Tag Archives: ULAMA

Imam An-Nawawi: Sang Idola Fuqoha Masa Kini

Imam An-Nawawi yang memiliki nama lengkap Abu Zakaria Muhyiddin Yahya Bin Syaraf Bin Murri Bin Hasan Bin Husein Bin Muhammad Bin Jum’ah Bin Hizzam Al Khizami An Nawawi.

Julukan Muhyiddin dikarenakan beliau dalam dakwahnya menjernihkan/memperjuangkan madzhab Syafi’i. Maka tak heran sebagian besar karya beliau yang masyhur di bidang fiqh metodologi Imam Syafi’i. Sedangkan nisbat An-Nawawi sendiri adalah nisbat nama desa asalnya yang bernama Nawa. Beliau lahir pada pertengahan bulan Muharram 631 H. atau 1233 M. sejak lahir tinggal di desa Nawa  dengan didikan ayahnya. Masa kecilnya suka membaca al-Qur’an, berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Pendalaman ilmu al-Qur’an menjadi pijakan selanjutnya hingga beliau berumur 19 tahun, selama itu dihabiskan dalam keilmuannya untuk al-Qur’an. Suatu saat pada usia 7 tahun, ketika beliau tidur dipangkuan ayahnya, Imam An-Nawawi tiba-tiba bangun dari tidurnya.

Kemudian, melihat cahaya berada disekitarnya memenuhi ruangan, sedangkan yang bisa melihat hanya beliau saja dan pada malam itu tepat pada tanggal 27 Ramadhan bertepatan dengan Lailatul Qadr. Hal ini membuat heran baginya ketika diungkapkan pada sang ayah. Sedangkan ayah beliau tidak tahu apa-apa dikarenakan tidak melihat apa yang dilihat oleh sang anak. Mungkin, berkah mendapat Lailatul Qodr, menjadikan kecerdasan dalam mencari ilmu.

Ketika berusia 19 tahun, Imam An-Nawawi baru mondok. Tempat mondoknya pun tidak jauh dari desa kelahirannya. Tepatnya di Ar-Ruwahiyyah selama 2 tahun, kemudian pergi haji bersama ayahnya dan setelah itu berpindah-pindah tempat dalam mencari ilmu.

Guru-guru Imam an-Nawawi

Diantara guru-guru Imam An-Nawawi yaitu Syech Jamaluddin bin Abdul Kahfi bin Abdul Malik Ar-Roba’i, Syech Abi Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Muhadzab, Syech Ridho bin Burhan Zain Kholid Abdul Aziz Al Hamawi, Syech Syihauddin Abu Syamah, Syech Jamaluddin Abdullah bin Malik Al- Andalusi.

Dari segi banyaknya guru beliau, kepergian dalam mencari ilmunya tidak sampai keluar negara dikarenakan cukup dengan pendalamannya dan cinta dengan negaranya. Sampai-sampai ketika Imam Ibnu Malik singgah di Damaskus, kesempatan tersebut langsung ditanggapinya, seketika beliau mencarinya untuk belajar Ilmu dalam fan yang dimiliki Imam Ibnu Malik.

Kepergian Imam An-Nawawi dalam mencari ilmu pun seperti santri salaf ketika mondok di Pesantren, yaitu dengan diiringi tirakat. Diantaranya adalah beliau tidak pernah tidur, kalau pun tidur waktunya sangat sedikit. Waktu beliau hanya untuk mempeng dalam belajar berbagai kitab. Dalam makan beliau hanya makan remukan roti dan tidak pernah makan cemilan khas Damaskus yang akibatnya mudah mengantuk. Maka dari itu, oleh beliau makanan tersebut dihindari.

Gaya hidup Imam An-Nawawi

Dalam segi pakaian sangat sederhana sekali, dalam artian apa yang dibutuhkan hanya sebagai pakaian syar’an wa adatan. Adab Beliau kepada guru-gurunya selalu takzim dan husnudzan dengan apa yang diperintahkan gurunya, diikuti tanpa berprasangka yang lain. Sikap beliau kepada gurunya yang menjadikanya murid kesayangan. Dari sisi toriqoh mencari ilmu, yang dipandang bukan seberapa jauh perginya, tetepi seberapa kedalaman ilmu yang didapat.

Keseharian Imam An-Nawawi dalam segala aspek memang ditempuh dengan jalan yang tidak seperti santri pada umumnya. Hasil yang didapat pun berpengaruh dengan apa yang dijalani beliau. Tidak hanya dari segi tirakat dan thoriqohnya saja melainkan giat dalam belajarnya juga. Dalam sehari semalam beliau paling tidak menghabiskan 12 pelajaran untuk dipelajari.

Dari 12 pelajaran, yang sering dipelajari adalah ilmu hadis dengan kitabnya Hadits fii Jam’i baina Shohihain dan Shohih Muslim, kemudian ilmu fiqihnya ada kitab Al- Washith dan Kitab Al-Muhadzab, dilanjut ilmu Lughot, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Balaghoh, Ilmu Mantiq, Ilmu Shorof, Ilmu Sejarah, Ilmu Ushuluddin, Qoidah Fiqih, Ilmu Tafsir, dan ilmu Kedokteran (Al-Qonun). Dibalik semua fan tadi, Imam An-Nawawi dalam ilmu Kedokteran terlalu sibuk hingga menyababkan terbengkalai dengan fan Ilmu yang lain.

Pada akhirnya kitab Al-Qonun tersebut dijual ke orang lain dengan tujuan agar tidak melanjutkan ilmu tersebut. Selama kurang lebih 20 tahun beliau tidak berhenti dalam belajar. Alhasil selama itu pula beliau hafal diluar kepala. Dalam waktu empat setengah bulan sudah hafal kitab At-Tanbih dan dilanjutkan dalam kurun satu setengah tahun, kurang lebih seperempat jilid kitab Muhadzab sudah dilahap.

Menjadi seorang pemimpin

Setelah Imam An-Nawawi merampungkan belajarnya, beliau diamanahi oleh gurunya Syech Syihabuddin Abu Syamah untuk menggantikan dalam memimpin lembaga pendidikan Darul Hadis. Tidak hanya itu, setiap harinya beliau punya target dalam menulis karangan sebanyak 8 halaman.

Dengan ini, selama beliau mulai mengamalkan ilmunya hingga akhir hayatnya, kurang lebih ada 100 karya yang hasil dan menjadi rujukan ulama-ulama setelahnya hingga zaman sekarang.

Dari 100 karangan tadi, ada beberapa kitab yang masyhur yaitu Ar-Roudhoh ringkasan dari Syarah Al-Kabir, Al-Minhaj fii Syarah Shohih Muslim, Syarah Muhadzab hanya sampai pertengahan bab riba yang dikemudian hari dilanjutkan oleh ulama setelahnya, Minhaj at-Tholibin, Tahdzibul Asma’ wal Lughot, Riyadus Sholihiin, Al-Adzkar, Arbain An-Nawawim At-Tibyan, dan lain-lain.

Dalam mengamalkan ilmu, Iama An-Nawawi tidak hanya lewat karyanya saja. Terbukti murid-murid-murid beliau yang masyhur diantaranya Al-Hafidz Al-Kabir Yusuf bin Abdul Malik Al-Halb Ad-Damsyuqi dan Imam ibnu At-Thur.

Imam An-Nawawi kurang komunikasi terhadap pemerintahan di masanya. Sedangkan yang lebih berkecimpung dalam urusan pemerintahan adalah Imam Al-Mawardi. Hal ini dapat kita perhatikan, bahwa manhaj pemikiran beliau tidak sampai rana pemerintah hanya dalam bidang agama saja.

Wafatnnya Imam An-Nawawi

Kehidupan Imam An-Nawawi yang melalangbuana dalam bidang keagamaan, ternyata tidak menjadikan usia beliau bertahan lama. Pada hari sabtu tanggal 20 Rajab 676 Hijriyyah atau 1277 Masehi, beliau sakit dalam pembaringannya.

Menyebabkan mulai berhenti dalam berdakwah hingga selang 4 hari pada rabu 24 Rajab beliau wafat diusia 45 tahun meninggalkan murid-muridnya dan puluhan karya untuk diwariskan pada ulama setelahnya.

Jarak antara sakit dengan wafatnya yang tidak lama membuat beliau tidak sampai merasakan. Tetapi, menurut para ulama bahwa sakit itu bukanlah penderitaan melainkan sebuah kenikmatan tersendiri bisa merasakannya. Dengan ini, perjalanan hidup beliau tidaklah lama tetapi memberikan amal yang melebihi dari masa hidupnya.

Sumber: Al-Minhaj us-Sawi, Mukadimah Riyadussholihin.

Baca juga: SYARAT AKAD NIKAH MENGGUNAKAN BAHASA SELAIN ARAB

Khutbah Jum’at: Mengantisipasi Dampak Pesta Demokrasi

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jamaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah..

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangann-Nya. Karena dengan takwalah kita akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

Takwa merupakan hal yang harus sepenuhnya kita usahakan tanpa henti. Dalam takwa, jiwa dan raga harus bersama-sama layaknya dua sisi uang yang saling melengkapi satu dan lainnya. Demikian juga, takwa merupakan suatu proses yang harus terus diusahakan sampai datang ajal menjemput. Oleh karenanya, Allah swt. Berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

 “Dan sembahlah tuhanmu sampai datang kepadamu suatu kepastian (ajal)”. (QS. al-Hijr: 99)

Jamaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah..

Marilah kita pertahankan kerukunan, persatuan dan kesatuan umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih lagi, sebentar lagi kita akan menghadapi pesta demokrasi. Begitu maraknya berita, kabar, dan bahkan fenomena kebohongan di sekitar kita yang semakin sulit terbendung. Berita hoax, ujaran kebencian, adu domba, dan lain-lain telah menjadi ancaman nyata bagi kita semua, umat Islam, bahkan ancaman bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Tidak ada tujuan lain dari semua itu kecuali untuk memecah belah kerukunan umat dan mengadu domba bangsa kita.

Dengan demikian, formula terbaik dalam menyikapinya adalah dengan mempererat ikatan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wataniyah kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai“. (QS. Ali Imran: 103)

Dalam penafsiran ayat tersebut, sahabat Ibnu Mas’ud menafsiri kata hablillah dengan arti jamaah atau perkumpulan.  Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah menyampaikan tentang pentingnya sebuah persatuan dan bahaya perpecahan. Diriwayatkan dari al-Qadha’i, Nabi SAW bersabda:

اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab”.

Beberapa dalil tersebut telah memberi pemahaman bahwa Allah SWT dan Rasulllah SAW memerintahkan terhadap kita semua untuk menjaga persatuan dan kerukunan umat serta menjauhi permusuhan dan perpecahan. Dan seandainya terjadi sebuah perbedaan, itu adalah sebuah keniscayaan. Karena pada dasarnya perbedaan yang dilarang adalah setiap perbedaan yang berdampak pada kehancuran dan perpecahan di antara umat Islam. Sehingga kita semua diharuskan pandai dan bijak dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Kerukunan dan persatuan harus terus kita pertahankan, terlebih lagi kita sadari bahwa sebentar lagi kita semua akan merasakan atmosfer udara pesta demokrasi. Percaturan dunia politik, permaninan elit, bahkan spekulasi strategi telah mewabah di sekeliling kita semua. Apabila tidak disikapi secara bijak, semuanya akan berpotensi besar akan membawa dampak buruk. Silahkan memiliki pilihan yang berbeda. Namun perbedaan pilihan itu jangan sampai mencederai kerukunan dan persatuan di antara kita semua.

Jamaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah..

Persoalan pemimpin dalam Islam sangatlah krusial. Ia dibutuhkan dalam masyarakat atau komunitas bahkan dalam lingkup yang sangat kecil sekalipun. Adanya pemimpin menjadikan adanya sistem lebih terarah. Tentu saja pemimpin di sini bukan seseorang dengan otoritas mutlak. Ia dibatasi oleh syarat-syarat tertentu yang membuatnya harus berjalan di atas jalan yang benar. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Bila ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini memuat pesan bahwa kepemimpinan adalah hal penting dalam sebuah aktivitas bersama. Perjalanan tiga orang bisa dikatakan adalah kegiatan yang dilakukan oleh tim kecil. Artinya, perintah Nabi tersebut tentu lebih relevan lagi bila diterapkan dalam konteks komunitas yang lebih besar, mulai dari tingkat rukun tentangga (RT), rukun warga (RW), desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga negara. Juga ada lingkup-lingkup aktivitas lainnya yang memperlukan kebersamaan. Hadirnya pemimpin membuat kerumunan massa menjadi kelompok (jamaah) yang terorganisasi. Ada tujuan, pembagian peran, dan aturan yang ditegakkan bersama.

Sebagai warga negara, kita harus berpartisipai aktif dalam pemilihan kepala negara yang tak lama lagi akan digelar dengan menggunakan hak pilih kita. Dengan ikut andil di dalamnya, berarti kita semua turut berperan aktif dalam melancarkan misi untuk menciptakan hubungan timbal balik dan keharmonisan antara agama dan negara.

Namun yang menjadi tugas penting kita adalah bagaimana tetap menjaga kondusivitas selama pesta demokrasi ini berlangsung. Kita semua harus tetap memegang teguh dan memprioritaskan asas persatuan dan kesatuan. Karena kesatuan tidak hanya sebatas menjaga kita semua dari segala ancaman yang telah ada di depan mata. Melainkan kesatuan sangat dibutuhkan demi menciptakan kemaslahatan bersama. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatnya serta menjadikanya baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur Amin ya rabbal ‘alamin.

إِنَّ اَحْسَنَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلاَّمِ  وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ

أَعُوْذُ بِا للهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

باَ رَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ .إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ

Khutbah Kedua

الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Nasehat Uwais Al- Qarni

Suatu saat Harim bin Hayyan, seorang saleh di tanah Arab jauh-jauh datang ke Kufah, Irak, untuk memenuhi satu-satunya cita-cita: bertemu Uways Al Qarni.

Telah ia kenal kisah kesalehan Uways Al Qarni. Bagaimana Rasulullah tak satu kalipun bertemu dengannya, namun oleh Rasulullah ia disebut sebagai pengguncang dunia langit. Bagaimana Umar bin Khattab berkali-kali menitipkan salam pada jamaahnya untuk disampaikan kepada Uways Al Qarni, nun jauh di Qaran, Irak.

Harim bin Hayyan mencari-carinya ke berbagai penjuru, hingga kemudian tertegunlah ia di tepi sungai Eufrat. Seseorang sedang berwudu dan mencuci pakaiannya. Seketika ia menerka, “ini pasti Uways Al Qarni yang aku cari.” Pakaiannya kumuh. Wajahnya lusuh. Tapi benar. Itulah Uways Al Qarni, Sang Majnun (Orang Gila).

“Suatu kebahagiaan bertemu denganmu, wahai Uways. Bagaimana kabarmu?” Tak diduga, yang ditanya hanya diam. Ia juga tak menjabat tangan Harim yang dijulurkan padanya. Harim, yang telah meluap-luap rasa cintanya karena telah bertemu dengan yang dirindukannya, menangis di hadapan Uways.

Uways menangis pula. Hingga kemudian ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Harim bin Hayyan. Bagaimana keadaanmu? Siapa yang menunjukkan diriku padamu?”

Harim terheran-heran. Bagaimana bisa Uways al Qarni mengenalnya. Mengenal nama ayahnya, sementara keduanya belum sekalipun pernah bertemu?

Dengan pandangan sejuknya Uways Al Qarni menjawab keheranan itu. “Jiwa kita saling mengenal ketika masing-masing hati kita saling berbicara. Sungguh, di dalam jiwa kita terdapat hati sebagaimana hati manusia. Sesama orang beriman pastilah saling mengenal dan saling mencinta atas pertolongan Allah. Meski tak pernah bertemu, tak pernah memandang, tak pernah berbincang. Meski terhalang rumah-rumah. Meski terpaut jarak dan lembah.”

“Maka sampaikan padaku hadits Rasulullah wahai Uways,” Kesempatan bertemu itu tak disia-siakan oleh Harim bin Hayyan. Ia ingin mendapatkan kesejukan kalimat-kalimat dari lelaki bijak itu.

“Tak sekalipun aku bertemu dengan Rasulullah. Tapi, telah sampai kepadaku juga ucapan-ucapannya, sebagaimana yang telah sampai kepada kalian. Namun, aku bukanlah orang yang suka bercerita. Bukan penentu hukum. Pun bukan pemberi fatwa. Hatiku tak ingin dipenuhi urusan manusia.”

“Maka sampaikan padaku firman Allah, Sungguh aku mencintaimu karena Allah. Maka sampaikan padaku sehingga aku bisa menjaganya, memegang pesan-pesannya.”

Uways al Qarni mengalah. Ia mulai membaca basmalah. Seketika ia menjerit. Menangis. “Tuhan telah berfirman. Ucapan paling benar adalah ucapanNya. Kalam yang paling indah adalah kalamNya.”

“Wahai Harim bin Hayyan. Inilah wasiatku padamu. Berpegangteguhlah pada Kitab Allah dan orang-orang shaleh. Jangan sekali-kali hatimu berpaling darinya, sekejap mata pun. Takutlah berpisah dari jamaah. Perpisahanmu dengan mereka adalah berpisahnya agamamu. Kau tak akan mendapatkan pengetahuan dan masuklah kau ke neraka.”

Uways kemudian berdoa, “wahai Tuhanku, Harim mencintaiku karenaMu, ia menemuiku karenaMu, maka pertemukanlah diriku dengannya di surga kelak. Jagalah ia di dunia sebagaimana mestinya. Mudahkanlah ia dalam urusan dunia, jadikanlah ia orang yang mensyukuri setiap nikmat yang kau berikan.”

Doa itu menggembirakan hati Harim bin Hayyan. Siapa yang tidak bergembira ketika ia didoakan oleh kekasihnya, manusia yang dunia langit bergemuruh ketika disebut-sebut namanya?

Namun kegembiraan itu berlangsung begitu singkat. Karena setelahnya, Uways mengucapkan kalimat yang tidak disangka-sangkanya, “Wahai Harim. Sungguh aku membenci keramaian dan mencintai kesendirian. Maka jangan mencariku setelah ini. Ketahuilah, aku bagian dari dirimu. Ingat-ingatlah aku, doakan aku. Karena aku akan selalu mengingat dan mendoakanmu.”

Harim terperangah. Ia menangis. Uways menangis. Tak lama kemudian, mereka berpisah.

“Betapa setelahnya aku mencari-carinya,” kisah  Harim ketika mengenang kisah hari itu. “Bertanya ke mana-mana. Tak kutemui seorangpun yang bisa memberi kabar tentangnya.”

Uqala-ul Majanin, Abu Qasim al-Hasan, Dar an-Nafais, hlm. 95-97.

Jangan Pernah Mencaci-maki Pemerintah

Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah memiliki cara dakwah yang damai, santun, dan menyejukkan. Mereka tidak pernah teriak-teriak apalagi mencaci-maki. Karena tindakan tersebut tidak menunjukkan perilaku mukmin sejati. Al-Ghazali—ulama dan sufi kenamaan—pernah menjelaskan dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin:

وَإِنَّمَا الْمُحَرَّمُ اسْتِصْغَارٌ يَتَأَذَّى بِهِ الْمُسْتَهْزَأُ بِهِ لما فِيهِ مِنَ التَّحْقِيرِ وَالتَّهَاوُنِ

Adapun yang diharamkan adalah mencaci-maki yang dapat menyakiti perasaan orang yang dihina, karena di dalamnya terdapat unsur menghina serta meremehkan.”[1]

Nahi Munkar dan nasehat tidak bisa dijadikan alasan untuk melegalkan segala bentuk caci-maki. Karena nasehat sepatutnya dilakukan dengan jalan mengajak, bukan mengejek, atau nasehat itu merangkul, bukan memukul. Begitu pula tujuan utama Nahi Munkar adalah berupaya menghilangkan kemungkaran sesuai prosedur syariat, yang dalam konteks keindonesiaan tentu harus melalui jalur konstitusional.

Hal tersebut ditujukan agar tidak membuka pintu fitnah yang lebih besar, lebih-lebih Nahi Munkar pada pemerintah yang harus dilakukan dengan santun, berdialog dengan baik, dan tidak dengan melakukan demonstrasi yang rawan menimbulkan kericuhan. Sesuai anjuran Rasulullah saw. yang dikutip oleh Sayyid Murtadlo Az-Zabidi:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ نَصِيحَةٌ لِذِي سُلْطَانٍ فَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَنْصَحْهُ، فَإِنْ قَبِلَهَا، وَإِلَّا كَانَ قَدْأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa hendak menasehati pemerintah, maka jangan terang-terangan di tempat terbuka. Namun jabatlah tangannya, ajaklah bicara di tempat tertutup. Bila nasehatnya diterima, maka bersyukurlah. Bila tidak diterima, maka tidak mengapa, karena iatelah melakukan kewajibannya dan memenuhi haknya.”[2]

[]waAllahu a’lam

___________________________ 


[1] Ihya ‘Ulumad-Din, vo.IIIhal. 131

[2] Ittihaf As-sadah al-Muttaqin, vol. VII hal. 25

Sinergi Ulama dan Umara

Secara kodrati, manusia membutuhkan makan, minum dan kebutuhan jasmani lainnya. Ditinjau dari segi emosi, manusia menginginkan rasa aman, tenteram dan bahagia. Dari segi sosial, manusia cenderung untuk bersama, berkumpul dan bermasyarakat.

Dorongan mental manusia menginginkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Dengan spiritual, manusia membutuhkan atau memerlukan satu kekuatan diluar dirinya yang sifatnya gaib, yaitu Dzat Yang Maha Kuasa.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut mutlak untuk diperoleh dan dipenuhi. Jika ada diantaranya yang tidak terpenuhi, maka akan memberikan efek kurang baik, karena kebutuhan itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Adanya berbagai macam dorongan ini, terutama dorongan yang bersifat spiritual menunjukkan bahwa secara kodrati manusia mempunyai cetak dasar untuk percaya kepada Tuhan. Jika ada manusia yang mengaku tidak percaya kepada tuhan, maka manusia tersebut telah mengingkari kodratnya, mengingkari fitrahnya.

Dalam banyak hal memang seorang manusia tidak perlu membuat jalan sendiri untuk memecahkan suatu masalahnya, ia cukup melihat bagaimana orang lain menyikapi dan menyelesaikan masalah itu, dan kemudian ia tinggal mencontohnya.

namun disaat yang lain, manusia benar-benar tidak punya pilihan sama sekali hingga ia benar-benar sadar bahwa ia telah jatuh dan tidak mungkin bangkit lagi. Keadaan-keadaan tersebut riil terjadi dalam diri manusia.

Hal ini terjadi karena alam bawah sadar manusia tidak bisa menyangkal adanya kebutuhan terhadap Dzat yang transenden, sebagai sandaran diri manusia ketika dirinya tidak menemukan jawaban sebagai jalan keluar menyangkut keterbatasan dirinya.

Manusia selalu mempunyai pengharapan sebagai refleksi keterbatasan dirinya dan mengharap terhadap suatu Dzat yang lebih mampu untuk menolong, sebagai contoh, setiap orang pernah berkata “mudah-mudahan selamat” dan “semoga mendapatkan rejeki yang banyak”.

Atas dasar inilah kebutuhan manusia atas tuhan mutlak diperlukan. Sebagaimana dalam firman Allah :

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus : 12)

Dari kepercayaan tuhan inilah agama mulai terlembagakan, karena sudah terbentuknya sebuah konsep agama, yaitu berupa manusia (penyembah), Tuhan (yang disembah) dan sebuah aturan ataupun qanun. Beragama berarti mempercayai hal gaib dan sakral beserta aturan yang mengikat secara individual  maupun komunal.

Dengan agama serta penghayatan dan perealisasiannya secara totalitas, maka moralitas manusia akan terbangun. Hal ini dikarenakan prinsip seluruh agama mengajarkan kebaikan baik secara vertikal maupun horizontal.

Agama mampu menghadirkan dampak individual dalam bentuk ketenangan jiwa, kerelaan hati, spirit berbuat baik dan benar dalam rangka pengabdian, sehingga menjadi sesuatu yang mendasar dalam bingkai hubungan antara pencipta dan makhluk.

Sedangkan dalam ranah komunal, agama mampu membangun struktur hubungan kemasyarakatan yang harmonis dan sehat dengan prinsip kebersamaan dalam hubungan horizontal sebagai sesama makhluk tuhan.

Maka idealnya agama bisa menjadi jembatan dalam menampung dan menerjemahkan kearifan universal dalam tatanan komunitas setiap masyarakat, yaitu dengan keselarasan dan keharmonisan hubungan antara individu dapat diraih.

Dari pemaparan tersebut tidaklah mengherankan jika aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan institusi budaya yang lain.

Ekspresi religius ditemukan dalam dalam budaya material, perilaku manusia, nilai, moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum, politik, pengobatan, sains, teknologi, seni, pembrontakan, perang dan lainnya. Hal ini karena pengaruh dan implikasi agama sangatlah luas bahkan merasuk dalam kehidupan manusia.

Secara individual agama berfungsi sebagai sumber kekuatan moral yang ampuh. Ajaran agama mendorong orang berbuat baik. Menjauhkan diri dari kejahatan dan hawa nafsu, mengejar ketentraman dan keselamatan didunia maupun akhirat.

Karena agama selalu memotivasi orang untuk mengamalkan kebaikan kepada sesama dalam semangat mengabdi kepada Yang Maha Kuasa.

Manusia sendiri pada dasarnya memiliki fitrah untuk menyukai hal yang baik dan membenci hal buruk. Atas dasar inilah manusia membutuhkan sebuah petunjuk yang mampu memfilter semua kebaikan yang memang benar-benar mendatangkan maslahat yang hakiki bagi kedepannya.

petunjuk itulah yang dimaksud dengan istilah agama. Oleh karena itu untuk mengetahui dari istilah agama kita memerlukan seorang ulama yang mengarahkan dalam beragama, pula membutuhkan umara, sebab ulama dan umara merupakan instrumen penting dalam kehidupan manusia.

Ulama betapapun besar dan banyaknya tugas mereka, tetap saja mereka tidak boleh terpisah dari unsur penting lainnya, yakni umara. Keterkaitan mereka dengan para ulama sangatlah erat dan memiliki hubungan horizontal yang kokoh dalam menjalankan peran-perannya.

Peran ulama sendiri adalah menjaga syariat dari penyelewengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mis-interpretasi dari orang-orang bodoh. Rasulullah Saw. Bersabda ;

العلماء أمناء الله على خلقه

 

“Ulama adalah kepercayaan Allah atas makhluknya”

Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir mengatakan ; “kepercayaan” sebagai bentuk penjagaan ulama terhadap syariat dari distorsi takwil yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, mereka selalu bersikukuh dalam memegang masalah-masalah agama.

Selanjutnya ulama sebagai pengemban tugas para Rasul. Rasulullah Saw. Bersabda ;

العلماء أمناءامتي

 

“Para ulama adalah kepercayaan umatku”

Para ulama mempunyai tugas seperti halnya para Rasul yakni tugas menjaga ilmu dan menyebarkan kepada umat, amar ma’ruf nahi munkar. Ulama didepan umatnya diibaratkan seperti dokter dihadapan pasien, mengerti kondisi dan berapa kadar dosis obat dan sebagainya.

Sehingga dalam menyebarkan ilmu dan beramar ma’ruf nahi munkar, idealnya ulama juga harus mengerti keadaan umat secara menyeluruh. Lalu ulama juga sebagai suri tauladan bagi umat dalam perkataan dan perbuatan. Rasulullah Saw. Besabda ;

العلماء قادة والمتقون سادة ومجالستهم زيادة

 

“para ulama adalah penuntun, orang bertakwa adalah para pemimpin, majelis mereka adalah tambahan kebaikan”

Ulama mempunyai kewajiban menuntun, mendidik umat untuk mengetahui dan melaksanakan hukum-hukum syariat serta menjaga umat agar selalu lurus dijalan Allah Swt. Karena hanya dengan ilmu seseorang dapat mengetahui rahasia penciptaan. Sehingga dengan ilmu pula manusia dapat senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan.

Kemudian ulama pula sebagai rujukan umat dalam hal hukum-hukum syariat. konsensus mengenai keputusan sebuah hukum hanya diperbolehkan dari kalangan ulama. Karena para ulamalah yang dapat menggali hukum dari al-Quran dan Hadis.

Disisi lain, ulama dengan hati yang jernih dan pandangan yang jauh tentang kemaslahatan umat, mereka selalu menjadi rujukan dalam keadaan apapun. Namun, ada kaitannya pula dengan perannya umara. Umara adalah pemimpin untuk melayani, melindungi dan mengarahkan seluruh yang ada didalam negara, baik rakyat, keutuhan wilayah, termasuk keseluruhan harta kekayaan yang terdapat dalam wilayah negara tersebut.

Dengan demikian, memilih umara merupakan pokok, untuk menjamin berlangsungnya kehidupan manusia. Yang selaras dengan tujuan syariat, yaitu terpeliharanya lima hak dan jaminan dasar manusia. Yang meliputi, keselamatan keyakinan agama, keselamatan jiwa dan kehormatan, keselamatan akal, keselamatan keturunan, dan keselamatan hak milik.

Maslahat pada asalnya merupakan ungkapan tentang menarik manfaat dan penolak bahaya. Dan yang dimaksud dalam statemen ini bukan mewujudkan kehidupan mereka. Tetapi yang kami maksud tentang maslahat adalah proteksi (perlindungan) terhadap tujuan hukum yang ada lima tersebut.

Sehingga segala prinsip yang menjamin terlindungnya lima prinsip tersebut disebut maslahat. Sedangkan semua tindakan yang mengabaikan prinsip tujuan tersebut disebut kerusakan dan menolak kerusakan itu juga maslahat.

Oleh karena adanya umara itu juga sejalan dengan prinsip syariat (baca : ulama) maka dalam kitab-kitab tauhid Aswaja menegaskan bahwa menegakkan umara hukumnya wajib syar’i, karena Allah Swt. Sendiri yang telah menginstruksikan untuk mentaati hukum al-Quran, Sunnah dan pemerinah.

Walaupun membentuk umara itu wajib, tetapi tidak ada ketentuan seperti apa umara yang harus ditegakkan. Apakah berdasarkan syariat islam atau berdasar kesepakatan warga negara. Rasulullah sendiri ketika berada di Madinah tidak membentuk Umara Islam.

Oleh karena itu tugas utama kita adalah kesetiaan pada dua orang tersebut. Kesetiaan merupakan harga mati. Bukan demi keluhuran mereka berdua, tetapi demi tercapainya cita-cita bersama dan kemajuan negara.

Kalau ketaatan negara bersifat mutlak, sebaliknya, kesetiaan rakyat pada dua orang tersebut tidaklah buta. Kesetiaan itu hendaknya dipertimbangkan, karena seringkali pemerintah menghianati kepercayaan rakyat. Artinya kesetiaan dan loyalitas kita kepada keduanya sebatas pada permasalahan yang bersifat positif dan tidak melanggar syariat.

Bagaimana dengan indonesia kita ini?

Semarak wacana formalisasi syariat dan ide khilafah telah sampai pada tahap pro-kontra yang cukup tajam. Ironisnya, sejauh ini nuansa argumentasi yang dibangun kedua pihak terkesan tidak lagi diproyeksikan untuk berusaha meyakinkan pihak lain

Jika memang disepakati formalisasi syariat, maka teori syariat manakah yang akan diterapkan? Apakah Madzhab Salafi-Wahabi di Saudi Arabia yang mencabut ajaran-ajaran sebagaimana amaliah kaum Aswaja? Atau Madzhab Syiah yang telah  membunuh ratusan ulama dan umat islam, menghancurkan masjid-masjid Aswaja? Kemudian pemerintah yng berkuasa melakukan semua itu lagi-lagi atas nama agama.

Pertimbangan-pertimbangan diatas kian meyakinkan bahwa cita-cita untuk mendirikan khilafah akan membuahkan konsekuensi tersendiri, bukan hanya menyangkut penampilan wajah islam, namun juga menyangkut masyarakat, yang akan terseret pada konflik dan ketegangan dengan elemen bangsa yang lain.

Sebab mengingat dampak buruk yang ditimbulkan dalam aspek sosial, politik, ekonomi dan keamanan negara dalam pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah, menghindari madlarat jauh lebih penting daripada mendapatkan sedikit kemaslahatan.

Sebaliknya, walaupun tidak mendapatkan sedikit kemaslahatan tetapi dapat menghindari kemudlaratan yang lebih besar merupakan sebuah kemaslahatan yang besar. Wallahu A’lam[]

__________________

Oleh : Miftahul Jannah

Asal : Bekasi

Kamar : A.05, P3HM

Kelas : 1 Tsn bagian A

 

Sebagai Juara Ketiga Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra