Tulisan ini menjelaskan tentang besarnya keberkahan, ampunan, dan pertolongan Allah swt. bagi hamba-hamba-Nya yang mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad saw. (Maulid Nabi).
Melalui dua kisah pemuda yang tertuang dalam kitab klasik, kita bisa memetik pelajaran betapa kasih sayang dan cinta kepada Rasulullah saw. mampu mengubah kehinaan menjadi kemuliaan, serta menghapus kesulitan hidup yang teramat berat. Mari kita simak khutbah berikut:
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Baca juga: Khutbah Jum’at: Keutamaan Umat Nabi Muhammad
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya yang begitu luas kepada kita. Namun, pernahkah kita merenungi, siapakah rahmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada semesta alam ini? Tidak lain dan tidak bukan, beliau adalah Nabi kita Tercinta, Nabi Muhammad saw. Keberadaan kita sebagai umatnya adalah nikmat yang amat agung. Lantas, sudahkah hati kita dipenuhi rasa gembira dan cinta atas kehadiran beliau di muka bumi ini?
Dalam kitab I’ānatu at-Thālibīn, Syekh Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi mengisahkan dua cerita penuh hikmah tentang bagaimana keberkahan mengagungkan Maulid Nabi SAW sanggup membalikkan keadaan manusia.
Baca juga: Khutbah Jum’at: Keutamaan Bulan Maulid
Kisah Pertama: Pemuda Basrah dan Pintu Ampunan
Di zaman Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid, hidup seorang pemuda di Kota Basrah yang bergelimang dosa dan melampaui batas. Masyarakat setempat memandangnya dengan pandangan hina akibat perbuatan-perbuatannya yang buruk. Namun, tahukah hadirin apa yang terjadi setiap kali bulan Rabi’ul Awwal tiba?
Seketika memasuk bulan kelahiran Nabi kita Tercinta, pemuda ini membersihkan pakaiannya, memakai wewangian, berhias rapi, membuat hidangan pembacaan Maulid Nabi SAW, dan mengundang orang-orang untuk membacakan kisah kelahiran Rasulullah SAW. Hal itu ia lakukan secara istiqamah setiap tahunnya.
Ketika pemuda itu wafat, penduduk kota Basrah dikejutkan oleh suara tanpa rupa (biasa disebut dengan hātif) yang menyeru:
اِحْضَرُوا يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ وَاشْهَدُوا جَنَازَةَ وَلِيٍّ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ فَإِنَّهُ عَزِيزٌ عِنْدِي
“Wahai penduduk Basrah, hadirilah dan saksikanlah jenazah wali di antara wali-wali Allah! Sesungguhnya ia sangat mulia di sisi-Ku.”
Masyarakat yang tadinya memandang hina gempar lalu berbondong-bondong mengantarkan jenazahnya. Tak lama kemudian, ia terlihat dalam mimpi sedang mengenakan pakaian surga yang amat indah dari sutra halus dan sutra tebal.
Ketika ditanya, “Dengan apa engkau memperoleh kemuliaan ini?” Ia menjawab: “Dengan sebab mengagungkan Maulid Nabi SAW.”
Subhanallah! Bukankah ini bukti betapa luasnya rahmat Allah? Pemuda yang dipandang hina oleh manusia, justru diangkat menjadi kekasih Allah hanya karena di dalam dadanya masih tersimpan keagungan dan penghormatan terhadap Sang Nabi.
Kisah Kedua: Pemuda Syam dan Kebesaran Berkah
Kisah kedua terjadi pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Seorang pemuda tampan di Syam sedang menunggangi kudanya. Tiba-tiba kencanglah lari kuda tersebut hingga tak terkendali dan membawanya melintasi pintu istana sang Khalifah. Tanpa sengaja, kuda itu menabrak putra Khalifah hingga meninggal dunia.
Bisa kita bayangkan betapa gentingnya situasi pemuda tersebut. Amarah Khalifah memuncak dan hukuman mati sudah di depan mata.
Dalam kondisi yang sangat mencekik itu, apa yang terlintas di dalam hatinya? Pemuda itu berjanji dalam hati: “Jika Allah menyelamatkanku dari musibah besar ini, aku akan membuat jamuan makan yang besar untuk pembacaan Maulid Nabi saw.”
Ketika pemuda itu dihadapkan ke depan Khalifah yang tadinya dipenuhi amarah, seketika raut wajah Sang Khalifah berubah lunak dan malah tersenyum.
Khalifah bertanya, “Apakah engkau menguasai sihir?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Amirul Mukminin.” Khalifah lalu berkata, “Aku telah memaafkanmu, namun katakan padaku apa yang baru saja engkau ucapkan dalam hatimu?”
Pemuda itu menceritakan bernazar mengadakan majlis Maulid Nabi saw. jika diselamatkan. Sang Khalifah pun membalas: “Aku telah memaafkanmu, dan ini uang seribu dinar untuk penyelenggaraan Maulid Nabi SAW, serta engkau dibebaskan dari tuntutan darah anakku.”
Masya Allah! Hukuman mati berubah menjadi ampunan dan hadiah ribuan dinar, semua itu terjadi berkat keberkahan niat mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Khutbah Jumat: Mengapa Orang Dengki Tak Akan Pernah Berjaya?
Hadirin rahimakumullah,
Jika terhadap pemuda yang berbuat dosa dan pemuda yang tertimpa musibah saja Allah berikan kemuliaan serta jalan keluar berkat keagungan Nabi-Nya, lantas bagaimana dengan kita?
Apakah kita masih ragu untuk membasahi lidah kita dengan terus bershalawat? Apakah kita masih enggan menafkahkan sebagian harta dan waktu kita untuk mensyukuri kehadiran Beliau? Padahal, bukankah karena beliaulah jasad dan roh kita diciptakan serta dilimpahi rahmat?
Maka dari itu, marilah kita jadikan momen peringatan dan pembacaan kisah Nabi Muhammad SAW sebagai pemicu untuk semakin memperbanyak tobat, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah, memperbaiki akhlak, serta bersyukur atas rahmat Allah yang maha luas.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى. وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ. مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن.
Baca juga: Khutbah Jumat: Ketaatan, Kebaikan dan Pengaruhnya dalam Jiwa Manusia
Referensi:
Abu Bakar (Al-Bakri) Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi asy-Syafi’i,I‘ānatu at-Thālibīn ‘alā Ḥalli Alfāẓi Fat-ḥil Mu‘īn (Beirut: Dar al-Fikr) Vol. 3, hal. 415.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
