Tag Archives: ULAMA

Khutbah Jum’at: Mengantisipasi Dampak Pesta Demokrasi

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jamaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah..

Pertama-tama, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangann-Nya. Karena dengan takwalah kita akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki baik di dunia maupun di akhirat.

Takwa merupakan hal yang harus sepenuhnya kita usahakan tanpa henti. Dalam takwa, jiwa dan raga harus bersama-sama layaknya dua sisi uang yang saling melengkapi satu dan lainnya. Demikian juga, takwa merupakan suatu proses yang harus terus diusahakan sampai datang ajal menjemput. Oleh karenanya, Allah swt. Berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

 “Dan sembahlah tuhanmu sampai datang kepadamu suatu kepastian (ajal)”. (QS. al-Hijr: 99)

Jamaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah..

Marilah kita pertahankan kerukunan, persatuan dan kesatuan umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih lagi, sebentar lagi kita akan menghadapi pesta demokrasi. Begitu maraknya berita, kabar, dan bahkan fenomena kebohongan di sekitar kita yang semakin sulit terbendung. Berita hoax, ujaran kebencian, adu domba, dan lain-lain telah menjadi ancaman nyata bagi kita semua, umat Islam, bahkan ancaman bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Tidak ada tujuan lain dari semua itu kecuali untuk memecah belah kerukunan umat dan mengadu domba bangsa kita.

Dengan demikian, formula terbaik dalam menyikapinya adalah dengan mempererat ikatan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wataniyah kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai“. (QS. Ali Imran: 103)

Dalam penafsiran ayat tersebut, sahabat Ibnu Mas’ud menafsiri kata hablillah dengan arti jamaah atau perkumpulan.  Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW pernah menyampaikan tentang pentingnya sebuah persatuan dan bahaya perpecahan. Diriwayatkan dari al-Qadha’i, Nabi SAW bersabda:

اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab”.

Beberapa dalil tersebut telah memberi pemahaman bahwa Allah SWT dan Rasulllah SAW memerintahkan terhadap kita semua untuk menjaga persatuan dan kerukunan umat serta menjauhi permusuhan dan perpecahan. Dan seandainya terjadi sebuah perbedaan, itu adalah sebuah keniscayaan. Karena pada dasarnya perbedaan yang dilarang adalah setiap perbedaan yang berdampak pada kehancuran dan perpecahan di antara umat Islam. Sehingga kita semua diharuskan pandai dan bijak dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Kerukunan dan persatuan harus terus kita pertahankan, terlebih lagi kita sadari bahwa sebentar lagi kita semua akan merasakan atmosfer udara pesta demokrasi. Percaturan dunia politik, permaninan elit, bahkan spekulasi strategi telah mewabah di sekeliling kita semua. Apabila tidak disikapi secara bijak, semuanya akan berpotensi besar akan membawa dampak buruk. Silahkan memiliki pilihan yang berbeda. Namun perbedaan pilihan itu jangan sampai mencederai kerukunan dan persatuan di antara kita semua.

Jamaah salat Jum’at yang dimuliakan Allah..

Persoalan pemimpin dalam Islam sangatlah krusial. Ia dibutuhkan dalam masyarakat atau komunitas bahkan dalam lingkup yang sangat kecil sekalipun. Adanya pemimpin menjadikan adanya sistem lebih terarah. Tentu saja pemimpin di sini bukan seseorang dengan otoritas mutlak. Ia dibatasi oleh syarat-syarat tertentu yang membuatnya harus berjalan di atas jalan yang benar. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Bila ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini memuat pesan bahwa kepemimpinan adalah hal penting dalam sebuah aktivitas bersama. Perjalanan tiga orang bisa dikatakan adalah kegiatan yang dilakukan oleh tim kecil. Artinya, perintah Nabi tersebut tentu lebih relevan lagi bila diterapkan dalam konteks komunitas yang lebih besar, mulai dari tingkat rukun tentangga (RT), rukun warga (RW), desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga negara. Juga ada lingkup-lingkup aktivitas lainnya yang memperlukan kebersamaan. Hadirnya pemimpin membuat kerumunan massa menjadi kelompok (jamaah) yang terorganisasi. Ada tujuan, pembagian peran, dan aturan yang ditegakkan bersama.

Sebagai warga negara, kita harus berpartisipai aktif dalam pemilihan kepala negara yang tak lama lagi akan digelar dengan menggunakan hak pilih kita. Dengan ikut andil di dalamnya, berarti kita semua turut berperan aktif dalam melancarkan misi untuk menciptakan hubungan timbal balik dan keharmonisan antara agama dan negara.

Namun yang menjadi tugas penting kita adalah bagaimana tetap menjaga kondusivitas selama pesta demokrasi ini berlangsung. Kita semua harus tetap memegang teguh dan memprioritaskan asas persatuan dan kesatuan. Karena kesatuan tidak hanya sebatas menjaga kita semua dari segala ancaman yang telah ada di depan mata. Melainkan kesatuan sangat dibutuhkan demi menciptakan kemaslahatan bersama. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatnya serta menjadikanya baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur Amin ya rabbal ‘alamin.

إِنَّ اَحْسَنَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلاَّمِ  وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ

أَعُوْذُ بِا للهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

باَ رَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ .إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ

Khutbah Kedua

الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Nasehat Uwais Al- Qarni

Suatu saat Harim bin Hayyan, seorang saleh di tanah Arab jauh-jauh datang ke Kufah, Irak, untuk memenuhi satu-satunya cita-cita: bertemu Uways Al Qarni.

Telah ia kenal kisah kesalehan Uways Al Qarni. Bagaimana Rasulullah tak satu kalipun bertemu dengannya, namun oleh Rasulullah ia disebut sebagai pengguncang dunia langit. Bagaimana Umar bin Khattab berkali-kali menitipkan salam pada jamaahnya untuk disampaikan kepada Uways Al Qarni, nun jauh di Qaran, Irak.

Harim bin Hayyan mencari-carinya ke berbagai penjuru, hingga kemudian tertegunlah ia di tepi sungai Eufrat. Seseorang sedang berwudu dan mencuci pakaiannya. Seketika ia menerka, “ini pasti Uways Al Qarni yang aku cari.” Pakaiannya kumuh. Wajahnya lusuh. Tapi benar. Itulah Uways Al Qarni, Sang Majnun (Orang Gila).

“Suatu kebahagiaan bertemu denganmu, wahai Uways. Bagaimana kabarmu?” Tak diduga, yang ditanya hanya diam. Ia juga tak menjabat tangan Harim yang dijulurkan padanya. Harim, yang telah meluap-luap rasa cintanya karena telah bertemu dengan yang dirindukannya, menangis di hadapan Uways.

Uways menangis pula. Hingga kemudian ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Harim bin Hayyan. Bagaimana keadaanmu? Siapa yang menunjukkan diriku padamu?”

Harim terheran-heran. Bagaimana bisa Uways al Qarni mengenalnya. Mengenal nama ayahnya, sementara keduanya belum sekalipun pernah bertemu?

Dengan pandangan sejuknya Uways Al Qarni menjawab keheranan itu. “Jiwa kita saling mengenal ketika masing-masing hati kita saling berbicara. Sungguh, di dalam jiwa kita terdapat hati sebagaimana hati manusia. Sesama orang beriman pastilah saling mengenal dan saling mencinta atas pertolongan Allah. Meski tak pernah bertemu, tak pernah memandang, tak pernah berbincang. Meski terhalang rumah-rumah. Meski terpaut jarak dan lembah.”

“Maka sampaikan padaku hadits Rasulullah wahai Uways,” Kesempatan bertemu itu tak disia-siakan oleh Harim bin Hayyan. Ia ingin mendapatkan kesejukan kalimat-kalimat dari lelaki bijak itu.

“Tak sekalipun aku bertemu dengan Rasulullah. Tapi, telah sampai kepadaku juga ucapan-ucapannya, sebagaimana yang telah sampai kepada kalian. Namun, aku bukanlah orang yang suka bercerita. Bukan penentu hukum. Pun bukan pemberi fatwa. Hatiku tak ingin dipenuhi urusan manusia.”

“Maka sampaikan padaku firman Allah, Sungguh aku mencintaimu karena Allah. Maka sampaikan padaku sehingga aku bisa menjaganya, memegang pesan-pesannya.”

Uways al Qarni mengalah. Ia mulai membaca basmalah. Seketika ia menjerit. Menangis. “Tuhan telah berfirman. Ucapan paling benar adalah ucapanNya. Kalam yang paling indah adalah kalamNya.”

“Wahai Harim bin Hayyan. Inilah wasiatku padamu. Berpegangteguhlah pada Kitab Allah dan orang-orang shaleh. Jangan sekali-kali hatimu berpaling darinya, sekejap mata pun. Takutlah berpisah dari jamaah. Perpisahanmu dengan mereka adalah berpisahnya agamamu. Kau tak akan mendapatkan pengetahuan dan masuklah kau ke neraka.”

Uways kemudian berdoa, “wahai Tuhanku, Harim mencintaiku karenaMu, ia menemuiku karenaMu, maka pertemukanlah diriku dengannya di surga kelak. Jagalah ia di dunia sebagaimana mestinya. Mudahkanlah ia dalam urusan dunia, jadikanlah ia orang yang mensyukuri setiap nikmat yang kau berikan.”

Doa itu menggembirakan hati Harim bin Hayyan. Siapa yang tidak bergembira ketika ia didoakan oleh kekasihnya, manusia yang dunia langit bergemuruh ketika disebut-sebut namanya?

Namun kegembiraan itu berlangsung begitu singkat. Karena setelahnya, Uways mengucapkan kalimat yang tidak disangka-sangkanya, “Wahai Harim. Sungguh aku membenci keramaian dan mencintai kesendirian. Maka jangan mencariku setelah ini. Ketahuilah, aku bagian dari dirimu. Ingat-ingatlah aku, doakan aku. Karena aku akan selalu mengingat dan mendoakanmu.”

Harim terperangah. Ia menangis. Uways menangis. Tak lama kemudian, mereka berpisah.

“Betapa setelahnya aku mencari-carinya,” kisah  Harim ketika mengenang kisah hari itu. “Bertanya ke mana-mana. Tak kutemui seorangpun yang bisa memberi kabar tentangnya.”

Uqala-ul Majanin, Abu Qasim al-Hasan, Dar an-Nafais, hlm. 95-97.

Jangan Pernah Mencaci-maki Pemerintah

Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah memiliki cara dakwah yang damai, santun, dan menyejukkan. Mereka tidak pernah teriak-teriak apalagi mencaci-maki. Karena tindakan tersebut tidak menunjukkan perilaku mukmin sejati. Al-Ghazali—ulama dan sufi kenamaan—pernah menjelaskan dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin:

وَإِنَّمَا الْمُحَرَّمُ اسْتِصْغَارٌ يَتَأَذَّى بِهِ الْمُسْتَهْزَأُ بِهِ لما فِيهِ مِنَ التَّحْقِيرِ وَالتَّهَاوُنِ

Adapun yang diharamkan adalah mencaci-maki yang dapat menyakiti perasaan orang yang dihina, karena di dalamnya terdapat unsur menghina serta meremehkan.”[1]

Nahi Munkar dan nasehat tidak bisa dijadikan alasan untuk melegalkan segala bentuk caci-maki. Karena nasehat sepatutnya dilakukan dengan jalan mengajak, bukan mengejek, atau nasehat itu merangkul, bukan memukul. Begitu pula tujuan utama Nahi Munkar adalah berupaya menghilangkan kemungkaran sesuai prosedur syariat, yang dalam konteks keindonesiaan tentu harus melalui jalur konstitusional.

Hal tersebut ditujukan agar tidak membuka pintu fitnah yang lebih besar, lebih-lebih Nahi Munkar pada pemerintah yang harus dilakukan dengan santun, berdialog dengan baik, dan tidak dengan melakukan demonstrasi yang rawan menimbulkan kericuhan. Sesuai anjuran Rasulullah saw. yang dikutip oleh Sayyid Murtadlo Az-Zabidi:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ نَصِيحَةٌ لِذِي سُلْطَانٍ فَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَنْصَحْهُ، فَإِنْ قَبِلَهَا، وَإِلَّا كَانَ قَدْأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa hendak menasehati pemerintah, maka jangan terang-terangan di tempat terbuka. Namun jabatlah tangannya, ajaklah bicara di tempat tertutup. Bila nasehatnya diterima, maka bersyukurlah. Bila tidak diterima, maka tidak mengapa, karena iatelah melakukan kewajibannya dan memenuhi haknya.”[2]

[]waAllahu a’lam

___________________________ 


[1] Ihya ‘Ulumad-Din, vo.IIIhal. 131

[2] Ittihaf As-sadah al-Muttaqin, vol. VII hal. 25

Sinergi Ulama dan Umara

Secara kodrati, manusia membutuhkan makan, minum dan kebutuhan jasmani lainnya. Ditinjau dari segi emosi, manusia menginginkan rasa aman, tenteram dan bahagia. Dari segi sosial, manusia cenderung untuk bersama, berkumpul dan bermasyarakat.

Dorongan mental manusia menginginkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Dengan spiritual, manusia membutuhkan atau memerlukan satu kekuatan diluar dirinya yang sifatnya gaib, yaitu Dzat Yang Maha Kuasa.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut mutlak untuk diperoleh dan dipenuhi. Jika ada diantaranya yang tidak terpenuhi, maka akan memberikan efek kurang baik, karena kebutuhan itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Adanya berbagai macam dorongan ini, terutama dorongan yang bersifat spiritual menunjukkan bahwa secara kodrati manusia mempunyai cetak dasar untuk percaya kepada Tuhan. Jika ada manusia yang mengaku tidak percaya kepada tuhan, maka manusia tersebut telah mengingkari kodratnya, mengingkari fitrahnya.

Dalam banyak hal memang seorang manusia tidak perlu membuat jalan sendiri untuk memecahkan suatu masalahnya, ia cukup melihat bagaimana orang lain menyikapi dan menyelesaikan masalah itu, dan kemudian ia tinggal mencontohnya.

namun disaat yang lain, manusia benar-benar tidak punya pilihan sama sekali hingga ia benar-benar sadar bahwa ia telah jatuh dan tidak mungkin bangkit lagi. Keadaan-keadaan tersebut riil terjadi dalam diri manusia.

Hal ini terjadi karena alam bawah sadar manusia tidak bisa menyangkal adanya kebutuhan terhadap Dzat yang transenden, sebagai sandaran diri manusia ketika dirinya tidak menemukan jawaban sebagai jalan keluar menyangkut keterbatasan dirinya.

Manusia selalu mempunyai pengharapan sebagai refleksi keterbatasan dirinya dan mengharap terhadap suatu Dzat yang lebih mampu untuk menolong, sebagai contoh, setiap orang pernah berkata “mudah-mudahan selamat” dan “semoga mendapatkan rejeki yang banyak”.

Atas dasar inilah kebutuhan manusia atas tuhan mutlak diperlukan. Sebagaimana dalam firman Allah :

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus : 12)

Dari kepercayaan tuhan inilah agama mulai terlembagakan, karena sudah terbentuknya sebuah konsep agama, yaitu berupa manusia (penyembah), Tuhan (yang disembah) dan sebuah aturan ataupun qanun. Beragama berarti mempercayai hal gaib dan sakral beserta aturan yang mengikat secara individual  maupun komunal.

Dengan agama serta penghayatan dan perealisasiannya secara totalitas, maka moralitas manusia akan terbangun. Hal ini dikarenakan prinsip seluruh agama mengajarkan kebaikan baik secara vertikal maupun horizontal.

Agama mampu menghadirkan dampak individual dalam bentuk ketenangan jiwa, kerelaan hati, spirit berbuat baik dan benar dalam rangka pengabdian, sehingga menjadi sesuatu yang mendasar dalam bingkai hubungan antara pencipta dan makhluk.

Sedangkan dalam ranah komunal, agama mampu membangun struktur hubungan kemasyarakatan yang harmonis dan sehat dengan prinsip kebersamaan dalam hubungan horizontal sebagai sesama makhluk tuhan.

Maka idealnya agama bisa menjadi jembatan dalam menampung dan menerjemahkan kearifan universal dalam tatanan komunitas setiap masyarakat, yaitu dengan keselarasan dan keharmonisan hubungan antara individu dapat diraih.

Dari pemaparan tersebut tidaklah mengherankan jika aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan institusi budaya yang lain.

Ekspresi religius ditemukan dalam dalam budaya material, perilaku manusia, nilai, moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum, politik, pengobatan, sains, teknologi, seni, pembrontakan, perang dan lainnya. Hal ini karena pengaruh dan implikasi agama sangatlah luas bahkan merasuk dalam kehidupan manusia.

Secara individual agama berfungsi sebagai sumber kekuatan moral yang ampuh. Ajaran agama mendorong orang berbuat baik. Menjauhkan diri dari kejahatan dan hawa nafsu, mengejar ketentraman dan keselamatan didunia maupun akhirat.

Karena agama selalu memotivasi orang untuk mengamalkan kebaikan kepada sesama dalam semangat mengabdi kepada Yang Maha Kuasa.

Manusia sendiri pada dasarnya memiliki fitrah untuk menyukai hal yang baik dan membenci hal buruk. Atas dasar inilah manusia membutuhkan sebuah petunjuk yang mampu memfilter semua kebaikan yang memang benar-benar mendatangkan maslahat yang hakiki bagi kedepannya.

petunjuk itulah yang dimaksud dengan istilah agama. Oleh karena itu untuk mengetahui dari istilah agama kita memerlukan seorang ulama yang mengarahkan dalam beragama, pula membutuhkan umara, sebab ulama dan umara merupakan instrumen penting dalam kehidupan manusia.

Ulama betapapun besar dan banyaknya tugas mereka, tetap saja mereka tidak boleh terpisah dari unsur penting lainnya, yakni umara. Keterkaitan mereka dengan para ulama sangatlah erat dan memiliki hubungan horizontal yang kokoh dalam menjalankan peran-perannya.

Peran ulama sendiri adalah menjaga syariat dari penyelewengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mis-interpretasi dari orang-orang bodoh. Rasulullah Saw. Bersabda ;

العلماء أمناء الله على خلقه

 

“Ulama adalah kepercayaan Allah atas makhluknya”

Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir mengatakan ; “kepercayaan” sebagai bentuk penjagaan ulama terhadap syariat dari distorsi takwil yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, mereka selalu bersikukuh dalam memegang masalah-masalah agama.

Selanjutnya ulama sebagai pengemban tugas para Rasul. Rasulullah Saw. Bersabda ;

العلماء أمناءامتي

 

“Para ulama adalah kepercayaan umatku”

Para ulama mempunyai tugas seperti halnya para Rasul yakni tugas menjaga ilmu dan menyebarkan kepada umat, amar ma’ruf nahi munkar. Ulama didepan umatnya diibaratkan seperti dokter dihadapan pasien, mengerti kondisi dan berapa kadar dosis obat dan sebagainya.

Sehingga dalam menyebarkan ilmu dan beramar ma’ruf nahi munkar, idealnya ulama juga harus mengerti keadaan umat secara menyeluruh. Lalu ulama juga sebagai suri tauladan bagi umat dalam perkataan dan perbuatan. Rasulullah Saw. Besabda ;

العلماء قادة والمتقون سادة ومجالستهم زيادة

 

“para ulama adalah penuntun, orang bertakwa adalah para pemimpin, majelis mereka adalah tambahan kebaikan”

Ulama mempunyai kewajiban menuntun, mendidik umat untuk mengetahui dan melaksanakan hukum-hukum syariat serta menjaga umat agar selalu lurus dijalan Allah Swt. Karena hanya dengan ilmu seseorang dapat mengetahui rahasia penciptaan. Sehingga dengan ilmu pula manusia dapat senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan.

Kemudian ulama pula sebagai rujukan umat dalam hal hukum-hukum syariat. konsensus mengenai keputusan sebuah hukum hanya diperbolehkan dari kalangan ulama. Karena para ulamalah yang dapat menggali hukum dari al-Quran dan Hadis.

Disisi lain, ulama dengan hati yang jernih dan pandangan yang jauh tentang kemaslahatan umat, mereka selalu menjadi rujukan dalam keadaan apapun. Namun, ada kaitannya pula dengan perannya umara. Umara adalah pemimpin untuk melayani, melindungi dan mengarahkan seluruh yang ada didalam negara, baik rakyat, keutuhan wilayah, termasuk keseluruhan harta kekayaan yang terdapat dalam wilayah negara tersebut.

Dengan demikian, memilih umara merupakan pokok, untuk menjamin berlangsungnya kehidupan manusia. Yang selaras dengan tujuan syariat, yaitu terpeliharanya lima hak dan jaminan dasar manusia. Yang meliputi, keselamatan keyakinan agama, keselamatan jiwa dan kehormatan, keselamatan akal, keselamatan keturunan, dan keselamatan hak milik.

Maslahat pada asalnya merupakan ungkapan tentang menarik manfaat dan penolak bahaya. Dan yang dimaksud dalam statemen ini bukan mewujudkan kehidupan mereka. Tetapi yang kami maksud tentang maslahat adalah proteksi (perlindungan) terhadap tujuan hukum yang ada lima tersebut.

Sehingga segala prinsip yang menjamin terlindungnya lima prinsip tersebut disebut maslahat. Sedangkan semua tindakan yang mengabaikan prinsip tujuan tersebut disebut kerusakan dan menolak kerusakan itu juga maslahat.

Oleh karena adanya umara itu juga sejalan dengan prinsip syariat (baca : ulama) maka dalam kitab-kitab tauhid Aswaja menegaskan bahwa menegakkan umara hukumnya wajib syar’i, karena Allah Swt. Sendiri yang telah menginstruksikan untuk mentaati hukum al-Quran, Sunnah dan pemerinah.

Walaupun membentuk umara itu wajib, tetapi tidak ada ketentuan seperti apa umara yang harus ditegakkan. Apakah berdasarkan syariat islam atau berdasar kesepakatan warga negara. Rasulullah sendiri ketika berada di Madinah tidak membentuk Umara Islam.

Oleh karena itu tugas utama kita adalah kesetiaan pada dua orang tersebut. Kesetiaan merupakan harga mati. Bukan demi keluhuran mereka berdua, tetapi demi tercapainya cita-cita bersama dan kemajuan negara.

Kalau ketaatan negara bersifat mutlak, sebaliknya, kesetiaan rakyat pada dua orang tersebut tidaklah buta. Kesetiaan itu hendaknya dipertimbangkan, karena seringkali pemerintah menghianati kepercayaan rakyat. Artinya kesetiaan dan loyalitas kita kepada keduanya sebatas pada permasalahan yang bersifat positif dan tidak melanggar syariat.

Bagaimana dengan indonesia kita ini?

Semarak wacana formalisasi syariat dan ide khilafah telah sampai pada tahap pro-kontra yang cukup tajam. Ironisnya, sejauh ini nuansa argumentasi yang dibangun kedua pihak terkesan tidak lagi diproyeksikan untuk berusaha meyakinkan pihak lain

Jika memang disepakati formalisasi syariat, maka teori syariat manakah yang akan diterapkan? Apakah Madzhab Salafi-Wahabi di Saudi Arabia yang mencabut ajaran-ajaran sebagaimana amaliah kaum Aswaja? Atau Madzhab Syiah yang telah  membunuh ratusan ulama dan umat islam, menghancurkan masjid-masjid Aswaja? Kemudian pemerintah yng berkuasa melakukan semua itu lagi-lagi atas nama agama.

Pertimbangan-pertimbangan diatas kian meyakinkan bahwa cita-cita untuk mendirikan khilafah akan membuahkan konsekuensi tersendiri, bukan hanya menyangkut penampilan wajah islam, namun juga menyangkut masyarakat, yang akan terseret pada konflik dan ketegangan dengan elemen bangsa yang lain.

Sebab mengingat dampak buruk yang ditimbulkan dalam aspek sosial, politik, ekonomi dan keamanan negara dalam pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah, menghindari madlarat jauh lebih penting daripada mendapatkan sedikit kemaslahatan.

Sebaliknya, walaupun tidak mendapatkan sedikit kemaslahatan tetapi dapat menghindari kemudlaratan yang lebih besar merupakan sebuah kemaslahatan yang besar. Wallahu A’lam[]

__________________

Oleh : Miftahul Jannah

Asal : Bekasi

Kamar : A.05, P3HM

Kelas : 1 Tsn bagian A

 

Sebagai Juara Ketiga Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

 

Ulama dan Umara, Kepercayaan Demi Kemaslahatan

Setelah tiga abad lebih menjadi negara terjajah, negeri ini akhirnya dapat mengibarkan merah putih dengan tangis haru dan pilu bersama meneriakkan proklamasi.

Seumur jagung kemerdekaan diproklamirkan, blok sekutu datang untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda. Pesawat terbang meraung-raung diatas Kota Surabaya.

Artileri super canggih didatangkan untuk bermanuver dan mengancam pribumi dalam operasi gagak. Namun kita telah akrab dengan debu perjuangan, tidak lagi takut dengan kematian. Tidak lagi gamang untuk maju perang.

Dan refolusi jihad pun diterbitkan, oleh Rais Nahdlatul Ulama Kyai Hasyim Asyari bersambut dengan ribuan santri yang dikirim ke Surabaya. 10 November 1945, sepuluh santri jadi martir untuk mimpi merdeka, setelah sebelumnya pada 22 oktober 1945  Kyai Hasyim asyari berkata :

“orang yang mati membela tanah air dari serangan penjajah adalah mati syahid”

Mimpi itu telah menjadi nyata, kini kita telah bertempat tinggal ditanah kelahiran sebagai pemilik dan tuan. Bukan budak di kampung halaman. Ini adalah hadiah terindah para pejuang. Hadiah pengorbanan jiwa, raga juga nyawa.Buah kesabaran untuk sebuah tawa yang menjadi nyata dari para santri dan ulama untuk Indonesia.

Sekelumit kisah pengorbanan ulama dan santri untuk indonesia dan tercetusnya Hari Santri yang baru saja kita peringati. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu para ulama sangatlah penting bagi indonesia. Mereka tidak hanya duduk mengaji dan mengkaji kitab suci, tetapi merekapun berdiri tanpa  jeri melawan penjajah negeri.

Mereka tidak hanya salat puluhan rakaat, tetapi merekapun menjembatani kemerdekaan indonesia dengan tirakat. Padahal ulama adalah pemegang kekuasaan informal yang tugas utamanya adalah mendakwahkan agama dan mengajarkannya. Tapi dedikasi mereka kepada negara tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sedangkan pemegang kekuasaan formal adalah para umara. Lantas para umara yang seperti yang kita harapkan untuk indonesia? Yang bijaksana, yang bergaya ulama atau yang merakyat? Tetapi, adakah pemimpin yang adil dan bijaksana dizaman ini?

Bahwasannya, periodisasi pemimpin umat islam terbagi menjadi 4 masa. Masa yang pertama adalah masa Khulafa al-Rasyidin. Masa kedua yaitu Mulkan ‘Addlan yang artinya raja yang menggigit, para pemimpin atau khalifah pada masa ini masih menjadikan hukum islam (al-Quran dan Hadis) sebagai dasar pemerintah mereka.

Tetapi kebersamaan mereka terhadap hukum islam ini sebatas menggigit, bukan memegang dengan kokoh. Masa ini terjadi pada masa Daulah Bani Ummayyah dan berakhir pada masa Daulah Turki Utsmani.

Lalu masa yang ketiga yaitu Mulkan jabriyah yang artinya raja yang memaksa atau diktator. Pada masa ini benar-benar telah melepaskan islam dalam sistem pemerintahannya, atau mencampur adukkan antara hukum islam dengan hukum positif buatan manusia.

Jika kediktatoran negeri-negeri non muslim terjadi karena memang ideologi mereka bukan islam, maka lain lagi dengan negeri-negeri mulsim. Di negeri-negeri muslim mereka masih mengaku muslim, nama-nama mereka muslim, namun hakikat yang berjalan pada sistem pemerintahan mereka adalah jahiliyah. Kalaupun ada sebagian hukum islam yang diterapkan, maka itu hanya pada bagian ritual saja –undang-undang perdata- itupun dengan praktek yang kurang sesuai.

Periode ini ditandai dengan munculnya ideologi komunis dan marxisme di Rusia dan China atau ideologi fasis di Jerman. Sebutlah Stalin, Lenin, Karl Marx dan Adolf Hitler, julukan dictator telah melekat pada nama mereka dalam sudut-sudut buku sejarah dunia.

Di Indonesia bapak presiden Soeharto adalah nama yang sering dikait-kaitkan dengan kediktatoran pada masa ini. Selama 32 tahun memimpin tak tergantikan. Seakan ia adalah pemilik mutlak sebuah kekuasaan.

Sedangkan masa yang keempat yaitu Khilafah Ala Minhaj an-Nubuwwah, artinya kepemimpinan yang lurus, hal ini terjadi pada zaman kemunculan Nabi Isa As. Dan Imam Mahdi.

Keempat periodisasi ini adalah sabda Nabi Saw. Kepada satu-satunya Sahabat pemegang rahasia Rasulullah, Hudzaifah Bin Yaman.

Sekarang kita aplikasikan hadis tersebut dengan realita kehidupan sesungguhnya, yang menandakan bahwa kita berada pada masa periodisasi yang ke-3, Malkan Jabariyaah. Jika kita bandingkan sistem pemerintahan yang terjadi kini dengan yang telah dijelaskan diatas, maka terdapat banyak sekali persamaan.

Pemerintah yang telah dijejali dengan hukum-hukum buatan manusia dan praktek-praktek kehidupan berpolitik yang berliku tak karuan. Contoh yang dapat kita amati langsung adalah saat proses kampanye. Visi-Misi Paslon diteriakkan, janji-janji politik diumbar, benar-benar diumbar. Sebab janji adalah pesona. Diatas kertas atau dipinggir-pinggir jalan janji tidak punya pengaruh apa-apa. Tak ada sanksi hukum yang berarti. Yang terpenting adalah meraih kekuasaan negeri.

Toh dari seratus macam janji yang akan terpenuhi dan terasa oleh rakyat negeri hanya beberapa puluh persen saja. Padahal janji adalah ikatan yang hanya bisa dilepaskan dengan menepatinya. Dan janji adalah hutang yang harus dibayar dengan memenuhinya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh para ulama dan umara pada zaman ini, zaman yang telah disabdakan Nabi Saw. Akan terjadi. Ulama dan umara adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Mereka berdua harus selalu bergandengan menuju satu tujuan yakni kemaslahatan.

Imam Ghazali berkata “Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi sedangkan kekuasaan adalah penjaga atau pengawal. Apa-apa yang tidak ada pondasinya maka akan roboh. Apa-apa yang tidak ada penjaganya maka akan lenyap.”

Diantara keduanya tidak boleh ada rasa benci, apalagi iri akan kekuasaan yang dimiliki masing-masing pihak. Para umara harus memuliakan para ulama, karena ulama adalah guru mereka. Ulama yang masyhur maupun tidak, semua sama.

Mereka adalah pewaris ajaran yang dibawa nabi. Mereka mulia bukan karena kemasyhuran ataupun kekayaan yang mereka miliki. Mereka mulia karena ilmulah yang memuliakan mereka. Tidak ada ulama yang mengajarkan kesesatan. Sehingga umara tidak perlu repot-repot membuat daftar para ulama yang boleh didengar tausyiahnya oleh rakyat.

Karena ulama mengajarkan ajaran agama yang mengajarkan toleransi. Kesantunan, keramahan, membenci pengrusakan dan menganjurkan persatuan. Hal-hal inilah yang didengungkan para ulama kepada umara. Dengan retorika dakwah yang mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul dan mendidik bukan menghardik.

Jangan sampai ada rasa iri antar keduanya, karena hal tersebut akan menjadi virus yang jika masuk pada penguasa maka akan membuat kebijakannya menjadi belati bermata dua. Jika masuk dalam kalbu ulama akan membuat infeksi ilmunya. Dan niat akhirat yang lillah akan menjadi niat dunia yang linnas.Dengki itu juga akan mengundang saudaranya, kecongkaan, kejahatan serta dusta, fitnah dan bahkan perang saudara.

Adapun para ulama adalah penasehat para penguasa zaman ini. Karena umara hanyalah menduduki dan menjalankan pemerintahan yang sudah ada. Adapun kebijakan-kebijakan baru yang terjadi adalah tergantung kecerdasan, kecerdikan dan kearifan penguasa tersebut.

Kecintaan rakyat pada pemimpinnya tergantung sikap dan tutur katanya. Kepedulian ulama kepada pengusa tergantung pada akhlak dan keadilannya. Ulama sudah tentu umara, tapi umara belum tentu ulama. Karena ulama adalah pemimpin umat. Sedangkan umara adalah pemimpin rakyat.

Jika ada ulama yang menginginkan kedudukan sebagai umara maka ia berada dijembatan penentuan. Jika ia tetap bisa berakhlak dan beramal sebagaimana biasanya maka kemuliaan akan tetap tampak pada dirinya. Namun jika ia tersibukkan dengan kesibukan dunia dan mengurangi amaliah akhiratnya, maka seiring terperdayanya ia pada dunia tersebut, seiring itu pula kemuliaan akan luntur dari wajahnya.

Maka jika ulama menginginkan kemaslahatan negaranya, ia harus pandai-pandai menyetir umaranya, karena ulama adalah sebaik-baiknya penasehat umara. Mari berkaca pada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, selama kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, Khalifah Ali menjabat sebagai penasehat utama khalifah.

Maka secara tidak langsung, kesuksesan yang diraih oleh tiga khalifah sebelumnya adalah juga karena Khalifah Ali. Jadi dibalik kemaslahatan sebuah negara adalah karena nasehat para ulamanya. Dibalik kesuksesan seorang umara adalah karena kecintaan pada ulamanya.

Sejak Daulah Turki Utsmani gulung tikar dan masa periodisasi Mulkan Jabriyah menebarkan layangnya, sejak itulah propaganda yang mengadudomba islam dan pemerintah. pada tahun 1936 M Cristian Snouck Hurgronje mencetuskan politik devide et impera. Ia mencegah kelompok-kelompok kecil menjadi kelompok-kelompok yang lebih besar dan kuat. ia juga memecah belah kelompok-kelompok besar menjadi kelompok kecil.

Ia mengatakan; pecah kekuatan ulama dengan para bangsawan penguasa. Biarkan islam berkembang asalkan hanya pada ritual ibadahnya saja, namun segera berangus jika ada kekuatan islam politik. Sebab itu ancaman riil bagi pemerintahan.

Karena merutnya islam tidak bisa dikalahkan dengan serangan ofensif. Untuk menghancurkannya, pecah belah mereka dengan masalah kekuasaan, kesukuan, kelompok dan sekte. Serang kelompok-kelompok fanatik dengan budaya dan media maya.

Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal masa kepemimpinan zaman ini, hukum-hukum islam sedikit demi sedikit tergerus dari sistem pemerintahan. Lalu bagaimana sikap para ulama mengenai hukum pemerintahan pada masa ini.

Menurut Imam Taqiyuddin yang mengutip pendapat Imam Al-Ghazali ; keberadaan syarat-syarat secara utuh dan komprehensif adalah sulit bagi umat islam zaman sekarang. Karena sudah tidak ada mujtahid yang independen.

Dengan demikian rakyat harus merealisasikan dan mematuhi semua keputusan dan kebijakan yang telah ditetapkan penguasa meski penguasa tersebut bodoh atau fasik. Ini agar kepentingan dan kemaslahatan umat terpenuhi.

Senada dengan pendapat diatas. Sayyid abdurrahman bin Husein bin Umar Ba’alawy berpendapat, setiap tempat yang pernah dihuni oleh umat islam dengan nyaman dan aman, disatu masa dimana hukum-hukum dan keadilan dapat ditegakkan meski pemerintahannya fasik tetaplah harus patuh demi terjaganya kemaslahatan.

Jika para ulama melawan atau menentangnya, hal ini dapat menyulut timbulnya islam radikal atau bahkan terorisme. Dan ini akan menambah permasalahan bagi pemerintah. Karena terbentuknya kelompok-kelompok ini bersifat memberontak yang mengatasnamakan agama islam.

Para ulama dan umara haruslah saling bahu-membahu membentuk sebuah kepercayaan demi kemaslahatan. Sebab jika tidak ada kepercayaan maka yang akan terjadi adalah perpecahan dan kehancuran.

Seperti terbentuknya daulah Islam Iraq atau yang lebih kita kenal dengan Islamic State of Iran and Syiria oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Kelompok islam radikal ini melawan dan menjatuhkan rezim Bashar Asad dan Hafidh Asad di Suriah.

Ini hanya pandangan kecil yang kita lihat. Jika lebih lebar, sebenarnya ISIS adalah bentuk kerjasama antara Inggris, Amerika dan Israel. Untuk membentuk organisasi teroris. Kekuatan dunia bertemu dan mengadu seluruh kekuatan islam untuk dikubur di bumi Syam.

Beberapa pemimpin Timur Tengah yang jatuh akibat terbentuknya Islam radikal ini yaitu Rezim Ben Aly di Tunisia, rezim Husni Mubarak di Mesir, rezim Muammar Khadafi di Libya, rezim Ali Abdullah Salim di Yaman rezim Irak dan juga Afganistan.

Dan yang perlu digaris bawahi, bahwa semua kejadian ini setelah peristiwa 11 September 2001 di Amerika. Nama Osama bin Laden dan al-Qaeda ramai dibicarakan. Nama islampun dipertaruhkan. Semua kelompok islam tidak pernah mengakui melahirkannya.Tapi mata dunia menuding pada islam, dan ulama-ulama pesantren dituduh sebagai pelopor para teroris dunia.

Inilah mungkin yang akan terjadi jika ulama dan umara dalam satu negara tidak berjalan bersama. Banyaknya propaganda yang mengadu domba menjadi bayang-bayang perpecahan islam dan pemerintahan.

Karena pada kenyataannya kini banyak yang ingin benegara didalam negara. Berdemokrasi didalam demokrasi. Mereka menganggap bahwa politik pemerintahan adalah politik kotor yang dijalankan untuk membodohi rakyat melalui kekuasaan yang dimiliki penguasa.

Padahal pada kenyataannya zaman yang demikian telah ternas dalam hadis jauh sebelumnya. Maka, kini kemaslahatan suatu negara tergantung pada keharmonisan ulama dan umaranya. Berjalan beriringan melangkah bersama menapaki masa didetik-detik akhir masa dunia.

Dimana kepercayaan sangatlah dibutuhkan disaat banyak mata-mata mendelik tajam mencari celah kesalahan, untuk kemudian menjadikannya modal melakukan sebuah perlawanan hingga berujung pada sebuah kata perpecahan. Sehingga kata kemaslahatan hanya akan menjadi harapan yang tak pernah ada dalam genggaman.

 

_______________________

Oleh : Yulia Makarti

Asal : Sulawesi Tenggara

Kamar : Ar-Rayyan, P3TQ

Kelas : Umdah (Ula II)

 

Sebagai Juara Kedua Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra