Bulan Muharram adalah bulan yang mulia, bulan begitu mulia hingga ada beberapa amaliyah ibadah khusus yang ada di bulan itu. Namun bagi yang memiliki tanggungan puada Qadla pada bulan Ramadan kemarin, apakah bisa kita menggabungkan niat Qadla puasa tersebut bersamaan dengan niat puasa Asyura?
Baca juga: Tragedi Karbala: Luka Abadi dalam Sejarah Islam
Puasa hari Asyura
Terlampir dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, ada sebuah kisah tentang puasa di hari Asyura :
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ، فَوَجَدَ اليَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، فَقَالَ: “أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.
Artinya: “Rasulullah datang ke Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa pada hari ini.’ Rasulullah pun bersabda, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu.” [HR. Bukhari no. 2004, Muslim no. 1130]
Hadits tersebut adalah alasan dan landasan kesunahan puasa Asyura, hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, yakni Fir’aun dan para tentaranya. Dan Nabi Muhammad mengenang itu dengan cara berpuasa di hari Asyura.
Baca juga: Hukum Bersuci Menggunakan Tisu
Hadits tentang keutamaan puasa Asyura
menurut imam Muslim, keutamaan dari puasa Asyura begitu dahsyat, bahkan bisa menghapus dosa selama setahun.
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: “يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ”
“Ditanyakan kepada Nabi tentang puasa hari Asyura, maka beliau bersabda: ‘Puasa itu dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no. 1162]
Bagi beberapa orang, mungkin ada yang bertanya-tanya, bukankah puasa hari Arafah juga menghapus dosa selama satu tahun yang lalu, bagaimana ada dua puasa yang sama-sama menghapus dosa selama satu tahun sebelumnya “bekerja”?.
Ada sebuah penjelasan dari ibnu Hajar tentang puasa Asyura dan Arafah.
قَالَ ابْنُ الْمُنَيْرِ: فِيهِ فَضْلُ صَوْمِ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ، وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ أَنَّهُ يُكَفِّرُ سَنَةً، وَفِي يَوْمِ عَرَفَةَ أَنَّهُ يُكَفِّرُ سَنَةً وَيَسْتَقْبِلُ أُخْرَى، قَالَ: فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ كَفَّارَةَ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلصَّغَائِرِ، وَهُوَ أَفْضَلُ الْيَوْمَيْنِ، وَيَكُونُ صَوْمُ عَاشُورَاءَ لِمَنْ لَمْ يُصِبْ صَغِيرَةً لِيَكُونَ فِي مَعْنَى مَنْ صَامَ كَفَّارَةً
Artinya: Ibnu Munayyir berkata: Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa Asyura, dan dalam hadits lain disebutkan bahwa ia menghapus dosa satu tahun. Demikian pula puasa Arafah, menghapus dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun yang akan datang. Bisa jadi maksudnya, puasa Arafah untuk dosa-dosa kecil, dan ini lebih utama dari dua hari tersebut. Sedangkan puasa Asyura bagi yang tidak melakukan dosa kecil, maka ia seperti yang berpuasa sebagai kaffarah .Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar, Juz 4, Halaman 245, (penjelasan hadits no. 2004 dari Shahih Bukhari)
Baca juga: Hukum Wudu bagi Difabel: Perlukah Membasuh Anggota Tubuh Palsu?
Niat menggabungkan puasa sunah Asyura dan puasa Qadla
Mayoritas ulama salaf itu memperbolehkan menggabungkan niat puasa qadla di dalam puasa sunnah Asyura. Seperti yang tertulis di Kitab: Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab-Imam An-Nawawi (Syafi’iyah)
وَلَوْ نَوَى صَوْمَ عَرَفَةَ أَوْ عَاشُورَاءَ وَعَلَيْهِ قَضَاءُ، فَنَوَى الْقَضَاءَ وَالْوِرْدَ أَوِ التَّطَوَّعَ حَصَلَ لَهُ الْفَضْلُ
Artinya: “Jika seseorang berniat puasa Arafah atau Asyura, sedangkan dia masih memiliki hutang puasa, lalu dia berniat puasa qadha dan juga untuk mendapatkan keutamaan puasa Arafah atau Asyura, maka dia mendapatkan pahala keduanya.”
Baca juga: Saat Disuguhi Makanan, Bolehkan Membatalkan Puasa Sunah?
Menggabungkan 2 puasa sunnah
Tidak berhenti sampai di situ, penggabungan dua puasa sunah sekaligus juga hukumnya boleh. Seperti ketika puasa Asyura itu bertepatan dengan puasa senin-kamis. Maka boleh juga berniat ganda untuk puasa Asyura dan puasa sunnah senin-kamis. Menurut pengarang kitab I’anah, kasus demikian sama dengan sedekah kepada kerabat dengan niat; sedekah dan mempererat tali silaturrahmi. [Baca: I’anah at-Thalibin, (Beirut: Dar al-Fikr) 2/307.]
Jadi, seandainya puasa Asyura (10 muharram) bertepatan dengan hari senin atau kamis. Maka jika niatnya (semisal) melaksanakan puasa Arafah dan juga puasa hari kamis, maka mendapatkan pahala keduanya.
Baca Juga: Tatacara dan Niat Qadha Shalat
Wallahu a’lam
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
