Menurut Ibnu Khaldun, kesejahteraan bukan sekadar tentang kemakmuran materi, tetapi tentang harmoni sosial dan spiritualitas. Ia menyebut konsep ini sebagai ‘umran—yakni peradaban yang tumbuh dari kerja sama (ta‘āwun) dan keadilan (‘adl). Keduanya menjadi fondasi bagi keberlangsungan hidup manusia.
Baca juga: Makna dan Peristiwa Penting di Bulan Jumadil Awal
Pandangan Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun menulis:
وإذا كان التعاون حصل له القوت للغذاء والسلاح للمدافعة، وتمّت حكمة الله في بقائه وحفظ نوعه، فإذن هذا الاجتماع ضروريّ للنّوع الإنسانيّ، وإلّا لم يكمل وجودهم وما أراده الله من اعتمار العالم بهم واستخلافه إيّاهم. وهذا هو معنى العمران الّذي جعلناه موضوعًا لهذا العلم
“…Dengan kerja sama, manusia memperoleh makanan untuk kehidupannya dan senjata untuk mempertahankan diri. Maka sempurnalah hikmah Allah dalam menjaga kelangsungan hidup mereka. Karena itu, kehidupan bersama merupakan kebutuhan mutlak bagi manusia. Tanpanya, keberadaan mereka tidak akan sempurna dan tidak akan terwujud maksud Allah untuk membangun dunia melalui mereka dan menjadikan mereka khalifah di bumi.”
[Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981), jilid I, hlm. 55]
Baca juga: Tahun Baru Hijriah: Sejarah, Penetapan, dan Makna Hijrah
Dari pandangan ini, jelas bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri. Ia butuh orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, keamanan, dan perlindungan. Kerja sama sosial inilah yang membangun peradaban yang aman, teratur, dan sejahtera.
Oleh karena itu, dalam konteks modern, kesejahteraan sosial mencakup terpenuhinya kebutuhan dasar—pangan, kesehatan, keamanan, serta sistem sosial yang adil. Tanpa kesejahteraan sosial, cita-cita Allah menjadikan manusia sebagai khalīfah fī al-ardh tak akan terwujud.
Baca juga: Hari Santri Nasional: Mari Renungkan Perjuangan Pesantren Lirboyo di Masa Penjajahan
Kebun Kehidupan: Pandangan Ibnu Khaldun dan Aristoteles
Di lain sisi, Ibnu Khaldun juga mengutip pandangan Aristoteles tentang kesejahteraan. Ia mengibaratkan dunia seperti sebuah kebun—yang hanya akan subur bila seluruh elemennya saling menopang: negara, pemimpin, rakyat, dan keadilan.
العالم بستان سياجه الدّولة، الدّولة سلطان تحيا به السّنّة، السّنّة سياسة يسوسها الملك، الملك نظام يعضده الجند، الجند أعوان يكفلهم المال، المال رزق تجمعه الرّعيّة، الرّعيّة عبيد يكنفهم العدل، العدل مألوف وبه قوام العالم، العالم بستان.
“Dunia ini bagaikan kebun, dan pagar pelindungnya adalah negara. Negara adalah kekuasaan yang menghidupkan syariat. Syariat ia jalankan melalui kebijakan sang raja. Raja ditegakkan oleh tentara. Tentara dijamin oleh harta. Harta dikumpulkan dari rakyat. Rakyat dilindungi oleh keadilan. Keadilanlah yang membuat dunia tegak. Maka dunia ini bagaikan kebun yang harus dirawat.” [Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, jilid I, hlm. 51]
Baca juga: Biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Wafatnya Sang Quthb al-Ghauts
Gambaran kebun
Kebun ini akan tumbuh subur hanya jika dijaga dengan keadilan. Negara menjadi pagar pelindung, pemimpin sebagai pengatur, tentara sebagai penjaga, rakyat sebagai sumber kehidupan, dan keadilan sebagai air yang menumbuhkan semuanya. Tanpa keadilan, seluruh sistem akan layu.
Dan kesejahteraan sejati adalah hasil dari sinergi kolektif antara kekuasaan, keadilan, dan kerja sama sosial.
Dengan demikian, kesejahteraan bukan hanya tentang kaya bersama, tapi juga tenang bersama. Ia adalah buah dari keadilan, solidaritas, dan spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





