Tips Menjadi Ahli Fikih Handal

Dalam kesempatan kuliah marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo Kediri, KH. Muhibbul Aman Ali membeberkan tips menjadi ahli fikih handal.

Dalam sebuah kesempatan perkuliahan Ma’had Aly Marhalah Tsaniyah (M2) di Lirboyo, Gus Muhib menerangkan perbedaan antara ushuli, furu’i dan Faqih. Ushuli secara simpel adalah orang yang paham secara mendalam teori-teori dalam Ushul fikih. Seorang Ushuli ketika merumuskan suatu hukum, seringkali salah dan menyesatkan. Misalnya bagaimana hukum lokalisasi pelacur. Ia jawab dengan nalar: karena untuk melokalisir tindakan asusila sehingga bisa dikontrol, dan mencegah penyebaran penyakit yang aneh-aneh seperti HIV/AIDS menyebar ke mana-mana, akhirnya ia menyimpulkan bahwa dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih (mencegah kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan), sehingga pemerintah wajib mengadakan lokalisasi pelacur tersebut. Nah, ini kan kurang tepat.

Furu’i adalah orang-orang yang paham bahkan hafal permasalahan-permasalahan yang ada di kitab-kitab fikih tapi dia tidak bisa mengembangkannya. Gampangnya, ia hanya seorang yang hafal Fathul qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahab dan kitab-kitab nadzom lainnya, tapi ketika dihadapkan dengan permasalahan kontemporer, ia tidak bisa menjawab karena di kitab-kitab klasik tidak tertera kasus yang sama. Misalnya, bagaimana hukum jual beli di supermarket menggunakan kartu kredit (atau yang biasa digesek itu). Ia tidak bisa menjawab permasalahan ini karena memang di kitab-kitab klasik tidak tertera sedemikian rupa.

Sedangkan orang yang Faqih, itu orang yang -simpelnya- paham ushul fikih, Masail furuiyah fikih juga hasil rumusan hukumnya diikuti oleh orang-orang awam. Idealnya, seorang faqihlah yang merumuskan hukum-hukum permasalahan yang berkembang di masyarakat.

3 Fan Keilmuan Yang Harus Dikuasi Faqih

Orang bisa jadi Faqih harus menguasai 3 Fan, yakni Ushul fikih, fikih dan kaidah fikih.

Pertama, Ushul fikih. Standar kitab orang dikatakan paham Ushul fikih adalah menguasai kitab jam’ul jawami’. Jadi orang yang dikatakan paham Ushul fikih tapi belum belajar jam’ul jawami’, itu Mustahil. Karena kitab ini mengumpulkan dua aliran pemikiran dalam Ushul fikih, yakni aliran Al-Amidi dan Alirannya Fakhruddin ar-Razi.

Mari kita flashback pada sejarah ilmu ini. Imam Syafi’i sebagai peletak dasar ilmu Ushul fikih. Imam Syafi’i ketika masih di Baghdad, mengarang kitab ar-Risalah al-Qodimah al-Iroqiyah. Kitab ini tidak dicetak. Sebuah kitab atas jawaban pertanyaan santrinya yang bernama Imam Abdurrahman al-Mahdi tentang metodologi penggalian hukum dalam Islam.

Kemudian, Imam Syafi’i hijrah ke Mesir bersama muridnya. Diantaranya adalah Robi’ bin Sulaiman al-Murodi. Imam Syafi’i mengarang kitab ar-Risalah al-Jadidah al-Mishiriyah yang diajarkan pada muridnya, yakni Robi’ bin Sulaiman.

Kata Robi’ bin Sulaiman, “saya mengaji kitab ini (risalah al-Jadidah) lebih dari 30 kali. Setiap Imam Syafi’i mengajarkan kitab ini, selalau ada yang ditashih terus”.

Nah, dari kitab ini, dikembangkan oleh 4 orang. Dua orang beraliran mu’tazilah dan sisanya beraliran Mazhab Syafi’i (Aswaja).

  1. Abdul Jabbar al-Mu’tazili mengarang kitab al-Umdah.
  2. Hasan al-Bashri al-Mu’tazili mengarang kitab al-Mu’tamad.
  3. Imam Haromain, gurunya Imam Al-Ghazali, mengarang kitab al-Burhan.
  4. Imam Al-Ghazali mengarang kitab al-Mustashfa.

Dari 4 kitab induk ini, melahirkan 2 madrasah arus pemikiran dengan jalan pikiran dua ulama, yakni Imam Fakhruddin ar-Razi dengan kitab al-Mahsul. Kitab ini meresume 4 kitab di atas. Juga, madrasah yang ke dua dipelopori oleh Syaifuddin al-Amidi dengan kitab al-Ihkam yang juga meresume 4 kitab tadi.

Di madrasah pertama, yakni melalui pendekatan alur pikirannya Imam Fakhruddin ar-Razi dengan al-Mahsul nya :

  1. Diresume oleh Al-Armawi dengan kitab al-Hasil
  2. Lalu dijabarkan oleh Imam al-Baidhowi dengan kitab al-Minhaj
  3. Lalu diresume oleh as-Subki dengan kitab Al-Ibhaj

Di madrasah ke dua, yakni melalui pendekatan alur pikiran Al-Amidi dengan al-Ihkam nya,

  1. Diresume oleh Ibnu Hajib melalui kitab Muntahas Sul
  2. Lalu diringkas sendiri oleh Ibnu Hajib menjadi kitab Mukhtasor Muntahas Sul
  3. Lalu disyarahi oleh as-Subki menjadi kitab Rof’ul Hajib li Mukhtasor Ibnu Hajib.

Kesimpulannya, as-Subki menguasai dua madrasah pemikiran ini. Lalu beliau mengarang kitab yang menggabungkan dua madrasah pemikiran tersebut melalui kitab Jam’ul Jawami’. Kitab ini mengumpulkan dua madrasah aliran pemikiran lebih dari 100 kitab. Sehingga para ulama sepakat bahwa pintunya Ushul fikih harus melalui kitab Jam’ul Jawami’.

Kemudian, kitab Jam’ul Jawami’ diresume oleh Syaikhul Islam Zakariya al-Anshori dalam kitab Lubbul Ushul, disyarahi lagi oleh beliau sendiri  jadi kitab Ghoyatul Wushul. Lalu, kitab Ghoyatul Wushul diresume oleh muridnya sendiri, yakni Ibnu Hajar al-Haitami dengan kitab at-Ta’rif dan disyarahi sendiri oleh beliau menjadi kitab at-Talatthuf fi Syarhi at-Ta’rif.

Jadi, idealnya bekajar Ushul fikih itu dari :

  1. Kitab-kitab dasar di bawahnya Ghoyatul Wushul, seperti kitab tashilul Wushul ila ma’rifati Ilmi Ushul karya Gus Muhibbul Aman Aly atau kitab-kitab kecil lainnya.
  2. Melewati tangganya, yakni belajar kitab Ghoyatul Wushul karya Syaikhul Islam Zakariya al-Anshori.
  3. Masuk melalui pintu gerbangnya, yakni kitab Jam’ul Jawami’ karya as-Subki.

Nah, kata para ulama, untuk belajar Jam’ul Jawami’, harus dibantu 3 Syarah kitab. Kalau tidak pakai 3 Syarah ini, tampaknya mustahil dapat memahami Jam’ul Jawami’.

  1. Al-Badrut Tholi’ karya Syekh Jalaluddin al-Mahalli
  2. Tasyniful Musami’ Syarhil Jam’il Jawami’ karya Imam az-Zarkasyi.
  3. Kaukabus Sathi’ ‘ala Syarhil Matholi’ karya Syekh Jalaluddin as-suyuthi.

Selain dibantu 3 Syarah kitab tadi, juga harus dibantu dengan 3 kitab hasyiyah, yakni :

  1. Hasyiyah al-Bannani + Ta’liqot Syaikh Khotib asy-Syirbini
  2. Hasyiyah al-‘Atthor
  3. Hasyiyah Ibnu Qosim (al-Ayatul Bayyinat)

Jadi, orang yang benar-benar belajar Ushul fikih, barangkali tidak ada gampang-gampang memakai teori Ushul fikih.

Konon, Kiai Marzuki Dahlan Lirboyo khatam kitab Jam’ul Jawami’ lebih dari 70 x, tapi kita mungkin tidak pernah beliau ketika mengajar kitab menyebutkan teori Ushul fikih. Itulah yang disebut dengan fahmin mutqin. Beginilah cara yang ditempuh para ulama, dan ini merupakan bentuk minimalnya seseorang dikatakan menguasai ilmu fikih.

Kedua, ilmu selanjutnya yang harus dikuasai untuk mencapai derajat Faqih adalah fikih. Standar nya adalah menguasai kitab Minhajut Tholibin. Ini adalah pintu atau gerbangnya Mazhab Imam Syafi’i. Jadi kalau belum khatam kitab itu dengan fahmin mutqin (betul-betul paham), jangan harap jadi Faqih.

Belajar Minhaj, mustahil kalau tanpa kitab-kitab Syarah dan hawasyi. Setidaknya ada 5 kitab yang bisa digunakan, yakni :

  1. Mughnil Muhtaj karya Syekh Khotib asy-Syirbini
  2. Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami
  3. Nihayatul Muhtaj karya Syihabuddin ar-Romli atau Imam Romli. Belajar kitab ini harus dibantu dengan Hasyiyah Sibromulasy dan Hasyiyah ar-Rosyidi.
  4. Fathul Wahab karya Syekh Zakariya al-Anshori. Belajar kitab ini harus dibantu dengan Hasyiyah Jamal.
  5. Kanzurroghibin karya Syekh Jalaluddin al-Mahalli. Belajar kitab ini harus dibantu dengan kitab al-Qolyubi dan al-Amiroh.

Ini adalah ada peta belajar kitab fikih Mazhab Syafi’i.

Ketiga atau terakhir, ada satu fan ilmu lagi yang harus dikuasi agar seseorang sampai ke derajat Faqih, yakni Ilmu Kaidah Fikih. Karena tidak mungkin menerapkan teori-teori Ushul fikih dalam Masail fiqhiyah itu tanpa ilmu kaidah fikih. Untuk ilmu ini, tidak terlalu banyak kitab yang harus dipelajari.

  1. Pintu masuk ilmu ini adalah kitab al-Asybah wan Nadzoir karya Imam as-suyuthi. Kitab ini menjadi pintu gerbang ilmu kaidah fikih karena berhasil mengumpulkan berbagai permasalahan kaidah fikih dari dua madrasah arus pemikiran, yakni madrasahnya al-Ala’i dan Syekh Izzudin bin Abdussalam.
  2. Tangga menuju pintu gerbang ini adalah kitab Syarah Faroidhul Bahiyah.

Untuk belajar asybah, ada beberapa kitab rekomendasi yang bisa digunakan.

  1. Al-ala’i
  2. Al-Hizmi
  3. Al-Asybah wan Nadzoir karya Ibnu Wakil
  4. Al-Mantsur karya az-Zarkasyi
  5. Al-Asybah wan Nadzoir karya as-Subki
  6. Al-Qowaid al-Fiqhiyyah al-Kubro
  7. Qowaidul Ahkam fi Masholihil Anam karya Syekh Izzudin bin Abdussalam

Semua proses ini tidak bisa ditempuh di bangku sekolah. Harus belajar atau mutholaah sendiri.

Setidaknya demikianlah peta pembelajaran kitab yang harus dipelajari oleh orang atau santri yang hendak mencapai derajat Faqih. Sehingga rumusan hukum yang dirumuskan dapat meminimalisir kesalahan atau kekeliruan.

 

Penulis : Alfin Haidar Ali (Pelajar Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Tsaniyah)

Tasbih : Gus Muhibbul Aman Aly

Baca Juga: Tingkat Lanjutan; Memperdalam Ilmu di Ma’had Aly Lirboyo

Subscribe Chanel: Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.