Tag Archives: Pahlawan Nasional

Membaca Hati Santri, Karomah Kiai Mahrus

“Saya pernah ikut ngaji Fathul Wahab dan Tafsir Yasin kepada Kiai Mahrus,” tutur KH.Fathoni Syihabuddin Cirebon.

“Di masa itu, saya sering menyiapkan bangku, bantal dan sajadah beliau untuk mengaji.”

Suatu hari, beliau duduk tepat di belakang Kiai Mahrus. Diam-diam beliau mencoba mengintip dan melihat kitab Kiai Mahrus, “Saya penasaran, seperti apa sih isi kitab beliau?”

Meskipun beliau ‘alim benar dalam ilmu fiqih, ternyata kitab beliau masih dipenuhi tulisan-tulisan yang berisikan keterangan.

Tiba-tiba, “Alangkah kagetnya saya, beliau seketika itu menghentikan bacaannya.”

Waktu, yang diumpamakan pedang itu, meski sepersekian, menghunus sangat dalam di hati Fathoni muda, “Nek wong pinter iku biasane tulisane elek.”

Kalimat itu diucapkan Kiai Mahrus begitu saja. Sembari lalu. Namun justru kalimat itu tertanam benar di benak dan ingatan beliau.

“Karena,” tutur beliau saat mengenang hari itu, “saat saya melihat tulisan beliau itu, dalam hati saya bergumam bahwa tulisan beliau juga tidak terlalu bagus.”

“Padahal saat saya mengintai tulisan beliau, posisi beliau sedang menghadap ke barat dan saya rasa beliau tidak mengetahui kalau saya mengintainya.”][

 

____________

Disarikan dari buku “Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”.

Seminar Pengajuan KH. Subkhi sebagai Pahlawan Nasional

Telah ditemukan beberapa data baru yang menunjukkan bahwa pengaruh dan peranan perjuangan KH. Subkhi Parakan tidak hanya sebatas dalam skup kedaerahan, melainkan skupnya sudah level nasional. Sebab itu, ulama yang dikenal dengan sebutan Kiai Bambu Runcing ini layak mendapatkan gelar pahlawan nasional.

Salah satu syarat yang diberikan kementerian sosial bisa diterimanya seorang tokoh menjadi pahlawan nasional adalah adanya pengakuan bahwa kiprah pengabdian atau dampak peranannya adalah berskala nasional.

Demikian disampaikan H Anashom, Dosen UIN Walisongo Semarang saat menjadi salah satu pembicara dalam Sarasehan bertajuk “Perjuangan Santri untuk Negeri, Pengajuan KH. Subkhi sebagai Pahlawan Nasional” di Pendopo Pengayoman Kabupaten Temanggung, Jumat (21/10).

“Salah satu dari data terbaru tersebut adalah dalam salah satu bukunya almarhum cendekiawan muslim Nur Kholis Madjid bercerita bahwa ayahnya dahulu pada masa perang revolusi sering bepergian beberpa hari lamanya meninggalkan rumahnya di Jombang. Pulang-pulang ternyata membawa oleh-oleh sejumlah senjata tradisional seperti ketapel dan bambu runcing sebagai modal perjuangan melawan penjajah kala itu. Ternyata bapaknya Nur Kholis Majid perginya ke Parakan Temanggung,” tutur Anashom.

Data lainnya, lanjut Anashom, pengakuan dari sastrawan Ajib Rasyidi juga pernah memberikan kesaksian dalam salah satu tulisannya bahwa pada zaman perang revolusi banyak orang-orang dari daerahnya yaitu Majalengaka Jawa Barat yang pergi ke Parakan untuk mencari doa.

Dalam sarasehan yang merupakan salah satu dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2016 yang dihelat PCNU Temanggung ini, Anashom mengimbau supaya PCNU Temanggung membentuk tim untuk menggali lebih dalam tentang kiprah dan peranan KH. Subkhi terutama dari nara sumber atau saksi dari luar daerah demi berhasilnya upaya pengusulan gelar pahlawan nasional tersebut.

“Siapa saja yang mendengar cerita dari informan tentang peranan KH. Subkhi supaya dicatat.Yang dibutuhkan adalah kesaksian dan pengakuan dari banyak orang lintas daerah walaupun hanya cerita-cerita kecil, pengakuan bahwa seseorang pernah pergi untuk sowan ke Mbah subkhi itu sudah cukup,” ujar Ketua PCNU Kota semarang itu.][

Penulis, M. Haromain, alumni Lirboyo angkatan 2010 asal Temanggung, Jawa Tengah