Tag Archives: pancasila

4300 Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Mengkaji Fikih Kebangsaan

Tantangan merebaknya ideologi radikal dan intoleran yang menggerus generasi bangsa belum juga padam. Karenanya baru-baru ini kajian buku Fikih Kebangsaan digelar di UIN Raden Fatah Palembang.

Dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Raden Fatah Palembang (14-16/08) sebanyak 4.300 mahasiswa baru diwajibkan membaca dan membuat resume buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Pondok Pesantren Lirboyo).

Rika Febriyansi Ketua Panitia menjelaskan: “PBAK yang mengambil tema ‘Mewujudkan Mahasiswa Nasionalis Kreatif Religius dan Intelektual dalam Rangka Menyongsong Bonus Demografi’ tahun ini sengaja menjadikan buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL sebagai media untuk mengenalkan budaya akademik, membudayakan baca tulis, memperkaya literasi dan wawasan kebangsaan di lingkungan mahasiswa baru.”

Aktifis kampus yang juga Ketua PC IPNU OKU Selatan lebih lanjut menegaskan: “Kajian Fikih Kebangsaan ini sangat penting bagai kalangan mahasiswa sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan, rasa cinta tanah air, membekali mahasiswa baru dengan pemahaman keagamaan yang proporsional dan menjauhkannya dari paham ekstrim-radikal yang menyusup ke berbagai ruang di masyarakat, tak terkecuali berbagai kampus di Indonesia.”

Mahasiswa Fakultas Psikologi Islam UIN Raden Fatah Palembang juga berharap, agar buku Fikih Kebangsaan dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa dan masyarakat dalam meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara, serta menangkal ideolegi ekstrim radikal anti Pancasila di lingkungan kampus UIN Raden Fatah khususnya dan di kota Palembang secara lebih luas. (Windy Susilawati/Palembang)

Sumber : aswajamuda.com

 

Judul: Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan
Pengantar: KH. Maimun Zubair
Mushahih: KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, dkk.
Penyusun: Tim Bahtsul Masail HIMASAL
Editor: Ahmad Muntaha AM
Page, Size: xvi + 100 hlm; 14,5 x 21 cm
Penerbit: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL
ISBN: 978-602-1207-99-0
Harga: Rp 22.000
Pemesanan: 0856-4537-7399

Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan

Keabsahan ideologi Pancasila yang telah berdiam di tengah bangsa Indonesia sejak lampau kala, akhir-akhir ini terus digugat dan dipertentangkan. Butir-butir sila, juga penerapannya dianggap terlampau jauh dengan konsep yang telah ditata oleh agama, dalam hal ini Islam, sebagai agama terbesar di Indonesia. Agama yang dibawa oleh manusia sempurna, al-insan al-kamil, Nabi Muhammad saw., adalah agama yang sempurna pula. Karenanya, menurut para penggugat itu, seluruh perikehidupan manusia sejatinya harus merujuk kepada dua sendi agama: Alquran dan hadits.

Sementara, apa yang telah menjadi keputusan bangsa Indonesia untuk memeluk Pancasila sebagai ideologi kebangsaannya, masih menurut mereka, tidaklah sesuai, bahkan bertentangan dengan teks yang ada dalam dua sendi itu. Banyak hukum syariat, semacam had dan qishash, tidak mampu dilaksanakan oleh negara. Mereka mendakwa bahwa apa yang sedang dianut bangsa ini adalah kesalahan fatal. Mereka merujuk pada ayat Alquran:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

 “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون

 “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang dzalim.” (QS. Al-Maidah: 45)

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الفاسقون

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Maidah: 47)

Ayat-ayat yang berderet ini, terucap dalam ayat-ayat yang beruntun, menurut mereka adalah dalil shahih untuk menyatakan Pancasila sebagai ideologi yang salah, bahkan sesat (thaghut).

Namun, apakah Pancasila sesesat itu? Lantas bagaimana sejatinya bentuk negara yang diwajibkan syariat? Lalu, apakah para ulama dahulu, yang lebih memilih menukarkan tanah air ini dengan darah dari pada jatuh ke tangan penjajah, dianggap menumbuhkan kesesatan?

Para intelektual alumni santri Lirboyo, yang tergabung dalam tim bahtsul masail HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo), berusaha meluruskan penggugatan dan pertentangan ini.  Dengan buku berjudul “Fikih Kebangsaan: Merajut Kebersamaan Ditengah Kebhinekaan”, Mereka membawa tema keabsahan NKRI, terminologi Amr Ma’ruf Nahi Munkar, dan isu toleransi dengan pola kajian yang rinci dan terang. Akan banyak ditemukan kutipan-kutipan panjang dari kutub mu’tabarah (kitab-kitab terpercaya) demi memperkuat tiap keputusan yang ditulis. Juga akan diungkapkan penjelasan rinci dalil-dalil yang sering digunakan para penggugat, yang ternyata salah ditafsirkan, bahkan cenderung mengungkap fakta sebaliknya.

Buku ini mengantarkan anda pada pemahaman bahwa NKRI sejatinya adalah lahan dakwah yang akomodatif: sebuah jalan tengah yang justru berpegang teguh pada sunnah (ketetapan agama). Sebuah bumi yang sepatutnya kita cintai, hingga pada akhirnya muncul kehidupan yang damai dan penuh berkah. Yang mana, kedamaian – sebagaimana menurut Imam Fakhr al-Râzi—adalah nikmat terbesar dan media untuk menggapai maslahat dunia akhirah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr.

______________________________

“Empat pilar bangsa, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 adalah peninggalan para masyayikh Nahdlatul Ulama, termasuk pula masyayikh Lirboyo, sebagai upaya terbaik mencapai kemashlahatan agama, bangsa dan negara. Mari kita jaga dan rawat dengan baik, jangan sampai perjuangan para sesepuh kita sia-siakan. Maka buku ini sangat penting dimiliki dan dibaca, khususnya bagi para santri yang dituntut tidak hanya menguasai kitab kuning, namun juga harus melek terhadap wawasan kebangsaan agar dapat menerapkan ilmu agama dengan maksimal di tengah kemajemukan negara Indonesia.”

KH. M. Anwar Manshur.

______________________________

“Buku ini sedianya merupakah hasil Bahtsul Masail HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) beberapa waktu lalu. Para mushahih dan perumus LBM berkumpul untuk mendiskusikan dan menyempurnakan hasil bahtsul masail itu hingga beberapa pertemuan. Untuk itu, apa yang ditulis dalam buku ini insya allah sudah melalui pertimbangan matang, dengan mengedepankan tahqiq dan tathbiq ibarat-ibarat ulama yang sesuai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.”

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus.

______________________________

Judul: Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan

Pengantar: KH. Maimun Zubair

Mushahih:

  1. KH. Athoillah Sholahuddin Anwar
  2. KH. Romadhon Khatib
  3. KH. Azizi Hasbullah
  4. KH. Ali Musthofa Sa’id
  5. K. A. Fauzi Hamzah
  6. K. Anang Darun Naja
  7. KH. Ibrahim Ahmad Hafidz

Penyusun: Tim Bahtsul Masail HIMASAL

  1. KH. Zahro Wardi
  2. KH. Ridhwan Qoyyum Sa’id
  3. K. Saiful Anwar
  4. K. Thohari Muslim
  5. Agus HM. Adibussholeh Anwar
  6. Agus HM. Sa’id Ridhwan
  7. Agus H. Aris Alwan Subadar
  8. Agus Arif Ridhwan Akbar
  9. Agus M. Hamim HR.
  10. Agus Abdurrahman Kafabihi
  11. Agus M. Syarif Hakim An’im
  12. Ust. Najib Ghani
  13. Ust. Ahmad Muntaha AM.
  14. Ust. M. Mubassyarum Bih
  15. Ust. M. Khotibul Umam
  16. Ust. Ali Zainal Abidin

 

Editor: Ahmad Muntaha AM

Page; Size: xvi + 100 hlm; 14,5 x 21 cm

Penerbit: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL

ISBN: 978-602-1207-99-0

Harga: Rp 22.000

Pemesanan: 0856-4868-4677

Sensitifitas Perppu Ormas dan Semangat NKRI

Kondisi kenegaraan dan kebangsaan dekade belakangan ini sangat miris dan perlu untuk di tegak ulangkan. Karena wabahnya tidak hanya menasional tapi sudah mengglobal. Kalau kita perhatikan, banyak sekali  negara di dunia, dewasa ini mengalami hal yang sama tentang kenegaraan; krisis nasionalisme. Rong-rongan pada kewenangan  pemerintah banyak sekali kita jumpai, dengan berbagai cara di lakukan.melalui ideologi, penyuapan budaya baru, kebijakan berpolitik, sampai pada tindakan sparatis  atau bahkan pendidikan. Imbasnya, tidak sedikit terjadi bentrok fisik antara kelompok oposisi dan pemerintah. Atau sampai terjadi referendum, seperti yang terjadi di Spanyol baru-baru ini. yang kesemuaannya kebanyakan adalah ambisi golongan belaka dan mengabaikan kepentingan  umum ketika di pandang dari sudut kenegaraan.

Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasipun dan bahkan menjadi contoh negara muslim atau non muslim yang paling sukses dalam meramu agama sebagai dasar bernegara secara eksplisit, tak pernah sepi dari hal demikian tadi. Kelompok anti pemerintah begitu getol untuk menunaikan keinginan sepihaknya. Pemerintahpun tidak tinggal diam, dengan mengambil kebijakan-kebijakan guna melindungi bahtera NKRI dari serangan Ideologi anti Pancasila.

Organisasi sosoial kemasyarakatan, yang terbentuk dari  kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, tujuan dan lain-lain, rupanya di jadikan lahan empuk oleh sebagian kalangan untuk menggalang massa dan memenuhi kepentingannya.

peraturan pemerintah  yang mengatur mengenai keormasan yakni Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan kurang begitu menyeluruh dan antisipatif dalam cakupan kedepannya, karena itulah di ganti dengan Perppu Nomor 2 Tahun 2017, namun sayang, kehadirannya di rasa sedikit ‘telat’, karena datang setelah ormas yang berseberangan dengan cita-cita pemerintah telah kuat dalam struktural, keuangan dan kuantitasnya.

Meskipun dengan di terbitkannya perppu yang baru ini sudah menjerat satu ormas, tapi ingat, ideologinya, pemikirannya masih ada dan mungkin masih bisa muncul di permukaan dengan tampilan wajah baru, dan ini mungkin yang perlu di waspadai.

Ketok palu terhadap peraturan ini juga tidak lepas dari pro-kontra masyarakat atau sekaligus ormas yang merasa di rugikan, mereka terus menyuarakan penolakannya. Dalih yang mereka gunakan untuk menolak aturan pemerintih ini juga bermacam-macam, seperti mengatakan bahwa undang-undang baru ini begitu represif terhadap islam, yang  anti islamlah, otoriter, mendiskriminasi golongan tertentu, mempersempit ruang gerak dalam berdemokrasi, mengatakan kalau pemerintah telah memulai rezim diktator dan seabreg alasan lainnya.

Kalau kita mencoba mengamati lebih dalam poin-poin yang terkandung dalam putusan UU ini, dengan kepala dingin tentunya, dan bersih dari pikiran-pikiran kotor. Akan kita temui tujuan fundamen dan dasar yang di cetuskan pemerintah. Tanpa ada niatan untuk mendiskriminasikan kelompok tertentu seperti tudingan-tudingan yang di kemukakan di atas, apalagi putusan pemerintah ini juga mendapat legalitas dan dukungan dari syara’ yang pasti syarat dengan maslahat.

Alasan-alasan penolakan dari berbagai golongan di atas, kiranya terlalu memaksakan diri. Pun ketika memang hendak membandingkan, antara kandungan perppu ini dengan tuduhan-tuduhan miring yang di lancarkan, seharusnya juga harus sepadan untuk di bandingkan.

Di contohkan ketika membandingkan kebaikan mana yang di pilih antara pemimpin Non-Muslim yang bijak dan mempunyai integritas yang tinggi dalam bekerja dengan pemimpin muslim tapi korup atau cacat visi dan misi, ini tidaklah sebanding, seharusnya dengan menghadapkan antara pejabat non muslim yang berintegritas dengan pejabat non muslim yang cacat visi misi, bukan dengan pejabat muslim.

Dalam kasus inipun hendaknya demikian,  dalih bahwa pemerintah mempersempit ruang gerak kelompok tertentu dan lain-lainnya, harus di cermati, isi kandungan perppu ini dan juga sasarannya tidak sempit hanya pada kelompok tertentu, agama tertentu atau lebih-lebih pada ormas secara spesifik, meskipun toh penyebab direvisinya  peraturan ini tak lepas dari aksi-aksi satu-dua kelompok. mudahnya, jauh panggang dari api.

Dawuh Mawlana al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya :

“Khilafah tidak akan cocok diterapkan pada zaman sekarang, saudara-saudara kita di papua, kalimantan, bali dll bisa memisahkan diri dari Indonesia jika khilafah dipaksakan di Indonesia, sebab Indonesia negara yg plural terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan bahasa .”

beliau melanjutkan :” Jika khilafah diterapkan lantas siapa yg akan menjadi khalifahnya? Apakah dari NU, Muhammadiyah, HTI atau yang lain? Apakah semua akan menerima kalau kholifahnya dipegang oleh salah satu ormas? Oleh karena itu konsep NKRI itu sudah final harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi ”

Harapannya, dengan adanya perppu ini, NKRI yang menjadi cita-cita luhur para pendiri bangsa bisa terus terjaga dengan tetap semangat berpancasila dan berbhineka tunggal ika. amiin

Bergeraklah! Indonesia Membutuhkan para Santri!

Orasi Kebangsaan dalam Tasyakuran Kemerdekaan Republik Indonesia & Doa untuk Para Pahlawan, Pondok Pesantren Lirboyo, Rabu, 16 Agustus 2017.

Oleh: Agus HM. Adibussholeh Anwar

 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله الذى هدانا على دين الإسلام والإيمان وأنعم علينا فتح بلدتنا الإندونيسى والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا ومولانا محمد صلّى الله عليه وسلّم وعلى آله وصحبه أجمعين, أمّا بعد

 

Yang kami muliakan, segenap pengasuh, masyayikh dan dzurriyyah Pondok Pesantren Lirboyo,

Yang kami hormati, segenap pengurus-pengajar Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien,

Para santri yang berbahagia,

Pertama, marilah kita menghaturkan puji syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT atas segala takdir-Nya, sehingga pada kesempatan malam hari ini kita dapat berkumpul di aula Al-Muktamar untuk bersama-sama mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat agung-Nya yang berupa Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 silam, pada hari Jumat bulan Ramadan, sekaligus untuk bersama-sama mengungkapkan terimakasih yang tiada terhingga kepada para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia. Kita semua berkumpul di sini untuk berdoa dan memohon kepada Allah SWT, agar darma bakti para pahlawan diterima oleh Allah SWT serta semoga Indonesia terus dan senantiasa merdeka dalam segala hal. Amin.

Selanjutnya, sholawat beserta salam, semoga senantiasa tercurahkan ke haribaan junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang selalu kita harapkan syafa’atnya, terutama syafa’at udhmanya kelak di hari kiamat. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya. Amin.

Hadirin sekalian yang berbahagia,

Sudah saatnya kita berbenah diri. Kita sebagai generasi muda wajib menumbuhkan jiwa nasionalisme agar selalu menyala. Kita sebagai seorang santri jangan hanya berpangku tangan. Bergeraklah! Belajarlah! Istiqamahlah dalam mengaji. Berdakwahlah! Karena Indonesia membutuhkan para santri!

Padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami berbakti.

Padamu negeri kami mengabdi, bagimu negeri jiwa raga kami.

Hadirin sekalian yang berbahagia,

Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi merupakan bentuk rasa syukur pada Allah Swt. Hormat kepada Merah Putih bukan syirik, tapi ungkapan rasa syukur pada Allah Swt, untuk memiliki bangsa Indonesia. Bendera Merah Putih adalah harga diri bangsa, kehormatan bangsa. Cinta NKRI tidak hanya dilaksanakan pada 17 Agustus saja, tetapi harus diwujudkan setiap saat.

Hadirin sekalian yang berbahagia,

Kita sebagai anak bangsa sudah seharusnya memasang gambar para pahlawan kemerdekaan, baik yang punya andil secara langsung ataupun tidak, seperti para Wali Songo. Walisongo telah memerdekakan kita dari sifat jahiliyah. Hormat kita kepada Tjut Njak Dien, Pangeran Diponegoro, Jenderal Soedirman, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbulloh, KH. Bisri Syansuri, KH. Wahid Hasyim, Proklamator Kemerdekaan bangsa, dan para ulama. Pasang gambar beliau-beliau sebagai bentuk penghormatan kita kepada beliau. Juga agar setiap orang yang melihat gambar itu selalu terkenang dengan semangat para pahlawan tersebut dalam membela negara, dan memerdekakan negara. Semangat yang dimiliki para pahlawan itulah yang perlu dikenang dan diamalkan di era sekarang ini, bahwa mereka yang sudah meninggal itu, ternyata masih memberikan semangat untuk membangun negara. Merak yang sudah syahid, tidak tinggal diam utntuk bangsa dan generasi penerusnya.

Hadirin yang berbahagia,

Pancasila merupakan ideologi negara yang mampu melindungi pluralitas yang ada, memperkokoh pertahanan nasional dan NKRI, karena Pancasila dimiliki oleh semua warga negara. Bila Pancasila itu tumbuh pada diri setiap anak bangsa, serta diperkokoh oleh agama, maka kekuatan, kesatuan dan persatuan semakin erat terjalin dan tidak akan mudah digoyahkan.

Terakhir kita harus bangga sebagai santri Lirboyo, karena dalam sejarahnya Lirboyo mempunyai andil besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Demikian Orasi Kebangsaan yang bisa kami sampaikan, semoga dapat menjadi penggugah dan pendorong kita untuk terus bersemangat meneruskan perjuangan para pendahulu. Apabila ada kehilafan dan kekurangannya, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

والله الموفق الى أقوم الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته