HomeArtikelPemenjaraan Nafsu

Pemenjaraan Nafsu

0 0 likes 777 views share

Oleh: Radhi Radliyuddin

Perilaku kehidupan dari segala macam bentuk anarkisme, seks, kriminal, dan lain sebagainya adalah wujud konkret yang serta merta bisa menghancurkan nilai-nilai etis manusia. Keadaan yang kian bergerak ke arah “Penghancuran diri sendiri” semakin jelas. Tindakan-tindakan manusia menjadi sebuah menu wajib informasi setiap hari. Di lain hal, perilaku alam yang semakin lincah terus memporakporandakan tempat kehidupan manusia, bencana merajalela tanpa mengenal siapa dan kepada siapa.

Kejadian semacam itu, memang tidak bisa dipungkiri lagi oleh siapa pun. Namun bagaimanapun fakta normatif selalu ada. Bahwa manusia adalah makhluk Allah Swt. yang butuh pembuktian. Siklus waktu telah mengundang dan mengajak kita pada perwujudan bagaimana wahana spiritual paling berharga bagi setiap muslim dapat melakukan pembongkaran atas penjara-penjara nafsu yang mengungkung dirinya menuju manusia yang tercerahkan dalam kesejatian diri untuk mengalahkan dominasi nafsu keduniaan yang secara representatif (gambaran) dilambangkan dalam aktivitas sehari-hari, semisal makan, minum, melihat, ucapan, dan pemenuhan nafsu biologis, adalah merupakan suatu proses jihad yang akbar.

Perjuangan besar muslim untuk bertempur melawan nafsu yang bercokol dalam dirinya akan terus tercampuri oleh sikap normatif (umum) yang dapat digambarkan pada seekor kuda. Jangan terlalu dikekang, jangan pula dilepaskan. Nafsu hanya perlu dikendalikan dengan dorongan keimanan yang kuat. Dengan begitu akan lebih leluasa untuk melatih kembali ‘kuda’ nafsu kita, sehingga bergerak harmonis sesuai dengan qudrah- iradah Allah SWT.

Kini, ketika dunia keislaman tercabik-cabik oleh mega proyek rehumanisasi (ketidak harmonisan) global, terlebih lagi dalam beberapa kasus yang belum lama ini terjadi, seluruh umat Islam telah menjadi korbannya. Langsung atau tidak langsung telah terjadi skenario atau rekayasa global penjerumusan umat muslim dari moral keimanan.

Menyikapi kedaan demikian itu, selayaknya umat Islam dapat menjadikan insitusi kepekaannya, sebagai upaya melakukan rehumanisasi kehidupan dari hiruk pikuk modernitas. Yakni, bagaimana mengembahkan jati diri manusia modern menuju watak dasar dirinya (fitrah) sebagai insan kamil, insan yang mengenali kesejahteraan dirinya tanpa terpancing dari penyudutan rumor yang ada. Mengenali Tuhan yangmenciptakannya, memahami semesta alam tempat dirinya bergumul dalam tata kehidupannya merupakan pemecahan jalan terbaik.

Entrypoint melakukan rehumanisasi inilah bisa dimulai dari diri seorang muslim, baik secara individual ataupun kolektif. Sehingga terjadi proses transformasi (kemurnian), dalam berbagai dimensi kehidupan, sebagai upaya untuk melakukan harmoni kemanusiaan. Maka dengan sendirinya pemenuhan nafsu dapat terkendali.

Tidakm munutup kemungkinan pemaknaan dan pengekangan nafsu dalam proses rehumanisasi ini akan terwujud ketakwaan yang harmoni terhadap manusia. Dengan begitu, bisa dijadikan wahana bagi usaha membangun solidaritas kemanusiaan yang harmoni dan damai tanpa ada sekat-sekat yang dapat meruntuhkan persaudaraan serta hubungan seorang insan dihadapan Tuhannya.

Manusia adalah makhluk Allah SWT. yang paling mulia, juga sarat kontradiksi dalam dirinya, ketimbang makhluk Allah yang lain. Sebab, dalam diri seorang manusia terdapat dua ‘kutub’ yang saling berlawanan, yakni ‘kutub’ suci dan ‘kutub’ kehinaan. Alquran menunjuk dua ‘kutub’ itu dalam potensi ‘futur’ yang cenderung pada kejahatan, atau potensi takwa yang cenderung pada kebaikan dan kesucian (QS. As Syams: 7-8)

‘Kutub’ kesucian secara historis dilambangkan oleh kehadiran Habil, putra Adam yang kemudian menjadi korban ‘kutub’ kehinaan yang dilambangkan oleh saudaranya, Qabil dan generasi Qabil lainnya. Sedangkan pada ‘kutub’ kehinaan, manusia secara destruktif memiliki naluri untuk menumpahkan darah, permusuhan, dan anarkisme.

Nafsu merebut, memburu, merampas, serta membunuh. Belakangan ternyata bukan sekedar usaha bertahan dan menjadi pemenang dalam persaingan hidup dari semua kepuasan dirinya, sehingga manusia tidak akan pernah berhenti saling berebut sampai ajal memisahkan dirinya. (QS. At-Takasur i 1-2)

Karena itu, manusia berada di antara empat penjara yang mengungkung dirinya, yakni alam, sejarah, masyarakat, dan egonya. Dan perjuangan melawan ego inilah yang paling berat dalam perjuangan seorang anak manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dari kungkungan alam, sejarah, dan masyarakat. Namun, acap kali gagal dalam menaklukan dirinya sendiri. Akibatnya, timbul malapetaka kemanusiaan, di mana manusia modern sebagai generasi selanjutnya kini berada dalam situasi penindasan, pemusnahan, dan menjadi korban tangannya sendiri. Sebaliknya, kemampuan untuk memerangi egonya, yang berarti mampu meredam potensi kesucian yang terpendam dalam dirinya, dia adalah manusia dalam wujud sebagai insan.

Sedangkan secara ekstrinsik (keunsuran), harmoni manusia dapat diaktualisasikan oleh muslim yang mampu mengendalikan hawa nafsu dalam wujud keshalihan sosial dari hubungan kemasyarakatan di berbagai aspek kehidupan. Sikap toleran, welas-asih, empati, senasib sepenanggungan, pemaaf, suka damai, dan adil, merupakan wujud dari makna fungsional pengekangan nafsu dalam kehidupan bermuamalah (sosialisasi).

Maka hubungan sosial yang kebablasan itu, telah masuk dalam koridor pengadatan sikap dalam diri seorang manusia dan tidak menutup kemungkinan kebejatan moral akan terpampang, sehingga tidak akan ada pengendali yang bisa mengerem laju keinginan diantar manusia.

Jika pemenjaran nafsu ini menjadi sebuah suplemen hidup seorang manusia, maka dalam diri seorang insan benar-benar telah terpancar media vertikal antara sang abid & Sang Khaliq, Allah SWT. melalui pembuktian perubahan hidup.[