Tag Archives: masayikh

Hal Yang Sangat Ditakuti Kiai Mahrus Aly

Kiai Mahrus Aly dikenal sebagai sosok kiai yang tegas dan pemberani, bahkan kepada penguasa orde baru pada saat itu. Saat listrik baru masuk ke pondok Lirboyo, beliau dengan tegas mengatakan kepada pemerintah bahwa jika listrik ini murni untuk kemudahan pendidikan beliau sangat berterima kasih, namun jika ini bermuatan politik maka beliau mempersilahkan agar listrik ini dicabut kembali.

Namun dari itu, ada hal yang sangat ditakuti oleh Kiai Mahrus, bahkan mendengar nama seseorang yang berkaitan dengan hal itu saja sampai membuat beliau sakit.

Kisahnya, kisaran tahun 1958 M. para kiai NU Jawa Timur bersepakat mengangkat Mbah Mahrus untuk menjabat Rais Syuriah PWNU Jatim. Untuk itu, para kiai mengutus Kiai Imron Hamzah sowan ke lirboyo guna meminta kesediaan Mbah Mahrus. Hasilnya, sebagaimana yang dapat diduga, Mbah Mahrus Menolaknya.

Tidak putus asa, beberapa hari kemudian Kiai Imron Hamzah kembali datang ke Lirboyo dengan tujuan yang sama. Namun apa yang terjadi? Begitu mendengar Kiai Imron Hamzah datang lagi, beliau Mbah Mahrus langsung sakit.

Oleh sebab demikian, sampai-sampai isteri Mbah Mahrus memohon kepada Kiai Imron agar tidak datang Lagi Ke Lirboyo sebab Kiai Mahrus sangat trauma mendengar nama Kiai Imron. Karena takutnya beliau diangkat jadi Rais Syuriah.

Walau pun kemudian Mbah Mahrus tidak bisa mengelak ketika para Kiai dan Peserta Konferwil NU Jawa Timur memberikan amanah kepada beliau untuk menduduki jabatan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.(IM)

Tapak Tulodo Mbah Yai Anwar

Bagi para Santri yang pernah mengikuti salat jemaah bersama beliau, mesti merasakan ada sesuatu yang berbeda dari salatnya beliau.

Kajian fikih menganjurkan saat melakukan rukuk dan sujud hendaknya agar berdiam lebih lama dari iktidal dan duduk diantara dua sujud, karena rukuk dan sujud mengandung nilai penghormatan yang jauh lebih utama dilakukan dari pada itktidal dan duduk diantara dua sujud yang hanya difungsikan sebagai sarana istirahat.

Namun, beliau mbah yai Anwar lebih mengutamakan duduk diantara dua sujud dengan menyelesaikan bacaan doanya: ‘Robbighfir Lii Warhamnii Wajburni Warfa’ni Warzuqni Wahdini Wa’afini Wa’fu Anni’.

Lantas duduk diantara dua sujud itu lebih lama dilakukan oleh beliau ketimbang sujud dan rukuk yang notabene lebih nyata dalam bentuk penghambaan.

Timbul pertanyaan dalam benak ini, namun tidak perlu mempertanyakan lebih jauh pada sesuatu hal yang diluar jangkauan akal santri seamatir saya.

Kajian fikih yang menganjurkan rukuk dan sujud hendak lebih lama dilakukan daripada iktidal dan duduk diantara dua sujud itu mengacu pad zaman Rasulullah dan para sahabat, dimana penghormatan dan penghambaan jauh lebih mereka lakukan daripada sekedar berdoa dan bermunajat.

Berbeda dengan zaman sekarang, manusia amatir semacam kita mau mengandalkan iman seberapa, dapat jaminan dari siapa, mau mengandalkan amal apa. Untuk itu, maka berdoa sebanyak-banyaknya, bermunajat selama-lamanya, sering meminta ampunan, senantiasa mengais rahmat Tuhan lebih patut untuk kita utamakan dan kita lakukan demi meraih rida terbesar Tuhan, namun tetap tidak sedikitpun meninggalkan amal saleh.

Beliau mbah yai Anwar telah menunjukannya kepada kita rahasia tersebut dalam salatnya.

Demikian sepercik teladan dari tindak lampah beliau, semoga kita diakui santri beliau al-fatihah..

 

Penulis: Ahmad Faiz, santri asal Indramayu kamar Q 05