Akhlak Mencintai Rasulullah: Belajar dari Abdullah bin Umar

kisah abdullah bin umar

Pada Majelis Sholawat Kubro yang digelar di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis Legi, 3 Dzulhijjah 1446 H/29 Mei 2025 M, Agus Dahlan Ridlwan — salah satu mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) Lirboyo — menyampaikan sebuah kisah tentang Abdullah bin Umar, putra Sayyidina Umar bin Khattab. Kisah tersebut menggambarkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw tidak cukup diwujudkan lewat ucapan semata, melainkan harus tercermin dalam akhlak dan perbuatan.

Ngidam di Tengah Sakit

Kisah bermula saat Abdullah bin Umar jatuh sakit cukup parah. Dalam kondisi itu, ia sangat menginginkan satu hal: ikan bakar. Bayangan tentang makanan tersebut terus terngiang dalam pikirannya.

Keinginan ini tidak mudah diwujudkan. Abdullah bin Umar tinggal di Madinah, kota yang jauh dari laut — berbeda dengan daerah pesisir yang mudah menemukan penjual ikan bakar.

Baca juga: Kisah Syaikhona Kholil Nyantri ke Mbah Hasyim Asy’ari

Setelah beberapa waktu berangsur sembuh, keinginannya akan ikan bakar itu masih membekas. Ia pun meminta khadimnya mencari makanan tersebut, dan akhirnya berhasil didapatkan dalam keadaan masih hangat lalu dihidangkan di hadapannya — aromanya harum, menggugah selera, tepat saat perutnya lapar dan keinginannya memuncak.

Ketukan di Pintu Abdullah bin Umar

Namun, tepat ketika Abdullah bin Umar hendak mencicipi ikan bakar tersebut, terdengar ketukan di pintu. Seorang pengemis datang meminta bantuan.

Kondisi serba kekurangan bukan hal asing di kalangan para sahabat Nabi. Tidak jarang sebuah rumah sama sekali tidak memiliki makanan untuk diberikan kepada orang lain. Pada saat itu, satu-satunya makanan yang dimiliki Abdullah bin Umar adalah ikan bakar yang baru saja tersaji — makanan yang telah lama ia idamkan sejak sakit.

Baca juga: Kisah Mbah Karim Sebrangi Selat Madura demi Menimba Ilmu

Meski demikian, Abdullah bin Umar memilih mengalahkan keinginannya sendiri. Ia memerintahkan khadimnya untuk memberikan ikan bakar tersebut kepada sang pengemis.

Sang khadim terkejut dan tidak habis pikir: mengapa makanan yang begitu diidam-idamkan, setelah berhasil didapatkan, justru diberikan kepada orang lain?

Landasan dari Al-Qur’an

Beliau menjawab dengan mengutip firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Yang bermakna, seseorang tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sampai ia mau memberikan sesuatu yang paling dicintainya kepada orang lain.

Baca juga: Kisah Mbah Karim dan Mbah Nyai Dlomroh

Bagi Abdullah bin Umar, ikan bakar saat itu adalah sesuatu yang paling ia inginkan. Namun kecintaannya kepada Allah membuatnya mampu mengalahkan keinginan pribadi demi memberi kepada yang membutuhkan.

Cinta yang Terwujud dalam Perbuatan

Menurut Agus Dahlan Ridlwan, sikap Abdullah bin Umar ini menjadi gambaran nyata bagaimana para sahabat Rasulullah saw tidak hanya memahami ajaran agama secara teori, tetapi juga mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Itulah, menurutnya, wujud akhlak yang sesungguhnya diajarkan oleh Rasulullah saw.

Beliau juga menegaskan:

“Itu real mencintai Rasul itu ya itu. Itu real orang yang mencintai sholawat. Bukan senior-senior yang membuli juniornya. Bukan orang yang suka merundung juniornya. Memalak adik-adiknya. Apalagi dilakukan di pesantren. Di tempat lain enggak boleh. Apalagi di pesantren.”

Baca juga: Ketakutan Mbah Karim terhadap Uang Bisyaroh

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang seseorang yang memberikan makanan kepada pengemis. Di dalamnya terkandung pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian kepada sesama, dan kemampuan mengalahkan keinginan diri demi mendapatkan ridha Allah — sekaligus pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw seharusnya melahirkan keinginan untuk meneladani akhlak beliau, bukan berhenti pada lisan semata.

Akhlak mulia semacam inilah yang semestinya juga terwujud dalam relasi sehari-hari antarsantri, termasuk antara senior dan junior. Sebagaimana yang beliau ingatkan dalam kesempatan yang sama:

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses