarah Fathul Qorib yang sifatnya lebih terbuka, ada musyawarah tingkat lanjut yang biasanya diikuti oleh santri-santri senior. Dengan standar kitab Al-Mahalli atau nama lainnya Kanzur Rôghibîn, sebuah syarah dari matan kitab yang sangat fenomenal karangan Imam Zakariya Al-Nawâwî, Minhâjut Thâlibîn, musyawarah ini digelar sama seperti jam musyawarah Fathul Qorib. Mulai pukul 23.00 Wis hingga sekitar pukul 02.00 Wis. Hanya saja musyawarah ini digelar setiap malam ahad dengan sistem yang berbeda dan lebih matang.

Musyawarah kitab Al-Mahalli, memiliki dua metode. Metode Talkhîs dan metode Manshûl (Manhaj Ushûl). Metode Talkhîs adalah dengan meringkas khilafiyyah (silang pendapat) antara empat imam utama rujukan ulama mutaakhirin, yaitu Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Imam Syihabuddin Romli, Imam Zakariya Al-Anshôry, dan Imam Khâtib Al-Syirbini yang teradi dalam satu permasalahan yang diajukan dalam soal. Peserta musyawarah  harus jeli membaca perbedaan pendapat diantara empat imam tadi supaya bisa menghasilkan kesimpulan yang objektif. Rujukannya juga berasal dari kitab-kitab karangan empat imam tersebut, seperti Mughni Muhtaj dan Al-Iqna’ nya Imam Khâtib Al-Syirbini, Tuhfatul Muhtaj, Fathul Jawwad, berikut kitab fatawi nya Imam Ibnu Hajar, Nihayatul Muhtaj nya Imam Romli, dan Fathul Wahhâb, dan Ghurorul Bahiyyah nya Imam Zakariyya Al-Anshôri. Persiapannya kadang memakan waktu hingga dua hari, maklum kitab karangan empat imam tersebut bukan hanya itu saja. Persiapan secara insedependen yang diikuti masing-masing kelas tadilah yang akan membawa kesimpulan penting untuk dimusyawarahkan nantinya.

Setiap kelas harus bisa mempresentasikan hasil musyawarah independen mereka dengan selama “dua hari” sebelum naik panggung. Hasil kesimpulan setiap kelas yang telah dipresentasikan kemudian dibahas mana yang paling berbeda.

Untuk musyawarah dengan metode manshûl (Manhaj Ushûl) akan lebih sulit lagi. Pasalnya setiap kelas dituntut harus bisa menggali cara pandang dan istinbath dari empat imam yang berbeda pendapat. Ranahnya bukan lagi membahas fiqh, namun lebih berkutat pada ushûl fiqh dan metode menggali hukum dari dalil-dalil yang ada. Musyawarah manshûl biasanya hanya dilaksanakan sebulan sekali, mengingat tingkat kesulitannya. Musyawarah manshûl biasanya diikuti oleh peserta yang sama.

Pesertanya berasal dari siswa tingkat ‘Aliyyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien dan minimal siswa kelas tiga Tsanawiyyah. Para perumus dan dewan rois Lajnah Bahtsul Masail pun tak lupa turut mengikuti musyawarah sebagai pihak yang “mendamaikan” adu pendapat. []