Pada Majelis Sholawat Kubro di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis Legi, 3 Dzulhijjah 1446 H/29 Mei 2025 M, Agus Dahlan Ridlwan menjelaskan bahwa doa mustajab menjadi kekhususan yang dimiliki oleh setiap nabi.
Manusia biasa tentu memiliki sesuatu yang ia anggap paling berharga. Seorang pendekar memiliki ilmu pamungkas yang hanya dia keluarkan pada saat-saat tertentu. Demikian pula para nabi. Mereka memiliki doa yang mustajab, sebuah doa yang dijamin akan dikabulkan oleh Allah Swt.
Baca juga: Santri Harus Fokus Menuntut Ilmu, Jangan Khawatir Rezeki dan Jodoh
Hal ini sebagaimana disampaikan Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sahih Muslim:
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ
“Setiap nabi memiliki satu doa yang pasti dikabulkan.”
Namun, ada sesuatu yang sangat istimewa dari Rasulullah saw. Jika para nabi terdahulu telah menggunakan doa mustajab mereka ketika masih hidup di dunia, Rasulullah saw. justru memilih untuk menyimpan doa tersebut.
Baca juga: Cinta kepada Nabi Dibuktikan dengan Mencintai Warisannya
“Semua Nabi doa pamungkasnya itu ia doakan saat masih hidup di dunia. Jika doa pamungkas itu diucapkan, maka laksana seketika itu Allah menghijabai. Tapi tidak dengan diriku,” demikian penjelasan Agus Dahlan Ridlwan.
Rasulullah saw. memilih untuk tidak menggunakan doa mustajab tersebut di dunia. Doa itu akan beliau simpan hingga kehidupan akhirat. Beliau akan membawanya sampai wafat, hingga dibangkitkan dari alam kubur, kemudian menghadap Allah Swt. di Padang Mahsyar.
Doa Nabi
Di tempat itulah doa tersebut akan Rasulullah panjatkan. Lalu, apa doa Nabi?
“Apa yang diminta nabi? Agar umatku semuanya masuk surga.” Ungkap Gus Dahlan, menggambarkan permintaan Nabi kepada Allah Swt.
Baca juga: Mencintai Rasulullah Harus Melebihi Cinta kepada Diri Sendiri
Rasulullah saw. menginginkan agar umatnya mendapatkan keselamatan dan masuk surga. Inilah salah satu gambaran betapa besarnya kasih sayang Rasulullah saw. kepada umatnya.
“Kalau kamu dikasih doa yang pasti mustajab. Apa yang kalian minta ya?” Lanjut Gus Dahlan, memberikan pertanyaan kepada para santri yang hadir.
Pertanyaan tersebut menjadi bahan renungan yang disampaikan Agus Dahlan Ridlwan kepada para jamaah.
Mungkin ada yang akan meminta harta berlimpah. Ada yang meminta pasangan yang cantik atau tampan. Ada pula yang mungkin meminta perubahan pada dirinya sendiri.
Baca juga: Mencintai Rasulullah Harus Melebihi Cinta kepada Diri Sendiri
Pertanyaan tersebut sebenarnya sederhana, tetapi cukup untuk mengungkap ke mana arah perhatian kita ketika mendapatkan kesempatan yang luar biasa.
Apakah yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah diri sendiri? Ataukah kita akan mengingat orang lain?
Agus Dahlan kemudian memberikan perumpamaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika uang kiriman dari orang tua baru datang, misalnya, seseorang mendapatkan uang saku lebih dari satu juta rupiah. Saat kantong sedang penuh, terkadang teman-teman tidak terlalu terpikirkan.
Namun, keadaan bisa berubah ketika uang mulai habis. “Giliran tongpes. Tahu tongpes? Kantong tempes. Ingat semua temannya,” ujarnya disambut tawa jamaah.
Baca juga: Kisah Syaikhona Kholil Nyantri ke Mbah Hasyim Asy’ari
Saat membutuhkan sesuatu, barulah seseorang teringat kepada teman yang biasa mentraktir kopi atau membantu ketika sedang kekurangan.
Menurut beliau, pola seperti itu justru bertolak belakang dengan keteladanan Rasulullah saw. Rasulullah saw. menunjukkan bahwa ketika memiliki kesempatan untuk meminta sesuatu yang sangat berharga kepada Allah, yang beliau pikirkan bukanlah kepentingan dirinya sendiri, melainkan keselamatan umatnya.
Cinta Rasulullah kepada Umat
Doa pamungkas Rasulullah saw. menjadi gambaran betapa luasnya kasih sayang beliau kepada umat.
Sesuatu yang bisa saja digunakan untuk kepentingan pribadi, justru beliau simpan hingga akhirat. Beliau memilih untuk memanjatkannya pada saat yang sangat penting, ketika umat manusia berada di hadapan Allah Swt.
Pesan tersebut sekaligus menjadi cermin bagi kita: sejauh mana kita mampu mengingat orang lain ketika mendapatkan kesempatan untuk meminta kepada Allah?
Baca juga: Kisah Mbah Karim Sebrangi Selat Madura demi Menimba Ilmu
Sebab, mencintai Rasulullah saw. bukan hanya dengan memperbanyak lantunan selawat. Kecintaan itu juga perlu diwujudkan dengan meneladani akhlak beliau—termasuk kepedulian kepada sesama.
Jika Rasulullah saw. menyimpan doa mustajabnya demi umat, semestinya kita pun belajar untuk tidak selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari setiap doa.
Setidaknya, ketika rezeki sedang lapang, jangan hanya ingat pada diri sendiri. Dan ketika kantong sedang “tongpes”, jangan baru teringat teman.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
