Tag Archives: Saifullah Yusuf

Buah Kerja Keras Iblis dan ‘Kalam Hikmahnya’

Sebuah kisah datang dari kaum legendaris di dunia, yakni Bani Israel, seorang penghamba yang sudah bertahun-tahun lamanya mengabdikan hidupnya kepada Sang Pencipta, Allah Swt. sama sekali ia terlepas dari carut marut urusan dengan manusia, ia jengah dengan semua itu.

Suatu waktu, tempatnya bertapa didatangi oleh sekelompok orang yang sebelumnya sudah tahu riwayat hidup si pengabdi Tuhan ini, mereka hendak melaporkan bahwa ada sebuah daerah yang penduduknya bukannya menyembah Allah, melainkan pohon rindang nan besar yang dijadikan pujaan.

Mendengar tuturan mereka, sang pengabdi ini murka tak terbendung, darahnya memuncak diubun-ubun, segera ia ambil kapak miliknya, ia slempangkan ke bahunya. Benar, ia hendak pergi menebang ‘pohon sesat’ tersebut.

Sesampainya di dekat lokasi pemujaan, ia berjumpa dengan seorang tua, yang ternyata ia adalah Iblis yang sedang mewujudkan dirinya seperti manusia. si Pengabdi tidak tahu menahu.

hendak kemana kau akan pergi? Semoga Tuhan merahmatimu” sapa Kakek Tua sembari menebar doa.

aku akan menebang pohon ini” jawab si penghamba masih terbawa amarahnya.

buat apa kau melakukan kekonyolan ini, sedangkan kau meninggalkan aktifitas ibadah dan rutinitasmu?” si Tua menebar perangkapnya.

ini juga bentuk dari ibadahku” si Pengabdi membela diri bahwa yang ia lakukan dengan menebang pohon tersebut juga merupakan wujud pengabdiannya kepada Tuhan.

tak akan ku biarkan kau melakukannya” sanggah Iblis menantang. Si Pengabdi merasa dilecehkan, belum juga amarahnya reda ia menerjang si Tua, terjadilah pergulatan sengit. Setelah beberapa saat adu kekuatan, si Pengabdi akhirnya mampu menghempaskan tubuh si tua ke tanah. Dengan senang ia menduduki dadanya.

Tahu posisinya sedang tidak beruntung kakek ini mencari jalan negoisasi.

sebentar dulu, lepaskan aku, akan ku beri kau petuah-petuah”  tanpa ada rasa curiga, si Pengabdi bangkit dari ‘tempat duduknya’

hei engkau, sungguh Allah tidaklah menitahkanmu untuk melakukan pekerjaan ini, Ia tidak pula mewajibkanmu. Satu sisi kau tidak juga ikut-ikuan menyembah pohon tersebut. Allah punya banyak Nabi dipenjuru bumi ini, jika Ia mau laksana akan dikirim seorang nabi ke daerah ini lalu Ia perintahkan untuk menebang pohon tersebut”panjang sekali ‘nasihat’ Iblis ini mencoba meyakinkan agar ia mengurungkan niatnya.

namun ternyata sama sekali tidak mampu merobohkan tujuan mulia dari si Pengabdi tersebut, tanpa mau berlama-lama mendebat kakek tua ini, ia lagi-lagi menerjang si kakek. Sama seperti pertarungan pertama, dengan mudah ia menumbangkan si kakek, menghempaskannya lalu duduk di atas dadanya. Si kakek tanpa daya upaya.

apa kau mau menerima sebuah hal yang mungkin saja bisa menjadi penengah masalah kita sekarang ini? Suatu hal yang lebih baik bagimu lagi bermanfaat” untuk yang kedua kalinya kakek menawarkan negoisasi.

apa itu?” si Pengabdi mulai terpancing penasarannya.

lepaskan dulu aku agar lebih nyaman kita bicaranya”  kakek memanfaatkan peluang.

Dengan mudah ia terpedaya, ia bangkit dari atas dada sang kakek. Mulailah lagi kakek menebar perangkapnya.

kau adalah seorang yang melarat tak punya apa-apa, kau gantungkan hidupmu daripada uluran tangan manusia kepadamu. Mungkin saja kau ingin posisimu lebih utama dibanding rekanmu. Tetanggamu. Engkau mungkin juga ingin perutmu terisi sehingga tak lagi kau butuhkan uluran tangan manusia?.”

Entah apa yang menyebabkan si Pengabdi mengiyakan apa yang telah ditebak oleh si kakek.

jika benar maka urungkanlah pekerjaanmu ini, sebagai imbalannya setiap kau membuka matamu dipagi hari kau akan menemukan 2 Dinar disisimu yang bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu dan keluargamua, bisa juga kau gunakan untuk bersedakah kepada teman-temanmu, bukankah hal ini lebih bermanfaat bagimu juga umat muslim dibandingkan dengan kau tebang pohon tersebut, apalagi pohon itu juga masih bisa dimanfaatkan, menebangnya tidak membawa keburukan juga keuntungan, tidak berimbas baik pula untuk saudara seimanmu.” Sukses. Si Pengabdi mencerna kata perkata yang masuk menjalar ke telinganya. Ia resapi. Mencoba mencari kesimpulan.

Dalam hati ia berguma “benar juga apa yang dikatakan kakek tua ini, aku bukanlah seorang nabi sehingga wajib bagiku menebang pohon ini. Allah juga tidak memerintahkanku sehingga berdosa jika aku tak menebangnya. Semua yang tadi ia sebutkan juga sepertinya lebih banyak manfaatnya bagiku.”  mantap. Ia tegaskan lagi kebenaran dari janji-jani kakek tadi. Setelah dirasa omongannya bisa dipercaya. Mereka sepakat.

Kembali ia ke petapaannya. Semalam berlalu. Di pagi hari, benar, ia dapati 2 dirham di sisi kepalanya. Tanpa sungkan ia mengambinya. Di malam kedua hal yang sama masih terjadi. Setelah malam ke tiga. Ia tak lagi menjumpai 2 dirham tersebut. Serta merta ia murka, merasa ditipu oleh si kakek.

Ia bangkit membawa kapaknya ingin melanjutkan niatnya yang pertama, merobohkan ‘pohon sesat’. Lagi-lagi tanpa diduga ia bertemu Iblis yang menyamar jadi  kakek itu.

mau kemana lagi kau?” tanyanya tanpa beban.

akan ku tebang pohon itu ! “ bara amarah meletup dari sorot matanya.

kau bohong, demi Allah kau tidak akan mampu melakukannya. Tidak pula akan kau temukan caranya.

Kejadian yang sama terulang seperti yang telah lalu, namu kali ini ada yang mengherankan. Si Pengabdi yang tempo hari dengan mudah menumbangkan kakek tanpa keringat mengucur, hari ini dihadapan kakek ia laksana bocah bau kencur. Kekuatannya hilang seketika. Kakek duduk dengan tenang di atas dada si Pengabdi ini, mengulangi perlakuannya yang dulu. Membalas.

Kaget dengan kejadian yang baru menimpanya, tak diduga.  si Pengabdi mencoba melakukan susuatu, tak ada jalan, ia lemah, kakek itu begitu tangguh sekarang.

jika kau urungkan rencanamu akan kulepaskan, jika tidak, tanpa segan kau akan ku sembelih” kakek mengultimatum, membuat nyalinya keder. Penasarannya pun juga masih misteri kenpa kakek ini begitu tanggu sekarang, apa kemarin ia hanya mengalah saja?.

baiklah, lepaskan aku. Lalu ceritakan tentangmu kenapa tempo hari aku mampu dengan mudah mengalahkanmu sedangkan di hari ini kau begitu perkasa

Kakek melepaskannya. Ia bangkit.

Dihari pertama amarahmu membara karena niatmu tulus karena Allah, sengga Ia memudahkanmu untuk mengalahkanmku, namun dihari ini, kau murka karena nafsu juga karena dunia, tak heran kau bagaikan bocah dihadapanku” */[ABNA]

Haul Kedua KH. A. Idris Marzuki

LirboyoNet -Kediri. Tanggal 09 Juni dua tahun silam, guru kita Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. A. Idris Marzuki telah mendahului kita. Malam tadi (12/05) digelarlah haul yang kedua, memperingati dua tahun kepergian sang guru tercinta. Acara yang berlangsung khidmat di ndalem lama KH. A. Idris Marzuki, sebelah selatan masjid lawang songo Ponpes Lirboyo ini dihadiri oleh banyak tamu-tamu beberapa tokoh kiai. Seperti pengasuh Pondok Pesantren Ma’unahsari Bandar Kidul KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, KH. Nur Muhammad Iskandar SQ, KH. Munif dari Jampes, dan kiai-kiai lain. Berkenan hadir pula dalam acara semalam, wakil gubernur Jawa Timur, Dr. Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIs (Waktu Istiwa’), diawali dengan pembacaan nama-nama yang hendak dikirimi doa, dilanjutkan pembacaan surat yasin yang dipimpin oleh pengasuh Ponpes Ma’unah Sari, KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, serta langsung disambung dengan tahlil yang dipimpin oleh KH. A. Habibullah Zaini, salah satu pengasuh Ponpes Lirboyo.

Dalam sambutan atas nama keluarga, KH. Abd. Kafabihi Mahrus mengajak kembali kita untuk mengenang sosok KH. A. Idris Marzuki, kita semua tentu sangat terpukul atas kepergian beliau. “Kata kiai-kiai, ketika kita ditinggal Kiai Idris, ketika ada acara kurang berwibawa. Tumpang. Wibawa beliau sangat besar.” Tutur beliau. Beliau pula menambahkan, sosok kepemimpinan KH. A. Idris Marzuki yang sangat tawadhu’. “Dalam memimpin Ponpes Lirboyo, beliau sangat mengalah.” Tidak hanya hadir sebagai sosok pemimpin yang dapat diteladani, beliau, KH. A. Idris Marzuki menurut KH. Abd. Kafabih Mahrus adalah pribadi yang pandai srawung dengan orang lain, dan bisa diterima dimanapun. “Beliau bergaul sangat supel. Dekat dengan ulama dan pejabat. Sulit kita tiru” kenang beliau.

Gus Ipul juga menambahkan, tentang perlunya acara semacam haul dan majlis-majlis seperti ini. Majlis seperti ini menurut Gus Ipil adalah majlis ukhuwwah, majlis persaudaraan. “Inilah, cara lia menjaga Indonesia, menjaga umat, menjaga masyarakat.” Komentar Gus Ipul. Selain dalam rangka haul, momen semacam ini juga merupakan saat yang tepat untuk “memperkuat ikatan” dengan guru, menurut Gus Ipul. “Hadir kita semua disini, untuk hadir untuk mengenang (Kyai Idris), meniru (Kyai Idris).Gus Ipul menyambung, “Kita hadir disini, secara tidak sadar, bentuk kita terus tersambung kepada guru kita.”

 

Semoga Lirboyo diberi manfaat dan barokah, serta santri-santrinya minasshôlihîn wasshôlihât.” -KH. Abd. Kafabihi Mahrus.