Tag Archives: kisah cinta aisyah

Malaikat Maut Saja Heran dengan Takdir Kematian

Kematian masih saja menjadi misteri ilahi dan harus terus seperti demikian, karena kalau tidak, manusia akan berbuat sekenaknya, setelah ia tahu bahwa detik-detik kematian akan tiba, baru kemudian ia bersungguh-sungguh taubat kepada Tuhan. Tidak seru lagi. Kondisi, kapan terjadi dan ditempat mana, pun sama sekali makhluk tidak diberi bocoran.

Sebuah kisah menggelitik terjadi waktu Nabi Sulaiman As. sedang berkumpul dengan para pengikutnya, beliau dirubung. Sesaat kemudian dari kejauhan nampak seseorang yang dengan serius menatap tajam salah satu orang yang ada disekitar Nabi Sulaiman.

Yang ditatap merasa risih dan gerah, kenal saja tidak tapi pandangannya begitu menusuk. Lama kelamaan karena sudah tidak betah dipandangin terus, orang ini bertanya kepada Nabi Sulaiman.

Wahai Nabi Allah, siapa gerangan orang yang disana itu, ia sedari tadi mengawasiku” ujar orang tersebut.

ia Malaikat Maut” tukas Nabi Sulaiman enteng. Mendengar jawaban yang mengerikan ini orang tadi gemeteran.

kalau begitu, ia menghendakiku? (untuk dicabut nyawanya) Nabi Sulaiman mengiyakan. Tambah menjadi-jadi kengerian yang dirasa olehnya.

kalau seperti itu. Tolong wahai Nabi engkau perintahkan angin agar ia menerbangkanku ke Hindia” pinta orang ini. tanpa keberatan Nabi Sulaiman mengabulkan permohonannya. Dengan kecepatan super, anginpun membawa orang tersebut kenegara yang dipinta.

Setelah orang ini pergi, Nabi Sulaiman bertanya pada Malaikat Maut “Malaikat Maut, kenapa engakau memandanginya dengan serius lagi tajamtadi?”

aku mengawasinya karena aku sendiri heran” jawab Malaikat Maut

“heran kenapa?”

aku ditugaskan Tuhan untuk mencabut nyawanya di Negara Hindia. Namun aku menjumpainya tadi ada didekatmu (Palestina) ini membuatku heran” setelah berkata demikian Malaikat Maut bergegas pergi menuju Hindia untuk melanjutkan tugasnya tadi. [ABNA]

Rasulullah, Khadijah, dan Aisyah: Cinta Tak Bisa Kau Salahkan

Suatu hari, sayyidah Aisyah ra. merajuk. Hatinya dipenuhi rasa cemburu. Ia, yang memiliki panggilan sayang “Sang Kekasih Berpipi Merah” dari Rasulullah saw. itu heran. Keduanya telah berumah tangga demikian lama, tetapi mengapa ia tak jua mampu mengisi satu lubang asmara di hati Rasulullah?

Hari itu, ia ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam.
“Wahai Rasulullah,” ia memberanikan diri menghadap sang suami. “Aku cemburu.”

“Engkau terlalu sering menyebut-nyebut namanya. Bukankah ia hanyalah seorang wanita tua?”

Tentu saja ini tentang sayyidah Khadijah ra. Istri pertama Rasulullah saw. dan satu-satunya sampai ajal memisahkan mereka berdua.

Pernikahan mereka adalah pernikahan yang “ganjil” menurut bangsa Arab waktu itu. Betapa tidak. Jarak usia keduanya terpaut jauh. Juga, Rasulullah adalah pemuda paling sempurna, sementara Khadijah adalah janda. Kala wafat, Khadijah telah berumur 65 tahun sedang Rasulullah masih berusia 50 tahun. Toh, Rasulullah masih dengan baik menyimpan kenangan saat-saat berdua.

Keberanian Aisyah hari itu adalah puncak kecemburuannya pada Khadijah. Telah bertumpuk peristiwa-peristiwa yang menunjukkan cinta Rasulullah pada Khadijah tidaklah usang. Suatu kali, Rasulullah menyembelih kambing. Bukannya dinikmati sendiri, beliau justru membagi-bagikannya kepada keluarga Khadijah. Di hari lain, sang suami menunjukkan rona-rona kerinduannya hingga membuatnya menggerutu, “Khadijah lagi, Khadijah lagi.”

Dan hari itu, ketika Rasulullah hendak keluar rumah dan menyebut-nyebut nama Khadijah, tak tahanlah Aisyah.

“Bukankah ia hanyalah wanita tua? Bukankah Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik?”

Ini bukan tentang cantik parasnya. Karena semasa Rasulullah muda, betapa banyak wanita yang lebih cantik untuk dinikahi. Bukan juga sekadar kesempurnaan jasmaniah lainnya. Betapa banyak perempuan muda yang berasal dari keluarga yang lebih kaya.

“Tidak Aisyah, tidak.” Rasulullah menatap sang Humaira’-nya dengan cinta nan teduh. Ia tahu, pertanyaan itu wujud dari seringnya Aisyah dirundung cemburu.

“Allah tak pernah menggantikan untukku yang lebih baik darinya.”


Di waktu lain, Rasulullah bahkan menyebutnya sebagai wanita sempurna. “Perempuan terbaik Tuhan di langit adalah Maryam binti Imran, dan perempuan terbaiknya di bumi adalah Khadijah binti Khuwailid.” Sayyidina Ali yang mendengarnya dan diamini oleh riwayat-riwayat yang lebih banyak.

“Aisyah, kau tahu. Khadijah mempercayaiku saat semua manusia mengingkariku. Ia membenarkan perkataanku kala semua orang menganggapku dusta. Ia melapangkanku dengan hartanya kala semua orang tak membantuku sepeserpun. Dan Allah memberiku keturunan darinya, yang tak diberikan oleh istri-istriku yang lain.”

Maka betapa murni dan indah cinta Rasulullah saw. kepada Khadijah, al-‘afifah al-thahirah, wanita suci yang selalu menjaga kehormatan.

Ah, cinta memang tak bisa salah.


Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah, Dar-Assalam, Kairo, h. 52-53.