Tag Archives: Gedongan

Sekelumit Masa Kecil KH. Mahrus Aly

KH, Mahrus Aly, yang bernama kecil Rusydi, di masakecil terkenal sangat pemberani. Ketika umurnya menginjak usia enam tahun, ia sudah minta dikhitan. Padahal umumnya anak sekitarnya baru berani dikhitan di usia delapan tahun. Selang beberapa waktu, keistimewaannya yang lain mulai nampak ke permukaan. Ia memiliki sifat kepemimpinan di antara teman-teman bermainnya. Rusydi selalu dijadikan sebagai pemimpin karena dianggap mampu menyelesaikan masalah, di samping ia juga seringkali menjuarai berbagai hal yang amat disukai teman-temannya.

Namun, sifat keberanian Rusydi seringkali membuat khawatir keluarganya. Suatu hari, Rusydi berjalan-jalan dengan teman-temannya. Ia melihat sepeda yang diparkir di pinggir sawah yang tak jauh dari rumahnya. Tanpa pikir panjang, Rusydi mengendarai sepeda itu dan dibawa berputar ke mana-mana. Ternyata sepeda itu milik mandor tebu, seorang Belanda yang pada waktu itu paling ditakuti.

Pernah pula, Rusydi bersepeda dari Indramayu hingga Gedongan, Cirebon seorang diri. Padahal jaraknya 68 km, cukup jauh bagi anak sekecil dia. Sesampai di rumah, Rusydi menjelaskan kepada ibunda bahwa sepeda yang dibawanya adalah milik Kyai Mukhtar, kakaknya. Kyai Mukhtar kemudian merelakan sepeda itu untuk adiknya, walau jenis sepeda ini tergolong elit di zaman itu.

Di samping gemar bersepeda, Rusydi kecil juga amat senang bermain sepak bola. Ia biasa bertindak sebagai penyerang. Namun, ini tidak berarti masa kecil Rusdi hanya dihabiskan dengan bermain. Ia dikenal sangat rajin belajar dan giat membantu tugas yang biasa dikerjakan oleh ibunda. Bahkan, tak jarang ia ikut menggembala kerbau bersama khodim ayahnya, Kyai Ali, di sawah yang jauh dari rumahnya.

Di kalangan teman-temannya, Rusydi dikenal memiliki sifat sakha (dermawan). Ia paling tidak suka dengan orang bakhil. Kalau sedang memiliki uang lebih, ia mengajak kawan-kawannya ke warung  dan mengambil apapun yang ada di sana. Seringkali, ia secara sirri (diam-diam) memberi makanan, pakaian bahkan uang kepada santri dan anak desa Gedongan yang dianggap membutuhkan. Kebiasaan ini pernah mendapat teguran dari Bilal, kakaknya. Namun sang ibunda justru merestui kegemaran Rusydi ini. “Biarkan, jangan dilarang. Itu sedekah orang tua,” ujar ibunda kepada Bilal.

Beliau lahir sekitar tahun 1906 M. di Gedongan, Cirebon, dan wafat pada 26 Mei 1985 M./06 Ramadan 1405 H. Semoga Allah swt. merahmati beliau. Amin.

 

*dikutip dari buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Fenomena dan Legenda, dengan perubahan seperlunya.

Peran Kiai Meneguhkan Kedaulatan RI

Jauh sebelum Kiai Mahrus diamanati menjadi anggota Musytasyar Pengurus Besar NU, hasil muktamar NU yang ke-27 di Situbondo pada tahun 1984 M, peran serta kiai mahrus dalam NU sudah dimulai, seperti waktu mengadakan kongres Nu se-Jawa dan Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 dalam menghadapi kedatangan NICA yang ingin merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kiai Mahrus beserta iiai yang lain diantaranya kiai-kiai dari Jawa barat, seperti; Kiai Abbas Buntet, Kiai Syatori Arjawinangun, Kiai Amin Babakan Ciwaringin, dan Kiai Suja’i Indramayu mengadakan forum musyawarah untuk menentukan sikap.

Rapat darurat ini dipimpin oleh kiai Wahab Hasbulloh dan menemukan titik temu pada 23 oktober di forum musyawaroh NU. Hadratus syaikh KH. Hasyim Asya’ri atas nama HB [pengurus besar] organisasi Nu mendeklarasikan sebuah seruan Jihad Fi-sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah Resolusi Jihad.

Pesantren dalam konteks buku sejarah Nasional Proporsi yang diberikan pada kurikulum sejarah pengajaran belumlah banyak berpihak pada sejarah pesantren. Apresiasi justru dari pihak sipil, sebagai contoh kecil datang dari Prof. Mansur Suryanegara (sejarawan) yang telah banyak mengulas perjuangan para santri dan kiai tempo dulu dalam memperjuangkan NKRI.

Kita ketahui bersama 10 november dijadikan sekaligus diperingati sebagai hari pahlawan Nasional. Dibalik penetapan itu telah banyak korban yang menjadi Syuhada adalah para Kiai  dalam membentuk barisan tentara Hizbullah (Laskar Santri) dan sabilillah (laskar Kiai) kedua laskar ini didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang dan mendapat kemiliteran di Cibarusah, Kab. Bekasi Jawa Barat.

Dari sini terdapat suatu keterkaitan dari teks utuh resolusi BAB MEMUTUSKAN, yang telah disepakati pada Muktamar NU ke, 16 Di Purwoketo ‘’Berperang menolak dan melawan penjajah itu Fardlu ‘Ain [yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang islam,laki-laki, perempian, anak-anak, bersenjata atau tidak] bagi orang yang serada dalam jarak lingkungan 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.’’

Hizbullah dan Sabilillah adalah laskar rakyat paling kuat yang pernah hidup di bumi Indonesia, meskipun disisihkan dalam sejarah. Dalam hal ini, kekuatan santri yang tersatukan dalam wadah perjuangan laskar rakyat Hizbullah dan Sabilillah untuk para kiyai ikut andil dalam perjuangan fisik peristiwa 10 november 1945. Laskar ini telah mendapatkan motivasi dari para kiyai kemudian diberangkatkan ke Surabaya.

Para laskar ini berkumpul dan dipusatkan di Singosari, dengan bersenjatakan bambu runcing, katapel, dan senjata tajam. Kekuatan yang tak sebanding, tepat pada tanggal 10 november 1945, pagi-pagi sekali tentara inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran, dengan kekuatan persenjataan yang dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang berbagi bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi buta dengan meriam dari laut dan darat. Arek-arek suroboyo pun berkobar di seluruh kota tanpa terkecuali heroisme jihad dari kiai dan santri, dengan bantuan aktif dari penduduk. Ribuan penduduk yang tak berdosa menjadi korbannya.

[ads script=”1″ align=”center”]

Urgensi Penulisan Ulang Sejarah

Sebagai wujud untuk menciptakan Indonesia yang berdaulat, kiranya semua element masyarakat berpadu bahu membahu bersatu. Mustahil hal ini tercapai bila perjuangan dijalankan menurut kemauannya sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Bung Karno ”kuat karena bersatu, bersatu karena kuat”.

Dalam hal ini pesantren mengambilperan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia, seperti laskar Hizbullah yang didirikan pada 4 Desember 1944, inisiatif dari KH. Wahid Hasyim untuk melatih para pemuda pesantren sebagai tentara regular. Setahun sebelumnya tanggal 03 oktober 1943 atas usulan para ulama, PETA (pembela tanah air) didirikan. Niat dan tujuan para ulama untuk membentuk PETA adalah membangkitkan kembali sifat keprajuritan pemuda Indonesia untuk tetap konsisten memerangi, melawan, dan mengusir kaum penjajah dari muka bumi Indonesia.

Dari pada itu kita sebagai pemuda berkelanjutan (masa depan) sepatutnya untuk lebih peka lagi dalam mempelajari, mewacanakan, menganalisis akan peran kiai pesantren dalan berdiri tegaknya NKRI. Penulis meyakini walaupun belum meneliti secara langsung, hak sejarah pesantren dalam hal ini perjuangan kiai dan santri belum banyak diekspos secara transparan.

Untuk itu tugas kita (baca: santri) bersama untuk lebih mengenali akan perjuangan para kiai, paling tidak untuk ukuran sederhananya mengetahui bahwa kiyai-kiyai pesantren adalah seorang pejuang yang pada masanya tidak hanya berkutat pada kitab semata. Sinkronisasi antara kealiman dan keagamaannya dan mempunyai jiwa nasionalisme wujudkan Indonesia yang bermartabat. Muamir