Kisah Abu Lahab menarik untuk disimak dalam pembahasan tentang kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Meski dikenal sebagai penentang dakwah Rasulullah dan telah disebut sebagai penghuni neraka dalam Surah al-Masad, sejumlah riwayat menyebutkan bahwa azabnya diringankan setiap hari Senin karena memerdekakan Tsuwaibah saat mendengar kelahiran Nabi Saw. Lantas, bagaimana para ulama memahami kisah tersebut?
Baca juga: Akibat Nazar untuk Memperingati Maulid, Pemuda ini Terbebas dari Hukuman
Nama lengkap Abu Lahab
Menurut Syaikh Thahir bin Asyur, Abu Lahab memiliki nama lengkap Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthallib. Ia merupakan paman Nabi dari jalur ayah. Sedangkan dinamakan Abu Lahab karena ketampanan dan membara wajahnya seperti api. (Muhammad al-Tahir bin Muhammad bin Muhammad al-Tahir bin ‘Asyur at-Tunisi, at-Tahrir wa at-Tanwir, jilid 30 [Tunisia: ad-Dar at-Tunisiyyah li an-Nasyr, 1984], hlm. 601.)
Kisah ini masyhur sebagaimana hadits dalam kitab Shahih Bukhari.
قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
“Urwah berkata:Tsuwaibah adalah seorang budak perempuan milik Abu Lahab. Abu Lahab kemudian memerdekakannya, lalu Tsuwaibah menyusui Nabi Muhammad Saw. Setelah Abu Lahab meninggal, salah seorang keluarganya melihatnya dalam keadaan yang sangat buruk. Ia bertanya, ‘Apa yang telah engkau alami?’ Abu Lahab menjawab, ‘Aku tidak mendapatkan apa-apa setelah kalian, kecuali aku diberi minum melalui ini’—sambil menunjuk ibu jarinya ‘karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah.’” (HR. Imam Bukhari).
Baca juga: Bilal bin Rabah dan Azan yang Membuat Madinah Menangis
Kisah lengkap
Lebih lengkap, Syaikh Al-Jazari dalam Jāmi’ al-Uṣūl fī Aḥādīt ar-Rasūl meriwayatkan bahwa:
قَالَ عُرْوَةُ: «وَثُوَيْبَةُ مَوْلَاةُ أَبِي لَهَبٍ. وَكَانَ أَعْتَقَهَا حِينَ بَشَّرَتْهُ بِمِيلَادِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. فَأَرْضَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ كَافِرًا، رَآهُ الْعَبَّاسُ فِي الْمَنَامِ بَعْدَمَا أَسْلَمَ الْعَبَّاسُ بِشَرِّ حِيبَةٍ، فَقَالَ لَهُ: مَاذَا لَقِيتَ؟ قَالَ: لَمْ أَلْقَ خَيْرًا بَعْدَكُمْ، غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ -أَوْ قَالَ: أُسْقَى فِي هَذِهِ، يَعْنِي: نُقْرَةَ إِبْهَامَيْهِ- كُلَّ لَيْلَةِ اثْنَيْنٍ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ».
Abu Lahab memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, setelah mendapat kabar kelahiran Rasulullah Saw. Setelah Abu Lahab meninggal dalam keadaan kafir, Abbas bin Abdul Muthalib bermimpi bertemu dengannya. Abu Lahab mengaku tidak memperoleh kebaikan setelah kematiannya, kecuali diberi minum setiap hari Senin karena memerdekakan Tsuwaibah saat mendengar kelahiran Nabi Saw. (Al-Mubārak bin Muḥammad Ibn al-Atsīr al-Jazarī, Jāmi‘ al-Uṣūl fī Aḥādīts ar-Rasūl, jil. 11, hlm. 476.)
Baca juga: Saat Semua Orang Terlelap, Satu Pertanyaan Ini Menggagalkan Sebuah Maksiat
Gubahan Syair oleh Syaikh Ibnu Nasir ad-Din
Oleh karena itu, dengan adanya kisah tersebut, tidak sedikit ulama yang menegaskan bahwakegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. merupakan perkara yang memiliki dasar dalam syariat. Bahkan, ungkapan kegembiraan tersebut dapat menjadi sebab datangnya rahmat dan kebaikan, selama diwujudkan dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariat.
Salah satunya adalah Syaikh al-Hafiz Ibn Nasir ad-Din yang menggubah sebuah syair dalam kitabnya yang berjudul Wird ash-Shadi fi Maulid al-Hadi.
إذَا كَانَ هَذَا كَافِرًا جَاءَ ذَمُّهُ … وَتَبَّتْ يَدَاهُ فِي الْجَحِيمِ مُخَلَّدَا
أَتَى أَنَّهُ فِي يَوْمِ الِاثْنَيْنِ دَائِمًا … يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُورِ بِأَحْمَدَا
فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي كَانَ عُمْرُهُ … بِأَحْمَدَ مَسْرُورًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا
“Jika orang kafir ini, yang celaannya telah disebutkan dan kedua tangannya binasa, kekal di dalam neraka Jahim,
namun diriwayatkan bahwa setiap hari Senin azabnya senantiasa diringankan karena kegembiraannya terhadap kelahiran Ahmad.
Lantas, bagaimana menurutmu dengan seorang hamba yang sepanjang hidupnya bergembira karena kelahiran Ahmad dan meninggal dalam keadaan bertauhid?” (Abdul Hamid al-Syarwani, Hawasyi al-Syarwani wa Ibnu Qasim al-Ubbadi, [Beirut: Darul Fikr, 2019], jilid VII, hal. 495).
Baca juga: Perempuan yang Selalu Berbicara Menggunakan Ayat Al-Quran
Penutup
Dengan demikian, kisah Abu Lahab menjadi salah satu gambaran bahwa kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. memiliki nilai tersendiri, meskipun hal tersebut harus kita wujudkan dengan cara yang sesuai dengan tuntunan syariat. Bagi seorang Muslim, kecintaan kepada Rasulullah Saw. semestinya menjadi dorongan untuk memperbanyak syukur, selawat, dan amal kebajikan.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
