Tag Archives: Pondok Putri

Khotmil Quran dan Haflah PPHMQ

LirboyoNet, Kediri – Dua tahun sekali, Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (PP HMQ) menyelenggarakan Khotmil Qur’an ke XI dan Haflah Akhirussanah. Dan pada tahun ini, acara terselenggara di Aula Al Muktamar, Senin (24/04).

Ratusan santri putri PPHMQ hadir di Aula. Mereka diantar sejak pagi hari, guna mengikuti seluruh rangkaian acara. Dari ratusan itu, ada sekitar 226 santri putri terpilih yang berhak menerima penghargaan di atas panggung. Mereka adalah para santri yang telah menyelesaikan studinya dalam beberapa jenjang pendidikan.

Dari kategori tahfidul qur’an, ada 93 santri yang menerima syahadah, atau penghargaan. Mereka terbagi atas santri yang telah mengkhatamkan juz ‘amma sebanyak 21 santri, bin nazhar sebanyak 34 santri, bil ghaib putri sebanyak 36 santri, dan bil ghaib putra berjumlah dua santri.

Selain memberikan penghargaan kepada para santri yang telah menekuni hafalan Al-Qur’an, PPHMQ juga merasa perlu untuk mewisuda para siswi Madrasah Al-Hidayah, tempat mereka menimba ilmu-ilmu pesantren yang lain. Perlu diketahui terlebih dahulu, Madrasah Al-Hidayah terbagi menjadi beberapa jenjang pendidikan, diantaranya Ma’had Aly, Aliyah, Tsanawiyah dan Ibtidaiyah. Dari masing-masing tingkatan itu, para siswi yang berhak diwisuda berjumlah total 97 siswi, dengan perincian siswi Ma’had Aly sebanyak sembilan sisiwi, madrasah Aliyah 22 siswi, dan tingkat Tsanawiyah sebanyak 66 siswi.

Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada 36 siswi yang telah menghafalkan secara penuh 1002 bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik, serta berhasil lolos dalam festival Hifzhu Alfiyah yang diadakan pada tahun ini.

Pagi itu, selain dihadiri oleh pengasuh PPHMQ, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dan Ibu Nyai Azzah Nur Laila Muhammad, Haul Haflah Akhirussanah ini juga dihadiri oleh segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo. Serta hadir pula beberapa ulama Kediri.

Sebelum acara mencapai ujung, KH. Thoifur Mawardi dari Purworejo, Jawa Tengah, diminta untuk memberikan mauizhah hasanah. Beliau berpesan, diantaranya, “Jadilah wanita shalihah bagi suami-suami kalian. Wanita shalihah itu bagaimana? Yaitu istri yang mampu mengajak suaminya berpindah dari kebiasaan buruk kepada yang lebih baik. Kalian harus bisa mengajak suami agar menjadi penerus akidah ahlussunah wal jamaah yang kuat,”.

Di penghujung acara, dilaksanakan  penyerahan seluruh penghargaan itu kepada para santri terkait, juga foto bersama para siswi terpilih itu dengan pengasuh.

Sementara Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo, akan diselenggarakan pada Jumat malam Sabtu, 09 Sya’ban 1438 H./05 Mei 2017 M. besok.][

Takhtiman Santri putri Al-Baqoroh

LirboyoNet, Kediri. Menghkhatamkan mengaji Alquran memang bukan sesuatu yang mudah. Butuh kesabaran, ketelatenan, dan keseriusan agar dapat mencicipi manisnya didoakan puluan ribu malaikat. Tentu saja, sebab Allah telah menjanjikan enam puuluh ribu malaikat-Nya turun ke bumi untuk sekedar mendoakan mereka yang telah mengkhatamkan Alquran.

Kemarin (20/04), sebanyak lima puluh tujuh orang santri putri Ponpes Putri Al-Baqoroh Lirboyo diwisuda. Mereka naik panggung kehormatan, melantunkan bacaan suci Alquran dengan berbagai macam riwayat yang cukup “asing” di telinga masyarajat kita, dan mereka mendapatkan penghargaan langsung dari para masyayikh, dan guru. Satu persatu daari mereka menerima syahadah yang diserahkan langsung oleh Pengasuh Ponpes Albaqoroh, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, beserta segenap dzuriyah lain. Tak hanya itu, ada juga sesi foto bersama sebagai bentuk kenang-kenangan.  Santri yang diwisuda sendiri meliputi dua puluh tujuh orang peserta bil ghoib, tiga orang peserta bil ghoib dan qiroah sab’ah, empat orang peserta qiro’ah sab’ah, dan dua puluh tiga peserta bin nadzhor yang kesemuanya adalah santri putri Ponpes Al-Baqoroh.

Khataman yang ke lima kalinya ini bertempat di Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo, setelah tahun sebelumnya bertempat di halaman ndalem Ponpes Al-Baqoroh Lirboyo. Acara ini juga diramu dengan peringatan isrâ’ dan mi’râj baginda Nabi Muhammad SAW.

Dengan bangga dan terharu, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, atau yang biasa disapa Kiai Zam menuturkan, “Njenengan sedoyo (santri-santri –Red) leres mlebet dawuh ipun kanjeng Nabi, khoirukum man ta’allamal qur’ana wa’allamah.” (Kalian semua (para santri –Red) benar masuk dalam sabda Nabi, khoirukum man ta’allamal qur’ân wa ‘allamah, sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya).

Sementara KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, punya cerita sendiri dibalik penamaan unik pondok pesantren yang diasuh adik kandung beliau ini. Beliau berkata, “Pondok Pesantren Al-Baqoroh itu memang namanya aneh, Al-Baqoroh. Pondok kok namanya Al-Baqoroh, tapi yang menempatinya manusia, hafal Alquran pula.” Yang segera disambut tawa para hadirin. Al-Baqoroh sendiri jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki makna sapi. “ini cereitanya, dinamakan Al-Baqoroh, yang memberikan nama langsung KH. Imam Yahya Mahrus.” Waktu itu, ketika awal-awal pondok pesantren ini baru berdiri, KH. Imam Yahya masih sugeng. Beliau sendiri wafat tahun 2012 silam. “Yang dimaksud Al-Baqoroh itu, surat Al-Baqoroh.” Pungkas Kiai Kafabihi.

Dalam mau’idzotul hasanah, KH. Reza Ahmad Zahid sedikit banyak mengakui tentang kemuliaan para penghafal Alquran, “Satu kaidah dikatakan, segala sesuatu yang ada di dunia ini, bisa menjadi mulia karena sesuatu yang melekat kepadanya, karena sesuatu yang menempel kepadanya. Para santri-santri putri Al-Baqoroh saat ini sudah mendapatkan tempelan barokah yang luar biasa. Tempelan Alquran karim, tempelan ilmu-ilmu agama.” Ungkap Gus Reza, sapaan akrab KH. Reza Ahmad Zahid. Beliau juga menambahkan, “Hakikat manusia tidak ada apa-apanya, kita melihat manusia karena sesuatu yang menempel padanya. Kita melihat harga manusia karena sesuatu yang melekat padanya.

Beliau mendoakan, ”Para alumni-alumni dan para khâtimât-khâtimât insya Allah mendapatkan barokah yang menempel pada dirinya, yaitu barokâtul qur’ân, dan barokâtul ‘ulûm syar’iyyah. Moga-moga, keluar dari pondok insya Allah akan menjadi lebih wibawa dan lebih berharga.

Sebagai pengingat, rangkaian agenda akhirus sanah di pondok pesantren Lirboyo sudah hampir tiba. Jangan lupa pula untuk turut memeriahkan haul dan haflah akhirussanah Ponpes Lirboyo, yang malam puncaknya akan dilaksanakan pada0 9 Sya’ban 1438 H, atau bertepatan dengan jumat malam sabtu, tanggal 05 Mei 2017 M. sebagai penceramah tunggal, insya Allah akan hadir KH. Maimun Zubair, pengasuh Ponpes Al-Anwar Sarang, juga selaku dewan Rais Syuriah PBNU.[]

Cerita di Balik Musyawarah

Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat al-Qur’aniyyah  yang sering kita sebut dengan P3HMQ merupakan salah satu pondok unit di Lirboyo. Pondok yang dibangun oleh Romo KH Abdullah Kafabihi Mahrus beserta sang istri ibu nyai Hj. Azzah Noer Laila Muhammad. Pondok yang berbasik pendidikan Al-Quran ini memiliki sekolah yang benama Madrasah Al-Hidayah.

Di Madrasah ini ada beberapa tingkatan kelas. Mulai dari tingkat I’dadiyah (SP/sekolah persiapan), Ibtidaiyah (tiga tahun), Tsanawiyah (tiga tahun),  Aliyah (tiga tahun), dan MA (Ma’had Ali dua tahun). Selain sekolah, pesantren ini juga memiliki kelas atau kamar khusus bagi para penghafal Al-Qur’an yang tidak ikut sekolah, juga kamar yang khusus menghafal Al-Qur’an dan sekolah.

Untuk kegiatan penunjang pembelajaran, madrasah mengadakan agenda musyawarah yang dilaksanakan setiap malam hari kecuali malam Jumat. Setiap harinya, musyawarah dimulai dari jam 19:45 Wis, sampai 22:00 Wis. Kegiatan ini wajib diikuti oleh semua santri yang bersekolah di MA HMQ dari semua tingkatan. Sedangkan kegiatan sekolah dilaksanakan pagi untuk kelas 2 Tsanawiyah sampai Ma’had Aly. Dan menjelang sore hari untuk kelas 1 Tsanawiyah ke bawah (Ibtida’ dan SP). Hal ini berbeda dengan sekolah putra yang sebagian waktu sekolahnya dilaksanakan pada malam  hari. Lirboyo memang pondok yang lain dari pada yang lain.

Manfaat dari musyawarah sangatlah banyak. Salah satunya kita dapat saling tukar pemahaman satu sama lain. Yang awalnya kurang paham bahkan belum faham sama sekali bisa menjadi paham dan tentunya bisa menambah wawasan kita. Semua jenis persoalan yang masih kita bimbangkan bisa kita bahas dalam majlis musyawarah ini, tentunya yang masih berkaitan dengan pelajaran. Di MA HMQ  terdapat dua macam metode musyawarah: kelompok besar dan kelompok kecil. Kelompok kecil yang dimaksud di sini yaitu satu kelas dibagi menjadi enam kelompok, di mana setiap kelompok terdapat lima hingga enam anak. Sedangkan kelompok besar, pada prakteknya, ada perwakilan satu anak yang menjelaskan di depan dan memimpin jalannya musyawarah, atau biasa disebut dengan rois (pimpinan) kelas. Dalam musyawarahpun terdapat peraturan dan larangan yang sudah diatur oleh madrasah. Salah satunya, ketika sudah ada bunyi bel dua kali (bel masuk) semua santri wajib lalaran (melafadzkan bait-bait nadzam) bareng sesuai dengan nadzam tingkatannya. Setelah itu dilaksanakan wajib belajar materi yang akan dibahas pada malam itu. Tujuannya agar para siswa bisa memahami materi, bisa mengikuti jalannya musyawarah, dan juga bisa menyampaikan materi dengan baik kepada santri yang lain. Rois kelas juga bertanggungjawab menggantikan santri yang bertugas ketika sakit dan tidak bisa menyampaikan pelajaran. Adapun larangan dalam musyawarah adalah tidak boleh makan, minum, tidur, membawa buku selain pelajaran dll.

Di manapun kalau ada peraturan pasti ada yang melanggar, tak terkecuali di tempat musyawarah. Terkadang terdapat santri yang tidak bisa menahan kantuk dan tertidur. Ada pula yang membawa jajanan  untuk teman temannya. Niatnya sih baik: ingin berbagi rizki dengan temannya karena baru saja mendapat kiriman, ataupun baru disambang, dan pelanggaran-pelanggaran yang lain. Bagi yang melakukan pelanggaran-pelanggaran ini, tentu saja ada takziran (hukuman). Tapi mereka melakukannya terkadang bukan semata-mata untuk melanggar peraturan, melainkan hanya untuk menghibur diri dari padatnya rutinitas mereka setiap hari. Hari-hari yang kadang membuat mereka jenuh bahkan melelahkan. Maka tak aneh di usia remaja mereka yang masih labil bertingkah nyeleneh, yang terkadang sering membuat kesal ibu-ibu pengurus. Menurut saya sendiri, ini merupakan suatu hal yang lumrah di kalangan santri putri khususnya, apalagi di usia mereka yang masih mencari jati diri.

Memang benar bermusyawarah itu banyak sekali manfaatnya. Seperti pengalaman Imam Syafi’i yang mendapatkan ilmunya 90% dari musyawarah. Sementara hasil dari belajar sendiri hanya menyumbang 10%. Subhanallah…. Itulah mengapa Lirboyo sangat mewajibkan musyawarah. Kini saya pun sadar, seandainya tidak ada musyawarah saya pun merasa kurang dalam pemahaman, kurang dalam pengetahuan dan pengalaman. Inilah yang saya sukai dari dari Pondok Lirboyo yang mengutamakan musyawarah. Semoga setelah saya menulis ini bisa memacu semangat saya sendiri dan juga teman teman dalam bermusyawarah, dan kegiatan pondok yag lainnya.[]

 

Penulis, Lia Ali, Kelas 1 Tsanawiyah Madrasah Al-Hidayah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat al-Qur’aniyyah (P3HMQ), kamar Faza 03, Pemenang II Lomba Penulisan Majalah Dinding Ar-Rabiet.

Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Qur’an (P3TQ)

Pesantren putri ini berdiri tahun 1986 M. yang bermula dari keinginan seseorang. Waktu itu, sang tamu dari daerah Bojonegoro mengantarkan sekaligus menyerahkan putrinya yang bernama Arifah kepada KH Ahmad Idris Marzuqi guna sekedar berkhidmah. Namun KH Idris Marzuqi menolak permintaan itu dengan halus. Setelah mendapat desakan terus menerus, beliaupun mengizinkan Arifah untuk berkhidmah membantu kesibukan keluarga beliau sekaligus menjadi penyimak Ibu Nyai Hj. Khodijah ketika melalar hafalan Alquran.

Dalam waktu relatif singkat, santri putri yang mempunyai keinginan sama mulai berdatangan. Ketika jumlah santri telah mencapai 4 orang, timbul keinginan KH Ahmad Idris Marzuqi untuk membangun asrama bagi mereka. Dan pada tahun 1992 gedung P3TQ yang letaknya bersebelahan dengan Ndalem Kiai Idris dibangun menjadi tiga lantai. Saat itulah, Kiai Idris Marzuqi memberi nama pondok kecil ini “Tahfizhil Qur’an”.

Peningkatan kwantitas santri dari tahun ke tahun, menjadi salah satu faktor yang menuntut perluasan gedung P3TQ. Tahun 1999, bertepatan dengan penyelenggaraan Muktamar NU XXX di Pondok Pesantren Lirboyo, dibangunlah aula sebagai pusat segala aktivitas. Tahun 2001, dibangun 2 kamar dan beberapa sarana pelengkap.

Untuk menambah pengetahuan dan keilmuan para santri, KH Ahmad Idris Marzuqi memberikan instruksi pada salah satu khodim beliau yaitu Bapak Azizi Hasbullah dari Malang, untuk memberikan pengajian sekedarnya. Perintah inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fittahfizhi Wal Qiro-at (MHMTQ) yang diresmikan pada tahun 1992. Semula MHMTQ hanya terdiri dari beberapa kelas di tingkat Ibtidaiyyah. Baru pada tahun 1995 lengkap dengan 6 kelas. Tahun 1997, MHMTQ menambah satu jenjang pendidikan yaitu tingkat Tsanawiyah, dan tahun 2005 menambah satu tingkatan lagi yaitu tingkat Aliyah. Untuk menunjang kualitas dan kematangan para siswi dalam penguasaan materi. Selain edukasi di dalam kelas, dibentuklah M3HMTQ, sebuah organisasi siswi intra sekolah yang khusus menangani sorogan kitab kosongan, setoran nazhom, musyawarah dan bahtsul masa-il.

Seiring dengan bertambahnya santri, gedung yang tersedia dirasa semakin sesak dan tidak bisa menampung banyaknya santri, sehingga dibangunlah gedung baru sebagai sarana pendukung dalam kegiatan belajar mengajar dan kenyamanan tempat tinggal bagi semua santri. Pada tanggal 2 Januari tahun 2007 dimulailah pembangunan gedung pondok baru di atas tanah seluas 77.885 M yang terletak di sebelah selatan Ndalem Barat KH. Ahmad Idris Marzuqi. P3TQ Barat yang sekarang ditempati oleh santri dalam jenjang sekolah tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah ini memiliki beberapa fasilitas, selain kamar, juga ada koperasi, kantin, ruang kesehatan, perpustakaan, wartel, ruang keputrian yang dilengkapi dengan mesin jahit dan mesin obras, serta beberapa fasilitas lainnya.

Meski terpisah menjadi dua, P3TQ Barat dan Timur, para santri masih tetap berada dalam satu naungan atap yang sama dan selalu menjalin kekompakan dan silaturrahim dalam berbagai aspek. Pesantren Putri ini juga dilengkapi dengan segudang kegiatan ekstrakurikuler. Diantaranya kegiatan Seni Baca Al–Quran, Jam’iyyah Sholawat, Qiro-at, Diba’iyah, Barzanjiyah, Manaqibiyah, Khithobiyah, Kursus Bahasa Arab dan Inggris, Ketrampilan membuat parsel, Tata Busana, dll. Berdasarkan intruksi Romo Yai para santri diharuskan untuk membiasakan berbicara dengan bahasa Arab dan Inggris setiap hari. Maka mulai tahun 1998, dibentuklah Lajnah Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) dan pada tahun 2006 terbentuk Lajnah Pengembangan Bahasa Inggris (LPBI) sebagai pelengkap kesiapan santri untuk terjun dan berkiprah di masyarakat.

Informasi pendaftaran dan pembiayaan P3TQ bisa didownload di link berikut.