Belajar dari Empat Perempuan dalam Surah At-Tahrim

4 Perempuan dalam surat at-tahrim

Ayat 10-12 at-Tahrim

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ

Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ ࣖ ۔

Demikian pula Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan yang membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, serta yang termasuk orang-orang taat.

Baca juga: Diasuh Jibril Jadi Kafir, Dibesarkan Fir’aun Jadi Nabi: Belajar dari Kisah Dua Musa

Yang Allah Sampaikan di Ayat Itu

Melalui Surah At-Tahrim ayat 10–12, Allah memperagakan sebuah dialektika melalui kisah empat orang perempuan.

Lewat kisah empat perempuan dalam Al-Qur’an, Allah membongkar prasangka yang sering kita yakini. Kita mungkin kerap berpikir bahwa tumbuh di dekat orang saleh pasti membuat seseorang ikut saleh, dan hidup di tempat buruk pasti merusak masa depan.

Namun, kenyataannya tak selalu begitu.

Baca juga: Seni Berdamai dengan Kenyataan Hidup Menurut Syekh Mulla Ali al-Qari

Kisah Istri Nabi Nuh dan Luth

Lihatlah pasangan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth. Kurang suci apa lingkungan rumah tangga mereka? Mereka hidup, makan, dan tidur bersama para nabi pilihan Allah. Namun, kedekatan fisik dan ikatan pernikahan sama sekali tidak mampu menyalurkan hidayah secara otomatis. Ketika iman tak bertaut di dalam hati, status sebagai “istri nabi” tidak memberi manfaat sedikit pun di hadapan keadilan Ilahi.

Istri Fir’aun yang Selamat

Sebaliknya, perhatikan Asiyah—istri Fir’aun. Ia hidup di dalam istana penguasa zalim yang terkenal dalam sejarah, dikelilingi intimidasi dan kejaman. Namun, di tengah gempuran siksaan fisik, jiwanya justru melumbungkan doa yang sangat puitis dan abadi:

قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga…”

Sebagaimana dicatat oleh Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam At-Tafsir al-Munir, intimidasi kekafiran tidak sedikit pun mampu merusak keimanan Asiyah. Allah bahkan menyingkapkan rumah mewahnya di surga saat Malaikat mengaungi tubuhnya dengan kepakan sayap.

Baca juga: Mengenal 3 Jenis Sabar dalam Islam dan Contohnya

Yang Dapat Kita Pelajari

Al-Qur’an membawa kisah-kisah ini bukan sekadar sebagai rekam jejak sejarah, melainkan sebagai peringatan yang dapat meningkatkan kesadaran kita semua:

Allah tidak menghukum atau menyelamatkan seseorang atas dasar identitas relasi, melainkan atas dasar pertanggungjawaban personal. Kedekatan dengan figur saleh tak membentengi maksiat, sebagaimana kehancuran lingkungan tak sanggup menodai kesucian hati yang teguh.

Hikmah bersejarah ini menjadi peringatan halus bagi umm al-mukminin, Aisyah dan Hafshah, saat tergelincir dalam sebuah kekhilafan. Bahwa menjadi pendamping Manusia Terbaik pun tidak meniadakan tuntutan taubat dan ketaatan yang tulus.

Maryam binti Imran lahir dari keluarga yang taat, namun harus menghadapi badai tuduhan keji dari kaumnya. Keteguhannya menjaga kesucian (iffah) serta membenarkan kitab-kitab-Nya menjadikannya teladan kesabaran melintasi zaman.

Penutup

Bagi Anda yang hari ini merasa berjuang sendirian di tengah lingkungan yang tidak mendukung, atau merasa terisolasi dalam ketaatan, ingatlah Asiyah. Istana Fir’aun tak mampu memadamkan iman di dadanya.

Bagi Anda yang memiliki hubungan darah, status pernikahan, maupun legitimasi relasi sosial, ingat, itu semua bukanlah jaminan hidayah.

Walhasil, pertanggungjawaban di hadapan Allah bersifat individual. Ikhtiar membangun lingkungan yang baik adalah kewajiban, namun bersandar padanya tanpa keikhlasan hati adalah sebuah kelengahan.

Wallahu a’lam.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses