Pada hari Kamis, 6 Dzulhijjah 1445 H atau bertepatan dengan tanggal 13 Juni 2024 M. Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur, menggelar acara rutinan Majelis Sholawat Kubro. Dalam acara tersebut, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, memberikan nasihat kepada para santri mengenai menundukkan nafsu.
Melawan Hawa Nafsu-Taat Peraturan
Beliau menyampaikan pesan penting: santri harus menjaga diri dan tidak melanggar aturan pondok. Hal ini juga merupakan salah satu hal yang harus santri tanamkan dalam hatinya. Karena ketaatan terhadap aturan pondok adalah cerminan dari adab, akhlak dan kemampuan menahan nafsu dari seorang santri.
Baca juga: KH. M. Anwar Manshur; Syukur Bagi Orang Yang Mencari Ilmu
Melawan Hawa Nafsu-Makan
Setelah itu, beliau menyinggung soal kebiasaan jajan atau mencari kuliner, yang menurut beliau seharusnya santri hindari. Bukan karena makanan itu haram, tetapi karena kecenderungan untuk memuaskan nafsu makan dapat menguatkan hawa nafsu, yang pada akhirnya menghalangi pencapaian spiritual.
“Sebab orang ngaji itu harus merangi hawa nafsu. Dan hawa nafsu, bilamana makannya terpenuhi, maka hawa nafsu akan kuat. Kalau hawa nafsu kuat, kita repot melemahkannya.”
Nasihat ini sangat relevan. Dalam tradisi pesantren, menuntut ilmu agama adalah perjuangan jiwa, bukan sekadar aktivitas belajar. Hawa nafsu adalah musuh dalam selimut. Ia tidak terlihat, tetapi pelan-pelan bisa menggerogoti semangat, merusak niat, dan menurunkan kualitas pembelajaran seorang santri. Maka, melatih diri dengan hidup sederhana, termasuk dalam makan, adalah bagian dari latihan spiritual yang tidak boleh diabaikan.
Baca juga: Agus Ibrahim Ahmad Hafidz; Keistimewaan Malam Jumat
Alasan Kenapa Harus Kontrol Makan dan Minum
KH. Kafabihi kemudian menjelaskan mengapa orang yang mengaji harus melawan hawa nafsu dengan makan dan minum sedikit. Karena tujuan hidup dari orang yang mengaji bukan dunia, tetapi akhirat. Santri harus membiasakan diri hidup hemat, menahan keinginan, dan menghindari kenyamanan berlebihan. Sebab kenyamanan duniawi yang berlebihan bisa menjauhkan seseorang dari kesungguhan dalam menuntut ilmu dan ibadah.
Beliau lalu menyampaikan sebuah kalimat hikmah yang menjadi pegangan banyak ulama salaf:
مِفْتَاحُ الْآخِرَةِ الْجُوعُ
“Kunci akhirat adalah lapar.”
Kalimat singkat ini menyimpan makna besar. Rasa lapar — dalam arti menahan diri atau melawan hawa nafsu — adalah pintu menuju kesadaran hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan ruhani. Sebaliknya, perut yang selalu kenyang cenderung membuat seseorang lalai, mengantuk, dan akhirnya malas.
Baca juga: Majelis Sholawat Kubro (MASBRO) Perdana
KH. Kafabihi menambahkan bahwa orang yang terlalu kenyang akan banyak tidur, dan tidur yang berlebihan membuat tubuh berat untuk beraktivitas. Semangat ibadah menurun, kemampuan berpikir tumpul, dan semangat belajar pun jadi lesu. Ini bukan hanya teori; banyak ulama besar dalam sejarah Islam yang mencontohkan kehidupan sederhana sebagai syarat bagi keberhasilan spiritual.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





