164 views

Sifat Tawakkal Seorang Pelajar

Para pelajar harus tawakal pada Allah dan tidak perlu cemas perihal rezeki. Seorang pelajar tidak semestinya menyibukkan diri untuk memikirkan urusan rezeki. Semua itu Allah sudah mengaturnya. Tugas utama dalam hal ini adalah tawakal.

Tawakal berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya pada Allah dalam menghadapi hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Imam al-Ghazali mendefinisikan tawakal sebagai berikut, “Tawakkal ialah menyandarkan pada Allah SWT tatkala menghadapi suatu kepentingan. Bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran. Teguh hati tatkala ditimpa bencana, disertai jiwa yang tenang dan hati yang tentram.”

Abu Hanifah meriwayatkan sebuah hadis dari Abdullah bin Hasan Az-Zubaidi. Sahabat rasul berkata, “Barangsiapa memperdalam ilmu agama, maka ia dicukupi oleh Allah. Dan dia pasti diberi rezeki oleh Allah dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa sibuk memikirkan soal rezeki, yakni makanan dan pakaian. Maka jarang sekali ia memikirkan akhlak yang mulia, dan hal-hal yang tinggi nilainya.”

Dalam Ta’lim Muta’alim bahkan disebutkan, bahwa tidak selayaknya seseorang yang memiliki akal, cemas akan urusan dunia. Sebab risau dan merasa susah itu tidak dapat mengusir musibah, dan tak ada gunanya. Dan seorang muslim, seharusnya memikirkan akhirat yang jauh lebih bermanfaat.

Kisah Penuntut Ilmu

Seorang penuntut ilmu seharusnya tidak menyibukkan diri kecuali hanya menuntut ilmu. Dalam hal ini ilmu fikih adalah yang utama. Syeikh Muhammad berkata :

إنّ صناعتنا هذه من المهد الى اللحد، فمن أراد ان يترك علمنا هذا ساعة فليتركه ساعة

“Pekerjaan kami ini (menuntut ilmu), dimulai sejak ayunan sampai ke liang kubur. Oleh karena itu, orang yang berhenti mencari ilmu sesaat saja maka dia telah mati sesaat.”

Suatu ketika, ada orang ahli fikih menghadap Syeikh Abi Yusuf. Namanya adalah Ibrahim Al-Jarrah, dia datang untuk menjenguk Abi Yusuf yang sedang sakit yang menyebabkan wafatnya beliau. Kemudian beliau bertanya pada Syeikh Ibrahim, “Mana yang lebih utama, melempar jumrah sambil mengendarai unta, atau sambil berjalan kaki?” Syeikh Ibrahim tidak bisa menjawabnya.

Kemudian, Syeikh Abi Yusuf menjawab sendiri bahwa melempar jumrah sambil berjalan kaki lebih dicintai oleh nabi dan sahabatnya. Begitulah seorang ahli fikih. Selalu mencurahkan seluruh waktunya untuk mengkaji hukum-hukum agama. Kalau yang diperbuat demikian, tentu dia akan mendapatkan kenikmatan yang besar.

Baca Juga : Valentine Day dalam Tinjauan Fikih Islam

Ikuti Pengajian Kitab Mizan Al-Kubro

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.