Manusia, khususnya perempuan, mewarisi fitrah unik: keinginan untuk tampil indah. Dorongan naluriah untuk menyempurnakan penampilan adalah realitas hidup. Maka wajar jika di antara kita sering melihat perempuan membawa cermin ke mana-mana.
Sebagaimana Imam Al-Ghazali pernah menegaskan, jiwa kita menghargai dan mencintai keindahan. Islam sendiri menggarisbawahi hal ini melalui sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah Itu Indah dan Menyukai Keindahan (Kecantikan)” (HR. Muslim).
Namun, pertanyaannya adalah: Indah yang bagaimana?
Baca juga: Empat Kunci Kesempurnaan Laki-laki di Dunia Menurut Imam Syafi’i
Kebanyakan Orang Yang Memaknai Cantik Menurut Pandangan TikTok
Kesenangan naluriah pada keindahan hari ini menghadapi tantangan serius dari standar yang diciptakan oleh media. Realitas kontemporer menentukan ukuran kecantikan seseorang melalui lensa media massa, terutama di platform seperti TikTok. Media massa secara kolektif memberikan pengaruh besar kepada perempuan tentang cara mereka harus menampilkan kecantikannya.
Media menciptakan citra ideal: wajah glowing, rambut hitam lurus, kulit putih, dan tubuh langsing. Demi meraih idealisasi ini, banyak perempuan rela menahan lapar dan haus, menjalani olahraga melelahkan, bahkan mengeluarkan biaya tak sedikit untuk perawatan. Standar yang dihidangkan oleh media ini sering kali bersifat homogen, padahal sejatinya, standar kecantikan selalu berbeda di setiap waktu dan wilayah.
Kecantikan Relatif dan Objektif: Perdebatan Para Ulama
Diskusi mengenai penilaian atau standar kecantikan memang tidak akan pernah mencapai kata final. Para ulama terdahulu pun menyajikan pandangan yang beragam:
- Imam Ibn Hajar al-Haitami berpendapat bahwa kecantikan itu relatif, bergantung pada siapa yang melihatnya.
- Ulama lain, seperti Ibn Qosim dan Ar-Romli, mengatakan bahwa kecantikan itu tidak relatif, melainkan berdasar pada pandangan umum.
- Sementara itu, Imam Al-Ashmu’i memberikan gambaran spesifik: “Keindahan seorang perempuan terletak pada bola mata dan pipi, kecantikan terletak pada hidung, sedangkan manisnya seorang terletak pada bibirnya.”
[Hasyiyah al-Bujayrami al-Khatib (Damaskus: Dar al-Fikr 1995 m) 3/362.]
Terlepas dari perdebatan detail paras, Rasulullah SAW menawarkan sebuah definisi komprehensif yang melampaui fisik semata:
“Faidah terbaik yang didapatkan seorang setelah keislamannya adalah perempuan yang jelita, yaitu perempuan yang menyenangkan ketika dipandang, patuh saat diperintah, dan menjaga diri serta harta suaminya ketika tidak berada di sampingnya” (HR. Ibn Manshur).
Hadits ini secara eksplisit menyandingkan jelita (fisik yang menyenangkan) dengan kualitas akhlak dan integritas, menjadi pengantar penting bagi inner beauty.
Baca juga: Memahami Tiga Kategori Perkara Syubhat: Perkara Antara Halal dan Haram
Pesona Abadi: Inner Beauty dalam Pandangan Islam
Allah SWT memerintahkan agar manusia menggunakan pakaian yang indah di setiap masjid (Q.S. Al-A’raf [7]: 31), yang menggarisbawahi pentingnya penampilan luar yang baik. Namun, Islam menekankan bahwa keindahan sejati harus terletak di dalam jiwa, atau inner beauty. Inner beauty berarti kecantikan dari dalam, mencakup keindahan pikiran dan hati yang tidak terdeteksi secara instan.
1. Akhlak Mulia ( Akhlaqul Karimah )
Inner beauty yang paling utama termanifestasi dalam akhlak mulia (Akhlaqul Karimah). Akhlak mulia menuntut seseorang untuk menghargai orang lain, berkomunikasi secara sopan, dan memiliki empati.
Kisah Ummu Salamah menampilkan urgensi akhlak. Ketika ia bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai muslimah yang paling utama, beliau menjawab: “Yaitu perempuan yang baik akhlaknya dan cantik parasnya.” Dengan menyebutkan akhlak terlebih dahulu, Rasulullah SAW menandakan bahwa akhlak mulia merupakan sesuatu yang perempuan harus kejar sebelum yang lain.
[Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, Fiqh al-Mar’ah al-Muslimah, hal 73]
Baca juga: Apakah Spin Berbayar dalam Mobile Legends Halal? Jawaban Bahtsul Masail Pondok Mengejutkan!
2. Kesalehan dan Ketaatan Beribadah
Perempuan yang tekun beribadah dan berperilaku sesuai ajaran Islam, yang disebut perempuan salihah, memiliki derajat tinggi dan kecantikan yang lebih mendalam. Perempuan salihah selalu menjaga harta dan pribadinya, serta menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah. Allah SWT mengabadikan sifat ini dalam firman-Nya:
“Sebab itu maka perempuan-perempuan yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka).” (Q.S. An-Nisa [4]: 34)
Perempuan salihah menjaga kehormatan diri bahkan dari awal kesadaran (persepsi). Syaikh Mutawalli Al-Sya’rawi menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengajarkan perempuan untuk menjaga kehormatan diri bahkan sebelum perasaan dan keinginan itu timbul, meminta mereka menundukkan pandangan jika terpaksa keluar rumah. Islam menutup pintu pada tahapan awal idrak, agar tidak berujung pada kezaliman atau penindasan diri. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan baik laki-laki maupun perempuan untuk menjaga pandangan mereka (Q.S. An-Nur [24]: 30-31).
[Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, Fiqh al-Mar’ah al-Muslimah, hal 74-76]
Ketaatan kepada suami juga termasuk bagian penting dari kesalehan. Rasulullah SAW menyebutkan perempuan salihah sebagai sebaik-baiknya perhiasan dunia: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang salihah.” (HR. Muslim).
Lagi-lagi kisah Ummu Salamah. Di lain kesempatan beliau pernah bertanya kepada Nabi Muhammad perihal “Burung di angkasa, ikan di dalam samudera, malaikat di langit, dan hewan buas di sahara memintakan ampun untuk istri yang taat kepada suaminya”, yang disebutkan dalam sabda nabi kriteria istri yang bagaimana?, Nabi Muhammad pun menjawab: “Karena shalat, puasa, ibadah, dan ketaatan mereka kepada suami”.
[Ismail Haqqi bin Musthafa Al-Hanafi Al-Khalwati, Tafsir Ruhul Bayan, (Dar Ihya at-Turats Al-Arabi), juz 9, halaman 266]
Baca juga: Lafaz Mulia yang Disingkat: Apakah Masih Tetap Wajib Kita Muliakan?
Penutup
Standar glowing ala media sosial datang dan pergi seiring tren. Sebaliknya, standar kecantikan menurut Islam menawarkan sesuatu yang abadi: keindahan sejati yang menggabungkan paras menyenangkan dengan akhlak yang menawan hati. Seorang perempuan yang memadukan ketaatan beribadah, integritas diri, dan akhlak mulia—dialah mutiara tersimpan (lu’lu’il maknūn) yang memiliki pesona yang tidak lekang oleh waktu. Ia tidak hanya menarik mata, tetapi mengikat hati.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
