Bolehkah Berziarah ke Makam Pahlawan Non-Muslim?

Ziarah kubur adalah suatu kegiatan yang sudah menjamur di masyarakat Islam Nusantara. Selain bertujuan untuk mendoakan kepada yang sudah meninggal, juga sebagai rangka mengingat kematian dan menyelami pelajaran yang telah mereka torehkan ketika masih hidup—lebih-lebih para pahlawan. Namun, para pejuang pahlawan Nasional tidak hanya dari orang Islam saja, melainkan tidak sedikit juga yang beragama non-islam. Lantas timbul pertanyaan, bolehkah berziarah ke makam pahlawan non-Muslim?

Baca juga: Benarkah Bulan Ṣafar Bulan Kesialan?

Hukumnya boleh

Para pakar fiqih terkemuka, sebetulnya sejak dahulu sudah pernah mereka bahas. Salah satunya adalah Imam as-Syarwani yang memberi pendapat bahwa ziarah ke makam non-Muslim itu hukumnya boleh atau mubah.

قَالَ فِي الْإِيْعَابِ: وَإِنَّمَا تُسَنُّ الزِّيَارَةُ لِلِاعْتِبَارِ وَالتَّرَحُّمِ وَالدُّعَاءِ، أَخْذًا مِنْ قَوْلِ الزَّرْكَشِيِّ: إِنَّ نَدْبَ الزِّيَارَةِ مُقَيَّدٌ بِقَصْدِ الِاعْتِبَارِ أَوِ التَّرَحُّمِ وَالِاسْتِغْفَارِ أَوِ التِّلَاوَةِ وَالدُّعَاءِ وَنَحْوِهِ، وَيَكُونُ الْمَيِّتُ مُسْلِمًا، أَيْ وَلَوْ أَجْنَبِيًّا لَا يَعْرِفُهُ، لَكِنَّهَا فِيمَنْ يَعْرِفُهُ آكَدُ. فَلَا تُسَنُّ زِيَارَةُ الْكَافِرِ بَلْ تُبَاحُ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ.

“Sesungguhnya ziarah kubur itu hukumnya sunah ketika bertujuan mengambil pelajaran (i‘tibār), mendoakan rahmat, dan berdoa. Hal ini berdasarkan perkataan al-Zarkasyi bahwa anjuran (sunnah) berziarah itu terbatasi dengan niat untuk mengambil pelajaran, atau untuk mendoakan rahmat dan memohonkan ampunan, atau membaca Al-Qur’an serta berdoa dan sejenisnya. Dan mayit yang diziarahi adalah seorang Muslim, meskipun ia orang lain yang tidak dikenal. Namun, berziarah kepada orang yang ia kenal lebih utama. Maka tidak disunnahkan berziarah ke kubur orang kafir, tetapi hanya sebatas boleh, sebagaimana diterangkan dalam kitab al-Majmū‘.” [‘Abd al-Ḥamīd al-Sharwānī, Ḥāsyiyah al-Imām ‘Abd al-Ḥamīd al-Sharwānī ‘alā Tuḥfah al-Muḥtāj fī Sharḥ al-Minhāj, (Miṣr: al-Maktabah al-Tijārīyah al-Kubrā, 1357 H/1983 M). 3/200].

Baca juga: Zakat Pertanian: Bolehkah dari Gabah? Ini Batas Nishabnya!

Hukumnya bisa menjadi sunah

Namun selain itu, menurut Syaikh Sulaiman al-Bujairami menyatakan bahwa menziarahi makam non-Muslim itu hukumnya sunah jika bertujuan untuk mengambil pelajaran terhadap orang yang meninggal atau untuk mengingat kematian.

أَمَّا زِيَارَةُ قُبُورِ الْكُفَّارِ فَمُبَاحَةٌ، وَقِيلَ: مُحَرَّمَةٌ. شَرْحُ الْمَنْهَجِ: نَعَمْ، إِنْ كَانَتِ الزِّيَارَةُ بِقَصْدِ الِاعْتِبَارِ وَتَذَكُّرِ الْمَوْتِ كَانَتْ مَنْدُوبَةً مُطْلَقًا. إطْفِيحِيٌّ.

“Adapun ziarah ke kubur orang-orang kafir, maka hukumnya mubah (boleh). Ada pula yang berpendapat haram. Dalam Syarḥ al-Minhāj disebutkan: Ya, apabila ziarah itu dilakukan dengan tujuan mengambil pelajaran (i‘tibār) dan mengingat kematian, maka hukumnya dianjurkan (mandūb) secara mutlak. (Al-Iṭfīḥī). [Sulaimān bin Muḥammad bin ‘Umar al-Bujayrimī al-Miṣrī al-Syāfi‘ī, Ḥāsyiyah al-Bujayrimī ‘alā al-Khaṭīb, (Beirut: Dār al-Fikr, 1415 H/1995 M). 2/301].

Rupanya ini juga berlaku ketika seseorang menziarahi makam Pahlawan Nasional yang non-Muslim karena ingin mengambil pelajaran tentang perjuangan mereka dalam membela Negara dan mempertahankan kemerdekaan.

Baca juga: Meninggalkan Salat Jumat Tiga Kali, Benarkah Murtad?

Mendoakan Jenazah Non-Muslim

Adapun jika mendoakan jenazah non-Muslim, menurut al-Qulyubi dalam kitab Syah Minhaj-nya memberi keterangan boleh-boleh saja, namun dengan catatan tidak mendoakan ampunan dari dosa kekufuran non-muslim tersebut hingga meninggal, maka yang demikian tidak boleh.

يَجُوزُ إِجَابَةُ دُعَاءِ الْكَافِرِينَ، وَيَجُوزُ الدُّعَاءُ لَهُ وَلَوْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ، خِلَافًا لِمَا فِي الْأَذْكَارِ، إِلَّا مَغْفِرَةَ ذَنْبِ الْكُفْرِ مَعَ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ فَلَا يَجُوزُ.

“Boleh mengabulkan doa orang-orang kafir, dan boleh pula mendoakan mereka sekalipun dengan permohonan ampunan (maghfirah) dan rahmat, berbeda dengan apa yang terdapat dalam kitab al-Adzkār. Hanya saja, memohonkan ampunan dari dosa kekufuran sedangkan ia mati dalam keadaan kafir, maka itu tidak boleh.” [Aḥmad Salāmah al-Qulyūbī, Ḥāsyiyah al-Qulyūbī, (Surabaya: al-Ḥaramain), I/367].

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses