Tag Archives: natal

Pesan Rahasia di Hari Ibu


Dalam kitab Shahih Al-Bukhari termuat sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibn Mas’ud, ia berkata:

 “Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?” aku bertanya kepada Rasulullah saw.

Salat pada waktunya.” jawab Rasulullah saw.

Kemudian apa lagi?”

“Berbakti kepada kedua orang tua.”

 “Kemudian apa lagi?”

“Berjihad (berjuang) di jalan Allah.” pungkas Rasulullah saw. menjelaskan.[1]

Mengapa harus berbakti? Dalam kitab Dalil Al-Falihin disebutkan:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ وَيَعْنِيْ: أَنَّ مَنْ بَرَّ أُمَّهُ وَقَامَ بِحَقِّهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Surga itu dibawah telapak kaki ibu. Artinya barang siapa yang berbakti dan memenuhi hak-hak ibunya niscaya ia akan masuk surga.”[2]

Lebih luas lagi, kitab Faidl Al-Qadir memaparkan:

 اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ يَعْنِي التَّوَاضُعَ لَهُنَّ وَتَرْضِيْهِنَّ سَبَبٌ لِدُخُوْلِ الْجَنَّةِ ….وَقَالَ الْعَامِرِيُّ الْمُرَادُ أَنَّهُ يَكُوْنُ فِيْ بِرِّهَا وَخِدْمَتِهَا كَالتُّرَابِ تَحْتَ قَدَمَيْهَا مُقَدَّمًا لَهَا عَلَى هَوَاهُ مُؤَثِّرًا بِرَّهَا عَلَى بِرِّ كُلِّ عِبَادِ اللهِ لِتَحَمُّلِهَا شَدَائِدَ حَمْلِهِ وَرَضَاعِهِ وَتَرْبِيَّتِهِ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu. Artinya rendah hati kepada ibu dan mendapatkan ridanya menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Al-Amiri berkata: Maksudnya, berbakti dan berkhidmah kepada ibu bagaikan debu yang berada di bawah telapak kaki mereka, mendahulukan kepentingan mereka atas kepentingan sendiri dan memilih berbakti pada mereka atas seluruh hamba Allah. Karena merekalah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui, dan mendidik anak-anak mereka.”[3]

Lantas, bagaimanakah bentuk rasa terimakasih kepada seorang ibu? Yaitu dengan bersyukur kepadanya. Allah swt. telah berfirman dalam al-Qur’an:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14)

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah mengungkap mengenai implementasi dari rasa syukur tersebut dengan ungkapan demikian:

فَالشُّكْرُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ الإْيمَانِ، وَلِلْوَالِدَيْنِ عَلَى نِعْمَةِ التَّرْبِيَةِ. وَقَال سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ: مَنْ صَلَّى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ فَقَدْ شَكَرَ اللَّهَ تَعَالَى، وَمَنْ دَعَا لِوَالِدَيْهِ فِي أَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ فَقَدْ شَكَرَهُمَا.

Bersyukur pada Allah artinya mensyukuri atas kenikmatan iman, sedangkan bersyukur pada kedua orang tua artinya mensyukuri atas jerih payahnya dalam mendidik.Tsufyan Bin ‘Uyainah berkata: Barangsiapa telah menjalani shalat lima waktu maka ia telah bersyukur kepada Allah, dan barangsiapa mendoakan kedua orang tuanya seusai salat maka ia telah bersyukur pada keduanya”.[4]

[]waAllahu a’lam


[1] Shahih Al-Bukhari, vol. I hal. 112.

[2] Dalil al-Falihin, vol. I hal. 205, cet. Darul Ma’rifah

[3] Faidh Al-Qadir, vol. III hal. 361, cet. Maktabah At-Tijariyah Al-Kubro

[4] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, vol. VIII hal. 64, CD. Maktabah Syamilah

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Tanggal 25 Desember yang merupakan hari penting bagi umat kristiani sudah didepan mata, di tanggal itulah seluruh umat kristiani akan merayakan hari besar mereka dengan mengadakan do’a bersama di Gereja-gereja yang tersebar.

Sudah bisa kita lihat bersama bahwa umat kristen dan umat islam saat ini hidup berdampingan di berbagai belahan dunia dimana setiap orang akan memiliki tetangga yang berbeda agama, kita bisa menilik di negara indonesia sendiri yang ber-asas pancasila hidup rukun dalam beragama.

Dalam masalah bertetangga islam telah mengajarkan untuk saling menghormati kepada tetangga-tetangga se-lingkungan meskipun terdapat tetangga yang non-muslim, terkadang orang yang non-muslim bisa mengucapkan selamat saat orang muslim merayakan hari besarnya, sedangkan bagaimana untuk kita yang muslim ? apakah kita bisa juga mengucapkan selamat hari natal kepada mereka ?

Untuk itu kita bisa menyimak penjelasan yang dipaparkan oleh  Syekh Said Ramadhan Al-Buthi namun sebelum kita melihat penjelasan beliau alangkah lebih indahnya kita mengenal sejarah singkat tentang beliau.

Dr. Al-Buthi adalah figur ulama yang mengabdikan hidupnya sebagai seorang pembimbing dan dai sembari terus menampilkan sikap zuhud di dunia yang fana. Orang yang berprinsip tegas jika memang benar itu adalah benar, tanpa peduli tindakannya nanti akan dicerca orang ataupun sebaliknya.

Beliau juga merupakan seorang pemikir Islam moderat sekaligus penulis yang sangat produktif. Karyanya mencapai bilangan tujuh puluh lima buku. Karya-karyanya juga banyak diterjemahkan  ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, al-Hub fil Qur’an (Al-Qur’an Kitab Cinta), La ya’thil Bathil (Takkan Datang Kebathilan terhadap Al-Qur’an),  Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah (Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasul Saw) dan masih banyak yang lainnya. Dalam konteks kepesantrenan, terutama pesantren salaf, bukunya yang berjudul Dhowabitul Maslahah merupakan referensi primer dalam kajian Bahtsul Masail (BM).

Tokoh yang paling berpengaruh di Timur Tengah ini juga termasuk barisan ulama yang getol membendung radikalisme Islam. Paham radikal adalah suatu paham yang anti dengan tradisi bermazhab, menyerukan pentingnya ijtihad, intoleran, cenderung eksklusif dan menganggap kebenaran hanya ada pada kelompok mereka. Kegigihannya dalam membendung paham radikal ini terekam dalam bukunya yang berjudul As-Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarokah la Mazhab Islamiyun dan al-La Mazhabiyyah: Akhtoru Bid’atin Tuhaddidus Syariah Islamiyyah.

Selain hal itu, beliau juga salah satu ulama yang menjadi rujukan kalangan Ahlussunnah Waljamaah dalam bidang akidah. Bahkan ada yang menyebut beliau sebagai ghazaliyu-l-ashr  atau Imam Ghozali masa kini. Sebutan ini sebetulnya tidaklah berlebihan. Toh nyatanya beliau dapat membuktikan dengan menulis buku yang berjudul Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah.

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi dalam kitab Istifta’ an-Nas mengemukakan:

السؤال:هل يجوز تهنئة غير المسلمين بأعيادهم وخاصة النصارى ؟ وماذا اذا إضطر لذلك هل من صيغة مفضلة ؟ وهل تجوز تعزيتهم أو القول “رحمه الله” ؟

الجواب: يجوز تهنئة الكتابيين : النصارى واليهودي بأفراحهم ويجوز تعزيتهم بمصائبهم بل يسن ذلك كما نص عليه الفقهاء ويجوز الدخول لمعابدهم لمناسبة ما بشرط ان لا يشترك معهم في عبادتهم

Bolehkah mengucapkan kata ‘selamat’ pada non-muslim saat hari raya agama mereka, terlebih umat Nasrani (Kristen)? Dan bagaimana saat hal tersebut sudah tidak bisa dihindari, apakah malah lebih baik untuk disampaikan? Lebih jauh, bolehkah takziyah kepada mereka, atau sekedar mengucapkan kata “semoga Allah mengasihi kalian” kepada mereka?

Jawab: Boleh mengucapkan kata ‘selamat’ pada ahlul kitab saat hari raya mereka, baik itu umat Yahudi ataupun Nasrani.  Juga boleh takziyah kepada mereka saat terkena musibah. Bahkan hal tersebut disunnahkan, seperti halnya yg dijelaskan oleh ulama’ Ahli fiqh.

Bahkan, boleh masuk ke dalam tempat peribadatan mereka dalam rangka bermasyarakat, dengan syarat tidak mengikuti ritual peribadatan mereka.

Sekilas, pendapat Syekh Said Ramadhan Al-Buthi di atas merupakan bentuk toleransi yang sangat menyejukkan untuk diterapkan dalam konteks sosial masyarakat. .

Namun dalam penerapan pendapat tersebut,  kita tetap harus bijak dalam menilai kondisi dan situasi masyarakat di lingkungan kita.

Jika memang tidak ada hal yang menuntut kita untuk mengucapkan Selamat Natal pada non-muslim, ataupun dalam hari raya yang lain, alangkah baiknya bagi kita untuk tidak melakukan hal itu, terlebih dengan cara yang massif.

Hal ini merupakan langkah hati-hati (ihtiyat) dalam mengamalkan syariat dengan mengikuti pendapat ulama’ yang tidak memperbolehkan.

Dengan sikap seperti inilah, ada harapan tercipta keharmonisan antara ruang sosial dan dan amaliah syariat. .

 

Simak penjelasan lengkapnya dalam channel youtube: Santrimengaji17

 

Promo Akhir Tahun

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang terhormat, sudah kita ketahui bersama bahwa menjelang libur natal dan akhir tahun seperti saat ini merupakan kesempatan emas bagi para pelaku usaha untuk memikat para konsumen. Salah satu strategi pemasaran yang dirasa pas untuk momentum tersebut adalah dengan menggelar diskon (potongan harga) besar-besaran. Berbagai pusat perbelanjaan, supermarket, swalayan, bahkan Online shopping tak melewatkan kesempatan emas ini.

Keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimana hukum menggelar diskon pada momen natal dan akhir tahun?. Apakah tergolong merayakan hari raya non muslim?. Terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Imamatul H, -Surabaya.

_____

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Momentum natal dan tahun baru merupakan kesempatan berharga bagi para pelaku usaha untuk mendongkrak penjualan dengan menggelar berbagai macam strategi, salah satunya yang sering kita temui adalah memotong harga penjualan atau yang sering disebut diskon.

Menanggapi hal tersebut, syariat membaginya ke dalam tiga perincian:

Pertama, jika komoditas barang yang dijual berhubungan dengan syiar non muslim, maka hurumnya haram. Bahkan dapat berakibat kufur apabila memiliki tujuan berpartisipasi dalam merayakan hari raya mereka.

Kedua, jika komoditas barang yang dijual tidak berhubungan dengan syiar non muslim namun memiliki motif menyemarakkan hari raya mereka, maka hukumnya haram.

Ketiga, jika komoditas barang yang dijual tidak berhubungan dengan syiar non muslim dan tidak ada tujuan sebagaimana di atas, maka diperbolehkan.

Dari tiga perincin tersebut, sudah dapat diketahui bagaimana sikap syariat yang disesuaikan dengan tujuan, praktek, dan dampak yang dihasilkan oleh kegiatan pelaku usaha tersebut. Keterangan tersebut sesuai dengan penjelasan Ibnu Hajar Al-Haitamy dalam kitabnya, Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, yang mengutip pendapat Ibnu Al-Haj.

Yang perlu digarisbawahi, diskon pada dasarnya bukan hanya ada saat natal dan akhir tahun. Momentum-momentum hari besar Islam seperti hari raya Idul Fitri atau hari kemerdekaan juga sering dijumpai diskon. Dari sini sudah jelas bahwa hal tersebut bukanlah syiar hari raya non muslim.

Adapun hukum membeli bagi para masyarakat yang menjadi konsumen dalam momentum tersebut dapat diperbolehkan selama tidak ada tujuan mengagungkan hari raya non muslim atau rela dengan kekufuran mereka.[] waAllahu a’lam

 

Referensi:

Tafsir Al-Munir, I/94, Maktabah Syamilah.

Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, IV/239, cet. Darul Fikr.

Is’adur Rofiq, II/50, cet. Al-Hidayah.