Syarat penting mencari ilmu

Kita berada di pesantren diniati untuk menghadap kepada Allah.

Orang menghadap kepada Allah harus tahu diri, jangan sampai kita menghadap kepada Allah, diri kita masih berlumuran dosa. Coba saja kita menghadap kepada penguasa, bilamana kita punya salah pasti tidak berani menghadap ke penguasa, lalu bagaimana ketika kita menghadap kepada Allah, yang mana Allah adalah Raja di atas raja, Penguasa di atas penguasa.

Taubat

Maka dari itu, Imam abdul Wahab asy-Sya’roni, pernah berkata “Kalau orang mau menghadap Allah, yang harus dilakukan adalah bertaubat, beristighfar. ” Bilamana orang menghadap kepada Allah dan dia pantas menghadap kepada Allah karena dia bertaubat lalu diterima, maka doanya akan diijabah oleh Allah.

Bertaubat, selain merupakan perkara yang wajib, juga terdapat beberapa tingkatan. Ada taubat karena dosa besar, ada taubat karena meninggalkan sunnah.

Dikisahkan ada sahabat tidak melaksanakan sholat jamaah, beliau mengqodloinya dengan sholat dua puluh tujuh kali.

Orang belajar di pesantren, yang pertama kali dilakukan adalah bertaubat. Jika orang mengingat dia pernah melakukan dosa, lalu ia menangis, ia benar-benar bertaubat. Dan bukan dinamakan orang yang bertaubat, ketika ia mengingat dosanya malah merasakan nikmat, merasakan kebahagiaan karena melakukan dosa.

Hati yang Bersih

Syarat yang lain dalam mencari ilmu, adalah hati yang bersih. Karena ilmu adalah nur. Dan ilmu diberikan oleh Allah hanya untuk hati yang bersih dari penyakit-penyakit hati, seperti pelit, iri, dengki.

Perbedaan orang yang mempunyai penyakit dzahir (badan) dengan yang memiliki penyakit hati, adalah saat ia mati. Ketika manusia mati, semua penyakit badan tidak akan terasa sakit lagi. Berbeda dengan penyakit hati yang di dalam kubur nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

Akhlaqul Karimah

Syarat yang ketiga dalam mencari ilmu, adalah berakhlakul karimah, dengan gurunya takzim, jangan sampai meremehkan gurunya walaupun kalian lebih pandai. Jangan pernah menyakiti guru kalian.

Kalam sufi mengatakan, “Ridhonya Allah ada dalam ridhonya guru,” karena guru sama posisinya dengan orang tua kita ketika belajar. Artinya, jika seseorang mau selamat dunia dan akhirat, maka ia harus patuh dengan orang tuanya.

KH. Mahrus Aly pernah dawuh, “Pergi ke manapun, jauh atau dekat, izinlah kepada orang tua. ” karena dikhawatirkan menyakiti orang tua.

إيذاء الوالدين وهو عقوق الوالدين وعقوق الوالدين من الكبائر

“Menyakiti orang tua, berarti berani kepada orang tua. Dan berani kepada orang tua, termasuk dosa besar.”

Doanya orang tua itu mustajab, terutama doa ibu. Jangan sampai membohongi orang tua.

Jangan melakukan sesuatu yang tidak berguna. Karena termasuk orang yang Islamnya baik, adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna. Karena orang Islam segala perkaranya baik. Kalau kalian menerima kebaikan-kebaikan, supaya bersyukur. Kalau kalian menerima sesuatu yang tidak baik, supaya kalian bersabar.

Umumnya, seorang wali itu takut diberi kenikmatan oleh Allah. Karena takut itu adalah istidraj dari Allah. Justru Wali Allah itu senang dengan ujian, karena dengan kesabaran menghadapi ujian, akan berujung pahala yang besar dari Allah.

Orang mondok itu juga ujiannya banyak, kadang weselnya telat, kadang sakit, kadang tidak istiqomah.

Mondok itu sebenarnya bukan fasilitas yang diprioritaskan. Karena orang mondok itu riyadloh, tirakat. Jangan sampai orang mondok itu menuntut fasilitas, karena itu termasuk memerangi hawa nafsunya. Termasuk memerangi hawa nafsu adalah hidup disiplin.

(Disampaikan dalam halal bi halal pondok pesantren lirboyo 2021)

Baca juga:
Nasehat KH. M. Anwar Manshur pada Awal Tahun Ajaran Baru

Simak juga:
Tiga Golongan Terbaik | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.