Tag Archives: pesantrenlirboyo

Info Pendaftaran Pondok Pesantren Lirboyo 4 Cabang Santren.

LirboyoNet. Pondok Pesantren Lirboyo Cabang Santren, yang beralamat di Jl. Sultan Ageng Tirtoyoso Santren Kel. Tanggung Kota Blitar. Menerima pendaftaran santri baru ajaran 1440-1441 H./2019-2020 M.

Dengan Visi :

Terlahirnya kader-kader ulam dan terciptanya masyarakat islam yang berhaluan Ahlu Sunah wal Jama’ah serta diridhoi oleh Allah SWT.

Dengan Misi :

  1. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama menuju terbentuknya kader ulama yang taqwa.
  2. Mewujudkan kultur pesantren yang bermartabat, ramah dan santun dalam suasan kekeluargaan.
  3. Menjalin hubungan dan kerja sama yang baik antara Orang tua santri, Pondok, Pemerintah dan Masyarakat.
  4. Meningkatkan kualitas belajar mengajar secara berkelanjutan.
  5. Mengembangkan dan melestarikan tradisi dan amaliyah ahlusunah wal jama’ah an nahdiyah.

Program Pendidikan :

  1. Pondok Pesantren
  2. Madrasah Diniyah
  3. Taman Pendidikan Al Qur’an
  4. Pembelajaran Kitab Kuning
  5. Majelis Taklim

Fasilitas:

  1. Asrama
  2. Masjid
  3. Halaman Luas
  4. Ruang Kelas

Syarat Pendaftaran:

  1. Mengisi Formulir
  2. Membayar Biaya Pendaftaran 20.000
  3. Fotocopy KK+ Akta Kelahiran 1 Lembar
  4. Foto Hitam Putih 3 kali 4 sebanyak 3 Lembar.

Waktu dan Tempat Pendaftaran: Mulai Rabu 3 Juli 2019 – 31 Agustus 2019

Pukul: 08.00-21.00 WIB.

Tempat Kantor Pondok Pesantren Lirboyo 4 Cabang Santren.

Contact Person : Abdul Majid (085755481643). M. Amin (085749197150)

Haul KH. Abdulloh Ma’sum Jauhari

LirboyoNet. Kediri, Rabu malam Kamis 03 Juli 2019 M. di kediaman Agus H. Badrul Huda Zainal Abidien Syarif telah dilaksanakan Haul salah satu Masyayikh Lirboyo yakni KH. Abdulloh Ma’sum Jauhari dengan sederhana dan khidmat.

Ada kisah menarik yang bisa kita renungi mengenai sosok beliau yang biasanya dikenal sangat tegas dan disegani, namun menyimpan satu sifat yang jarang diketahui orang.

Suatu hari di tahun 1998, pernah terjadi peristiwa unik, dimana Gus Maksum ditarik oleh ibundanya (Nyai Aisyah) sambil dijewer telinganya, mulai lokasi kolam ikan sampai di kediamanya. Padahal jaraknya hampir 200 meter dan melewati areal pondok.

Praktis kejadian menarik ini diketahui oleh banyak santri. Akan tetapi sebagai anak yang patuh pada orang tua, Gus Maksum sama sekali tidak berusaha melepaskan diri dari jeweran itu. Beliau membiarkan telinganya terus dijewer di depan para santri.

Sekelumit cerita diatas menunjukan bahwa beliau yang terkenal seorang pendekar, betul betul total menghormati orang tuanya. Bahkan ketika sang ibu masih hidup, beliau selalu sungkem terlebih dahulu sebelum menghadiri suatu acara. Beliau selalu melaporkan undangan yang akan dihadirinya sekaligus meminta doa restu kepada sang ibu.

Sepeninggalnya Nyai Aisyah  wafat pada tanggal 14 April 2000 M. Tradisi itu terus beliau pertahankan. Bedanya, jika dulu beliau pamit pada Nyai Aisyah, sepeninggal sang ibunda, Gus Maksum selalu pamit kepada kakaknya.

Dan malam ini bertepatan dengan Haul KH. Abdulloh Ma’sum Jauhari. Semoga kita semua bisa mendapatkan percikan berkah beliau, bisa meneladani tauladan beliau yang senantiasa menjungjung tinggi ta’dzim  hormat pada guru dan orang tua, serta mewarisi keberanian beliau sebagai Kiai yang sangat disegani baik kawan maupun lawan.  Wallahu A’lam .(TB)

Disarikan dari buku Petuah Bijak 2 (A. Yasin Muchtarom)