Tag Archives: jawa timur

Hasil Keputusan Bahtsul Masail FMP3 Ke-XXIV di Pondok Pesantren Lirboyo

LirboyoNet, Kediri- Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) yang digelar di Pondok Pesantren yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri telah usai. Selama dua hari, 22-23 Januari 2020, ratusan santri dari berbagai pesantren putri di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini melakukan diskusi ilmiah terkait problematika faktual dan aktual yang berkembang di masyarakat, mulai dari permasalahan nafkah di era millenial, Youtubers bersyariah, dan berbagai persoalan lainnya.

Dalam forum yang menjadi agenda tahunan pondok pesantren putri ini, semua peserta dibadi ke dalam tiga komisi, yakni A, B, dan C. Selain diskusi yang dibagi ke dalam dua sesi, seminar kebangsaan menjadi acara pamungkas.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan berikut:

Hasil Keputusan Bahtsul Masail FMP3 Ke-XXIV

Menyongsong Revolusi Industri 4.0

LirboyoNet, Kediri- Siang tadi (18/03), Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri menggelar kuliah umum yang bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren Menyongsong Revolusi Industri 4.0” dengan mendatangkan Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, sebagai pembicara. Memanfaatkan momentum tersebut, ratusan mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIT Lirboyo Kediri yang mengikuti acara tersebut memadati ruang auditorium Al-Muktamar.

Dalam sambutannya, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang sekaligus Rektor Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Lirboyo Kediri menyambut baik atas terselenggaranya kuliah umum tersebut dengan menjelaskan pentingnya ilmu dalam menjawab tantangan zaman. “Untuk menghadapi dunia ke depan, yang dibutuhkan adalah ilmu.” terang Yai Kafabih.

Sebagai pembicara, Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa menjelaskan dengan sistematis dan terperinci perihal revolusi industri 4.0. Perkembangan teknologi dengan segala kemajuannya adalah realita zaman yang seharusnya diimbangi, terutama oleh generasi milenial yang dalam masa pendidikan, baik yang ada di perguruan tinggi maupun pondok pesantren.

Fenomena ekonomi digital di Indonesia telah berkembang pesat saat ini. Semua hal yang berkaitan dengan ekonomi dan industri banyak dilakukan secara online. Di sinilah tantangan generasi milenial seperti kalian harus mampu ikut serta dan mewarnainya demi kekuatan dan kemajuan ekonomi bangsa.” terang bu Khofifah.

Mengimbangi kemajuan teknologi digital tetap saja memiliki dampak negatif yang perlu diantisipasi dan diperangi, salah satunya mewabahnya hoax atau berita palsu. Hal itu disampaikan Guberner Jawa Timur yang baru terpilih ini di akhir sesi kuliah umum yang disampaikannya.[]

Brosur Isntitut Agama Islam TRIBAKTI Lirboyo Kediri :
-Brosur 1
-Brosur 2

Hari Santri, Pesantren se-Jawa-Madura Berbahtsul Masail di Cirebon

LirboyoNet, Kediri — Ratusan santri dari 41 pondok pesantren se-Jawa Timur berkumpul di pondok pesantren Lirboyo, Kamis pagi (20/10/16).  Rencananya, mereka akan berangkat bersama-sama ke Pesantren Babakan, Ciwaringin, Jawa Barat. Jauh-jauh ke sana, untuk apa?

Dengan diantar tiga bus, mereka akan mengikuti Bahtsul Masail ke-30 yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa Madura. Rincinya, bahtsul masail dilaksanakan pada Jum’at-Sabtu, 20-21 Muharram/21-22 Oktober.

Bukan kebetulan jika agenda bahtsul masail ini bertepatan dengan Hari Santri Nasional (22 Oktober). Karena, sebagaimana yang diberitakan radarcirebon.com,  selain bahtsul masail, panitia telah menyiapkan beberapa agenda bagi para peserta. Diantaranya, pemutaran film “Jalan Dakwah Pesantren” dan halaqah kebangsaan.

Demam “pesantren dan nasionalisme” memang sangat kentara dalam agenda FMPP kali ini. Ketua panitia, KH. Arwani Syaerozi menyatakan, dalam kesempatan ini, banyak isu nasional yang menjadi tema masalah untuk dirumuskan nantinya oleh para peserta. Diantaranya, “Implementasi Resolusi Jihad di Era Post Modern”, “Piagam Madinah sebagai Konstitusi Negara untuk Masyarakat Plural”, dan “Menggugat Perda Syariat”. Materi soal yang akan dibahas selengkapnya bisa didownload di link ini.

Terlepas dari apapun yang dihasilkan nanti, forum ini adalah usaha untuk mencari dan menemukan rumusan intelektual atas studi kasus terkini, dari tema politik (siyasah), tema global (mashlahah ‘ammah), hingga sosial (ijtima’iyah) semisal . Tentu saja, konsep rumusan ini memiliki jangkauan superluas, karena fikih memang sebuah ranah yang tak akan habis dan mentok untuk dikaji. Karenanya pula, santri, yang notabene hari-harinya ditenggelamkan oleh kajian fikih, menanggung sebuah peran berat: mentransformasi nilai-nilai fikih itu dalam tema-tema yang tak berhenti berkembang di dalam masyarakat.][

 

Semaan Alquran Bersama Kapolda

LirboyoNet, Kediri –  Menurut analisis Prof. Komarudin Hidayat, Indonesia hanya menempati posisi ke-140 sebagai negara yang menerapkan nilai-nilai Islam di dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara negara yang kehidupan masyarakatnya paling sesuai dengan ajaran Rasulullah adalah New Zealand, yang notabene muslim di sana hanya menjadi minoritas.

Irjen Pol (Purn) Untung S Radjab, mantan Kapolda Jawa Timur, mengungkapkan fakta ini di dalam acara “Semaan Alquran Mantab Polda Jatim 2015”, Rabu (25/11) di Surabaya. Menurutnya, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak masih gagal dalam menanamkan nilai-nilai Islam. “Kita masih senang menyibukkan diri dengan ritual-ritual yang tidak bernilai positif. Kita suka sekali meributkan salah-benar,” imbuhnya.

Dengan latar belakang seperti inilah, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur berinisiatif menggerakkan kegiatan masyarakat menuju ke arah yang lebih positif. Salah satunya adalah acara ini. Tidak tanggung-tanggung, Irjen Pol Anton Setiadji selaku Kapolda Jatim menginstruksikan kepada seluruh Polres di seantero Jawa Timur untuk mengikuti kegiatan ini. Dari Banyuwangi, Pacitan, hingga Tuban. Telah disediakan panggung luas untuk mengakomodir para hadirin di lapangan kantor yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 166, Wonocolo Surabaya ini.

[ads script=”1″ align=”center”]

Selain itu, beberapa pondok pesantren juga diundang. Termasuk diantaranya Pondok Pesantren Lirboyo. Tiga puluh santri dipilih, mereka dijemput dari pondok dan diantar dengan dikawal mobil Patwal.

Acara sebenarnya dimulai sejak subuh, dan berakhir pada petang hari, tepat saat adzan Maghrib. Hujan yang mengguyur deras tidak mengurangi semangat para mustami’in. Setelah jamaah Isya, baru dilantunkan dzikir khas Dzikrul Ghofilin. Pelaksanaan ini, menurut bapak Kapolda, sesungguhnya bertujuan untuk mewujudkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang aman, tertib, dan kondusif. “Masyarakat cek iso kerjo enak, petani kerjo enak, pedagang yo iso kerjo enak. Inisiatif sudah kita lakukan, kerja keras sudah, bermacam kegiatan kreatif juga sudah. Kita tinggal berdoa. Kalau kok tidak sesuai harapan, ya sudah. Wong usaha kita sudah maksimal kok,” imbuh beliau.][

Silaturahim FORSIB BMPD Jawa Timur

(lirboyo.net) Sabtu, 23 Nopember 2013. Suasana Masjid Al Hasan sedikit berbeda, beberapa permadani tertata rapi, di sebelah selatan mihrab terdapat tulisan Silaturrahim FORSIB (Forum Silaturahim Insan Bank) BMPD dan Pondok Pesantren Lirboyo.

Rombongan tiba di Pondok Pesantren Lirboyo sekitar pukul 10.00 Wib dengan menggunakan armada tiga bus dan langsung disambut Pimpinan Pondok serta  beberapa pengurus. Kedatangan rombongan sesuai dengan agenda yang telah dijadwalkan.

Acara silaturahim dimulai pukul 10.30 WIB setelah para peserta istirahat sejenak. Pembawa acara langsung memimpin dengan mengawali pembacaan surat Al Fatihah dengan harapan Acara Silaturrohim berjalan lancar dan bermanfaat.

Sambutan selamat datang dari Pengurus diwakili oleh Bapak HM. Mukhlas Noer, beliau sedikit menjelaskan manfaat silaturahim yang begitu besar. Tak lupa menyampaikan rasa terimakasih kepada para insan perbankan yang telah meluangkan waktu untuk bersilaturrahim dan juga menimba ilmu walaupun tidak lama.

Sambutan diteruskan oleh perwakilan dari rombongan selaku ketua FORSIB bapak Budi, beliau mengucapkan terimakasih atas kedatangannya kepondok Pesantren Lirboyo diterima dengan santun dan ramah, harapannya semoga kegiatan ini bisa bermanfaat bagi para anggota.

Pengenalan Pondok Pesantren Lirboyo dipaparkan oleh KH. An’im Falahudin Mahrus. Berawal dari perjalanan sang pendiri yaitu KH. Abdul Karim yang dulu dikenal dengan nama Manab. MbaKarim menimba ilmu pada Syaikhuna Kholil Bangkalan Madura selama 27 tahun dan diteruskan ke Tebuireng yaitu hadrotus syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang tak lain adalah teman ketika belajar di Bangkalan. Setelah menimba ilmu cukup lama beliau dinikahkan dengan putri KH. Sholeh Banjar Melati Kediri dan dibuatkan rumah gubug di Desa Lirboyo yang kelak menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Lirboyo yang sekarang sudah berumur 100 tahun. Gus An’im (sapaan beliau) menjelaskan perkembangan Pondok Lirboyo yang sudah pesat dengan  jumlah santri sekitar 12.000 orang.

Penerus Pondok dilanjutkan oleh dua menantu yaitu KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly. Keduanya bertugas didalam pondok dan berinteraksi dengan masyarakat luar. Gus Anim menyayangkan pejuangan pesantren tidak dihargai, padahal ketika zaman penjajahan para santri khususnya Lirboyo terus bergerilya, salah satunya beliau bercerita ketika zaman penjajahan jepang, Kiai Mahrus mengutus  santri yang masih kecil namanya Sulaiman, santri disuwuk (jawa) kemudian diutus untuk mengintai markas jepang. Hal ini membuktikan betapa besar perjuangan Pondok Pesantren demi kemerdekaan negara.

Para alumni juga diharapkan bisa berkembang di semua bidang. Dalam dunia perbankan ada salah satu Alumni Lirboyo yang sekarang menjadi Dewan Pengawas Syariah yaitu Drs. Hasanudin. Harapannya bisa muncul alumni-alumni lain yang berkiprah dimasyarakat.

Di akhir penjelasannya beliau mengambil sebuah hadis bahwa kalau orang yang berhutang kemudian dia sanggup membayarnya maka allah akan memberikan pertolongan dengan syarat mempunyai niat untuk membayar dan pemasukannya mampu untuk membayar . beliau menambahkan modal pokok untuk kehidupan seseorang adalah dengan sifat shidiq (kejujuran) dan amanah (dipercaya). Acara  ditutup dengan doa dipimpin langsung oleh Gus Anim dan penyerahan cindera mata dari FORSIB dan Pondok, setelah itu, dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah.

KAJIAN SPIRITUAL

Setelah ishoma, acara silaturrohim dilanjutkan dengan kajian spiritual yang disampaikan oleh KH. Reza Ahmad Zahid LC. MA. Gus reza (sapaan akrab) mengawali penjelasannya tentang perjalanan penyebaran dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah sampai pada kepiawaian nabi dalam mengatur perekonomian pada saat itu, perubahan nama Yatsrib menjadi Madinah diharapkan bisa berkembang dengan pesat baik dalam bidang keagamaan maupun perekonomian. Setelah menjelaskan sekitar satu jam dilanjutkan tanya jawab. Muncul pertanyaan dari para anggota, yaitu bagaimana untuk memotivasi anggotanya agar aktif dalam kegiatan FORSIB?. Beliau mengambil kisah Nabi Ilyas as. yang sampai sekarang masih hidup, ketika menjelang ajal Nabi Ilyas as. didatangi malaikat Izroil, tapi Nabi Ilyas menangis karena ketika di bumi ada perkumpulan, majelis dzikir dan halaqah kelimuan siapa yang akan menjaganya, dengan penjelasan tersebut Nabi Ilyas diberi umur sampai hari akhir. Ada satu pertanyaan menarik yaitu bagaimana anak agar mau mondok? Beliau menjawab ajak anak ke pondok-pondok, silaturahim kiai dan tak lupa disuwuk langsung disambut tawa.

Di penghujung pemaparanya beliau berbagi ilmu tentang konsep untuk berorganisasi yang diambil dari syair nadzam Alfiyah Ibnu Malik bahwa angkatlah bersama, terbukalah untuk semua dan kerjakanlah tugas yang diberikan sehingga bisa berjalan bersama seperti ketika berdzikir kepada Allah. Beliau menambahkan empat hal yang menjadi benteng untuk orang lebih baik dengan adab, Ilmu , bersungguh-sungguh dan amanah. Acara ditutup dengan shalat ashar berjamaah. akhlis